Soundwaves: Menjadi Saksi Festival Musik Coachella 2017

Pengalaman perdana Winky Wiryawan dan istrinya menghadiri festival beken Coachella

Oleh
Winky Wiryawan bersama Kenes Andari, istrinya. Dok. Winky Wiryawan

Ini pertama kalinya saya dan istri, Kenes, ke Coachella Valley Music & Art Festival di Indio Palm Spring Desert, Amerika Serikat. Kami mengambil paket yang sudah meliputi hotel tiga malam, bus ke lokasi, dan tiket Coachella selama tiga hari. Bisa dibilang ini adalah festival musik paling rapi, teratur, dan tersopan dibanding beberapa festival musik yang kami datangi di luar negeri. Baru kali ini saya dan kenes merasakan pesta di gurun yang notabene sangat panas (hampir 42 derajat) dan super berdebu. 

Di hari pertama kami mencoba menelusuri peta Coachella, karena areanya amat luas dan ada banyak panggung (Coachella Stage, Outdoor Theater, Mojave, Sahara, Sonora, Gobi, dan Yuma). Yang paling saya suka di sana ada record store, juga official merchandise lengkap dari semua band dan artis yang manggung.

Di hari pertama kami menonton Richie Hawtin. Alur musiknya dalam, gelap, seperti di dalam lorong. Saya tidak bisa berhenti mengikuti rhythm bassline tekno dan ciri khas ride yang dimainkan echo dan delay-nya. Di ruangan yang sama kami menyaksikan DJ Shadow. Setnya penuh dinamika dengan jungle, jazz trip hop, dan scratch echo. Kemudian tibalah kami di panggung The XX. Saya suka mereka karena warna musiknya sangat membius dengan atmosfer trancy, drum elektronika ‘80-an, dan suara gitar yang crunchy.

Puncak di hari pertama adalah Radiohead. Walau sudah pernah menonton mereka tahun lalu di Secret Soltice Festival, Reykjavik, kami tetap bersemangat. Sebelum mereka beraksi, panggung dipenuhi visual gambar gurun pasir saat malam hari dengan beberapa kali bintang jatuh. Radiohead memulai dengan Daydreaming. “Myxomatosis” adalah salah satu lagu yang saya tunggu, dengan rhythm guitar dan iringan drum yang unik.

Di hari kedua, saat jam makan siang kami merasakan berjalan kaki lima ratus meter saja rasanya badan seperti terbakar. Tidak terbayang orang-orang yang berkemah di lokasi dan mengejar nonton artis-artis yang main pukul satu siang. Saat sore hari, di depan gerbang masuk sudah penuh sekali. Kami menuju panggung utama untuk menonton Two Door Cinema Club. Setelah itu kami memutuskan untuk lebih mengenal area-area Coachella lebih detail lagi sambil menunggu Röyksopp. Set grup ini berkisar dari ambience chill out mengawang sampai trip hop dan deep bassline progressive trance. Tata cahaya dan pertunjukan laser terbaik saya dapatkan di Röyksopp! 

Setelah itu band disko house, elektro funk, synth pop, yaitu Breakbot. Suasana langsung berubah jadi ceria, mereka tampil dengan gaya ’70-an dan ’80-an. Satu waktu ada bagian solo bas dengan synth menjadi satu, bagus sekali. Saat menuju panggung Lady Gaga, kami melewati panggung DJ Snake, dengan penonton yang paling ramai. Penampilan DJ Snake diisi dengan lebih banyak bicara. Set-nya bagus, banyak basshouse, dubstep, dirty electro house, trap, dan hardhouse. Tentunya di akhir dia memainkan lagu andalannya bersama Justin Bieber, “Let Me Love You”. 

Tiba waktunya untuk Lady Gaga. Penonton sangat ramai. Lady Gaga terlihat ‘freak’ tapi selalu ada momen sharing pribadi di tengah-tengah penampilannya. Yang bukan penggemar Lady Gaga bisa merasa dekat dengan dia, baru setelah itu merasa terhubung dengan musiknya.

Di hari ketiga, saat sore kami menonton Maya Jane Coles, Kaytranada, dan tiga DJ yang berturut-turut memainkan new wave, elektronika, oldskool breaks, dan deep house. Supercool! Sebelum ke panggung Hans Zimmer dan Justice, kami mampir ke Madeon dan Porter Robinson. Saat itu mereka membawakan mash up “Say My Name-Pop Culture”, “Technicolor-Divinity-Innocence”, dan klimaksnya adalah “Shelter-Language”! Mereka membawakan live set drum elektronik dan banyak breakdown yang mengawang. Drop hard electro dan sound dubstep yang jadi ciri khas mereka terdengar kental sekali sepanjang set.

Beralih ke Hans Zimmer. Kapan lagi nonton orkestra di gurun pasir? Saya langsung kirim pesan ke mas Addie MS, bilang kalau saya sedang menonton dia. Setelah itu giliran Justice. Saya merinding di pembukaan mereka. Penonton langsung dihajar dengan “Safe and Sound” dan “D.A.N.C.E”.). Electroclash ditambah dengan kick kasar mereka, seakan-akan dihujani khotbah di gereja setan yang ternyata ideologinya saya setujui, ha-ha-ha.

Lorde memberikan penampilan keren dengan kotak visual yang ada di tengah-tengah panggung. Setelah itu kami menyaksikan New Order. Saya sangat menikmati pertunjukan mereka.  Dengan gaya Inggris-nya, mereka sempat bilang kalau Coachella terlalu panas untuk mereka, ha-ha-ha. Semua lagu yang saya tunggu mereka mainkan: “Regret”, “Bizzare Love Triangle”, “Tutti Frutti”, “The Perfect Kiss”, “Blue Monday”, dan “Temptation”. Menari nonstop! 

Setelah itu adalah salah satu artis terbaik dari 2017: Kendrick Lamar. Suasana ramai bukan main. Dibandingkan dengan penampilan-penampilan lain, Kendrick Lamar memang gila. Dia tampil sendiri, visualnya sederhana, tapi liriknya super tajam. Musiknya menurut saya menyeberang dari konsep hip hop yang pernah ada. He's the man! 

Di akhir hari, kami sangat senang! Selain festival musik, Coachella juga jadi ajang mejeng dan pameran mode. Dan yang paling penting di semua panggung sound, visual, dan cahayanya sangat bagus, seakan-akan setiap artis dan band melangsungkan konser mereka sendiri. Line-up tahun ini juga sangat bagus. Tiga kesan dari saya dan Kenes untuk Coachella 2017 adalah: great line-up, super hot, art and fashionable!

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"
  2. Live Review: Mocca x Payung Teduh
  3. JRX, Frau, Iksan Skuter Bakal Tampil di Acara Solidaritas Korban Penggusuran Kulon Progo
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. Live Review: Elephant Kind X Rock N Roll Mafia

Add a Comment