Chester Bennington, Vokalis Linkin Park, Tewas di Usia 41 Tahun

Figur yang juga sempat bernyanyi untuk Stone Temple Pilots ini mengakhiri hidupnya di Los Angeles

Oleh
Chester Bennington. Gansb

Chester Bennington, garda depan Linkin Park ditemukan tewas gantung diri pada Kamis (20/8) pagi waktu setempat, demikian menurut Associated Press. Seorang perwakilan band mengkonfirmasi kematian vokalis berusia 41 tahun tersebut kepada Rolling Stone.

"Sesaat setelah pukul 9 pagi, kami diberi tahu oleh aparat penegak hukum tentang terjadinya kematian di Palos Verdes Estates," ujar Brian Elias, kepala operasi Departemen Pemeriksa Medis Daerah Los Angeles kepada Rolling Stone. "Kami merespons kejadian tersebut dan sayangnya memang benar bahwa Bapak Chester Bennington telah meninggal dunia di tempat kejadian."

Elias menambahkan bahwa departemen koroner saat ini tengah melakukan penyelidikan atas kematian tersebut dan akan lebih banyak merilis informasi pada Kamis sore.

"Terkejut dan patah hati, tapi memang benar adanya," kata vokalis Linkin Park, Mike Shinoda, rekan seband Bennington, via Twitter. "Pernyataan resmi akan keluar begitu kami memilikinya."

Banyak penggemar, rekan sebaya, dan kolaborator dalam dunia musik dan hiburan yang menyatakan bela sungkawa mereka sekaligus berbagi kenangan akan sang vokalis tersebut di media sosial, termasuk di antaranya Rihanna, Hayley Williams dari Paramore, Chance the Rapper, Dwayne "The Rock" Johnson, Ryan Adams, Pusha T dan Jimmy Kimmel. Yang lainnya, seperti vokalis Thursday, Geoff Rickly dan Best Coast, Bethany Cosentino, juga berbicara tentang pentingnya menangani masalah kesehatan mental.

"Chester Bennington adalah seorang seniman dengan bakat dan karisma yang luar biasa, dan manusia yang memiliki hati dan jiwa yang penuh perhatian," kata CEO Warner Brothers Records Cameron Strang dalam sebuah pernyataan. "Hati dan doa kami bersama keluarganya yang baik, rekan-rekan sebandnya dan teman-temannya yang lain. Kita semua di WBR bergabung dengan jutaan penggemar yang berduka di seluruh dunia untuk mengatakan: Kami mencintaimu Chester dan Anda akan selamanya dirindukan."

Vokal Bennington yang menjerit dan emosional memberi umpan balik yang bagus kepada rekan sebandnya rapper Mike Shinoda dalam berbagai hits nu-metal grup ini seperti "In the End" dan "One Step Closer." Ia sempat menyanyikan lagu bermelodi pop pada single terbaru mereka "Heavy," yang menampilkan penyanyi Kiiara dan sukses menembus tangga lagu Billboard pada posisi Nomor Dua di Hot Rock Songs dan Nomor 11 pada Top 40. Selain bergabung dengan Linkin Park, dia juga sempat menjadi vokalis Stone Temple Pilots dalam kurun waktu 2013 dan 2015 serta memiliki dua band proyek sampingan Dead by Sunrise dan supergroup Kings of Chaos.

Linkin Park menjadi sangat populer ketika mereka merilis album debut Hybrid Theory, pada tahun 2000. Perpaduan antara musik rap, metal dan elektronik sukses membawa album ini menembus posisi Nomor Dua di Billboard, dan RIAA (asosiasi industri rekaman AS) kemudian menganugerahkan sertifikasi berlian yang menandakan penjualan album lebih dari 10 juta kopi. Kecuali album The Hunting Party rilisan 2014, yang memulai debutnya pada Nomor Tiga, masing-masing rilisan Linkin Park selalu sukses bercokol pada posisi Nomor Satu di tangga album Billboard. 

Selama bertahun-tahun, mereka telah membuktikan diri sebagai band yang amat fleksibel, terkadang fokus pada musik elektronik atau hard rock, namun pernah bekerja sama juga dengan Jay-Z di album mini berstatus platinum Collision Course pada 2004 dan Steve Aoki di remix A Light that Never Comes pada 2014. Album terbaru mereka, One More Light, rilis pada Mei silam. Linkin Park hingga kini telah memenangkan dua penghargaan Grammy.

Bennington lahir pada 20 Maret 1976 di Phoenix, AS, anak seorang petugas polisi. Dia memiliki masa kecil yang kelam dan kerap dianiaya serta dipukuli oleh teman yang lebih tua saat berusia sekitar tujuh tahun. "Ini menghancurkan rasa percaya diri saya," katanya kepada Metal Hammer. "Seperti kebanyakan orang, saya terlalu takut untuk mengatakan apapun, saya tidak ingin orang menganggap saya gay atau saya berbohong, itu adalah pengalaman yang mengerikan."

Saat berusia 11 tahun, orang tuanya bercerai dan dia terpaksa tinggal dengan ayahnya. Dia akhirnya menemukan obat-obatan terlarang, mengonsumsi opium, amfetamin, ganja dan kokain hingga alkohol. "Saya menggunakan narkotika jenis acid 11 kali dalam sehari," katanya kepada majalah tersebut pada 2016. "Saya menggunakannya  banyak sekali, heran juga saya masih bisa berbicara. Saya menghisap ganja, memakai sedikit meth dan kemudian hanya duduk saja terdiam dan mengalami kepanikan. Untuk menurunkannya biasanya saya menghirup opium. Berat saya menyusut hingga 50 kilogram. Ibu saya bilang saya terlihat seperti baru keluar dari kamp Auschwitz. Jadi saya menggunakan ganja agar terbebas dari obat-obatan terlarang. Setiap kali ‘sakau’, saya akan menghisap ganja.”

Setelah sebuah keributan antar geng pecah di rumah seorang temannya dimana saat itu Chester sedang “tinggi-tingginya” dan memukul wajah temannya dengan pistol, ia lalu meninggalkan narkotika pada 1992, meskipun kondisi kecanduan akan selalu merayap kembali ke kehidupannya nanti. Chester kemudian pindah ke Los Angeles, untuk mengikuti audisi sebuah band yang di kemudian hari akan dikenal sebagai Linkin Park.

Band ini telah terbentuk sebelumnya dengan nama Xero di Agoura Hills, California pada 1996, penggagasnya adalah Shinoda, gitaris Brad Delson, bassist Dave Farrell, drummer Rob Bourdon dan turntablist Joe Hahn. Bennington yang sebelumnya bergabung dengan band rock alternatif asal Phoenix, Grey Daze, akhirnya menggantikan vokalis pertama Mark Wakefield, formasi Hybrid Theory dari Linkin Park pun terbentuk.

Hybrid Theory muncul di puncak ledakan musik nu-metal dan dengan cepat mendominasi tangga lagu Billboard, sebagian berkat peran besar MTV yang rutin menayangkan video-video musiknya di sana. Single "One Step Closer," "Crawling" dan "In the End" semuanya bercokol pada posisi teratas di berbagai tangga lagu rock arus utama, dan "In the End" bahkan sukses pula menyeberang ke tangga album pop, dan mencapai Nomor Dua dan meraih sertifikasi piringan emas. "Crawling" kemudian berhasil meraih Grammy pertamanya bagi Linkin Park untuk kategori Best Hard Rock Performance.

Album kelanjutan mereka yang rilis pada 2003, Meteora, juga melesat mencapai Nomor Satu dengan cepat, sebagian berkat keberhasilan single berstatus platinum, "Numb," yang menampilkan Bennington berteriak lantang tentang lumpuhnya perasaannya ke seluruh dunia. Kesuksesan mereka menghasilkan kolaborasi pada 2004 dengan Jay-Z, Collision Course – sebuah album nomor satu lainnya lagi, rilisan berkategori platinum ini memuat penggabungan lagu "Papercut" milik mereka dengan "Big Pimpin" dan "One Step Closer" bercampur dengan "99 Problems" dari Jay-Z. Mash-up dari Linkin Park "Numb" dengan "Encore" milik Jay-Z kemudian sukses menyabet Grammy untuk Best Rap / Sung Performance.

Pada kesuksesan awal Linkin Park, Bennington ternyata kembali mengalami kecanduan narkotika. "Tur yang kami lakukan pada masa-masa awal, semua orang saat itu... entah asik minum atau menggunakan narkotika," Shinoda bercerita suatu ketika pada The Guardian. "Saya tidak bisa menemukan siapapun saat itu yang sadar." Bennington kembali terbebas dari narkotika pada 2006, dan pada akhir tahun 2000-an, dia menikmati masa-masa kesadarannya dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk musiknya. "Tidak keren menjadi pecandu alkohol - tidak keren untuk minum-minum dan melakukan hal-hal bodoh," katanya kepada Spin pada 2009. "Sangat keren menjadi bagian dari proses pemulihan... Sebagian besar karya saya menjadi cerminan dari berbagai hal yang sudah saya lalui dengan cara apapun."

Album rilisan 2007 Linkin Park, Minutes to Midnight, membuat mereka bergerak menjauh dari agresi nu-metal mereka yang terdahulu. Produser pendukung, Rick Rubin, membantu mereka lebih fokus pada rock klasik dengan nuansa U2. Risiko bisnis yang mereka hadapi dengan hits seperti "What I've Done," "Bleed It Out" dan "Shadow of the Day," semuanya sukses diganjar platinum dan multi-platinum.

Pada 2005, Bennington membentuk Dead by Sunrise, sebuah band proyek sampingan dari lagu-lagu yang menurutnya tidak sesuai dengan gaya Linkin Park. "Mereka lebih gelap dan lebih murung dari semua yang pernah saya lakukan untuk band ini," katanya kepada Metal Hammer. "Jadi saya memutuskan untuk mengerjakannya sendiri." Formasi band ini menampilkan pula anggota band Orgy dan Street Drum Corps. Album debut mereka, Out of Ashes yang rilis pada 2009 sempat mencapai nomor 29 di tangga lagu Billboard.

Linkin Park terus memadukan gaya musik rock atmosferik dengan elektronik pada album A Thousand Suns yang rilis pada 2010 (diproduksi bersama Rick Rubin) dan Living Things pada 2012. Meskipun ada perubahan karakter sound, namun mereka tetap mampu melakukan hal yang tidak mungkin dengan menembus posisi Nomor Satu di tangga lagu rock mainstream dan rock alternatif dengan single rilisan 2012 "Burn It Down", di mana Bennington bernyanyi dengan segenap tenaga sekaligus jernih.

Pada 2013, ia sempat bergabung dengan Stone Temple Pilots setelah band ini memecat vokalis Scott Weiland. Sebelumnya Chester pernah membawakan lagu "Dead and Bloated" dan "Wonderful" bersama mereka pada 2001 di Family Values Tour. Mereka sempat mengeluarkan album mini High Rise dan sering melakukan tur konser selama dua tahun ke depan. Ia meninggalkan band ini pada 2015 untuk mencurahkan waktunya kepada Linkin Park dan keluarganya.

"Saya harus menciptakan dan tampil dengan salah satu band rock terbesar generasi kami, yang memiliki pengaruh besar saat saya tumbuh dewasa," katanya saat itu. "Dengan jumlah waktu bersama STP, selain keberadaan saya di Linkin Park, dan perhatian bagi keluarga, salah satu dari ketiganya sepertinya selalu gagal beriringan." Dia kemudian sempat bermain lagi dengan bassist STP Robert DeLeo di Kings of Chaos, sebuah supergroup tur yang para anggotanya menampilkan personel Guns N 'Roses, The Cult, Slipknot dan ZZ Top.

Sementara itu, album The Hunting Party dari Linkin Park rilisan 2014 membuat mereka membelok ke arah rock yang lebih keras dan kurang sukses secara komersial. Pada album terbaru mereka, One More Light yang rilis tahun ini, mereka mengeksplorasi pop sepenuh hati. Menghadapi reaksi kritis dari beberapa penggemar lama yang menganggap Linkin Park semakin melunak sound-nya sejak Hybrid Theory, Chester sempat mengatakan kepada seorang pewawancara, "Ini adalah rekaman yang bagus, kami menyukainya. Ayo, move the fuck on."

"Heavy" yang menampilkan Bennington bertukar lirik dengan penyanyi dan pencipta lagu berusia 22 tahun, Kiiara, baru menembus paruh tengah tangga lagu pop pada saat kematian Chester, meskipun album tersebut telah memulai debutnya di Nomor Satu. Band ini juga baru saja membawakan lagu yang menjadi judul albumnya, "One More Light," di program Jimmy Kimmel Live! sebagai bentuk penghormatan kepada vokalis Soundgarden Chris Cornell, yang juga tewas gantung diri pada Mei tahun ini. "Who cares if one more lights goes out," ujarnya saat bernyanyi. "Well, I do." Linkin Park sedang dijadwalkan untuk melakukan tur konser guna  mempromosikan One More Light mulai 27 Juli bersama Blink-182, Wu-Tang Clan dan Machine Gun Kelly.

Di luar proyek utamanya, Bennington juga melakukan penampilan tamu di antaranya untuk lagu-lagu Santana, Young Buck, Mindless Self Indulgence, DJ Lethal, Mötley Crüe dan Chris Cornell. Ia juga sempat tampil di dua film Crank dan Saw 3D.

Meskipun ia mampu menggapai sukses komersial dengan Linkin Park dan kolaborasi Bennington dengan Dead by Sunrise dan Stone Temple Pilots menerima pujian, namun ia selalu berusaha untuk tetap membumi. "Pemikiran yang beranggapan bahwa kesuksesan sama dengan kebahagiaan membuat saya kesal," katanya kepada Metal Hammer pada 2016. 

"Lucu jika dipikir bahwa hanya karena sukses, Anda kemudian menjadi tidak manusiawi. Tetapi kami juga menyadari bahwa kami bukan anak-anak lagi, kami bukan ABG yang cemas dan merasa 'mengapa dunia selalu membuatku kesal?' lagi. Dan kami telah menemukan cara untuk mengungkapkannya.

"Kami mengalami kesuksesan besar dan ada banyak hal hebat yang terjadi dalam hidup kami, tapi tentu ada hal-hal yang sangat penting bagi kami," tambahnya. "Ketika kita berbicara tentang konten lirik kita tidak bisa begitu saja kembali menjadi anak pemarah. Kita perlu membicarakan sesuatu yang masuk akal untuk siapa kita hari ini." (wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  2. Pesta Death Metal Maksimal di Everloud III
  3. Film tentang Masyarakat Tegal, ‘Turah’, Tayang 16 Agustus Mendatang
  4. Lagu "Rock Da Mic" dari Shaggydog Digubah Ulang Menjadi Empat Versi Berbeda
  5. Everloud III

Add a Comment