Chris Cornell: 1964-2017

Ia adalah dewa grunge dan salah satu penyanyi rock terhebat. Ia menyalurkan sisi gelap ke lagu-lagunya—sampai akhirnya ia ditaklukkan

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 147 Juli 2017. Dok. Universal Music

Saat Serj Tankian terakhir kali menemui Chris Cornell, segalanya tampak baik-baik saja. Pada 25 Maret, kedua sahabat itu–Tankian, vokalis band metal alternatif System of a Down, dan Cornell, vokalis-gitaris yang mendirikan band pionir grunge asal Seattle, Soundgarden–adalah tamu di pesta bertabur bintang yang diadakan Elton John untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-70 di Los Angeles.

"Kami berbincang panjang, duduk bersebelahan," kata Tankian. Ia dan Cornell mengobrol soal menggubah musik untuk film serta kemungkinan Cornell mengadakan konser diiringi orkestra. Tankian, yang baru akan tur bersama System of a Down, bertanya ke Cornell apakah ia bosan dengan tur. "Bagi saya sendiri, tur itu seru tapi tak ada yang baru," kata Tankian. Cornell "justru sebaliknya: 'Saya sangat bersemangat. Saya akan tur bersama Soundgarden. Saya punya ide-ide lain.' Ia sudah punya rencana."

Lalu pada 12 April, Tankian dan Cornell menghadiri pemutaran perdana di L.A. untuk The Promise, sebuah drama sejarah tentang genosida Armenia. Kedua pria itu merekam musik untuk film tersebut. "Ia baik-baik saja, melakukan wawancara–tetap berjuang untuk proyek itu," kata Tankian. Cornell adalah "orang yang berusaha membuat semua orang di kamar merasa nyaman. Ia murah hati, dengan emosi dan waktunya."

Hanya sebulan kemudian, pada 17 Mei, Soundgarden–Cornell, gitaris Kim Thayil, bassist Ben Shepherd, dan drummer Matt Cameron–tampil di hadapan lima ribu orang di Fox Theatre, Detroit. Usai konser, tak lama setelah tengah malam, petugas polisi menjawab panggilan mengenai dugaan bunuh diri di hotel dan kasino MGM Grand. Mereka menemukan Cornell di kamarnya, berbaring di lantai kamar mandi. Sabuk olah raga terlilit di lehernya.

Sang vokalis, 52 tahun, dinyatakan tewas di tempat. Dalam pernyataan yang diedarkan pada 18 Mei siang, kantor Wayne County Medical Examiner memastikan kematian Cornell sebagai bunuh diri akibat gantung diri. Tanggapan Tankian terhadap berita itu: "Tidak percaya," katanya, saat berbicara 24 jam kemudian. "Saya pikir, 'Tak mungkin.'"

Memang tak ada tanda-tanda pada 19 April, ketika Cornell membawakan "The Promise", lagu yang digubahnya untuk film itu, di The Tonight Show bersama Cameron, pemain string section dan produser rekaman Brendan O'Brien pada gitar. Cornell dan O'Brien sudah bekerja sama di studio sejak pertengahan '90-an, ketika O'Brien melakukan mixing album Superunknown, terobosan Soundgarden di tahun 1994 dan mencapai status multi-platinum. O'Brien adalah produser album solo Cornell terakhir, Higher Truth (2015), dan belum lama ini memandu sesi rekaman dengan Cornell untuk album berisi interpretasi lagu-lagu orang lain.

"Ia tidak terlihat berbeda menurut saya," kata O'Brien tentang perangai Cornell di The Tonight Show. "Saya rasa kami bersenang-senang di sana. Suasana hatinya sedang baik." O'Brien menyebut bahwa terjadi kesalahan yang membuat volume gitarnya terlalu besar saat syuting. "Esok harinya saya mengirim e-mail: 'Nyanyian kamu bagus. Maaf kalau saya terlalu berisik.' Ia menjawab, 'Tak ada masalah. Saya sayang kamu. Jangan khawatir.'"

Gitaris Tom Morello bermain dengan Cornell di antara tahun 2001 dan 2007, ketika Cornell mendirikan Audioslave bersama Morello, drummer Brad Wilk, dan bassist Tim Commerford. Ketiganya juga menjadi tulang punggung instrumental di Rage Against the Machine. Morello terakhir kali berjumpa dengan Cornell pada 20 Januari, ketika Audioslave reuni di L.A. dalam rangka Anti-Inaugural Ball, sebuah konser protes yang diadakan pada malam inaugurasi Presiden Donald Trump.

Cornell "bersinar" di konser itu, kata Morello. "Kami bercengkerama setelah pertunjukan–bercanda tawa, foto-foto. Hal terakhir yang dikatakannya ke saya adalah, 'Saya sangat menikmatinya. Saya akan senang kalau melakukan ini lagi. Kabari saya saja.' Saya berkata, 'Ya, mari kita bicarakan!'"

"Tak bisa dipercaya," kata Morello tentang kematian Cornell. "Saya tidak tahu apa saja tahap-tahap berduka, tapi saya berada di tahap pertama. Saya masih berharap ini sebuah kesalahan"–bahwa Cornell akan segera menghubunginya lewat SMS atau telepon "dan ia bilang, 'Saya baik-baik saja. Maaf sekali. Itu sangat menakutkan. Semuanya akan baik-baik saja.' "

Pada jam 19:06 di 17 Mei, setelah tiba di Detroit untuk konser Soundgarden, Cornell mengirim pesan bahagia di Twitter–"Akhirnya kembali ke Rock City!!!!"–lengkap dengan foto berisi nama band itu di pintu depan Fox Theatre. Empat jam kemudian Cornell menyelesaikan encore seperti sudah sering dilakukannya, dengan mengakhiri sebuah versi epik dari "Slaves & Bulldozers" dari album Soundgarden, Badmotorfinger (1991), dengan menyisipkan teriakan vokal dari "In My Time of Dying" dari Led Zeppelin.

Sisa dari repertoar 20 lagu itu mencakupi seluruh perjalanan metal progresif Cornell bersama Soundgarden, mulai dari amarah hardcore yang terdapat di single pertama mereka di tahun 1987, "Hunted Down", hingga King Animal (2012), album memukau yang menandai kembalinya band itu setelah bubar selama lebih dari satu dekade. Soundgarden juga membawakan hampir separuh lagu dari Superunknown, album mereka yang terlaris, dan juga–lewat petualangan psychedelic gelap dan introspeksi keras yang terdapat di lagu-lagu hit "Fell on Black Days" dan "Black Hole Sun"–loncatan besar Cornell sebagai pencipta lagu.

Rekaman telepon seluler dari konser terakhir Cornell mengkhawatirkan namun juga tak terlalu memuaskan. Di Detroit, monolog antar lagunya beralih dari terima kasih ke ucapan misterius, termasuk berbicara tentang salib terbakar di halaman rumput. Kadang-kadang, nyanyiannya–yang pada kondisi terbaiknya merupakan tensi dramatis antara lengkingan dewa rock klasik, ketegaran blues yang melodius, dan bahaya yang sensual–terdengar terlalu jauh dari tempo dan di belakang iringan band. Saat encore, Cornell mengacungkan tinjunya dengan senang–lalu membelakangi penonton sementara ia dan Thayil menghadapi amplifier gitar mereka dan memicu badai feedback untuk terakhir kalinya.

Setelah memberi tanda tangan untuk beberapa penggemar di luar Fox Theatre, Cornell kembali ke kamar hotelnya. Ia berbicara dengan istrinya, Vicky, lewat telepon. "Saya bisa dengar kalau bicaranya kurang jelas; ia berbeda," katanya dalam pernyataan yang diedarkan 19 Mei. "Saat ia memberi tahu kalau ia telah kelebihan menenggak Ativan, saya mengontak keamanan dan meminta memeriksanya." Marten Kirsten, pengawal Soundgarden, menendang pintu kamar hotel serta kamar mandi–keduanya terkunci–dan menemukan Cornell "dengan darah mengalir dari mulutnya serta sabuk olah raga merah melilit di lehernya", menurut laporan polisi.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 147 Juli 2017.

Editor's Pick

Add a Comment