12 Lagu Esensial Linkin Park

Menyimak kembali lagu-lagu Chester Bennington dan rekan-rekan, dari rap-metal berubah menuju pop yang berani

Linkin Park

Musik dari Linkin Park telah lama menelusuri tema-tema keterasingan, iblis dalam diri, dan kesakitan pribadi, membuat bunuh dirinya vokalis utama band Chester Bennington merupakan sebuah kehilangan yang tragis dan besar. Vokal Bennington sering kali terdengar seperti pertarungan antara gelap dan terang, seiring beralih secara tiba-tiba dari lembut, rentan halus menjadi membara, teriakan yang serak. "Benar-benar talenta impresif yang pernah saya lihat secara langsung," tulis Rihanna dalam Instagram menghormati Bennington. "Vokalnya buas!" Di sini kami meninjau kembali 12 lagu kunci dari band tersebut yang membawa vokal itu ke dunia.

“Heavy” dengan Kiiara (2017)

"Saya ingat Chester masuk dan bilang, "Hey, apa kabarmu?"" kata Mike Shinoda kepada Billboard tentang sesi yang melahirkan lagu pop yang tulus dan down tempo dari album terakhir mereka, One More Light. "Dan dia seperti, "Oh saya baik-baik saja," dan kami bersantai lalu ia bilang, "Anda tahu? Sejujurnya, saya tidak baik-baik saja. Terlalu banyak yang terjadi pada saya. Saya merasa tenggelam." Lagu tersebut, yang dinyanyikan Bennington berduet dengan Kiiara, berhasil mencapai peringkat 50 dalam Hot 100. (aby/hqq/wnz)

“Burnt It Down” (2012)

"Burn It Down" dibuka dengan synth yang berkabut dan berputar-putar menyatu menjadi potongan keyboard yang sudah diolah akan mengingatkan kita pada riff "In The End" dari tahun 2000. Album yang dikenalkan melalui lagu tersebut, Living Things yang diproduseri Rick Rubin, adalah, dalam beberapa hal, perubahan kembali ke awal dari konsep yang berat dan penggabungan genre dari album pendahulunya, A Thousand Suns. "Dulu, kita menjauh dari apa yang telah dilakukan sebelumnya, tapi di sini, energinya mirip dengan Hybrid Theory," kata Bennington kepada Rolling Stone pada 2012. Tapi tekstur yang lebih halus dan bergairah Bennington, tetap dengan vokal yang setiap menit dikalibrasi dalam "Burn It Down" adalah tanda pendewasaan para musisi ini sejak mereka mendarat di jalur utama rock dua belas tahun lalu.

“The Catalyst” (2010)

"Kami ingin lagu yang merepresentasikan ke mana arah album ini dan bagaimana cara kerjanya, dan lagu ini berhasil melakukannya," kata bassist Dave "Phoenix" Farrell pada MTV News tentang keputusan band untuk merilis "The Catalyst" sebagai single utama dalam album penuh mereka rilisan 2010, A Thousand Suns. "Ada risikonya, tapi setimpal." Lagu tersebut melambangkan sound awal tahun 2000 band ini, menyatukan synth-pop dan sisi industrial yang akan mengingatkan kita pada Nine Inch Nails.

“Bleed It Out” (2007)

Lagu dari Minutes to Midnight pada 2007 ini menggambarkan sikap cuek Linkin Park terhadap batasan-batasan dalam bermusik, merentetkan potongan seperti rap Mike Shinoda dengan bagian melodic rock yang diulang-ulang milik Chester Bennington. "Saat jadi," kata Shinoda ke Kerrang! tentang lagu ini. "Saya bilang pada band, " saya pikir tidak yang bisa membuat lagu seperti ini selain kita." Ini adalah sebuah death-party-rap-hoedown yang aneh!"

“What I’ve Done” (2007)

Untuk album ketiga, Minutes to Midnight, Linkin Park bekerja sama dengan produser legendaris, Rick Rubin yang membantu mereka beranjak ke luar dari akar musik nu-metal mereka. Single utama "What I"ve Done" mewakili pendekatan baru band ini, mengubah fokus pada vokal Bennington dari gabungan suara tingginya dengan rima dari Mike Shinoda. Berpindah dari keringkihan pada keputusasaan, sang vokalis membahas penyesalan tentang hal buruk, rif piano yang menghipnotis. "Kami menjauh dari sound yang sudah tertebak yang kami buat sebelumya," kata Bennington dalam sebuah wawancara dengan MTV terkait single mereka tersebut.

“Numb/Encore” bersama Jay-Z (2004)

Pada 2004, Linkin Park membongkar lebih lanjut batasan rap dan rock saat band tersebut bekerja sama dengan Jay-Z. Awalnya hanya sebagai acara khusus di MTV, namun proyek ini berujung pada album mini kombinasi berjudul Collision Course, enam lagu yang berisikan karya Linkin Park dan berbagai karya klasik dari rapper asal New York tersebut. Akhirnya ini menjadi album mini kedua yang pernah memuncaki Billboard 200, dengan single-nya, "Numb/Encore" (versi baru dari lagu "Numb" milik Linkin Park pada 2003). Bagian rap Jay melambung di atas beat yang cenderung janggal dan vokal Bennington –mulai dari nyanyian lembut ke teriakan kasar –merupakan kombinasi yang sempurna. "Tak ada ego bekerja sama dengan Jay," kata Mike Shinoda kepada MTV News tentang keseluruhan kolaborasi. "Jika saya memintanya untuk melakukan sesuatu atau mengisi vokal di sana-sini, ia dengan senang hati melakukannya."

“Breaking the Habit” (2004)

"Breaking the Habit" adalah single kelima mereka dari album ketiga, Meteora (2003) yang terjual hingga 27 juta keping di seluruh dunia.

“Faint” (2003)

Single kedua Linkin Park yang bergelora dari Meteora membingkai Mike Shinoda yang bagaikan memutuskan hubungan buruk dengan Chester Bennington, "I can't feel the way I did before!/Don't turn your back on me/I won't be ignored!", "Faint" mendorong petikan gitar yang sangat menarik dan rif yang menekan secara bersamaan membuat hasil yang hebat.

“In the End” (2001)

Meledaknya Hybrid Theory membuatnya bertengger di posisi Nomor Dua tangga album Billboard ¬– pencapaian Hot 100 band terbaik dalam karier mereka. Bagaimanapun, Bennington mengakui awalnya ia tidak menjual lagu itu. "Saya hampir tidak pernah menjadi penggemar "In The End" dan bahkan tidak menginginkannya dalam album, sejujurnya," sang penyanyi berkata kepada V Music pada 2002. "Seberapa salahkah saya?... Tapi, Anda tahu, sekarang saya mencintai "In the End" dan saya pikir itu lagu yang hebat."

“Papercut” (2001)

Dalam sebuah wawancara pada 2013 bersama Monster Radio RX 93.1 Manila, Chester Bennington menggambarkan "Papercut" sebagai "identitas band", dan merupakan lagu Linkin Park favoritnya sepanjang masa. Menjadi lagu berkarakter dalam album debut mereka, Hybrid Theory, "Papercut" menjadi sebuah preseden album milenium untuk metal. "Awalnya, tujuan saya adalah membuat melodi sebanyak yang aku bisa ke dalam musik," tutur Bennington. "Band ini benar-benar hebat dalam hip-hop, dan sangat bagus dalam menulis musik rock, tapi belum terdapat banyak melodi [sebelumnya] ketika saya bergabung… Ketika kami mendapatkan lagu itu, chorus sangat membius dan kata-kata di baliknya sangat keren, saya tak butuh melakukan banyak melodi hingga kami membaliknya di akhir. Sangat menyenangkan; saya merasa seakan lagu itu sangat menggambarkan tentang getaran band tersebut."

“Crawling” (2001)

Suasana sesak, menyanyikan "Crawling" menempatkan Bennington di tengah panggung, memungkinkannya untuk menunjukkan ketegangan tertinggi yang digariskan dalam lirik yang sarat ketidaknyamanan. Bennington mengatakan kepada Rolling Stone bahwa "Crawling" dan lagu-lagu yang bertema sama adalah caranya manyampaikan bagian hidupnya yang keras. "Mudah untuk menjelaskan hal tersebut – "malang, malangnya saya"," ucap Bennington pada 2002. "Itulah bagaimana lagu seperti "Crawling" berasal: saya tak bisa menahannya. Tapi lagu tersebut adalah tentang tanggung jawab atas tindakan Anda. Aku mengucap "Anda" pada poin apapun. Ini tentang bagaimana saya merasakannya. Teradapat suatu hal dalam diriku yang menarikku ke bawah."

“One Step Closer” (2000)

"Sepanjang lirik, itu adalah pengalaman pribadi," ujar vokalis Linkin Park Mike Shinoda kepada Billboard pada 2000. "Kupikir itulah satu alasan mengapa hal itu diterima dengan baik seperti adanya." Dari single debut mereka, Linkin Park memiliki elemen-elemen yang membuat band tersebut bersensasi rap-rock: gitar detune, gesekan turntable, bagian nyanyi campur bagian rap yang geram, dan sebuah chorus ("Everything you say to me/Takes me one step closer to the edge/And I'm about to break!") yang menjembatani antara kerentanan dan kemarahan. "Itu ditulis spontan saat kami di studio dan berhubungan dengan kehidupan sosial dan musik kami menjadi agak stres," lanjut Shinoda. "Kami berada di ujung tanduk, mungkin seperti itu." Beberapa tahun kemudian, Shinoda mengungkapkan bahwa lagu tersebut ditulis tentang seorang eksekutif rekaman yang mencoba meyakinkan Bennington agar menyingkirkan bandnya untuk bersolo karier.



Related

Most Viewed

  1. Sandhy Sondoro Siap Gelar Tur Konser Perdana di Inggris Raya
  2. Kuartet Rock Asal Bali, Zat Kimia, Luncurkan Album Perdana
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Synchronize Fest 2017: Merayakan Musik Indonesia dengan Segala Keunikannya
  5. Saksikan Trailer Film ‘Chrisye’ yang Menampilkan Vino G. Bastian

Editor's Pick

Add a Comment