Ketika Para Penggemar Berkabung di Pemakaman Chris Cornell

“Aneh kah jika mencintai seseorang yang Anda tidak kenal? Saya rasa orang-orang di sini mencintainya dengan cara mereka sendiri,” kata seorang penggemar di Hollywood Forever

Oleh
Makam Chris Cornell yang letaknya tak jauh dari makam Johnny Ramone, gitaris Ramones tampak dipadati para penggemarnya. Jeff Nguyen

Pemakaman untuk penyanyi Chris Cornell dihadiri oleh tangisan keluarga, teman, dan penggemar di Hollywood Forever Cemetery pada Jumat. Rekan musik Cornell di Soundgarden dan Audioslave, yang turut menciptakan lagu-lagu hits dan abadi bersamanya, hadir bersama komedian, musisi rock veteran, bintang film dan musisi-musisi grunge seangkatan demi mengenang sang penyanyi sekaligus gitaris tersebut. Ketika kebaktiannya selesai, dan taman itu dibuka untuk umum, penggemar berat Cornell menghabiskan hari untuk bernyanyi dan menangis di sekeliling batu nisannya yang berkilau dan bertuliskan: "Suara dari generasi kita dan seniman untuk selamanya."

Batu nisannya diletakkan di samping patung mendiang Johnny Ramone, sebuah patung yang epik dari pahlawan bergitar musik punk rock. Dalam beberapa tahun terakhir, Cornell selalu menjadi tamu VIP di Hollywood Forever demi merayakan ulang tahun sang gitaris Ramones tersebut. (Kuburannya juga berada di tempat yang sama dengan bassist Dee Dee Ramone dimakamkan.) Sebuah tumpukan bunga, koleksi gitar yang berserakan, manik-manik doa, botol bir, lilin nazar, lukisan dan catatan pribadi – "terima kasih, Chris" dan "Rock in Peace," berada di sana – dengan cepat menutupi nisan Cornell.

"Aneh kah jika mencintai seseorang yang Anda tidak kenal? Saya rasa orang-orang di sini mencintainya dengan cara mereka sendiri," kata Rita Neyter Skiles, penggemar Cornell sejak ia remaja di awal 1990, kepada Rolling Stone. Neyter berkabung mengenakan gaun hitam panjang dan sepatu bot bertali tinggi. Ia datang untuk melihat dan menyentuh nisan yang ia sebut "terapi".

Beberapa dekade lalu, ia bertemu dengan Cornell di sebuah acara tanda tangan Soundgarden di sebuah toko musik Hollywood dan menyaksikan penampilan band juga solonya setidaknya sebanyak lima belas kali. Ia terakhir kali menyaksikan Cornell pada 2015 di tur akustik solo untuk album Higher Truth. Ia mengungkapkan menghadiri pemakaman Cornell membuat kematiannya yang mendadak terasa nyata.

Selama kariernya yang berjalan lebih dari tiga dekade, Cornell bermula dari musikus alternatif bawah tanah menjadi peraih piala Grammy, musisi dengan penjualan platinum, dan salah satu penyanyi paling kuat dan khas dalam kancah musik hard rock. Pada usia 52 tahun, ia mencabut nyawanya sendiri di kamar hotelnya pada 18 Mei dini hari, beberapa jam setelah ia tampil bersama Soundgarden di Detroit.

"Saya selalu menyangkalnya ketika berita itu munculnya," kata Skiles, 42 tahun, menjelaskan ketika penggemar di dekatnya menyanyikan lagu "Outshined" dari Soundgarden. "Ini terasa tidak nyata. Saya merasakan sakit hati. Ada rasa persahabatan di sini. Semua orang mencoba untuk terhubung dengan cara yang sama."

Di jalan sempit samping kuburan, Angel Morales, 40 tahun, memasang mikrofon dan memasang gitar listrik ke sebuah pengeras suara berukuran kecil untuk memainkan dua lagu Audioslave. Dia memulainya dengan "I Am the Highway" dan diikuti dengan "Like A Stone" yang mengentak sebelum pegawai pemakaman menghentikannya. Penggemar lainnya terus menyanyikan lagu tersebut saat Morales berkemas.

"Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal," kata Morales, mengenakan celana jin dan kaos hitam. "Chris Cornell adalah salah satu inspirasi musik saya. Saya mendengarkan musik karena dirinya."

Dua orang teman bernama Lyndsey Palumbo, 30 tahun, dan Jaclyn Cramden, 29 tahun, tiba dengan rambut berwarna perak lavender. Keduanya adalah penggemar Cornell sejak lama: Soundgarden adalah konser pertama bagi Palumbo, dan Cramden mengetahui Cornell dari Audioslave. Melihat penggemar berkabung – beberapa terenyuh saat menyentuh batu nisannya, di mana yang lain melakukan swafoto dengan tumpukan bunga dan pesan untuk sang penyanyi – membuat Palumbo "terpukau". "Saya diam, cukup kaget – melihat semua bunga dan catatan orang-orang itu," katanya. "Ia meninggalkan kesan kepada banyak orang. Suaranya menyentuh jiwa orang banyak."

Cramden mengenakan kaos Soundgarden milik pacarnya yang bertuliskan "Screaming Live 88," sebagai peringatan tur konser yang bertepatan dengan tahun lahirnya. Cramden hanya sekali menyaksikan penampilan Cornell, ketika tur konser reuin Temple of the Dog tahun lalu. "Setelah dipikir-pikir – itu adalah pengalaman yang luar biasa," katanya dengan suara yang bergetar. "Anda cukup beruntung bisa bertemu dengannya, dan Anda pikir itu tidak akan berarti banyak."

Di siang hari, seseorang membawa gitar akustik, yang terus dioper ke para penggemar untuk memainkan lagu-lagu yang berhubungan dengan Cornell. Beberapa bermain dengan mudah, di mana yang lain berusaha mengingat kunci gitarnya. Eric Deez, 32 tahun, mengenakan jaket kulit hitam yang kerahnya ditutupi oleh pin-pin nama band, tengkorak dan wajah dari Charles Manson. "Soundgarden bukan lah band kecil. Mereka adalah pergerakan besar," kata Deez, yang mengetahui kematian Cornell lewat berita di telepon genggam pada pagi hari. "Ia wafat sebagai vokalis terbaik sepanjang masa – setidaknya di kancah musik hard rock. Warisannya akan tetap ada selamanya."

Salah satu penggemar yang paling lama duduk di sebelah nisannya adalah Celeste Barrella, 28 tahun, yang tiba pada pagi itu dari Argentina. Ia merencanakan baru pulang ke rumah esok paginya. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja membuat tato baru di lengan kiri bawah, yang bertuliskan awal lagu Soundgarden dan lirik Audioslave dari "Shadow of the Sun": "LOUD LOVE – In memory of one who resides inside my skin."

"Ia adalah sahabat saya – meskipun saya tidak pernah bertemu dengannya," kata Barrella mengenai Cornell, dengan rambut hitam yang panjang dan kaos berwarna merah. Di belakang kuping kanannya ada tato lama, sebuah bendera Audioslave, band yang ia temukan pada usia tiga belas tahun dan telah "mengubah hidupnya."

"Audioslave mempunyai lirik yang sangat kuat di mana Chris menuliskannya," tambah dia. "Ia melewati momen yang sangat berat dalam hidupnya … Itu mewakili apa yang terjadi dengan saya juga. Saya melewati masa remaja saya. Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, atau harus berbicara dengan siapa. Dan dia punya kata-kata yang saya butuhkan ketika itu."

Satu pekan sebelumnya, berita kematian Cornell membuat Barella berkabung luar biasa. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis di meja kantornya, dan bosnya memulangkannya ke rumah. Sekarang ia berada di kuburan, mengamati nama Cornell yang tertulis di nisan. "Untuk saya ini bukan perpisahan," katanya. "Ia hidup bersama saya. Semua penggemar, kita semua harus membuat kenangannya terus hidup. Ia membutuhkan kita untuk melakukan itu."

Setelah menghabiskan waktu di pemakaman, Barrella mengatakan bahwa ia akan langsung pergi dan melanjutkan hidupnya, dan mungkin menghabiskan waktunya yang tersisa di Los Angeles. "Saya akan tetap berada di sini untuk beberapa saat," katanya, "lalu saya akan mencari sedikit kesenangan yang bisa saya lakukan." (prm/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  5. 10 Film Indonesia Terbaik 2016

Add a Comment