Movie Review: Baby Driver

Oleh
Ansel Elgort berperan sebagai Baby, sang tokoh utama. Working Title Films

Tontonan drive-in yang memikat

Dengan Baby Driver, Edgar Wright menempatkan dirinya sebagai kandidat legenda dari pembuat film generasi 2000-an. Di karyanya yang dinamis ini, ia mengajak Anda tenggelam dalam ketegangan sampai menit terakhir. Tanpa banyak efek spesial, ia mengembalikan sensasi berdebar lewat perpaduan teknik bercerita yang fasih, penyuntingan energetik, dan suntikan lagu keren yang terus berjalan.

Di atas kertas, kejar-kejaran mobil, kisah romansa cheesy, tokoh utama yang seperti datang dari dekade '80-an, penjahat kartun, dan pelarian brutal bisa saja menjadi film medioker yang mudah dilupakan. Namun ajaibnya semua rencana Wright berjalan mulus. Kecintaannya terhadap genre ini menjadi senjata utama. Ia tahu bagaimana memanfaatkannya dan menyulapnya jadi hiburan yang tidak murahan.

Salah satu aspek pembeda dari film-film sejenis adalah penggunaan musik. Musik adalah nyawa dari Baby Driver. Soundtrack film ini bagaikan mixtape keren dengan referensi '70-an dan '80-an yang membanjiri setiap adegan dengan mulus. Baiklah, belakangan ini nostalgia akan hal retro memang sedang keren kembali. Guardians of Galaxy melakukannya, The Man From U.N.C.L.E., sampai Suicide Squad (bukan contoh baik) juga melakukannya. Tapi apa yang dilakukan Edgar Wright--memompa penggunaan lagu sampai volume sebelas--tetaplah memukau. Ia menjadikan musiknya sebagai bagian cerita sekaligus unsur yang susah dilepaskan.

Selain itu, referensi budaya pop yang melimpah menjadi stempel penting seperti pada film-film Wright terdahulu. Dari judul film (diambil dari judul lagu Simon & Garfunkel), cameo yang merupakan homage (Flea sebelumnya juga tampil pada film kejar-kejaran mobil lainnya, The Chase), atau GoodFellas Pizza (restoran yang memang ada di Atlanta), bahkan sampai adegan akhir yang mengingatkan pada adegan pembuka The Blues Brothers. Daftarnya lumayan panjang, dan akan menyenangkan bagi penggemar budaya pop mana pun untuk mengupasnya satu per satu.

Bagi mereka yang tidak terlalu memedulikan acuan yang dilakukan Wright, film ini tetap mudah dinikmati. Terutama karena Baby Driver mempromosikan hal positif. Meski menampilkan kekerasan, Baby sang tokoh utama digambarkan sebagai seorang baik yang terjebak dan hanya ingin keluar dari lubang dunia gelap. Cintalah yang mendorongnya untuk menghentikan semua. Dengan banyaknya blockbuster yang menampilkan kehancuran demi spectacle semata, film macam ini jelas dibutuhkan.

Baby Driver adalah film pop corn sempurna. Renyah dikunyah, mudah dicerna. Tanpa filosofi berlebihan, film ini hanyalah soal bersenang-senang. Bagi yang menginginkan waktu menyenangkan di bioskop, film ini bisa jadi andalan yang tak akan mengecewakan.

Editor's Pick

Add a Comment