Adrian Yunan Bicara tentang Kisah di Balik Album Solo Debutnya, 'Sintas'

Setahun lebih setelah 'Sinestesia', anggota Efek Rumah Kaca yang satu ini memutuskan merilis album

Oleh
Adrian Yunan. Muhammad Asranur

Awal Juni 2017 menjadi salah satu momen paling berbahagia bagi pemain bass Efek Rumah Kaca (ERK), Adrian Yunan. Pasalnya dia baru saja merilis album solo debut miliknya yang bertajuk Sintas. Album ini berisi sepuluh lagu paling personal yang ditulis Adrian dalam kurun waktu 2010 hingga 2015.

Berdasarkan rilis pers yang diterima Rolling Stone, yang merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "Sintas" memiliki arti bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan. Banyak hal besar dialami sang pemain bas ERK ini, yang membuatnya harus bertahan dari fase-fase terendah dalam hidupnya.

2010 menjadi awal mula Adrian mencapai titik terendah. Dalam sebuah wawancara di program Rolling Stone Talks! pertengahan 2015 lalu, dua pesonel ERK lainnya, vokalis gitaris Cholil Mahmud menuturkan bahwa Adrian sempat divonis oleh dokter dari beberapa rumah sakit mata di Jakarta bahwa dirinya mengidap penyakit retinitis pigmentosa.

Setelah diberikan obat, kondisinya tidak membaik bahkan memburuk. Namun, setelah melakukan pengobatan di Singapura, didapati bahwa sebenarnya Adrian tidak mengidap peyakit jenis tersebut. Setelah kembali ke Jakarta, belakangan Adrian tahu bahwa adiknya mengidap penyakit serupa. "Kebetulan adiknya Adrian sakit serupa, namun di tahap awal. Menurut dokter di RSCM terkena behçet's disease, penyakit yang dapat melemahkan saraf di badan dan kebetulan terkena di mata," jelas Cholil.

Adrian pun langsung berobat ke RSCM dan dokter mengatakan bahwa Adrian positif mengidap behçet's disease, yang virusnya berasal dari Tiongkok dan memiliki sifat turunan. Maka dari itu, hingga hari ini, Adrian mempercayai bahwa penyakit yang sedang ia lawan dan gumuli merupakan behçet's disease.

Di masa-masa melawan penyakit itu dirinya mengaku sempat merasa sangat terpukul. "Itu titik terendah, gue sempat lama beberapa bulan di tempat tidur doang," ujarnya. Lantas pergulatan mental akibat kondisi fisik yang menurun ini mulai dilawan Adrian di tahun-tahun berikutnya. Meski dalam kondisi yang tidak diinginkan, Adrian terus beradaptasi dan bertahan hidup hingga keluar menjadi seorang penyintas.

Ditemui setelah konser mini di Pavilyun 28, Petogogan, Jakarta Selatan pada 4 Juni lalu, Adrian banyak bercerita soal pergulatan ini. Hingga akhirnya menelurkan Sintas yang semula adalah materi-materi untuk ERK, tapi tidak terpakai.

Bagaimana masa-masa Adrian saat beristirahat, vakum dari Efek Rumah Kaca?

Adrian (A) : Ketika gue kondisi istirahat dari ERK ternyata gue lebih banyak waktu luang. Gue merasakan situasi dimana gue harus mencari pelarian dari kondisi gue waktu itu. Ya, ternyata bikin lagu, yang paling bisa bikin gue senang. Bikin lagu aja tanpa harus mikirin lagu-lagu ini buat apa nantinya. Langsung mikir, kira-kira berapa jam sehari ya, gue bisa genjreng-genjreng dan menghasilkan lagu, entah itu akhirnya terekam atau tidak.

Tahun berapa ya itu tepatnya?

A : Kira-kira 2010. Tapi bener-bener mulai lebih banyak bikin itu tahun 2013, 2014 lah. Hampir berbarengan dengan proses penggarapan album Sinestesia dimulai lagi. Nah terus materi-materi yang tak terpakai itu, karena kebetulan album Sinetesia berbeda pada waktu itu, yang menyarankan pertama kali untuk dibuat solo justru Cholil. "Sayang materinya kalo nggak dibuat," katanya. Sampai beberapa kali ngomong, hingga akhirnya lumayan menjadi trigger buat gue saat penampilan Indie Art Wedding (proyek duo Cholil bersama sang istri,Irma Hidayana) di PGP Cafe, daerah Rempoa pada 2015. Dia ngajakin gue buat jadi pembuka. Langsung setelah itu gue buka-buka lagi file-file gue. Lumayan dikasih waktu sama Cholil, jadi ya gue kulik.

Makna di balik judul album Sintas ini apa?

A : Sintas itu sebenarnya menggambarkan proses gue yang dari titik terendah sampai gue menemukan titik balik, gue PD bahwa semua yang gue lewatin kemarin itu adalah tanda cintanya Tuhan ke gue. Pasti ada hikmahnya. Jadi, sintas itu sebenarnya bagaimana gue melewati hari demi hari itu, gue memahami hal-hal satu demi satu itu.

Titik baliknya apa dalam semua kejadian yang Anda alami itu?

A : Kira-kira gue sempet di titik terendah itu, gue sempet lama beberapa bulan itu di tempat tidur doang. Titik baliknya gue tiba-tiba ngimpi yang nggak jelas artinya apa. Tapi pas gue bangun, gue kepikiran, "ini gue mau habisin sebagai orang yang kalah atau gue bisa menang?" Karena kalau mau kalah, gue sangat mudah memilihnya. Gue tinggal pasrah aja. Akhirnya gue berusaha, dengan kondisi gue sebagaimana pun gue harus bisa ngapa-ngapain. Awalnya gue megang gitar, akhirnya bisa bangkit lagi.

Kenapa terpikir gitar?

A : Di benak gue ya gue harus bisa mengalihkan pikiran gue menjadi sesuatu. Jadi sebenarnya, gue sadar semua yang gue alami ini ya cuma gue yang alami. Justru kalo gue alihkan menjadi sesuatu, ini akan menjadi hikmah. Setelah itu gue langsung bikin nada dan chord. Memang tidak langsung menjadi lagu, semuanya proses. Tapi sebagian besar temuan itu ada di album Sintas.

Isi materi album ini jauh lebih personal daripada lagu-lagu yang ada di album-album ERK. Apa memang dibuat seperti itu?

A : Ada dua sih. Pertama, menurut gue memang akan lebih menarik bila terjadi diferensiasi. Biar ERK yang begitu, sementara gue bikin lagu yang lebih personal. Dan sebenarnya konsep ini adalah idamannya masing-masing personel ERK juga, karena ERK selama ini secara mengalir, kami harus kasih pesan apa lagi di album selanjutnya. Jadi punya misi yang berbeda (dengan jika dikerjakan untuk album solo.)

Kedua, ternyata dalam prosesnya, album ini banyak gue habiskan di rumah. Dulu gue merasa di rumah itu tempat istirahat, tempat ketemu keluarga setalah gue kerja di luar seharian. Ternyata setelah melihat kondisi kesehatan gue yang mengharuskan di rumah, ya gue bertemu proses yang mengubah pandangan : kalo di rumah selama ini jadi kurang produktif, ternyata sekarang itu salah. Di rumah sangat banyak inspirasi. Cuma dulu gue kurang peka sama rumah.

Perbedaan lain ya mungkin dulu gue kurang empatinya. Jadi dulu gue lebih melihat sesuatu di bawa ke logis aja. Tapi kalau sekarang gue lebih punya empati. Hal-hal seperti ini yang menjadikan gue jadi lebih peka sama rumah.

Misalnya apa? Yang dirasakan jadi lebih peka

A : Misalnya, dulu kalo lihat box mainan anak, mungkin biasa aja. Kalau sekarang, gue bisa merasakan mainan itu akan berbeda kalau ada di tangan si anak. Bukan seperti kita, orang dewasa yang megang, nggak ada artinya, dan bisa kita lempar kapan aja. Jadi punya jiwa lah mainan jika dipegang anak-anak. Ini akhirnya saya terjemahkan di lagu "Mainan".

Proses rekaman sendiri bagaimana?

A : Dari draft, hampir semua, seperti gitar, bass, vokal, sampai keyboard itu gue bikin di rumah, dibantu sama istri. Jadi ya dengan alat yang ada dan kemampuan seadanya aja. Ngulik bareng-bareng lah.

Dibantu sama istri? Bantuan istri dalam bentuk apa?

A : Isti gue terpaksa belajar software Nuendo untuk merekam. Awalnya terpaksa, tapi demi gue dia mau belajar. Bagi gue dia memang butuh proses panjang. Karena dia kan bukan orang musik, jadi dia bener-bener blank tentang proses aransemen, jadi belajarnya double. Jadi dia juga ikut mendengarkan refrensi-refrensi gue untuk album ini.

Apa refrensinya?

A : Waktu bikin album ini sih jadinya gue lebih dengerin Simon & Garfunkel. Ada Ian Brown, terus Fiona Apple. Sama band tahun 2000-an Yeasayer. Ya dia jadi ikutan denger. Harusnya sih tadinya nggak dengar. (Tertawa).

Jadi istri lebih membantu secara teknis?

A : Dalam album ini, iya. Buat gue prosesnya ternyata harus banyak pengorbanan buat dia. Karena dia kan kerja juga dan waktu gue mulai proses album ini, ternyata anak gue baru lahir. Jadi dia lumayan fight lah di sini.

Cerita soal kerjasama ini apa dibikin lagu?

A : Nggak ada. Tapi ada satu lagu untuk dia. Judulnya "Terminal Laut". Jadi itu cerita tentang ketika gue kondisi fisiknya udah mulai menurun di tahun 2013. Terus kami sempat desperate berdua, ditambah lagi kami belum dikasih anak pasca menikah. Ya udah, kami menghibur diri, "pasrah aja deh, nggak usah punya anak." Lalu kami memutuskan untuk, "kalo punya duit, jalan-jalan aja yuk! Ke mana? Ke pantai."

Akhirnya kesampaian? Ke pantai mana?

A : Udah, setelah beberapa lama. Ke pantai Ancol. (Tertawa), yang penting sampai dulu. Ternyata dia senang juga, walau cuma ke Ancol gitu. Yang dia ternyata juga sudah pernah ke sana.

Dari proses pembuatan di rumah itu, total ada berapa lagu? Sebelum akhirnya menjadi sepuluh lagu

A : Itu gue nyebutnya sampah ya. (tertawa). Sampahnya banyak banget. Ada yang sempat hilang, sekitar beberapa puluh. Ada yang sempat gue rekam di komputer, terus karena komputernya kepenuhan, lalu gue pindahin ke harddisk, juga ada banyak.

Ratusan?

A : Nggak sampai, tapi kira-kira seratus lebih ada sih. Tapi ya mohon maaf, itu sampah. (Tertawa) Maksud gue untuk mencari emas di situ, gue butuh effort lagi. Jangan dibilang itu sebuah lagu, tapi draft saja yang menjadi awal mula album ini.

Dari materi-materi yang disebut sampah tadi, hingga akhirnya menjadi sepuluh, apa filternya?

A : Filternya refrensi. Ketika gue mendengarkan refrensi. Misalnya gue bikin draft satu-dua lagu. Ternyata gue kebayang konsepnya. Jadi apa yang gue bisa adalah seluruh instrumen yang akhirnya ada di situ. Semua yang ada di rumah ya gue mainin. Kecuali drum dan perkusi. Termasuk gitar elektrik gue juga nggak bisa main.

Sampah-sampah itu akan bisa jadi masuk di ERK selanjutnya? Atau proyek-proyek lainnya?

A : Kalo ERK belum tahu. Karena proses di ERK sudah berbeda. Tapi kalo album solo sih, karena yang nentuin semuanya gue sendiri, ya semakin besar kemungkinan.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  3. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017
  4. 'Pengabdi Setan' Versi Baru Menjadi Film Horor Indonesia Terlaris
  5. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa

Add a Comment