10 Hal yang Tak Diketahui dari Album Penuh Perdana The Sigit

Beberapa catatan penanda satu dekade album 'Visible Idea of Perfection'

Oleh
Penampakan album 'Visible Idea of Perfection' dalam format piringan hitam.

Mungkin Rektivianto Yoewono (vokal/gitar), Farri Icksan Wibisana (gitar), Aditya Bagja Mulyana (bas), serta Donar Armando Ekana alias Acil (drum) tak akan populer sebagai kolektif rock The Sigit jika album perdana mereka yang bertajuk Visible Idea of Perfection tak lahir ke bumi sepuluh tahun silam dan kemudian menjelma jadi salah satu karya penting penanda regenerasi musik rock tanah air pada akhir dekade 2000-an.

Dari album itu lahirlah nomor-nomor perkenalan seperti "New Generation", "Let It Go", "Alright", hingga tembang romantis berdistorsi, "All the Time", yang kerap dibawakan pada penampilan panggung mereka hingga kini. Beberapa lagu dalam album sudah dikeluarkan terlebih dahulu lewat album mini rilisan Spills Records pada 2004, dari "Soul Sister" hingga "Clove Doper" yang membuat The Sigit lekat dengan salah satu merek rokok tersohor negeri ini.

Musiknya yang rock & roll, bahkan cenderung garage rock, menyeruak pada era di mana musik dari arus pinggir dielu-elukan sebagai penyegar khazanah musik Indonesia yang sedang diterjang derasnya suguhan pop Melayu. Kondisi ini otomatis membuat empat barudak Bandung ini diperhitungkan publik.

Berkat Visible Idea of Perfection pula The Sigit sukses melangkahkan kaki mereka ke Australia; album tersebut dirilis ulang oleh label rekaman setempat, Cavemen Records. Jaringan Insurgent Army pun meluas hingga Negeri Kanguru. The Sigit kemudian ditunjuk menjadi pendukung tur band lokal, Dallas Crane, pada Juni 2007.

Rolling Stone Indonesia lantas mengganjar The Sigit sebagai resipien Editors' Choice 2008 untuk kategori Almost Famous atas seluruh pencapaian gemilang tersebut.

Menandai satu dekade tuah album perdana ini bekerja, pihak band berkeputusan merilis kembali Visible Idea of Perfection dalam format piringan hitam pada April lalu melalui FFWD Records selaku label rekaman mereka sejak dulu. Dengan merahasiakan jumlah keping piringan hitam yang tersedia, The Sigit ternyata sudah merencanakan perilisan dalam format ini sejak momen pertama album ini dirilis.

Beberapa fakta lain tentang Visible Idea of Perfection pun turut terungkap ketika Rolling Stone berbincang dengan para personel The Sigit beberapa saat sebelum gelaran Gondrong Berkwalitas digelar di Bandung akhir Maret lalu. Kami merangkumnya menjadi sepuluh poin, sesuai usia sepuluh tahun si album perdana.

1) Sebenarnya Diluncurkan pada Akhir 2006

The Sigit bertahun-tahun lalu. (Facebook The Sigit)

Cukup rancu ketika Visible Idea of Perfection diumumkan memasuki usia sepuluh tahun pada 2017 sementara sampul belakang album menuliskan 2006 sebagai tahun produksinya.

Namun ketika diminta konfirmasi, Rekti meluruskan fakta bahwa 2007 adalah tahun di mana album akhirnya didistribusikan dan digenggam oleh Insurgent Army ketika itu. "Jadi launching album sekitar Desember 2006, tapi distribusinya baru dilakukan tahun 2007. Yang saya tahu, waktu launching album sebetulnya barangnya belum ada."

2) Sudah Ingin Dirilis dalam Format Piringan Hitam Sejak Awal

Piringan hitam. (Ryankusumojr)

Mengenai perilisan ulang Visible Idea of Perfection dalam format piringan hitam, Farri menjelaskan: "Ini adalah nostalgia melalui media yang belum kesampaian ketika album ini keluar sepuluh tahun lalu. Keinginan rilis piringan hitam sudah ada semenjak Visible Idea of Perfection disiapkan, tapi diurungkan karena pertimbangan sistem rekaman dan sistem produksi yang belum dikuasai serta demand pasar yang belum kuat."

Farri kemudian menyatakan bahwa dirinya dan ketiga personel lain ketika itu hanya mengikuti prosedur umum dari industri musik bahwa musisi yang ingin memperkenalkan musiknya secara masif perlu sebuah rilisan untuk dipasarkan. Berhubung format yang ditawarkan saat itu hanya cakram padat dan kaset, maka dua format itulah yang dirilis terlebih dulu.

3) Rilisan FFWD Records Pertama di Luar Ragam Musik Indie Pop

Logo FFWD Records.

Sebelum The Sigit merilis Visible Idea of Perfection, FFWD Records dikenal sebagai pengorbit band-band indie pop. Sebut saja Mocca dan Homogenic yang jauh dari raungan distorsi liar maupun entakan drum kencang layaknya musik The Sigit.

Citra FFWD Records ketika itu pun sudah telanjur sangat pop berkat kesuksesan album pertama Mocca yang begitu ikonis, My Diary, rilisan tahun 2002.

Sebagai solusi untuk menjaga citra indie pop tersebut, pihak label rekaman dan band sepakat mencantumkan nama yang menjadi turunan FFWD Records, yakni FFcuts Records.

4) Butuh Waktu Tiga Tahun Pendekatan dengan Label Rekaman

Helvi Sjarifuddin dari FFWD Records, juga dikenal sebagai gitaris Teenage Death Star. (Pramedya Nataprawira)

Tiga tahun adalah jarak antara interaksi pertama The Sigit dengan FFWD Records hingga perilisan album. Helvi Sjarifuddin dari label rekaman tersebut pertama kali menonton penampilan Rekti cs. pada 2004 dalam rangka pembukaan sebuah toko di Bandung.

"Kebetulan waktu itu Helvi nonton The Sigit main, tapi itu nggak langsung diajak gabung. Dia juga cerita sih, dia sebenarnya waktu pertama kali lihat kami nggak langsung menyatakan iya (ingin merilis band ini), jadi melihat progress kami dulu juga," ingat Adit. "Mereka (FFWD Records) benar-benar selektif, ingin melihat dulu seperti apa band yang akan di-sign."

5) Kesulitan Finansial Akibat Penjualan EP Kurang Memuaskan

Sampul EP pertama The Sigit.

Penjualan EP pertama yang seadanya membuat The Sigit sangat kesulitan secara finansial untuk merilis album penuh perdana mereka. Jauh sebelum FFWD Records menyatakan sepakat, mereka sempat terpikir untuk merilis sendiri dengan menambahkan jumlah uang patungan namun ternyata dirasa berat bagi masing-masing personel. "Waktu itu masih zaman kuliah, mana ada uang," ujar Farri.

Ia menambahkan, "Dulu kan lagi gembar-gembornya DIY (do-it-yourself). Semuanya DIY. Sekarang, setelah dipikir-pikir, nggak wise juga sih. Banyak pernak-pernik yang harus diurus, misalnya promo, distribusi. Semua itu kan membutuhkan uang."

6) Hampir Mendapat Pinjaman Dana dari Marcell Siahaan

Marcell Siahaan (Facebook Marcell Siahaan)

Kondisi kebingungan mencari dana tersebut membuat penyanyi pop sekaliber Marcell Siahaan berkenan meminjamkan uangnya kepada The Sigit pada akhir 2005. Kebetulan Marcell adalah tetangga rumah Rekti sekaligus teman main personel lainnya.

"Dari FFWD uangnya belum turun. Ya sudah, Marcell bilang, 'Sekitar bulan depan gue pinjamkan 20 atau 30 jutaan deh,'" kenang Rekti. "Dia bilang suka dengan albumnya lalu menawarkan bantuan. Jadi ngobrol. Saya curhat kalau ingin rekaman album secara proper. Maklum waktu pertama kali rekaman yang EP kan masih budget seadanya. Masing-masing sumbang sekian; kami hanya ada segitu ya sudah padatkan shift-nya, harus beres."

Farri menyambung soal uang yang harus dikeluarkan untuk penggarapan album mini tersebut, "Kalau nggak salah patungan Rp 1,5 juta per orang."

7) Mendapat Sorotan Australia Melalui MySpace

Salah satu penampilan The Sigit di Australia. (Refantho Ramadhan)

Visible Idea of Perfection membawa musik The Sigit didengar oleh label rekaman Australia bernama Caveman!. Tak sekadar merilis, pihak Caveman! juga merancang agenda tur Australia The Sigit yang terlaksana selama satu bulan. Total ada enam belas titik di sembilan kota Australia yang mereka sambangi, antara lain Perth, Sydney, Melbourne, hingga Brisbane.

"Awalnya mereka menemukan kami pada MySpace dan lalu langsung menghubungi lewat akun mailing list mereka. Seingat saya korespondensinya dua tahun," kata Rekti.

Adit menambahkan, "Kagetlah waktu itu, langsung ditawarkan ke Australia; ke luar Jawa saja belum. Kami hanya balas-balasan email, duduk cantik, sesampainya di sana sudah diatur semua sama mereka."

8) Mobil Cadillac Klasik pada Sampul Album

Sampul album 'Visible Idea of Perfection'. (Dadan Setiawan)

Salah satu yang menancap kuat dari album perdana The Sigit adalah mobil klasik Cadillac pada sampul album yang dilukis Dadan Setiawan. Rekti awalnya ingin memesan gambar baru kepada Dadan, tetapi tanpa sengaja melihat lukisan itu tergeletak tak terpakai.

Rekti mengenang, "Seperti takdir kali ya. Judul album sudah ada, terus lukisan ini ada di rumah Dadan. Selain karena dari awal sudah tertarik dengan gambarnya, ketika saya lihat ternyata judulnya 'Perfect View'. Saya pikir, 'Kok setipe dengan judul album Visible Idea of Perfection?' Sok lah saya pakai."

9) Di Balik Dua Versi "Black Amplifier"

Jika Anda mendengar Visible Idea of Perfection hingga benar-benar usai, maka setelah "Satan State" selaku lagu terakhir akan muncul hidden track yang tak lain adalah "Black Amplifier" versi akustik. Kemunculan ini ternyata tak pernah direncanakan.

"Terpikirnya dadakan di studio. Jadi kondisinya semua lagu sudah direkam. Sebelum di-mixing, ternyata harus take satu lagi untuk memasukkan gitar akustik pada lagu 'New Generation'. Nah ketika nge-take itu kepikiran tracklist, 'Kalau misalnya diselip satu lagu yang kalau nanti albumnya disetel dari lagu terakhir bisa nyambung balik lagi ke lagu pertama gimana caranya ya?' Jadi loop begitu. Makanya 'Black Amplifier' yang diambil," jelas Rekti.

10) Dibandingkan dengan Wolfmother

Wolfmother (Hannah Doolan)

Ketika Visible Idea of Perfection dirilis, tak sedikit yang membandingkan The Sigit dengan legenda Led Zeppelin hingga band hard rock anyar Australia, Wolfmother. Para personel The Sigit mengakui bahwa mereka memang mendengarkan kedua band tersebut namun tak ada niatan untuk menjiplak karakter sound-nya.

"Kami nggak kepikiran akan dibandingkan sih karena mungkin saat itu momennya memang berbarengan," kata Farri.

Rekti menyambung, "Wolfmother rilis satu tahun sebelum ini kan. Kemudian ada lagu yang bit rate-nya sama, si 'Soul Sister'. Padahal 'Soul Sister' dirilis pertama kali tahun 2004 pada EP yang kaset itu. Sedangkan album perdana Wolfmother dirilis tahun 2006."



Related

Most Viewed

  1. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  4. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala
  5. Yatra, Sebuah Perjalanan ke Nepal Sebelum Bencana

Editor's Pick

Add a Comment