Pameran Seni yang Terinspirasi Leonard Cohen Siap Digelar

'Leonard Cohen – A Crack in Everything' akan dimulai pada 9 November mendatang, satu tahun setelah kematian sang penyanyi dan penulis lagu tersebut

Oleh
Leonard Cohen. Rama

Pameran seni kontemporer yang terinspirasi dari Leonard Cohen akan hadir di Museum of Contemporary Art di Montreal (MAC). Leonard Cohen – A Crack in Everything akan dimulai pada 9 November mendatang, satu tahun setelah kematian sang penyanyi dan penulis lagu tersebut, dan akan ditutup pada 9 April 2018.

Pameran seni tersebut akan mengulas karya Cohen – mengumpulkan materi tulisan, rekaman, dan gambar selama 50 tahun – dan menghadirkan karya seni visual, virtual reality, musik, dan tulisan yang terinspirasi dari karya miliknya. Pameran ini melibatkan beberapa seniman, pembuat film dan musisi dari sepuluh negara berbeda.

Pada awalnya Leonard Cohen – A Crack in Everything tidak ditujukan sebagai bentuk penghormatan kematian Cohen. "Ketika kami mengemukakan gagasan untuk pameran ini, kami pergi untuk meminta persetujuan Lenoard Cohen, yang sangat senang dengan proyek ini dan sudut pandang yang kami usulkan," jelas John Zeppetelli, direktur dan kepala kurator MAC, dalam sebuah pernyataan. "Penting baginya untuk menunjukkan bahwa pameran ini tidak bersifat biografis. Sejak awal, proyek ini dianggap sebagai eksplorasi artistik kontemporer untuk sebuah karya, dan dalam artian itu, dia sangat senang bisa menginspirasi seniman lain lewat karya seni miliknya."

Pasca kematian Cohen di usia 82 tahun pada November lalu, fungsi dari pameran seni tersebut sontak berubah. "Ini menjadi sebuah bentuk penghormatan pula bagi sang bintang dunia," lanjut Zeppetelli. "Kami punya tanggung jawab besar kepada publik dan pendekatan yang dilakukan oleh para artis akan terasa peka terhadap aspek ini, untuk mencerminkan rasa terima kasih dan hormat kami terhadap para seniman Montreal."

Pameran seni Cohen bertepatan dengan ulang tahun Montreal ke-375. "Publik akan memiliki kesempatan untuk melihat kejeniusan dari warga Montreal yang hebat ini, melalui puisinya dan rasa kemanusiaannya yang dalam, di mana masih menjangkau penggemarnya di seluruh dunia," tambah Martin Coiteux, Menteri Tatanan Kota dan Pembebasan Tanah untuk wilayah Montreal. "Ia membuat orang Quebec bangga." (prm/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Live Review: Mocca x Payung Teduh
  3. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  4. Live Review: Elephant Kind X Rock N Roll Mafia
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment