Live Review: Efek Rumah Kaca: Semarang Bisa Dikonserkan

Oleh
Efek Rumah Kaca bawakan 'Sinestesia' bersama Cognatio Orkestra di 'Semarang Bisa Dikonserkan' Sabtu (19/8) malam Abyan Nabilio

Efek Rumah Kaca bawa keintiman konser “tiba-tiba” mereka ke ibu kota Jawa Tengah

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat para pemuda berbondong-bondong mengantre masuk ke halaman parkir Sri Ratu, Semarang, pada Sabtu (19/8) malam itu. Botol air mineral berbagai merek mereka bawa di tangan dan tas jinjing untuk bekal menonton band pentolan indie ibu kota, Efek Rumah Kaca yang akan hadir beberapa saat ke depan. Beberapa bahkan membawa botol air mineral tidak bermerek yang diisi minuman warna-warni dari bening kekuningan hingga merah kehitaman. Mereka hanya mengikuti peraturan kedua dari beberapa yang dicanangkan di acara tersebut, yaitu:

1. Pamitlah pada orang tua bahwa dirimu hendak menghadiri acara ini.
2. Bawa bekal dari rumah sangat diperbolehkan, karena konser ini berlangsung maraton, hingga sayang untuk dilewatkan setiap momennya dan buanglah sampah pada tempatnya.
3. Bernyanyilah dan bersuka citalah karena event ini mengajakmu bahagia dan jadilah penonton yang cerdas juga tertib.
4. Senyumlah kepada semua crew acara karena mereka rela meluangkan waktu demi terciptanya acara ini.
5. Abadikan momenmu dengan baik tanpa mengganggu pihak lain.

"Lihat (peraturan keempat)," kata salah seorang awak acara, Arijal sembari tertawa menunjukkan poster Semarang Bisa Dikonserkan berisi peraturan tersebut di ponselnya. "Biasanya acara seperti ini fokus pada artisnya, tapi mereka bawa yang beda."

Betapa bahagianya Arijal saat melihat nama rekan-rekannya terpampang di dua layar proyektor di samping panggung seperti sponsor acara besar. De Bandot Sound System dan Bon Bon Tata Cahaya secara berurutan muncul di sana. "Itu sponsornya nama anak-anak sini," ujarnya senang karena merasa dihargai oleh nama sebesar Efek Rumah Kaca. Ia bersama rekan-rekannya dari Helium3-lah yang bertanggup jawab mendatangkan Efek Rumah Kaca ke Semarang.

Saat Arijal bicara, ternyata pengunjung sudah duduk memenuhi ruang antara panggung dan front of house (FOH) yang berjarak sekitar 20 meter. Sepertinya penggemar Efek Rumah Kaca di Semarang dan sekitarnya cukup loyal karena harga tiket Rp 100 ribu tidak menyurutkan niat mereka untuk datang. Baru sekitar pukul delapan malam Cholil dan kawan-kawan naik panggung.

"Merah" dari album terakhir mereka rilisan 2015, Sinestesia dibawakan sebagai pembuka. Penonton yang tadinya duduk menyeruak ke depan panggung, berdiri sembari bersorak karena apa yang mereka tunggu sejak tadi akhirnya tiba.

Posisi Cholil bernyanyi lebih depan dibanding personel lain. Tidak adanya pagar barikade di sekitar panggung membuatnya terlihat berdiri di atas kerumunan penggemar. Jika dalam konser "tiba-tiba" mereka sebelumnya penonton kebanyakan duduk, di sini, mereka telah berdiri sejak awal acara. Petugas keamanan pun tidak disediakan penyelenggara untuk menciptakan suasana intim antara band dan penggemar.

Sinestesia dibawakan penuh di babak pertama dari dua babak konser mereka. Hanya urutan "Biru" yang diletakkan setelah "Hijau" yang membedakan set kali ini dan album. "Biasanya kalau manggung cuma dikasih 45 menit. Dua lagu Sinestesia saja sudah dua puluh menit. Karena itu beruntung kami bisa punya acara sendiri," kata Cholil dari atas panggung setelah selesai membawakan lagu kedua, "Jingga."

Sebelum membawakan "Hijau," Cholil mengajak tenaga lokal, Cognatio Orkestra ke panggung. Walaupun ia mengaku punya keterbatasan waktu untuk latihan dengan mereka, alunan string dan brass Cognatio Orkestra cukup terasa pas mengiringi lagu-lagu mereka selanjutnya, memperkuat permainan alat musik tiup dari pemain additional, Agustinus Panji Mardika.

Babak pertama sepanjang satu jam lebih ditutup dengan "Kuning," tentunya, dan mereka pun beristirahat sekitar 10 menit.

Di awal babak kedua, seorang pria yang jelas-jelas bukan personel Efek Rumah Kaca berdiri di tempat Cholil bernyanyi sebelumnya dengan sebuah terompet di tangan. Ia membuat nuansa lounge jazz dengan terompetnya. Cholil, Akbar, Poppie, dan para additional yang kebanyakan diambil dari Pandai Besi memasukkan instrumen mereka dalam permainan terompet pria tadi sebagai intro dari "Debu-Debu Berterbangan," di mana ia menjadi penyanyi utama menggantikan Cholil.

Ini merupakan kejutan pertama Efek Rumah Kaca malam itu di babak kedua penampilan mereka. Entah penonton terkejut atau tidak, yang jelas Nanda Goeltom, pentolan dari grup jazz setempat Absurd Nation terkejut ketika diajak untuk bermain.

"Baru dikasih tahu Kamis (17/8)," akunya saat ditemui di belakang panggung. "Baru latihan tadi (siang). Itu (permainan terompet) juga baru tadi. Sebenarnya saya dikerjai. Sebelumnya, rencananya cuma nyanyi doang."

Selanjutnya, "Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa" dan "Mosi Tidak Percaya" dibawakan berurutan tanpa jeda. Entakan drum Akbar yang teratur tanpa banyak improvisasi sana-sini namun tetap energik dalam dua lagu itu membuat penonton terlihat lebih bersemangat. Jika Cholil mau, ia sebenarnya bisa melakukan body surf diatas mereka. Sayangnya, ia bukan jenis musisi yang mengandalkan gimmick seperti itu di atas panggung dan masih banyak lagu dari katalog mereka yang belum dimainkan.

Kejutan lain datang saat mereka membawakan "Tubuhmu Membiru... Tragis." Kali ini, penyanyi lokal lain, Ocsila yang mengisi vokal. Seperti Nanda, penyanyi dengan lagu "Happen" yang berhasil membawa namanya menjadi finalis Go Ahead Challange tahun lalu ini juga baru mencoba lagu tersebut bersama Efek Rumah Kaca siang harinya.

Ia mengaku kesulitan menyesuaikan nada dasar lagu yang terlalu rendah untuk suaranya. Akan tetapi, dengan bantuan Cholil, Akbar, dan Narpati Awangga yang turut hadir membantu Efek Rumah Kaca saat itu, ia akhirnya bisa membawakan lagu tersebut. "Untung akhirnya, nadanya dinaikan," tuturnya.

Pada babak kedua ini, mereka membawakan 16 lagu dari Kamar Gelap dan Efek Rumah Kaca dalam waktu hampir dua jam. Para penonton tertib mengikuti acara. Tidak ada yang naik ke panggung walaupun akan sangat mudah bagi mereka.

Penonton tidak perlu hafal semua lagu karena Ruru Radio telah menyediakan lirik di layar proyektor dengan nuansa video karaoke '90-an. Video ini cukup berpengaruh karena hampir sepanjang acara mereka ikut bernyanyi. Kecuali di satu lagu.

Mundur beberapa saat sebelum acara dimulai. Ocsila yang baru saja masuk ke belakang panggung dikejutkan oleh tiga ibu paruh baya yang sudah berada di sana lebih dulu. Dengan pakaian tradisional, mereka mengisi perut seakan ada yang harus mereka lakukan setelahnya. "Tiba-tiba ada ibu-ibu di dalam," kata Ocsila terkejut.

Di tengah-tengah babak kedua konser, ketiga ibu tersebut terlihat bersiap di belakang panggung. "Habis ini satu lagu lagi," ujar seseorang kepada ketiganya. Saat itu lagu yang dimainkan di atas panggung adalah "Cinta Melulu."

Setelah Cholil dan rekan-rekannya membereskan lagu selanjutnya "Melankolia," ketiga ibu tersebut bergegas menggunakan caping dan naik ke atas panggung. Di sana para anggota band sudah dilengkapi caping sendiri-sendiri dengan tulisan seperti "Tolak Semen" dan sebagainya. Sukinah, salah satu dari mereka, membacakan syair dengan bahasa Jawa. "Kito kudu merdeko/ Lestari Kendengku/Lestari Indnoesiaku," teriaknya di akhir, mengiringi lagu "Ibu Bumi" yang dimainkan Efek Rumah Kaca.

Ternyata Sukinah dan rekan-rekannya, Giyem dan Suharti merupakan anggota Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). "Ibu Bumi" sendiri merupakan tembang yang biasa petani Kendeng nyanyikan sebagai doa agar alam mereka tetap lestari. Karena tidak ada dalam daftar lagu Efek Rumah Kaca mungkin, tidak banyak yang ikut bernyanyi lagu ini.

Cholil mengaku gatal melihat kejadian di Indonesia dan berharap caranya mengundang ketiga ibu tadi bisa membantu menyuarakan apa yang ingin mereka sampaikan kepada para pemuda yang datang terkait perjuangan mereka yang menolak pembangunan pabrik semen di Kendeng .

"Kami berharap pemuda Indonesia menjadi pemuda yang hebat. Jangan sampai kita mengimpor makanan dari asing. Indonesia Merdeka," kata Sukinah setelah Cholil mempersilahkannya menyampaikan pesan untuk penonton. "Hidup rakyat Indonesia," balas salah satu pengunjung dan diikuti pengunjung lain.

Itu merupakan lagu ke-11 mereka. Ada enam lagu lagi sebelum acara akhirnya ditutup dengan "Sebelah Mata" dan "Desember" secara berurutan.

Sepertinya para penyelenggara acara benar-benar memanfaatkan kepulangan Cholil ke Indonesia. Panggung Semarang adalah yang ke empat bulan ini dan masih ada dua lagi menyusul. "Sekali seminggu lah minimal," kata manajer Efek Rumah Kaca, Dimas Ario tentang intensitas manggung mereka. Mereka hanya sempat kosong pekan pertama Agustus karena sang drummer Akbar menikah tanggal enam. Rencananya Cholil akan kembali ke Amerika Serikat pada 11 September mendatang.

Editor's Pick

Add a Comment