Bottlesmoker Meramu Kesenian

Duo ini bercerita tentang album baru

Oleh
Bottlesmoker Facebook Bottlesmoker

Setelah merilis album mini Polarity tahun lalu, Bottlesmoker kini tengah menyiapkan rilisan penuh terbaru bertajuk Parakosmos, sebuah album yang diklaim akan berbeda dari karya-karya mereka sebelumnya. Dalam rilisan ini, duo Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Nobie Adzani memadukan musik elektronika dengan ragam bebunyian musik tradisional yang diambil dari seluruh penjuru tanah air.

Bekerja sama dengan etnomusikolog Palmer Keen asal Amerika Serikat yang sedang melakukan ekspekdisi field recording kesenian daerah di Indonesia menggunakan platform Aural Archipelago, Bottlesmoker mengumpulkan puluhan contoh suara dari Sabang sampai Merauke, lalu meleburkannya dalam sepuluh lagu di album baru mereka nanti.

“Nggak hanya alat musik melainkan juga ritual-ritual nyanyian daerah juga dia rekam. Dia melakukan pengarsipan kesenian-kesenian Indonesia. Nah, kami ambil beberapa yang menurut kami sesuai dengan filosofinya dan tentunya kebutuhan di album terbaru nanti,” ungkap Angkuy.

Beberapa contoh field recording yang diambil misalnya salah satu kesenian dari Nusa Tenggara Timur. “Menggunakan perkusi, ritme ketukannya itu yang kami adaptasi. Lalu ada nyanyian-nyanyian dari ibu-ibu yang melakukan ritual bersyukur untuk panen, itu juga kami ambil,” lanjut Angkuy.

Pertemuan pertama Bottlesmoker dengan Palmer berlangsung sudah cukup lama. Beberapa tahun lalu Palmer secara tidak sengaja mendengar lagu Bottlesmoker di salah satu warnet. Tak lama setelahnya, ia melihat poster acara Bottlesmoker dalam sebuah acara musik di IFI Bandung. Palmer menghampiri duo Angkuy dan Nobie ke IFI dan memperkenalkan diri.

“Dia lalu memberi tahu situs auralarchipelago.com. Respons kami langsung, ‘Anjir..ini keren banget!’ Karena dia memiliki background etnografi, dia juga bisa menjelaskan secara detail masing-masing kesenian,” kenang Angkuy.

“Dan Palmer ini nggak mencari kesenian Indonesia seperti angklung atau gamelan, itu kan sudah biasa ya. Dia justru menampilkan kesenian-kesenian yang belum tersorot. Misalnya ada salah satu kesenian Indonesia yang ditemukan oleh penjelajah Inggris tahun 1800-an. Dia riset dulu dan menelusuri itu sampai mendatangkan orangnya.”

Sejauh ini Parakosmos sudah masuk ke tahap mixing. Ketika wawancara dengan mereka berlangsung pada akhir April lalu, keduanya mengaku telah membungkus lima dari total sepuluh lagu.

Di tengah-tengah penggarapan album, berkolaborasi dengan duo Stars and Rabbit asal Yogyakarta menggunakan nama SRXBS serta menjadi salah satu wakil Indonesia untuk Laneway Singapura 2017 Januari lalu juga menjadi kesibukan duo Angkuy dan Nobie.

Jika tak ada aral melintang, SRXBS bersiap masuk ke dapur rekaman setelah Lebaran.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Chester Bennington: Reaksi Musisi dan Penggemar Tenar terhadap Kematian Vokalis Linkin Park
  2. Chester Bennington, Vokalis Linkin Park, Tewas di Usia 41 Tahun
  3. Forgotten - "Tumbal Postkolonial"
  4. Kilas Balik: Chester Bennington dan Chris Cornell Berduet Lagu ‘Hunger Strike’
  5. Stone Gossard dari Pearl Jam Menulis Surat Penghormatan bagi Chris Cornell

Add a Comment