Chester Bennington: Suara Kejujuran Rasa Sakit dan Amarah Generasi

Vokalis Linkin Park menolong orang-orang melewati masa kelam karena ia telah menghadapi musuhnya sendiri

Oleh
Chester Bennington Stefan Brending

Setelah berita mengejutkan tentang Chester Bennington bunuh diri pada Kamis lalu, banyak penghormatan dari teman-teman artis dan para penggemar memiliki satu fokus yang sama.

"A Thousand Suns membuatku melewati masa kelam mengerikanku," tulis Joss Whedon mengenai album Linkin Park pada 2010 tersebut.

"Linkin Park berarti banyak hal bagi banyak orang… jelas berarti banyak bagiku," kicau Lupe Fiasco di akun Twitter. "Kata-kata [Chester] dan getarannya membantuku dalam masa kelamku sendiri".

Machine Gun Kelly yang diajak tur bersama Linkin Park musim panas lalu menyebut Bennington "suara bagi mereka yang ingin berteriak" di akun Instagram miliknya. "Anda adalah itu bagiku sejak [saya masih] berumur 11 tahun," tambahnya.

Pada awal milenium baru, Linkin Park adalah bagian dari revolusi baru remaja, dan suara Bennington menggelegar bagai terompet. Baik penyampaian dan liriknya memadukan kegelisahan murni dengan amarah yang terlepas. Lagu seperti "In the End" dan "Crawling" bergerak secara kasar di antara suasana hati, secara lembut menyampaikan deklarasi kekalahan sebelum amarah meluap lewat tenggorokannya untuk sebuah jeritan kecemasan yang kadung bergejolak.

Bagi para remaja yang menemukan kesedihan amarah yang Bennington rasakan ketika kemunculan pertama Linkin Park, ia seakan merepresentasikan rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan, dilepaskan atau bahkan dimengerti. Sekali mereka menggali amarah lebih dalam, mereka menemukan ekspresi gairah keputusasaan, kehilangan harapan, dan ketakutan. Ia menghabiskan kariernya berusaha menjadi jujur dan menghadapi perjuangannya dengan keputusasaan, kecanduan, dan trauma, terutama saat menjadi korban pelecehan seksual ketika anak-anak.

Dalam lagu seperti "One Step Closer", sejumlah hubungan dengan setan membuat Bennington bagai menemukan cermin yang menantang. "Everything you say to me takes me one step closer to the edge, and I'm about to break," ia melolong ke udara, menyampaikan frustrasi di usia yang baru 24 tahun.

Lewat Hybrid Theory yang dirilis pada 2000, album tersebut booming pada 2001 dan mejadi album terbaik pada tahun itu. Akhir sembilan puluhan, ditemukan banyak bintang baru yang bersinar seperti Eminem dan Limp Bizkit dan beberapa veteran seperti Nine Inch Nails, tapi selera nasional ketika itu didominasi oleh gerakan pop Disney, dipimpin oleh boy band dan diva remaja yang tengah berkembang. Bagi Linkin Park untuk menerobos dan menjual lebih banyak dari artis-artis favorit keluarga seperti "N Sync dan Britney Spears berarti sebuah sinyalemen bahwa pasar membutuhkan ikon arus utama bergenre rock.

Seiring nu-metal yang sedang berkembang, mereka mencoba menulis kembali kesuksesan tersebut. Gaya agresif maskulin yang diusung Limp Bizkit menjadi kurang ampuh dibanding bagaimana gesitnya suara Bennington yang dimainkan dengan rap halus yang efektif dari Mike Shinoda. Mereka memeluk musik elektronik yang melengkapi musik mereka daripada memberi dorongan tenaga yang berlebihan. Sementara dari semua itu, terdapat kegelisahan di antara teriakan, riff yang berat, dan vokal segar yang membawa Linkin Park selangkah lebih maju.

Bahkan seiring mereka bertambah tua dan lebih sukses, Bennington menyajikan contoh utama bagaimana penyakit mental adalah keseharian, perjuangan panjang, dan membuka rasa sakitnya dalam menjadi lebih rumit, cara yang matang melalui album terakhirnya bersama Linkin Park tahun ini, One More Light. Dalam sebuah wawancara bersama Music Choice awal tahun ini, ia menggambarkan pikirannya sebagai "lingkungan yang buruk, dan aku seharusnya tidak pergi berjalan sendirian." Dalam wawancaranya bersama The Mirror yang diakui sebagai wawancara terakhirnya, Bennington terlihat menemukan sebuah cahaya di ujung lorong, melihat karya album panjang terakhirnya tersebut sebagai "pengobatan."

Bagi banyak orang, mendengarkan Linkin Park bagaikan mengenang ingatan untuk terus bertahan hidup, ditambah tragedi dan keadaan bagaimana hidup Bennington kemudian berakhir. Ia menawarkan katarsis untuk mereka yang berharap bisa teriak seperti dirinya, tipe katarsis yang sama seperti yang ia rasakan ketika mendengar band seperti Stone Temple Pilots dan Soundgarden selagi remaja. Bennington bergabung dengan STP setelah Scott Weiland dipecat pada 2013, untuk memenuhi impian seumur hidupnya. Bersama Linkin Park, Bennington melaksanakan tur bersama Chris Cornell pada 2008 lalu dan bahkan menyanyikan "Hunger Strike" dari Temple of the Dog bersama pahlawannya tersebut di atas panggung.

Dengan cara yang sama para penggemar Bennington kehilangan cahaya yang menginspirasi mereka selama remaja, Bennington menjadi saksi tragisnya mati muda dari Weiland dan Cornell, yang terakhir merupakan teman dekatnya selama bertahun-tahun dan berulang tahun di hari yang sama ketika Bennington mengakhiri hidupnya.

"Suara Anda adalah sukacita dan rasa sakit, amarah dan pengampunan, cinta dan sakit hati yang seluruhnya terbungkus menjadi satu," tulis Bennington dalam surat terbuka terkait insiden bunuh dirinya Cornell, kata-katanya kemudian bergaung di kalangan para pendengar selama bertahun-tahun dalam lagu-lagu Linkin Park seperti "Numb" dan "Heavy". "Kurasa itulah kita semua. Anda membantuku memahami itu." (hqq/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment