Dipha Barus: Di Balik Perjalanan Hidup dan Musiknya

Sang DJ/produser bercerita tentang lingkungan musik di masa kecil, ketergantungan narkotika, hingga mencetak prestasi lewat dua single kenamaan

Oleh
Dipha Barus saat meramaikan acara di Parc19, Jakarta. Moses Sihombing

Dipha Barus tengah duduk santai di salah satu sudut aula Artotel, Jakarta Pusat pada Maret lalu. Ia meladeni pertanyaan demi pertanyaan dari dua wartawan muda yang sedang bertugas. Sesekali pandangannya berupaya menyapu keadaan seisi ruangan yang ramai dengan kehadiran orang-orang terdekat termasuk ibu kandungnya sendiri.

Melihat Dipha telah menyelesaikan wawancaranya, sang ibunda meminta semua orang di dalam aula untuk berkumpul demi melakukan proses pemotongan nasi tumpeng. Dipha berdiri sebelahan dengan seorang penyanyi muda berusia 16 tahun bernama Nadin Amizah, tak lupa mengungkapkan rasa terima kasih atas semua dukungan yang sejauh ini sudah diterimanya. Para anggota tim musik dan manajemennya berdiri mengelilingi Dipha dan Nadin untuk menaruh perhatian dengan rasa suka cita. Kemudian Dipha memotong pucuk nasi tumpengnya sebagai pertanda bahwa single terbarunya bersama Nadin yang berjudul "All Good" telah resmi dirilis.

Dipha adalah sosok yang murah menyebarkan energi positif di kehidupan sehari-harinya. Ia bagaikan kutub magnet yang membuat orang-orang di sekitarnya terikat dan berupaya menyeimbangi gairahnya. Mudah untuk mendapati sifat Dipha yang satu ini, cukup dengan menyimak pesan di balik dua karyanya; sebelum "All Good", telah lebih dulu dirilis "No One Can Stop Us" – single perdana Dipha, berkolaborasi dengan Kallula dari KimoKal yang berprestasi sangat baik.

"Gue manusia biasa saja sih," kata Dipha menanggapi sanjungan banyak orang tentang jiwa positifnya. "Pernah juga gue ada di masa down banget. Ada juga depresinya dari sisa-sisa yang dulu [tertawa]. Karena dulu gue super depresif. Gue besar di era indie pop dan shoegaze kayak The Jesus and Mary Chain yang hopeless romantic gitu. Ya, masih kebawa lah kayak gitu-gitu. Mungkin karena gue meditasi setiap hari, intens, jadi bisa lebih mengendalikan."

Peluncuran single "All Good" di Artotel, Jakarta Pusat. (Foto: Pramedya Nataprawira)

"No One Can Stop Us" dan "All Good" memang diselimuti atmosfer yang membangun. Single pertamanya memuat lirik yang berupaya membuka sudut pandang positif kepada para pendengar. "Bagaimana caranya orang jangan pernah putus asa untuk meraih mimpinya. Karena sejauh tujuan elo baik, universe akan memberi elo jalan yang baik juga," ungkap Dipha.

Sedangkan kisah di balik "All Good" justru datang dari satu keping pengalaman Dipha yang cukup gelap. "Sebenarnya idenya dari lagu-lagu David Bowie, juga dari buku Sadhguru yang Inner Engineering," jelas Dipha tentang ide di balik lirik "All Good". "Terus dulu waktu gue kecil pernah punya penyakit seperti anxiety attack jadi gue harus ke psikolog atau semacamnya. Tapi akhirnya gue bisa sembuh karena diri gue sendiri, bukan karena minum obat-obatan. Jadi gue mau menceritakan itu sebenarnya. Bagaimana gue bisa pisah sama penyakit gue ini."

Sisi gelap "All Good" digambarkan lewat verse pertama di mana Dipha memberi kepercayaan kepada Nadin untuk menulis lirik. "Jadi dia punya buku yang isinya tulisan puisi-puisi dia sendiri. Terus gue mencoba 'masuk' ke dalam buku itu, ada satu tulisan yang terasa depresif sekaligus lugu. Gue mau seperti itu di bagian verse, kemudian dia menulisnya," kenang Dipha.

Alhasil lagu tersebut dibuka dengan lirik: "Lights out/The ghosts you've been chasing are coming closer/In the night out/The ones you thought are hidin' undercover." Dipha menjelaskan, "Kesannya itu seperti lagu putus cinta, tapi sebenarnya bukan. Ini lebih seperti perpisahan antara sisi negatif manusia dengan sisi sebenarnya."

tolong bersabar ini ujian. recording session for #allgood with beloved @diphabarus. you good?

Sebuah kiriman dibagikan oleh Nadin Amizah (@cakecaine) pada


Pangkal kolaborasi ini terbentuk satu pekan sebelum "No One Can Stop Us" dirilis pertama kali pada Maret 2016. Saat itu Dipha mendapat rekomendasi dari salah satu pengikut media sosialnya untuk melihat akun Instagram Nadin. "Ternyata dia suka nge-post lagu-lagu cover di Instagram dengan mikrofon seadanya, nggak pakai gitar juga. Di situ gue kaget. Suaranya tidak mirip siapa-siapa. Dia punya karakter yang unik dan masih 16 tahun."

Wajar bagi Nadin, dengan usia sebelia itu, tidak mengetahui kiprah bermusik Dipha sebelumnya. Namun ketika Dipha menawarkan proyek kolaborasi dan menjadi produser untuk karya Nadin selanjutnya, ia tetap menyambutnya dengan tangan terbuka dan rasa senang hati. Padahal ketika itu Nadin tengah mengikuti sebuah kompetisi dengan kontrak label rekaman sebagai hadiah utamanya. "Semoga dia nggak menang," kata Dipha mengenang batinnya diikuti tawa keras.

Proses pembuatan lagu "All Good" tidak hanya dilakukan berdua. Di bagian lirik terdapat asupan ide dari salah satu anggota GAC, Gamaliel Tapiheru, yang dianggap Dipha sebagai "tokoh inspiratif di dunia musik sekarang." Aransemen musiknya mendapat saringan opini dari dua produser muda, Mbe Sheehan dan Kayman, selaku bagian dari kolektif kreatif bentukan Dipha yang dinamakan PonYourTone. Ini merupakan kebiasaan baru bagi Dipha yang sebelumnya selalu menggarap musik tanpa ada campur tangan pihak lain. Adanya fakta bahwa DJ sekelas Skrillex ataupun musisi searogan Kanye West ternyata diperkuat oleh tim musik di belakang layar mengubah sudut pandang Dipha dalam menjalani proses kreatif. "Mereka seperti 'kuping kanan' dan 'kuping kiri' gue sekarang," pujinya.

Dipha gemar bereksplorasi ketika menggarap karya-karyanya. "No One Can Stop Us" menyisipkan bunyi alat tradisional mulai dari gamelan Rindik Bali hingga membuat sample suara tarian Saman Aceh; Dipha sempat melakukan riset di Yogyakarta juga Padang. Sementara "All Good" diperkaya lebih banyak elemen seperti suara kecapi yang disulap agar terdengar seperti sitar, menyusupkan suara gitar Dayak, sampai memutar balik suara pentatonik nada Irian yang menghasilkan hook segar mudah diingat.

Upaya menggabungkan musik tradisional dengan modern terdengar cukup klise bagi sebagian orang, namun metode eksplorasi yang Dipha lakukan sebenarnya lebih mendalam. Ia mengacu kepada duo eksperimental asal Yogyakarta, Senyawa, yang berhasil meleburkan banyak elemen musik. "Gue ingin menjadi musisi yang terus mengeksplorasi budaya. Bukan cuma budaya Indonesia, tetapi eksplorasi ke mana-mana. Jadi intinya gue nggak mau bikin musik yang sekadar gamelan berkolaborasi dengan DJ. Bagi gue bukan begitu caranya. Seharusnya bagaimana musik-musik ini bisa ketemu titik tengahnya."

Dipha Kresna Aditya Barus, lahir di Jakarta pada 4 Januari 1986, dikenal sebagai musisi yang memiliki gudang musik sangat luas di dalam kepalanya. Di satu sisi Dipha menyimpan rasa kagum yang besar terhadap kiprah bermusik Frank Ocean, di sisi lain ia dapat membahas unit hardcore punk veteran asal Swedia, Totalitär. Dipha mengaku tumbuh besar di keluarga yang tidak fanatik dengan dunia musik. Orang tuanya adalah pasangan perantau asli Medan. Mendiang ayahnya, Johan Barus, merupakan seorang pendeta dan akuntan publik. Ibunya, Susilawati Meliala, merupakan seorang pengurus gereja yang juga berprofesi sebagai pengacara. "Bokap koleksi banyak banget kaset, ada juga piringan hitam dan beberapa CD. Gue lumayan tahu musik dari bokap yang dasar-dasar saja. Tapi saat itu gue nggak suka," kenangnya.

Dua band kegemaran ayahnya adalah Deep Purple dan Pink Floyd, jenis musik yang belum bisa Dipha nikmati di masa kecil. "Suka ada bagian solonya yang panjang, kan? 'Aduh, ini ngantuk banget,'" kenangnya sambil tertawa. Ketika itu musik yang bisa ia terima dengan baik adalah White Album dari The Beatles. Dipha masih ingat betul bagaimana rasanya mendengarkan "Ob-La-Di, Ob-La-Da" atau "Mother Nature's Son" saat menghabiskan Minggu sore di rumahnya ketika itu. "Itu yang paling relate sama musik bokap gue."

Dipha memiliki satu adik kandung bernama Dirga Patria Aditya Barus yang kini bekerja sebagai graphic designer dan memiliki jalur musiknya sendiri. "Dulu dia punya band namanya Shoah, main musik noise gitu. Jadi gue banyak tahu dan lumayan sering sharing musik juga sama dia," katanya.

Dipha bersama keluarga di hari raya Natal 2015. (Foto: Instagram/Dipha Barus)

Untuk urusan alat musik, Dipha adalah seorang multi-instrumentalis. Keahliannya sudah mulai dipupuk sejak usia enam tahun dengan menjalani les piano. Kemudian ia mengambil kelas gitar klasik dan menganggap lagu "Romance de Amor" sebagai tembang andalannya. "Kalau sudah bisa main lagu ini, kesannya sudah keren gitu," ungkapnya terkekeh.

Akan tetapi Dipha tidak pernah dinyatakan lulus dari tempat lesnya. Ia kerap membolos karena merasa tidak nyaman dengan sistem institusi yang kaku. "Gue maunya bisa memainkan lagu yang gue dengarkan. Kayak The Beatles, kenapa gue nggak diajarkan The Beatles?" Dipha pun memutuskan untuk belajar instrumen musik dengan mengulik sendiri koleksi ayahnya. Lagu populer pertama yang berhasil ia pelajari adalah "South of the Border" (1978) dari band rock Belgia bernama Octopus.

Foto Dipha kecil bersama sang ayah. (Foto: Instagram/Dipha Barus)

"Gue ingat pertama kali bikin lagu," katanya penuh antusias. "Umur 12 tahun, gue sudah bikin musik bareng sepupu gue si Bams (Bambang Reguna Bukit) bekas vokalis Samsons. Judul lagunya…," Dipha terhenti sejenak dan menggelengkan kepalanya, "Aduh ini fucking lame banget. Judulnya 'Inginku Sendiri'," lanjutnya sambil tertawa terbahak-bahak. Musik "Inginku Sendiri" mendapat pengaruh besar dari gelombang utama Britpop seperti The Stone Roses, Blur, dan Oasis. "Gue suka banget Graham Coxon dari Blur," katanya. Mereka beserta dua kerabatnya menggunakan nama Moshpit sebagai identitas band. Nama tersebut disesuaikan dengan pilihan musik yang pertama kali mereka mainkan yaitu nomor-nomor punk rock dari Bad Religion, Rancid, NOFX, hingga Green Day.

Perkenalan Dipha dengan sub-culture punk sendiri terjalin sekitar tahun 1996 ketika melihat atribut punk rock di salah satu sudut Mal Pondok Indah, Jakarta. Merasa "berbeda dengan yang lain", ia mulai mencari tahu punk rock lewat majalah-majalah mancanegara yang tersedia di toko buku Times dan bertanya ke sana kemari. Saat itu Dipha masih kelas lima SD (di Sekolah Dasar Katolik Sang Timur, Jakarta) dan rasa ingin tahunya mendarat di kolektif Jakarta Senayan Skateboarders; basis perkumpulan para skateboarders Jakarta di Gate 1, Senayan. Dipha mengaku banyak belajar di sana. Ia mengidolakan nama-nama seperti Claude Hutasoit dan Rico Pramono yang memperlakukan dirinya tidak seperti anak kecil. "Ketika gue lebih sering teler ketimbang main skateboard, gue memilih untuk nggak ke Senayan lagi," ungkapnya.

Jauh sebelum dianugerahi sebagai "DJ Syariah" oleh para awak media, Dipha memang seorang pengguna setia substansi terlarang. Dipha mengenal narkotika sejak usia 11 tahun di kompleks perumahannya di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Menginjak usia 15 tahun ia sudah menyantap segala jenis narkotika, mulai dari ganja, sabu, LSD, hingga heroin. Pada dasarnya Dipha hanya gemar menjalani aktivitas normal di bawah pengaruh substansi terlarang. Pendidikannya tidak pernah terganggu. Kebiasaan ini membuat sang ibu – Dipha pernah tertangkap basah olehnya dalam keadaan teler – terheran-heran. Satu hal yang bisa ibunya lakukan adalah merehabilitasi jiwa Dipha di retret gereja, sebuah kegiatan ibadah untuk penganut Katolik.

Dipha dan sang ibunda merayakan peluncuran single "All Good". (Foto: Pramedya Nataprawira)

Dipha pertama kali mendengarkan musik bernuansa elektronik sekitar tahun 1995 lewat acara televisi asal Amerika Serikat, Super Force, juga film fiksi ilmiah karya sutradara Ridley Scott, Blade Runner. Kemudian Dipha berjumpa dengan satu unit keyboard Roland E-86 yang kerap dimainkan oleh ibunya di gereja. Keyboard itu memiliki built-in program yang bisa menghasilkan beat­-beat musik elektronik. "Jadi ada tombol house, techno, hip hop," katanya. "Ada juga yang namanya user style di mana itu bikin beat sendiri. Di situ gue pertama kali, 'Oh, berarti bisa buat lagu seperti ini.' Tapi gue nggak pernah menganggap itu sebagai musik yang serius. Kalau mau serius ya nge-band."

Dipha (kanan) bersama saudara sepupunya dan adik kandungnya. (Foto: Instagram/Dipha Barus)

Ketertarikannya untuk menjadi seorang DJ mulai muncul ketika Dipha yang sudah berstatus sebagai siswa SMP di Sang Timur Jakarta berkunjung ke toko musik HMV, Singapura. Di toko itu ia menerima selembaran acara drum & bass yang diselenggarakan oleh Guerilla Records, dan Dipha tertarik untuk hadir bersama sepupunya. Saat tiba di lokasi perhelatan, Dipha sontak terpukau karena acara tersebut dihadiri oleh banyak skateboarders, kaum yang ia percaya memiliki selera musik tinggi. Di kesempatan ini pula Dipha perdana membeli piringan hitam untuk dimainkan yaitu karya dua DJ drum & bass asal Brazil, DJ Marky dan DJ Patife, juga salah satu piringan hitam keluaran label rekaman Renegade Records dari Inggris.

Di waktu yang bersamaan, kehidupan bermusiknya kian terbentuk karena memperkuat band cover sekolahan bernama Infinity. Dipha yang saat itu mulai mendapat pengaruh musik dari Jamiroquai menjadi gemar bereksperimen dengan unsur jazz-funk hingga musik-musik Brazil. Infinity aktif selama kurang lebih setengah dekade. Selain Dipha dan masih bersama saudaranya Bams, band tersebut juga melibatkan beberapa musisi lain seperti Robert Mulya Raharja (Shadow Puppets), Chandra 'Konde' Christanto (Samsons), Mery Kasiman (Potret), Nikita Dompas (Tomorrow People Ensemble), hingga Aldista 'Dochi' Sadega (Pee Wee Gaskins).

"Infinity itu seperti band proyek, jadi orangnya ganti-ganti. Band cover yang mainnya di acara-acara sekolah, jadi mainnya di pensi-pensi kayak PL Fair, SMA 6, atau SMA 82," kenangnya. "Gue main bass di sana, dan yang mengarahkan musiknya itu gue bersama Robert. Jadi perkenalan gue kepada cara mengubah aransemen terjadi di Infinity," lanjut dia. Sayangnya tidak ada album penuh yang dirilis atas nama Infinity. Hingga kini status band tersebut mengambang tidak jelas karena kesibukan masing-masing personel.

Masuk ke masa SMA di Pangudi Luhur, pengetahuan musik elektroniknya tergiring lebih dalam pasca berjumpa dengan nama-nama seperti Anton Wirjono dan Heru Kartowisastro – dua orang yang dianggap guru oleh Dipha – juga DJ Harvey dan Thomas Bullock; dua DJ berkebangsaan Inggris yang turut menginsprasinya. "Ketika SMA pikiran gue jadi terbuka kalau DJ itu sebenarnya bisa menjadi mata pencaharian. Kerjaannya bikin lagu untuk diri sendiri dan orang lain, kayak yang dilakukan oleh Andrew Weatherhall saat memproduseri Primal Scream," ungkapnya.

Pada awalnya Dipha ingin melanjutkan kehidupan musiknya lewat pendidikan resmi di Berklee College of Music, Boston, AS. Namun ayahnya tidak merestui lantaran menganggap musik sebagai hobi semata. Kemudian tahun 2003 Dipha berkeputusan mengambil jurusan Graphic Design Advertising di Limkokwing University, Kuala Lumpur, Malaysia. Di sana ia merasa tidak nyaman dan selalu berkeinginan untuk pulang ke tanah air. Meski suatu ketika keresahannya cukup terobati karena sang ibu mengirim upright bass miliknya untuk menemani.

Sebenarnya prestasi pendidikan Dipha tidak mengecewakan di atas kertas. Ia berhasil membuktikan kemauan ayahnya untuk menjalani pendidikan yang lebih "formal". "Tapi bokap gue bukan yang bangga, cuma, 'Oh, ya, bagus,'" kenang Dipha sambil tertawa. "Dibanding ketika SMA yang cuma main-main, waktu kuliah gue benar-benar belajar. Tapi mabuknya belum hilang," ungkapnya.

Kebiasaan Dipha mengonsumsi narkotika mulai menghilang di penghujung masa kuliah, ketika melihat teman-temannya yang sesama pengguna tidak lagi menunjukkan kondisi tubuh yang wajar. Di masa yang bersamaan, ayahnya pun tengah berjuang melawan komplikasi penyakit. "Itu menjadi titik balik, 'Wah, ini sudah seharusnya gue sadar,'" katanya. "Kebetulan gue sembuhnya juga gampang. Susahnya paling saat menahan sakau untuk pertama kali. Saat kuliah gue sudah nggak ketergantungan heroin lagi, gue sudah nggak ketergantungan putau lagi. Palingan yang belum sembuh waktu itu adalah kebiasaan gue untuk teler dari obat antidepresan, cimeng, sabu, LSD, kayak gitu-gitu."

"Dan di situ gue mikirnya, 'Pokoknya saat gue mengerjakan sesuatu, sampai umur 60 tahun gua akan melihat ke belakang, sudah melakukan apa saja.' Jadi sampai sekarang gue masih ingat itu, gue harus maju terus menjalankan sesuatu. Nanti saja melihat ke belakangnya. Gue takutnya kalau melihat ke belakang bakal ada traumanya, 'Ah, sudah banyak yang gue kerjakan. Bisa santai dikit.' Habis itu mabuk lagi."

Kendati tak selalu merasa nyaman bermukim di Kuala Lumpur, sebenarnya jalan hidup Dipha berubah di sana. Kiprah bermusiknya dimulai dari kancah musik elektronik dan kehidupan malam Kuala Lumpur, termasuk membeli turntable pribadi pertama dan memperbanyak koleksi piringan hitamnya.

Dipha tampil pertama kali sebagai DJ di acara home session intim gelaran teman-teman kampusnya sendiri. Ia bertemu dengan DJ Yansi, pemuda berkebangsaan Indonesia yang memiliki wibawa sebagai DJ progressive house memesona di Kuala Lumpur. Ketika itu progressive house adalah musik elektronik yang komersial, sedangkan Dipha tidak menyukainya. "Bro, elo main bass ya? Kita kolaborasilah," ajak Yansi. "Gue nge-DJ juga lho! Gue koleksi piringan hitam kok," kata Dipha coba menampik. "Ah, kalau nge-DJ di kelab itu beda, Dip." Kemudian Yansi menyampaikan wejangan-wejangannya tentang bagaimana berkarier sebagai seorang DJ. "Oke, gue mau nge-DJ di ruangan Velvet di Zouk, elo main bass ya?" ajak Yansi di ujung nasihatnya. "Shit, gue maunya nge-DJ!," kata Dipha sambil tertawa, mengekspresikan ucapan dalam hatinya ketika itu.

Kolaborasi mereka pada akhirnya benar terjadi. DJ Yansi memainkan irama tribe house di mana Dipha bertugas mengiringinya dengan permainan slap bass. Meski Dipha merasa kenangan itu cukup memalukan, pada kenyataannya kolaborasi ini berhasil menyedot banyak penonton yang juga berwarga negara Indonesia. Keberhasilan ini membuat kelab-kelab lain di Kuala Lumpur berminat untuk mengundang kolaborasi Yansi dan Dipha.

Kondisi ruangan Zouk terkini. (Foto: zoukclub.com.my)

Ketika Dipha mendapat kesempatan tampil kembali di ruangan Velvet di Zouk, ia bertemu dengan salah satu DJ residensi di sana bernama Ray Soo; salah satu pionir kancah musik elektronik Malaysia. Mereka berkenalan dan Dipha membeberkan identitasnya sebagai seorang DJ. Setelah itu Dipha berkunjung ke rumahnya, mendengarkan Soo berbicara panjang lebar dan menunjukkan koleksi musiknya sampai pagi hari. Soo yang rumornya seorang biseksual – "Kayak Richie Hawtin gitulah," kata Dipha – sedang dalam keadaan "hacep" malam itu. Dipha yang masih berstatus pengguna substansi terlarang memilih untuk tetap berada dalam keadan normal. "For the sake gue tahu musik dan gue dapat jaringan, gue nongkrong sama dia. Padahal waktu itu gue sudah ngantuk banget. Gue juga nggak mau hacep karena besoknya kuliah. Jadi ketika itu gue sedikit pikir panjang."

Di tengah perbincangan, Soo meminta Dipha – sebagai seorang DJ – untuk menjadi aksi pembukanya di ruangan utama Zouk. Biasanya Soo dijadwalkan tampil pada pukul sebelas malam hingga dini hari, dan Dipha dipersilakan untuk beraksi pukul sembilan malam. "Belum ada orang dong?," kenang Dipha meniru rasa cemasnya waktu itu. Ia pun berinisiatif untuk membuat selebaran sendiri yang menyertakan nama sekaligus jam penampilannya. Kemudian Dipha melakukan foto kopi dan menyebarkannya kepada orang-orang Indonesia yang ada di kampusnya juga kampus-kampus lain. Strateginya berhasil. Pada pukul sembilan malam di ruangan utama Zouk, yang biasanya hanya dihuni oleh beberapa pegawai menyapu lantai, malah dipadati oleh muda-mudi tanah air berpesta pora.

Keramaian tak terduga ini membuat Dipha yang tampil menggunakan format CDJ dan piringan hitam menjadi grogi. Sempat di tengah set penampilannya ketika ia sedang memutar nomor "Philly" dari DJ T, ruangan utama Zouk mendadak hening tanpa alunan musik. Hal ini disebabkan oleh kekeliruan Dipha dalam mengangkat salah satu jarum dari piringan hitam yang sedang berputar.

Ray Soo 2017. (Foto: Instagram/Ray Soo)

Pasca penampilan perdananya di ruangan utama Zouk, Dipha semakin sering tampil sebagai DJ di beberapa kelab Kuala Lumpur lain untuk menjadi aksi pembuka Yansi. Kemudian ia kembali lagi ke ruangan Velvet untuk tampil meramaikan acara bernama Sessions. Acara ini selalu memberi kesempatan kepada DJ-DJ muda Kuala Lumpur yang mayoritas memainkan progressive house. Setiap malamnya Sessions akan menampilkan dua DJ, dan Dipha selalu ditempatkan di jam pembuka.

"Pada saat itu musik gue house. Maksudnya ketika itu house benar-benar minoritas. Semuanya progressive. Gue main house dan techno yang tidak ada vokal sama sekali. Tapi mereka tetap mengundang gue karena gue bawa teman-teman yang seumuran, penonton yang masih muda," ungkapnya.

Lewat penampilannya di Sessions, Dipha bertemu Lau Hoe Yin atau lebih dikenal dengan nama DJ Blink, seorang DJ berprestasi yang menjuarai banyak kompetisi dan menjadi idola pemuda-pemudi Kuala Lumpur. Di pertemuan ini, Blink yang mewakili kolektif Eclectic Phunk menawarkan kerja sama kepada Dipha untuk menggarap sebuah acara. Pada masa yang bersamaan, Blink dan Eclectic Phunk juga berencana melakukan kolaborasi dengan Twilight Actiongirl – serupa dengan penyedia keriaan Monday Mayhem di Jakarta – untuk menggarap acara bernama Lapsap. "Setelah itu gue mau berkolaborasi dengan elo," ajak Blink yang sukses mengejutkan Dipha. "Terus main lagunya apa?," tanya Dipha. "Jangan techno. Mainkan lagu yang orang-orang bisa have fun," balas Blink.

Dipha mendapat ide untuk memberi nama acaranya Hura Hura, diselenggarakan di ruangan paling kecil Zouk, The Loft, yang ia gambarkan, "Mirip ruangan belakang Parc19 lah." Hura Hura dibuka oleh aksi dari Dipha, dilanjut dengan penampilan dari Blink, lalu keduanya tampil secara back to back sebagai sajian penutup. Dipha dan Blink memainkan electroclash hingga new rave, mulai dari Soulwax kebanggaan Belgia hingga pasukan DFA Records. Mereka bahkan berani menyisipkan New Order di antara Bloc Party ataupun The Chemical Brothers. "Gara-gara dia (DJ Blink) gue tahu cara mengikat penonton. Tahu cara menghibur orang. 'Di sini elo drop band lagi saja... sekarang!' Terus gue nge-drop Peter Bjorn and John, "Young Folks", dan orang-orang langsung moshing!," kenangnya dengan bangga.

Tidak lagi seperti acara-acara sebelumnya yang hanya diramaikan oleh warga Indonesia, penampilan Dipha di Hura Hura disaksikan oleh banyak penonton dengan lintas latar belakang. Acara ini begitu ramai sehingga pintu ruangannya sudah harus ditutup pada pukul satu dini hari atau tiga jam sebelum Hura Hura dijadwalkan selesai. Dipha mengibaratkan semarak acara ini seperti kelab malam Trash yang dijalankan oleh DJ bawah tanah ternama asal Inggris, Erol Alkan.

DJ Blink (kanan) kini menjalani proyek duo bersama DJ Goldfish (kiri). (Foto: Instagram/DJ Blink)

Sayangnya Hura Hura hanya mampu terselenggara satu edisi lantaran Dipha harus pulang ke Indonesia untuk menemani ayahnya yang sakit parah; pada 2007 ayah Dipha meninggal dunia akibat komplikasi penyakit. "Kemudian Blink melanjutkan acaranya yang Lapsap itu, di mana acaranya jalan terus dan sudah besar banget sampai sekarang. Padahal yang ramai itu sebelumnya malah si Hura Hura, bukan Lapsap," ungkapnya. Berkat kesuksesan menggarap Hura Hura, jadwal penampilan Dipha di ruangan utama Zouk bergeser lebih malam ke jam utama, seperti ketika ia meramaikan acara bernama Unity.

Unity adalah rangkaian pesta yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswi Indonesia dari gabungan universitas di Kuala Lumpur. Acara ini menghadirkan langsung DJ-DJ tanah air seperti DJ Riri, DJ Romi, hingga DJ Naro yang tampil bergiliran di beberapa kelab Kuala Lumpur. Selain bertindak sebagai pengisi acara Unity di Zouk, Dipha juga tergabung sebagai salah satu panitianya. Di kesempatan emas ini Dipha mendapat tugas sebagai liaison officer untuk DJ yang dia anggap sebagai guru, Anton Wirjono.

"Di situ gue benar-benar pertama kali berbicara panjang lebar sama dia," kenang Anton saat dijumpai usai tampil di kawasan JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada Mei lalu. "Dari situ sudah kelihatan bahwa dia memang penuh talenta dan sangat bekerja keras untuk bisa sampai di titik sekarang ini."

Anton memuji sifat positif Dipha yang secara tidak langsung turut memengaruhi karya dan karier bermusiknya. "Yang dia lakukan semua dari hati," katanya. "Karakternya peduli sekali dengan perasaan orang. Dia orang baik jadi itu berdampak terhadap karya musik juga penampilannya di atas panggung, karena dia melakukannya untuk orang lain. Terasa sekali spirit positifnya kalau berada di satu ruangan bersama dia. Terasa sekali jiwanya untuk menghibur orang lain lewat musik. Dia sempat berkontribusi di kolektif kami (Future10) untuk pergerakan kancah musik elektronik ketika itu. Sekarang melihat Dipha bangganya bukan main."

Anton bersama Dipha. (Foto: Instagram/Anton Wirjono)

Sejak Dipha kembali bermukim di tanah air sekitar 2007, Anton juga mengajaknya untuk memperkuat band elektronik yang ia dirikan sejak 2003, Agrikulture. Dipha bermain synthesizer dan bass di sana, menyusul pengalamannya menjadi pemain bass additional untuk Space System yang diperkuat Jonathan Kusuma dan Aryo Adhianto. "Natural banget mainnya, karena referensi musiknya sama. Ketika ada Dipha, Emil (Pahlevi, gitaris), dan Fandy (DFMC, vokalis), format Agrikulture jadi lebih live daripada sebelumnya," kata Anton. Agrikulture giat tampil di berbagai acara mulai dari yang khusus musik elektronik, pensi sekolah, hingga festival musik akbar. Mereka tidak saja meramaikan acara-acara regional Indonesia tetapi juga menyambangi banyak perhelatan musik di kawasan Asia lainnya.

Pada 2011 Agrikulture dengan formasi Fandy, Dipha, Emil, dan Aditya Permana (drum) merilis album penuh kedua berjudul Terang Benderang; menindaklanjuti album debut Dawai Damai pada 2007. Menyertakan single "Lagu Cinta-cintaan", mereka mencoba bereksperimen lebih dalam pada album kedua dengan mengajak beberapa musisi lain seperti pemain kendang bernama Acil, penyanyi reggae Ras Muhammad, rapper asal Kuala Lumpur Arabyrd, dan penyanyi Sara Un Soiree. "Setelah album itu gue ingin serius menjadi DJ, sehingga gue harus membangun 'brand' gue sendiri sebagai seorang DJ dan produser," kata Dipha. "Gue tetap nge-band tapi setelah album itu gue sempat nggak membuatkan lagu lagi untuk Agrikulture karena fokus belajar membuat lagu sendiri." Sejak itu Dipha menjadi sering tampil seorang diri sebagai DJ, bahkan ia memiliki logo dan acara sendiri. Jadwalnya yang kian padat membuat Dipha harus rela absen tampil bersama Agrikulture di atas panggung. Posisi yang ia tinggalkan kemudian diisi oleh Hogi Wirjono dengan sedikit perubahan aransemen di atas panggung.

Dipha (kanan) bersama Agrikulture meluncurkan album Terang Benderang pada 2011. (Foto: Pramedya Nataprawira)

Saat ditanya bagaimana statusnya di Agrikulture sekarang ini, Dipha menjawab: "Gue masih tercatat sebagai anggotanya sih, tapi gue nggak pernah nge-band sama mereka lagi. Gue juga sempat nanya ke Fandy, 'Status gue di Agrikulture bagaimana?' Dia jawabnya, 'Ya kami nggak pernah merasa elo keluar. Elo masih bagian dari band ini. Kita tetap jalan terus.' Jadinya gue sekarang menempatkan diri sebagai produser dan penulis lagu saja. Kalau misalnya gue bisa main, ya gue main."

Sejak semester pertama 2017, Agrikulture tengah menjalankan proyek kolaborasi bersama grup rock ugal-ugalan ibu kota, The Brandals. Proyek ini mengharuskan kedua band untuk berkolaborasi tidak hanya di atas panggung tetapi juga menciptakan lagu baru bersama-sama. Meski para personel Agrikulture sempat tidak bertemu langsung dengan Dipha dalam jangka waktu panjang, band tersebut bersama The Brandals tetap mempercayainya untuk menjalankan tugas yang satu ini. "Waktu itu Fandy sempat minta dibuatkan lagu untuk Agrikulture. Tiba-tiba ketika gue kirim, sudah ada dua belas lagu. Jadi memang belakangan gue sedikit demi sedikit membuatkan lagu terus untuk mereka. Dan ketika bertemu di studio, energinya masih sama. Di situ gue merasa senang banget," terang Dipha.

Di masa awal kepulangannya ke Jakarta, Dipha tak serta-merta mendapat banjir tawaran untuk tampil sebagai seorang DJ. Dirinya terlebih dahulu bekerja sebagai costumer service untuk Aksara Bookstore, Jakarta. Pada akhir 2007 Dipha, bersama pacarnya ketika itu, berupaya menghidupkan kembali Hura Hura dengan konsep yang berbeda. "Tapi harus ada musiknya yang baru, jangan sama persis Hura Hura. Soalnya di sini masih belum bisa kayak gitu. Kalau elo mau main kayak gitu paling di Monday Mayhem saja. Sedangkan kalau elo main di Monday Mayhem dan ada sedikit elektroniknya, elo pasti langsung dibilang, 'Wah, DJ nih,'" ujar pacarnya kepada Dipha pada saat itu. Acaranya diberi nama Misch Masch dengan memutar musik-musik ala Hollertronix, pasukan elektronik bawah tanah yang diperkuat Diplo. "Musik cutting edge yang sedang sering beredar dimainkan di acara ini. Ada hip hopnya, ada bandnya, sampai ada versi vokalnya ala M.I.A.," kenang Dipha.

Misch Masch diselenggarakan pertama kali di Willow, Jakarta. Acara ini memiliki tradisi memutar lagu dua kali di mana Fandy bertugas sebagai MC-nya. "Ketika gue memainkan lagu yang lagi ngetop, lagu M.I.A. misalnya, saat mau pecah Fandy langsung, 'Hold on hold on!,' dia putar lagi lagunya dari awal," kenang Dipha sambil tertawa. Misch Masch diselenggarakan setiap bulan dan bertahan selama lebih kurang satu tahun. Selain Dipha dan kekasihnya pada masa itu, penggarapan Misch Masch juga dibantu oleh adik kandung Dipha sendiri yaitu Dirga. "Kami dekorasi acaranya sendiri. Sebenarnya ini bisa dibilang cikal bakal dari PonYourTone sih," katanya.

Salah satu poster Misch Masch. (Foto: happypeopledontcomplain.blogspot.co.id)

Pada 2014 kolektif kreatif PonYourTone terbentuk pertama kali atas dasar penggabungan dua elemen yaitu musik dan artwork. Konsepnya terinspirasi dari beberapa saluran YouTube musik seperti Majestic Casual dan OneChilledPanda yang pada saat itu baru bermunculan. Dipha bertugas menggarap musiknya sedangkan Gianni Fajri, pacarnya ketika itu, dipercaya untuk membuat artwork-nya. Setelah beberapa kali mengunggah hasil karya mereka, PonYourTone kemudian berubah ke dalam format acara berkat usul dari Samuel Adhitya, kerabat mereka yang juga turut membentuk kolektif tersebut. Edisi perdananya diselenggarakan di Parc19, Jakarta. Selain penampilan dari Dipha, pesta PonYourTone edisi perdana juga menghadirkan penampilan dari Jidho.

Pasca edisi perdana pesta PonYourTone, Gian mengusulkan agar acara ini dibuat secara berkala dengan tema dekorasi yang berbeda-beda. "Sekarang era digital dan semua informasi bisa dicari," imbuh Dipha. "Jadi misalnya acaranya temanya Mexican, sekarang ini sedang terjadi isu sosial apa di sana yang perlu kami bahas. Jadi ada makna di baliknya. Mau orang mengerti atau tidak, tapi kalau misalnya orang-orang bakal mengerti itu sepuluh tahun mendatang, mereka bakal, 'Oh, ternyata PonYourTone membahas ini!'" Kemudian edisi kedua pesta PonYourTone yang juga diselenggarakan di Parc19, membahas tentang tragedi sodomi yang dilakukan oleh para pelaku agama di Amerika Serikat.

Sejak 2016 PonYourTone mulai berkembang menjadi sebuah label rekaman, merilis serangkai single milik Dipha dan nomor "Flip" dari Kayman yang menyertakan vokal Teza Sumendra. "Selain menjadi label, gue ingin PonYourTone juga menjadi sebuah creative hub," ungkap Dipha. "Bisa menguhubungkan orang-orang kreatif dan jadi sebuah pergerakan. Sehingga ini bisa terus regenerasi, tidak hanya menjadi kepemilikan satu kelompok aja."

Tahun 2017 menjadi salah satu periode cemerlang bagi catatan karier bermusik Dipha. Di bulan Januari, namanya bersama Teza Sumendra muncul sebagai kolaborator di single "Lemme Get That" milik Rinni Wulandari. Pada bulan Februari, grup electropop Jakarta bernama Roman Foot Soldiers merilis album penuh berjudul Controversy di mana Dipha bertindak sebagai produsernya. Berselang satu bulan kemudian, Dipha menggubah ulang nomor hits "Aku Wanita" dari Reza Artamevia yang dinyanyikan kembali oleh Bunga Citra Lestari. Di bulan Juni, musisi pendatang baru Adrian Khalif bekerja sama dengannya untuk merilis single bernuansa hip hop/R&B era 2000-an yang berjudul "Made in Jakarta".

Kontribusi Dipha dalam menciptakan karya untuk pemusik lain dipastikan bakal berlanjut tahun ini. Nama-nama kolaborator yang ia sedia bocorkan antara lain adalah Lala Karmela, Bams, Ramengvrl, hingga rapper muda Amerika Serikat yang tengah menjadi sorotan, Vince Staples (awalnya kolaborasi ini direncanakan berjalan bersama rapper muda AS yang menjadi nomine Grammy, Vic Mensa).

"Kalau misalnya visi musik mereka sama, kayak 'Gue mau eksplorasi sesuatu yang baru,' sudah pasti 'Yes' bagi gue," tegas Dipha mengenai pertimbangannya dalam berkolaborasi. "Tapi kalau, 'Bagaimana caranya gue bisa main di crowd ini?' Nah itu gue nggak tahu. Kalau ada label rekaman major yang datang ke gue dan bilang, 'Apakah lagu ini bisa untuk dijual?' Gue nggak tahu karena itu bukan otoritas gue."

Keberadaan "No One Can Stop Us" dan "All Good" terus membesar secara organik bagaikan bola salju yang bergulir liar. Kedua judul lagunya begitu cocok digunakan oleh pengguna media sosial sebagai tagar dalam unggahan semangat positif. "No One Can Stop Us" kini sudah didengar lebih dari 4,2 juta kali oleh pengguna Spotify, serta rutin diputar di stasiun radio nusantara juga berbagai gerai minimarket. Lagu ini menggondol trofi Anugerah Musik Indonesia Awards 2016 sebagai Karya Produksi Dance/Electronic Dance Music Terbaik. Di tahun yang sama "No One Can Stop Us" dimainkan oleh produser ternama, Mark Ronson, ketika beraksi di We the Fest. "Setelah We the Fest, manajernya email gue untuk bilang kalau Ronson suka lagu itu. Terus dia memainkan lagi lagu itu saat tampil di Summersonic, Jepang," ungkap Dipha.

"All Good" yang baru berusia lebih kurang empat bulan sudah diputar sebanyak 3,6 juta kali di Spotify. Serupa dengan single perdananya, lagu ini juga menjamur berkumandang di banyak stasiun radio, lokasi publik, bahkan sampai ke gerai minimarket di Korea Selatan. "Dari awal gue nggak pernah berpikiran, 'Gue harus bikin lagu yang hits, yang dinyanyikan orang banyak sampai diputar di minimarket.' Nggak pernah sama sekali. Jadi lebih ke nggak menyangka," katanya bersyukur.

Dipha bersama dua kolaboratornya, Kallula (kiri) dan Nadin (kanan). (Foto: Moses Sihombing)

Kerja keras Dipha sebagai DJ, musisi, sekaligus produser sejauh ini telah sukses membawa musik elektronik Indonesia ke tahap yang belum pernah terjamah sebelumnya. Adanya sejuta kemungkinan ia dicap sebagai seorang yang sell out, tidak akan mampu menghentikan langkahnya. "Pikiran gue tentang sell out itu sudah seperti…," kata Dipha sedikit terbata-bata, "kayak dulu pertama kali gue menemukan Arcade Fire, gue merasa band itu punya gue. Terus ketika teman-teman gue tahu, gue kayak, 'Ah, kok dia bisa tahu?' Awalnya gue memang kecewa. Tapi setelah itu gue jadi bertanya-tanya, gue benar-benar suka nggak sih dengan musik mereka? Kemudian gue berpikir kalau the music stays forever. Mau sell out atau nggak, musik yang bagus akan tetap bertahan." (rn)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Sandhy Sondoro Siap Gelar Tur Konser Perdana di Inggris Raya
  2. Kuartet Rock Asal Bali, Zat Kimia, Luncurkan Album Perdana
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Synchronize Fest 2017: Merayakan Musik Indonesia dengan Segala Keunikannya
  5. Saksikan Trailer Film ‘Chrisye’ yang Menampilkan Vino G. Bastian

Add a Comment