Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia

Cita-cita menjadi band metal yang mendunia sebetulnya sudah ada sejak ranah musik ini ada

Oleh
Beside unjuk gigi pada Wacken Metal Battle Indonesia 2017. Kimung

Dalam banyak artefak, cita-cita ini terukir. Baik dalam bentuk gambar di dinding, buku harian, korespondensi, artikel zine, rilisan kaset dan CD dalam tahap yang lebih serius, serta hubungan personal dengan berbagai pihak di dunia internasional. Namun pergerakan yang dilakukan secara sadar baru muncul awal 2000-an, terutama ketika wacana glokalisme semakin mengemuka ditandai dengan banyaknya festival musik metal yang mengatasnamakan lokalitas atau nama kota di seluruh dunia. Di Bandung, terbangunnya kesadaran ini dimotori Bandung Death Metal Syndicate (BDMS) pada 2005 dengan manifestasi Bandung Death Fest yang menyertakan kesenian tradisional dalam pergerakannya. Setelah itu penggalian nilai-nilai kearifan lokal semakin gencar. Wacana yang dikembangkan adalah menjadi band global harus memiliki akar dan karakter lokal Indonesia yang kuat juga.

Di Bandung, pergerakan internasional juga terinspirasi tur band punk Krass Kepala pada 26 September hingga 11 November 2007 di 32 kota dan enam negara di Eropa. Sebagai catatan, 2007 merupakan tahun yang bergairah bagi ranah musik metal Indonesia. Banyak band metal internasional tampil di Indonesia bersama band-band metal top tanah air. Khusus di Bandung, keterbukaan di antara unsur-unsur kreatif juga semakin terjalin dan mengkristal dengan berdirinya Bandung Creative City Forum (BCCF). Simpul ini bercita-cita membuat Bandung menjadi bagian dari rangkaian kota kreatif Asia Pasifik. Di sisi lain, jalinan dengan pihak akademisi dan perguruan tinggi mengenai pentingnya penulisan buku sejarah musik bawah tanah juga semakin terjalin setelah digelarnya bedah buku Myself, Scumbag Beyond Life And Death di Selasar Sunaryo pada 19 Januari 2008.

Di tengah gairah ini, ranah musik dihajar oleh Tragedi AACC yang terjadi pada 9 Februari 2008. Sebelas anak muda meninggal dalam insiden ini akibat kelalaian dari pihak penyelenggara, pengelola gedung, aparat keamanan, serta pemerintah yang gagal melihat potensi anak muda di musik metal yang semakin berkembang dan memfasilitasi mereka. Sempat terpukul dengan tragedi ini, ranah musik independen cepat bangkit. Tragedi AACC lalu dijadikan ajang konsolidasi dan momen bagi ranah musik independen untuk semakin bersatu. Terbangun dua kesadaran baru; yang pertama adalah pentingnya pembangunan berkelanjutan untuk mengelola ranah musik metal secara terpadu, terbuka, utuh, dan berkesinambungan. Dalam mempersiapkan ini harus dibuat dua hal, yaitu penulisan narasi sejarah dan ekosistem yang menunjang pembangunan. Kesadaran kedua adalah program regenerasi.

Dibantu oleh Solidaritas Independen Bandung, dirumuskan banyak hal baru berkaitan dengan ranah musik metal 2008. Yang paling penting adalah data jumlah audiens metal Kota Bandung yang mencapai 30 ribu anak muda, setara dengan 1,2 persen masyarakat kota saat itu. Dari jumlah tersebut, ratusan band metal lahir dan berkembang. Mereka bergerak menggelar studio gig, acara kolektif, juga acara-acara yang lebih kompleks. Namun ketika akan melangkah ke festival yang lebih besar, langkah mereka terganjal oleh bercokolnya band-band yang itu-itu saja dan menghambat jalannya regenerasi.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 146 Juni 2017.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  3. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  4. Proyek Musik Elektronik Putra Bungsu Addie MS, Mantra Vutura, Rilis Album Mini
  5. Saksikan Trailer Film ‘Chrisye’ yang Menampilkan Vino G. Bastian

Add a Comment