Live Review: Air

Oleh
Jean-Benoit Dunckel dan Nicolas Godin dari Air tampil di Singapura membawakan lagu-lagu terbaik mereka. Dominic Phua

Persembahan audiovisual memukau dari duo elektronika Prancis yang terbentuk dua dekade silam

Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak Nicolas Godin dan Jean-Benoît Dunckel sepakat bersekutu membentuk Air. Namun mereka tidak pernah terasa tua atau ketinggalan zaman; Air melaju di jalurnya sendiri, memainkan musik yang tidak ternodai tren sekitar. Ada pengaruh dari idola-idola mereka—The Beach Boys, Pink Floyd, Kraftwek, hingga Philip Glass—tetapi dileburkan dengan karakter bermusik Godin dan Dunckel yang mengawang dan banyak melibatkan synthesizer analog. Dengan demikian, Air menua dengan anggun.

Ini jelas terpancar dalam penampilan mereka pada Sabtu (27/5) lalu di Teater Esplanade, Singapura gelaran promotor Secret Sounds Asia. Apalagi Air juga membawa serta visual sebagai aspek pendukung. Lokasi konser megah dengan akustik ruangan mumpuni dipadu persembahan audiovisual Air berujung kepada konser yang memukau, bahkan dari detik pertama "Venus" mengentak sebagai lagu pembuka.

Air—berbusana ciri khas serba putih—seperti tidak mau basa-basi pada awal konser, dan memang tak perlu jika melihat dari kualitas katalog yang dimiliki. Mereka lanjut membawakan lagu-lagu favorit penggemar sebagai suguhan kedua juga ketiga, yaitu "Don"t Be Light" yang menyimpan irama krautrock dan "Cherry Blossom Girl" yang syahdu berbicara soal perempuan dambaan. Malah tak lama setelah itu, Godin dan Dunckel bersama drummer serta pemain synthesizer pendukung memainkan versi instrumental dari lagu yang membuat nama mereka kian populer: "Playground Love". Lagu rilisan tahun 2000 ini tercatat sebagai soundtrack film perdana sutradara Sofia Coppola yang berjudul The Virgin Suicides. Versi rekaman lagu ini memuat vokal Gordon Tracks, nama samaran Thomas Mars dari Phoenix yang kini menjadi suami Coppola.

Setiap lagu yang dibawakan pada konser memiliki visual pendampingnya masing-masing. Namun aspek tersebut baru benar-benar menunjukkan kebolehan pada "Alpha Beta Gaga" ketika gambar yang ditayangkan via LED dapat bergerak dan berganti warna kompak dengan sejumlah lampu kerlap-kerlip yang ditegakkan di depannya; seolah berbagi nyawa.

Sebagai lokasi yang biasa dipakai oleh pentas drama, Teater Esplanade menggunakan sistem menonton duduk untuk setiap acara yang digelar di sana. Namun semangat penonton yang terus membumbung di sepanjang konser Air membuat mereka tak tahan untuk terus mengeram di kursi. Sampai akhirnya pada "Kelly Watch the Stars", salah satu lagu Air yang paling mengundang dansa-dansi, ada seorang penonton yang nekat angkat pantat dan menari bersukaria sambil mengajak orang-orang di sekitarnya untuk melakukan hal serupa. Efek domino pun terjadi dan sebagian besar penonton memilih berdiri guna lebih menikmati konser, bahkan tak sedikit yang maju ke bibir panggung.

Ini bertahan hingga tahapan encore di mana Air memulainya dengan "Alone in Kyoto" yang kontemplatif. Menariknya, kejadian ini tidak disambut oleh cemoohan dari pihak yang merasa jarak pandangnya terganggu; seperti sering terjadi pada konser-konser dalam negeri. Para penonton—banyak wajah familier dari Jakarta—seolah sadar secara kolektif bahwa mereka sedang berada di konser penting yang tidak pantas diselingi oleh nada-nada sumbang.

Apalagi ketika "Sexy Boy" berkumandang kemudian. Ramuan jitu berupa riff ikonis yang dipertemukan dengan vokal robot hasil manipulasi vocoder berujung kepada salah satu lagu Air paling dikenal; tidak heran bila para penonton menggila pada momen ini.

Namun puncaknya terdapat pada bagian akhir, ketika Air memainkan "La Femme d"Argent" sebagai lagu pamungkas. Lagu yang menanjak perlahan ini dibawakan begitu mulus seperti sedang mendengar rekamannya, dari aliran dentum bas yang lekat di kepala hingga klimaks lagu bersuasana rock angkasa ala Pink Floyd. Meskipun bertindak sebagai nomor pembuka bagi album penuh perdana Moon Safari (1998), lagu ini tepat dijadikan penutup konser dikarenakan progresinya yang dahsyat.

Konser Air di Singapura dipenuhi dengan lagu-lagu terbaik mereka, seakan ingin memanfaatkan kedatangan pertama ke sana untuk betul-betul memuaskan para penggemar Asia Tenggara. Namun tetap saja ada lagu-lagu favorit yang luput dibawakan, seperti "Ce Matin-Là", "Surfing on a Rocket", atau satu saja dari album Le Voyage Dans La Lune (2012) yang cenderung underrated. Tetapi itulah risiko menjadi band dengan karya yang bagus menyeluruh seperti Air, terlalu banyak materi yang layak dimainkan di atas panggung; apalagi begitu tahu bahwa penampilan mereka sebagus ini.

Editor's Pick

Add a Comment