Mengurai Spektrum Heals

Band teranyar FFWD Records ini berbagi kisah di balik album perdana hasil pertemanan lima barudak setelah bertahun-tahun

Oleh
Heals menjadi band teranyar FFWD Records setelah sembilan tahun. Mohammad Zaki

Di suatu siang di bulan April, ketika warga seantero Jakarta libur karena menjalani Pemilihan Kepala Daerah 2017 putaran kedua, lima anak muda asal kota kembang mendatangi markas Rolling Stone Indonesia. Heals adalah grup rock alternatif terbaru, rilisan label independen terkemuka asal Bandung, FFWD Records. Band ini terdiri atas vokalis-gitaris Alyuadi “Aldi” Febryansyah, gitaris Reza “Eja” Arinal, bassist-backing vocalist Octavia Variana, gitaris Muhammad Ramdhan, dan drummer Adi “Cumi” Reza. Mereka terbentuk sejak 2013 dan tahun ini merilis album debut, Spectrum.

Spectrum berisi sepuluh lagu berupa perkenalan Heals musik. Beberapa di antaranya telah keluar sebagai single, seperti “Void”, “Wave”, dan yang paling anyar, “False Alarm” yang dirilis bersamaan dengan video musiknya. Sejak “Void” dirilis dua tahun lalu, tak sedikit yang membandingkan mereka dengan unit rock alternatif My Vitriol asal Inggris.

Pentolan Sajama Cut, Marchel Thee, melalui ulasannya di The Jakarta Post mengatakan, “Hampir tidak mungkin untuk mendengarkan Spectrum dan tidak memikirkan salah satu band menjanjikan asal Inggris My Vitriol.” Saat tur berlangsung di Surabaya, salah seorang penonton berteriak, “Mainin My Vitriol dong!” Permintaan itu dijawab Aldi dengan candaan, “Nanti saja Vitriol pas Idul Vitri.”                                                                                                                                                                                                                                                                                       

Pengaruh kuat dari band yang menyisakan Ravi Kesavaram dan Som Wardner sebagai anggotanya ini tak dapat disangkal mengingat Heals juga membawakan cover lagu-lagu My Vitriol di beberapa panggung pertama mereka. “Saat awal-awal proyek ini masih banyak mendengarkan My Vitriol, yang karakter musiknya hampir sama dengan ‘Void’. Dari My Vitriol itu kami dapat inspirasi bikin lagu seperti ini, mengejar sound di situ,” aku Aldi.

Masih hangat dalam ingatan mereka saat lagu “Always: Your Way” dari My Vitriol menjadi amunisi untuk audisi band agar bisa tampil di bazaar SMA Negeri 2 Bandung pada awal 2014. Begitu lolos, panggung yang bertempat di area indoor Sabuga itu menjadi panggung pertama Heals. Untuk menemani lagu-lagu My Vitriol yang dibawakan, “Void” diciptakan sebagai lagu pertama band ini.

“Bikin ‘Void’ memang rush, karena kami butuh lagu untuk manggung. ‘Masa kita nggak punya lagu sendiri nih? Manggung pertama lho.’ Akhirnya jadilah ‘Void’, satu-satunya lagu kami di antara lagu-lagu cover My Vitriol,” kenang Aldi.

Layaknya band baru yang pertama kali manggung, suasana area indoor Sabuga saat itu masih sangat sepi dan gelap. Mereka tampil di siang hari sebagai band pembuka. “Yang nonton panitia [tertawa], anggaplah latihan,” kenang Via. Meski begitu mereka senang, panggung pertama mereka cukup besar dan berada di venue sekelas Sabuga.

“Void” belakangan direkam secara serius dan kemudian diunggah di akun SounCloud Heals. “Rekamannya iseng juga. Nggak ditarget. Sudahlah, ini band paling mau bubar [tertawa]. Tanpa ada berpikir berat, seberat kami merekam album debut,” ucap Eja.

Uniknya, justru “Void” diakui para personel sebagai rekaman yang paling layak. “Sejauh ini lagu itu yang paling [membuat] puas, karena di-mixing oleh orang yang mixing Noah [tertawa],” ingat Aldi.

Hasil unggahan single “Void” memperoleh banyak umpan balik. Salah satunya dari pihak penyelenggara pertunjukan An Intimacy yang mengajak Heals untuk bermain di acara mereka. Di poster acara, Heals tercantum menjadi line up An Intimacy Vol. 6, Februari 2015, bersama Frau, Munthe, Bedchamber, dan Strangers.

“Dengan FFWD itu bikin An Intimacy sebagai acara bulanan untuk mencari talent baru, khususnya untuk band-band Bandung yang belum dapat panggung. Akhirnya Heals main di event itu dengan proses kurasi dari FFWD Records dan Monsterstress Record,” jelas Vando, manajer Heals.

Di panggung itu Heals mendapat perhatian dari sejumlah pelaku kancah musik kota kembang, di antaranya pengamat musik Idhar Resmadi dan pendiri FFWD Records Marine Ramdhani. Merasa mendapat peluang, Heals mengirim pesan melalui Twitter kepada Marine. “Gimana nih? Ada kemungkinan nggak buat kita kerja sama?” cerita Aldi.  Tak butuh waktu lama, Marine menjawab, “Oh, main-main saja ke kantor.” Setelah beberapa kali pertemuan di kantor FFWD Records, Heals resmi menandatangani kontrak dengan label independen asal Bandung ini.

Pada 28 November 2015 melalui akun Instagram @healsmusic Aldi cs mengumumkan bahwa Heals mengerjakan album debut mereka bersama FFWD Records. Melalui pengumuman itu pula mereka berjanji akan merilis album pertama di awal 2016.

Salah satu efek besar yang diterima Heals beberapa saat setelah penandatanganan kerjasama tersebut adalah pihak Rocking The Region Singapore menghubungi mereka untuk menjadikan Heals sebagai salah satu nama dalam line up mereka.

Album Spectrum dikerjakan selama kurang lebih dua bulan di dalam sebuah rumah kosong di Bandung saat bulan Ramadhan 2016. Meski belum merekamnya di sana, kelima personel sepakat intens mengerjakan album di rumah tersebut setiap malam. Sesi berbagi ide, brainstorming, hingga pemilihan lagu-lagu seperti apa yang akan ada di album debut dilakukan di sana. Ini juga termasuk proses workshop, serta membuat guide dan draft mentah untuk direkam di Studio Masterplan, Bandung.

Secara garis besar Spectrum berbicara mengenai gabungan fantasi kehidupan manusia dan perpektif masing-masing personel Heals. Penyatuan ragam referensi ini lalu dianalogikan sebagai sebuah ‘prisma’ yang dapat membiaskan warna menjadi warna putih. “Referensi kami masing-masing pasti berbeda, tapi di dalam Spectrum ini semuanya jadi satu. Itu filsafatnya,” terang Aldi yang juga disepakati personel lainnya.

Aldi dan Eja menjadi dua personel paling dominan sebagai penulis lirik. Keduanya banyak bercerita soal kegelisahan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dari sepuluh lagu, salah satu yang paling menggambarkan kegelisahan tersebut terdapat di “False Alarm”, berkisah tentang kehidupan bersosial sehari-hari yang sengaja dibuat dengan gaya sureal.

“Lagu ’False Alarm’ itu pengalaman pribadi juga. Pernah misalnya saya lagi banyak masalah dan mendapat tekanan dari mana-mana, membuat diri sendiri merasa memikul beban yang sangat berat. Padahal kalau kita bisa tenang, berpikir dengan jernih, masalah seperti itu bisa diselesaikan dengan mudah,” jelas Eja. “Intinya apa yang kita pikirkan belum tentu seperti itu, just false alarm.”

“Void” yang bermakna ruang hampa udara justru terinspirasi dari film Gravity garapan sutradara Alfonso Cuaron. Liriknya kurang lebih menjelaskan deskripsi yang terinspirasi dari beberapa adegan dari film tersebut. “Lunar”, tercantum sebagai lagu kedua, diambil dari nama seorang perempuan, menggambarkan impresi abstrak yang muncul ketika sedang berhubungan dengan orang tersebut.

 “Azure” cukup lugas mengisahkan seorang pria yang menjalani hari-harinya sebagai seseorang yang jauh dari stereotipe maskulin. “Anastasia”, masih dalam gaya bertutur surealis, menceritakan kondisi individu yang terjebak dalam fantasinya sendiri.

Lagu terakhir yang dibuat di album ini adalah “Dazed”. Dibuat secara spontan saat merekam album di Studio Masterplan, lagu dengan ketukan drum khas ini justru hanya berfungsi sebagai filler album. “Waktu pesan jadwal studio untuk rekaman, semua lagu sudah masuk. Tapi kok ternyata masih tersisa satu jadwal keesokan harinya. Wah, kurang materi ini. Apa yang direkam ya?” kenang Eja. Belakangan waktu tersisa itu digunakan Aldi untuk mengerjakan “Dazed”. Musiknya dikerjakan secara spontan saat shift sekaligus hari terakhir sesi rekaman mereka.

 

Ketika wawancara artikel ini berlangsung, Heals tengah menjalani Heals Spectrum Java – Bali Tour 2017. Dikerjakan secara mandiri dan atas dukungan label FFWD records, Heals menggelar tur ini dari tanggal 13 April hingga 1 Mei. Membuka tur dengan bermain di kawasan Canting, Yogyakarta, Heals menutupnya di Denpasar, Bali. Sejauh tiga titik telah dijalani, saat wawancara berlansung, Semarang adalah kota paling ramai penonton. Yogyakarta menjadi yang di luar dugaan, semula dirasa sepi ternyata malah memuaskan semua pihak.

Heals Spectrum Java – Bali Tour 2017 menjadi pengalaman tur pertama masing-masing personel sebagai band bernama Heals. Banyak ketakutan yang terkadang muncul ketika melihat jadwal tur yang lumayan padat. Antara satu titik ke titik lainnya hanya berselisih satu hari. Perjalanan kadang ditempuh lewat jalur darat. “Kalau saya pribadi, takut sakit saja,” ungkap Eja.

Berbeda dengan Eja, beberapa personel ragu akan apresiasi yang didapat di tiap kota. “Sebagai band yang baru menjalani tur itu kadang merasa takut nggak diapresiasi,” kata Aldi. “Apalagi musik kami nggak umum juga. Seperti saat main di Cirebon, banyak yang masih bingung. Kalau saya perhatikan begitu, orang kadang bingung menikmatinya harus bagaimana,” tambah Via.

Meski merasakan kegelisahan, kelimanya cukup puas melihat orang mendengarkan dan menikmati karya debut Heals. Apresiasi yang diperoleh merupakan pencapaian yang tak terduga untuk mereka sebagai band debutan. Terlebih, Spectrum adalah bukti untuk sejumlah personel Heals yang selalu gagal merilis rilisan saat tergabung di band-band terdahulu.

“Album pertama ini pembuktian. Seperti bukti ke orang lain kalau band ini itu ada, ini karyanya, dan album fisik inilah buktinya,” ucap Cumi. “Setelah lama berteman bertahun-tahun, album inilah hasil pertemanan kami,” sambung Eja. “Hasil dimarahi ibu, kalau lagi pulang malam-malam. Ini lho, sudah ada hasilnya,” tutup Via.

 

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Chester Bennington, Vokalis Linkin Park, Tewas di Usia 41 Tahun
  2. Chester Bennington: Reaksi Musisi dan Penggemar Tenar terhadap Kematian Vokalis Linkin Park
  3. Forgotten - "Tumbal Postkolonial"
  4. Kilas Balik: Chester Bennington dan Chris Cornell Berduet Lagu ‘Hunger Strike’
  5. Stone Gossard dari Pearl Jam Menulis Surat Penghormatan bagi Chris Cornell

Add a Comment