Movie Review: Turah

Oleh
'Turah' memiliki kepekatan realisme yang membuatnya tak terlupakan. Fourcolours Films

Gambaran keras wajah kemiskinan

Bagi warga Kampung Tirang, Tegal, Jawa Tengah, yang dipotret dalam film Turah, agama terasa jauh dan tak mendesak sebagai jawaban. Tak seorang pun dalam film digambarkan pergi beribadah atau bahkan berada dalam suatu adegan yang berhubungan dengan ritual keagamaan. Padahal suara ngaji terus terdengar sayup sepanjang film. Apakah pembuat sedang mengutuk warga-warga Kampung Tirang yang mengabaikannya?

Apa pun itu yang hendak dilakukan Wicaksono Wisnu Legowo sebagai pembuat, ia memilih menampilkan kampung kecil yang ada karena tanah timbul tersebut menjadi tempat orang gagal dikutuk habis-habisan. Mereka tinggal di sebuah daerah yang jauh dari peradaban yang dikenal orang banyak. Malam hari bisa sangat gelap, sedangkan ketika pagi datang hidup pun sama kelamnya. Tak ada tanda-tanda kehidupan modern seperti telepon seluler atau media sosial. Ini bukan fantasi, ini realita yang mesti dihadapi.

Wicaksono tak berbelas kasih kepada kemiskinan seperti yang kerap ditampilkan pembuat sebelumnya. Ia juga tak meromantisasi kesulitan sehingga jatuh menjadi pandangan voyeuristic yang nelangsa selayaknya puisi-puisi Taufik Ismail. Ia tak sedang mengecilkan penderitaan yang dialami oleh orang-orang di dalamnya.

Dari matanya, penonton diajak melihat tentang kehidupan datar yang dialami warga Kampung Tirang. Salah satu pandangannya adalah bagaimana kematian terasa lekat bagi warga Kampung Tirang, entah itu yang harfiah maupun simbol. Bagi si pembuat, kematian bukanlah akhir melainkan siklus yang menunggu datang di setiap pojokan. Tak ada yang sendu, semuanya berawal dan berakhir sama bagi semua orang. Toh hidup tak menawarkan apa-apa.

Sinis dan getir, begitulah yang ditawarkan Wicaksono akan kehidupan. Dalam durasi yang singkat observasinya merangkum secara sederhana bagaimana kemiskinan yang keras adalah kenyataan yang tak terhindarkan. Kemiskinan adalah nasib buruk yang bisa datang bagi orang-orang yang sial.

Editor's Pick

Add a Comment