Maliq & D’Essentials Berjalan Semakin Jauh di Album Ketujuh

Sembilan lagu dalam ‘Senandung Senandika’ sarat eksperimen dari keenam personel

Oleh
Maliq & D'Essentials saat jumpa pers di SMS Minggu (21/5) lalu. Putri Indah Macharani

"Efeknya mungkin sekarang kalo kami beraneh-anehan, orang sudah, "Ya Maliq (& D"Essentials) memang begitu", mungkin kalo dua atau tiga tahun lalu kami aneh sedikit , "Wah, kok gini nih? Kok nggak jazz sih?" Ya, mungkin saat ini kami di titik nyaman kami bebas ngapain aja sekarang," ungkap Widi Puradiredja, drummer Maliq & D"Essentials saat menjawab salah satu pertanyaan wartawan dalam jumpa pers peluncuran album ketujuh bandnya di Summarecon Mall Serpong (SMS) pada hari Minggu (21/5) lalu.

Jawaban sang drummer kian menegaskan bahwa band ini sudah berjalan jauh dari musik mereka di empat album pertama. Ketika banyak orang mengidentikkan Widi dan kawan-kawan dengan pop jazz atau pop soul seperti yang mereka perkenalkan di album debut 1st (2004), Maliq & D"Essentials kini justru makin melebarkan eksperimen di album ketujuh, bertajuk Senandung Senandika.

Ada bebunyian dan ketukan rebana layaknya ibu-ibu kasidahan mengiringi sepanjang lagu "Maya". Terngiang lirik bertemakan guru era '90-an di lagu "Kapur", suara vokalis Angga Puradiredja yang berteknik head voice di nomor "Idola", hingga sound keyboard Ilman yang beragam di single "Sayap" menunjukan eksplorasi maksimal Maliq & D"Essentials di sembilan lagu dalam Senandung Senandika.

"Itu yang "Maya", kasidahan benar-benar rekaman di rumah ibu-ibunya, kami take langsung dengan mereka. Kami menikmati prosesnya aja sih. Tanpa harus mengedepankan kami saat ini beda. Nggak begitu," lanjut Widi.

Lagu "Kapur" misalnya, yang menjadi lagu favorit Widi dan pemain bass Jawa, liriknya dimulai oleh Widi yang kemudian dilanjutkan dengan personel lainnya. Lagu tersebut secara makna ingin mengisahkan tentang seorang guru dari sudut pandang atribut guru di zaman dulu.

"Nggak ada gitu misalnya kami diskusi, "Oh yang aneh itu "Kapur'", nggak gitu. Jadi memang dimulai dari berkreasi aja. Lalu ide-ide gila itu muncul di tengah-tengah. Kadang terlalu gila. Biasanya, bahkan gue dan Indah nggak ikutan, paling cuma di awal-awal aja terus kabur. Nanti kami ikut lagi, dengan menyanyikan, (personel lainnya) nanti nanya : "kalian paham nggak sih?"," tambah vokalis Angga Puradiredja.

"Kapur juga salah satu tema yang tanpa rencana. Nggak tau kenapa kami sepakat untuk bikin lagu tentang guru. "Idola" juga berbicara soal orang tua. Ya mengalir begitu aja," sahut drummer dari band yang baru saja berulang tahun ke-15 ini.

Dikonfirmasi beberapa hari sebelumnya, melalui aplikasi pesan, Angga mengatakan album Senandung Senandika juga masih bekerjasama dengan Bibli.com sebagai pihak tunggal yang melakukan distribusi album ini, sama seperti dua album sebelumnya, Sriwedari dan Musik Pop.

Sebelumnya, di awal bulan lalu band yang kini diperkuat Angga (vokal), Indah (vokal), Lale (gitar), Ilman (keyboard), Jawa (bass), dan Widi (drum) memperkenalkan rilisan terbaru mereka ini dengan dua single yang dirilis sekaligus, yakni "Sayap" dan "Senang".

Tak lama setelah dirilis melalui gerai-gerai digital, seperti Spotify, Apple Music, dan Joox, juga dengan dua video lirik di kanal YouTube mereka, "Sayap" dan "Senang" dirilis dalam bentuk video musik. Keduanya digambarkan dalam dua video musik yang begitu berbeda.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Maliq & D’Essentials, The Sigit, Stars and Rabbit Siap Ramaikan Pizza e Birra Oktobeerfeast, Jakarta
  2. Seni Musik Keras di Rock In Borneo 2017
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  5. 10 Kolaborasi Seru yang Terjadi di Soundrenaline 2017

Add a Comment