Profesor Jeremy Wallach Meluncurkan Buku tentang Musik Indonesia Era 1997-2001

Buku setebal lebih dari 350 halaman tersebut kini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia

Oleh
Dari Kiri Ke Kanan: Rebekah Moore, Wendi Putranto, Arian 13, dan Profesor Jeremy Wallach. Ivan Makhsara

Pada jelang akhir pekan lalu At America diinvasi para pecinta musik rock. Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Indonesia tersebut menggelar diskusi dengan tajuk Modern Noise, Fluid Genres yang diambil dari judul buku karangan Profesor Jeremy Wallach yang berasal dari Bowling Green State University di Ohio, AS. Jeremy pada hari itu membicarakan tentang buku tersebut yang baru saja diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Komunitas Bambu. Turut berada di panggung sebagai pembicara, digital managing editor Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto dan vokalis Seringai, Arian 13. Keduanya dulu turut membantu proses riset yang dilakukan Jeremy untuk buku tersebut.

Buku yang dalam bahasa Indonesia kini diberi judul Musik Indonesia 1997 – 2001: Kebisingan & Keberagaman Aliran Lagu itu menceritakan tentang pergolakan musik Indonesia di era transisi Orde Baru menuju Orde Reformasi. Jeremy bersentuhan dengan komunitas musik punk, metal sampai dangdut dalam bagian mendokumentasikan budaya pop di Indonesia pada saat itu.

Jeremy datang ke Indonesia pertama kali pada September 1997 untuk pembuatan disertasinya mengenai budaya pop Indonesia. Sebelum kehadirannya, ia diperingatkan bahwa seniman Indonesia tidak mau berbicara politik, namun di tahun tersebut pergolakan yang terjadi di Indonesia membawanya ke pusaran pertemuan antara budaya pop dan politik.

Di Indonesia, ia bertemu dengan dangdut di era optimis dan pergerakan musik underground yang diorganisasi oleh mahasiswa maupun anak muda yang berfokus pada punk dan metal. Baginya pengalaman tersebut memukau untuk dipotret.

Dua di antara responden yang membantu Jeremy dalam pembuatan bukunya adalah Wendi Putranto dan Arian 13. Wendi ketika itu adalah ketua senat di kampusnya, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan editor untuk Brainwashed Zine. Sedangkan, Arian saat itu adalah vokalis Puppen dan membuat Tigabelas Zine.

Wendi menceritakan bagaimana ia dikenalkan dengan Jeremy di Poster Café, lalu membawanya ke sebuah acara punk di kebun pisang di daerah Meruya, dan keadaan kancah musik underground secara umum di era tersebut. Ia juga memperlihatkan foto-foto dari era tersebut.

Arian 13 yang masih di tinggal di Bandung 20 tahun lalu bercerita tentang berkegiatan di era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana seorang temannya, Karib, vokalis dari band Cryptical Death yang datang kepadanya secara tiba-tiba dan menyerahkan 200 kaset untuk diulas. Karena akses yang sulit pada saat itu, tak heran cara satu-satunya adalah bertemu langsung.

Di buku Musik Indonesia 1997 – 2001: Kebisingan & Keberagaman, Jeremy mendokumentasikan era tersebut melalui pengamatan yang jeli. Ia menggabungkan penelitian menyeluruh dengan pengetahuan mendalam yang tak terbatas pada musik pop tapi juga musik yang dimainkan di bawah tanah.

Selain berbicara soal buku dan kancah musik lokal di era awal reformasi, acara malam itu juga dimeriahkan dengan penampilan panggung dari Koil. Band industrial rock asal Bandung ini menghibur dengan lagu-lagu hitsnya dan kelakuan sang vokalis Otong yang sukses mengocok perut para penonton. Otong tak hentinya melawak di sela penampilan dan bahkan sempat menyanyikan lagu “Every Rose Has It’s Torn” dari Poison.

Buku Musik Indonesia 1997 – 2001: Kebisingan & Keberagaman sudah dapat dibeli secara daring via situs Komunitas Bambu.

Editor's Pick

Most Viewed

  1. Afgan Dipaksa Turun Panggung di Prambanan Jazz Festival 2017
  2. Sixpence None the Richer, Dewa19, KLa Project, Stinky Siap Ramaikan The 90's Festival 2017
  3. Bos Prambanan Jazz Menjelaskan Insiden yang Menimpa Afgan
  4. Tertunda Lima Tahun, Hightime Rebellion Akhirnya Merilis Album Perdana
  5. Saksikan Trailer Film ‘Pengabdi Setan’ Garapan Ulang Joko Anwar

Add a Comment