Komedi Setengah Jalan Ernest Prakasa

Komika berdarah Tionghoa ini memasuki babak baru dalam berkomedi melalui film

Oleh
Ernest Prakasa Dennis Tumiwa/ Mohammad Zaki

Tinggal beberapa menit menuju pukul satu dini hari di suatu hari di bulan Februari silam. Tetapi akun Instagram @ernestprakasa masih saja aktif dengan menunjukkan status "LIVE" pada gambar profilnya. Status "LIVE" memang cukup menarik perhatian semenjak dirilis Instagram di Indonesia pada Januari lalu. Fitur terbaru ini bernama Instagram Live.

Banyak dari artis, aktor, musisi, hingga selebgram (sebutan untuk selebritis instagram, Red) memanfaatkannya untuk mengabarkan aktivitas terkini mereka secara siaran langsung (Live). Tak terkecuali pemilik akun ini yang tak lain adalah komedian Ernest Prakasa.

Ketika gambar profil diketuk, ternyata si empunya akun tidak sedang ingin menyiarkan apa-apa. Mengenakan kaus oblong putih polos, Ernest malah terlihat sedang mengabaikan penonton Instagram Live –nya. Tak satupun obrolan dari penonton yang dijawabnya.

Dia tampak seperti sedang serius belajar hal baru. Sesekali mengernyitkan dahi, Ernest memecah fokusnya pada layar gawai dan monitor laptop di depan.

"Wah banyak juga ya yang langsung nonton? Komentarnya cepet banget. Gimana membalasnya ya?" tanya Ernest sambil berpikir lalu menatap layar di gawainya.

"Biar bisa munculin obrolan kalo di YouTube Live ini gimana sih, guys?" tanyanya kepada lebih dari 900 penonton di kedua medium Live tersebut. "Di sebelah kanan layar, koh," balas salah satu penonton di Instagram Live Ernest, memberitahu letak memunculkan ruang obrolan di YouTube Live.

Masih terjaganya Ernest di tengah malam itu lantaran untuk mempelajari dua medium siaran langsung sosial media terkini. Satu dari Instagram, satu dari YouTube. Melalui siaran langsungnya itu, pria penyuka musik rap ini mengaku sangat kewalahan dengan perkembangan teknologi sosial media saat ini.

"Demi kepentingan gue sebagai seorang entertainer, gue harus tahu itu sih sebenarnya. Jadi begitu ada Instagram Live, oke gue coba, ada YouTube Live, gue coba. Paling nggak gue tahu platform mana yang akan gue manfaatkan seandainya gue perlu," jelas Ernest ketika ditanya langsung soal ketekunannya mengulik teknologi siaran langsung pada sosial media itu.

****

Foto: Mohammad Zaki

Di luar kegemarannya mengulik hal-hal baru – termasuk teknologi sosial media- Ernest adalah seorang pekerja dunia hiburan yang juga amat tekun. Mengawali karier sebagai penyiar radio sekaligus penata musik di salah satu radio swasta di Bandung, lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini sempat bekerja selama enam tahun di dua label musik, yakni di Universal Music Indonesia dan Sony Music Indonesia.

Berbekal bekerja di label musik ini, jaringan pertemanan Ernest menyentuh kalangan media, baik cetak maupun elektronik. Hingga akhirnya pada 2011, tawaran untuk menjadi peserta Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) dari Kompas TV pun datang kepadanya.

"Dia mah pekerja keras. Kan gue sama Ernest bareng stand-up nya. Dia lewat Kompas, gue lewat Metro (TV), Kalo dia mau, ya dilakukan. Ernest kan kalo gue liat awal-awal nggak begitu lucu, sekarang udah lucu, itu ya karena kerja kerasnya dia. Kenapa sekarang berhasil? Karena kerja keras," puji komedian Soleh Solihun, yang cukup akrab dengan Ernest sejak keduanya belum berkarier menjadi komika.

Ketekunan dan kerja keras tersebut mengantarkan sang komedian bertransformasi menjadi sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran dalam dua film pertamanya yang cukup terlihat berkembang. Pun secara pencapaian komersial, Ernest layak diperhitungkan sebagai debutan menjanjikan dalam industri film di tanah air.

Hingga fitur ini ditulis, berdasarkan data filmindonesia.or.id film Ngenest (2015) sukses meraup 785.786 orang penonton, sementara film kedua, Cek Toko Sebelah (2016) malah melejit di angka 2.638.437 penonton.

Sementara untuk penghargaan untuk film Ngenest , Ernest meraih nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2016 untuk kategori "Penulis Skenario Adaptasi Terbaik", sementara dalam Piala Maya 2016, dia berhasil memenangkan dua dari empat kategori untuk judul film yang sama. Dua kategori itu adalah "Penulis Naskah Adaptasi" dan "Sutradara Debutan Terpuji". Belum lagi satu piala untuk "Penulis Skenario Terbaik" Indonesian Box Office Movie Awards 2016 dan "Penulis Skenario Terpuji" Festival Film Bandung 2016 juga untuk film perdananya itu.

Pencapaian ini cukup membuat rekan-rekannya sesama komika, yang juga terjun ke dunia film mengangkat topi setinggi-tingginya. Pandji Pragiwaksono misalnya, rekan Ernest ketika sama-sama mengisi program SUCI Kompas TV ini cukup gerah dan tergerak bersaing di industri film setelah melihat pencapaian tadi.

"Bagaimana Ernest bisa membuat film yang bukan hanya bagus secara komersial tapi critically aclaim, bisa banyak masuk nominasi (festival film, Red). Untuk ukuran film pertama yang dia tulis bisa masuk nominasi FFI kategori 'Penulis Naskah Adaptasi Terbaik', bersaing dengan Gina S. Noer dan Salman Aristo itu kan... Oh man! It sounds crazy!" puji Pandji kagum dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone sesaat sebelum ia naik ke atas panggung terakhir tur Juru Bicara di Jakarta pada akhir tahun lalu.

"Gue kan nge-MC FFI bareng Ernest. Terus gue melihat dia deg-degan sama Meira (istri Enest). Dia bertarung di FFI lho. Untuk seseorang bisa deg-degan "gue menang nggak ya di FFI" It's a privelege," sambungnya lagi. Terpicu kegerahan karya rekannya, di tahun ini Pandji pun berencana menyusul kesuksesan Ernest dengan turut menulis naskah film.

"Yang pasti produser yang nyuruh. Kalo bisa diproduksi tahun depan (2017, Red) ya Alhamdulillah. Tapi benar, Raditya Dika, Ernest, Kemal (Palevi) itu yang bikin gue ck..ck..ck.. gue itu juga suka film. Plus gue juga seorang story teller. Gue lihat Ernest sih terutama," imbuh pemeran film Make Money (2013) ini.

Atas seluruh pencapaian tersebut Ernest mengaku jadi lebih percaya diri untuk melangkah di babak selanjutnya dalam industri film. Tawaran menjadi produser misalnya, tak perlu dia pikir panjang hingga akhirnya muncul kata sepakat.

"Jadi Starvision punya suatu project, bukan gue yang nulis, bukan gue yang menyutradarai, tapi mereka minta gue coba untuk berperan sebagai creative producer. Gue terima pekerjaan ini untuk nyoba seperti apa sih rasanya menjadi produser. Judulnya masih tentatif, sudah masuk skrip tiga, dan filmnya berkisah tentang YouTube," cerita Ernest panjang lebar mengenai proyek film terbarunya.

****

Foto oleh Dennis Tumiwa.

Ketertarikan Ernest terhadap film sudah tertanam sejak duduk di bangku sekolah. Ketika itu minatnya hanya tersalurkan dengan menonton bioskop saja. Memasuki usia kuliah penggemar film Men In Black ini mulai rajin mengoleksi VCD original.

Karena berangkat dari seorang penikmat film, Ernest menyadari dirinya cukup buta ketika rumah produksi Starvision Plus mengajaknya, tak hanya memerankan tokoh dalam film melainkan langsung menjadi sutradara dan penulis skenario dalam film Ngenest.

Hanya berbekal kemampuan menulis bit dari Stand Up Comedy, Ernest Prakasa memberanikan diri menjadi penulis skenario debutan di film pertamanya itu. Raditya Dika adalah salah satu orang yang banyak memberinya refrensi di masa-masa awal penulisan skenario film.

"Dia (Radit) ngasih gue beberapa refrensi buku, ada tiga buku tentang script writing, ya gue baca. Gue juga banyak ngobrol dengan Jenny (Jusuf), sama Angga Sasongko juga. So bacically what I learn about script writing ya dari textbook sih," ucap penyuka makanan ketoprak ini.

Sementara soal penyutradaraan, Ernest terang-terangan mengatakan dirinya belajar dengan metode learning by doing. Lantas Ngenest adalah arena belajar pertama sang komedian untuk melakukan penyutradaraan mulai dari nol. Bahkan, diakuinya, ketika itu dia sangat buta perihal sinematografi.

"Akhirnya gue belajar sinematografi dari buku dan YouTube. Esai-esai yang ada di beberapa channel YouTube, yang isinya video-video esai lima menit tentang film, dari situ gue belajar. Kayak misalnya gue belajar teknik editing Edgar Wright (Hot Fuzz, Shaun of The Dead), makanya dari situ muncul di Cek Toko Sebelah , di adegan rumah sakit si Natalie mau pegang Erwin ternyata mendarat di bapaknya," jelas Ernest panjang lebar.

Dari Ngenest dengan kemampuan minimalis, Ernest akhirnya menemukan formula yang belakangan ia terapkan di film selanjutnya. Formula tiga pemeran utama dengan komposisi komedi dan non-komedi yang terkandung di tiap adegannya diulang secara lebih ekstrem lagi dalam Cek Toko Sebelah. Menjadi ekstrem karena, jika di film sebelumnya hanya ada tiga pemeran utama, maka di film kedua menjadi lima.

Menurutnya, pemeran utama tetap harus menanggung beban non komedi lebih banyak daripada yang lainnya, dimana lima pemeran utama dalam Cek Toko Sebelah – Erwin (Ernest Prakasa), Koh Afuk (Chew Kin Wah), Yohan (Dion Wiyoko), Natalie (Gisella Anastasia), dan Ayu (Adinia Wirasti)- harus banyak bermain drama ketimbang komedi.

"Padahal film drama komedi, tapi beban (komedi)-nya justru di luar lima orang ini. Kayak gue atau Dion Wiyoko, sedikit sekali main komedi. Ada sih tapi nggak banyak. Banyakan di geng toko, geng capsa, dan bu Sonya, gitu. Nah itu suatu formula yang beresiko. Resikonya adalah komedinya akan terasa sekedar tempelan aja, tapi ya bagaimana caranya agar tetap terlihat bercampur," ungkap Ernest menjelaskan soal formula komedi dan drama di Cek Toko Sebelah yang jika ditonton akan terasa begitu pas.

Selain belajar komposisi komedi, di Cek Toko Sebelah pula lah Ernest belajar mempersiapkan background karakter secara lebih matang. Itu pun setelah pemeran Ayu, aktris Adinia Wirasti banyak melontarkan pertanyaan soal perkembangan karakter.

"Karena ternyata setelah kami reading, baru dirasa bahwa semakin matang background karakter, maka aktornya semakin yakin. Dia semakin tahu apa yang harus dia lakukan dalam scene itu, semakin dia paham karakternya dia, emosinya pun nggak bakal ngambang," jelas Ernest antusias.

Tak hanya Adinia Wirasti, tempat belajar film seorang Ernest. Jenny Jusuf, yang dikenal menulis skenario Filosofi Kopi, turut menjadi konsultan skenario untuk Ernest di film Cek Toko Sebelah. "Tentang hal-hal yang sangat technical soal skenario, gue belajar dari Jenny. Bahkan hal-hal yang produser pun nggak akan notice," lanjut Ernest.

Salah satu bagian skenario Cek Toko Sebelah yang mendapat masukan dari Jenny adalah soal karakter Ayu yang diperankan Adinia Wirasti. Menurut Jenny, karakter Ayu terlalu sedikit memikul beban drama.

"Menurut Jenny, Ayu terlalu menjadi satelit Yohan. Tidak punya konflik sendiri. Hasilnya, munculah karakter Reno yang diperankan Nino Fernandez yang tiba-tiba datang ingin membantu Ayu mewujudkan mimpi membuka toko," jelas Ernest.

******

Usai Cek Toko Sebelah dengan segala pencapaiannya, Ernest langsung dihadapkan pada peran baru sebagai produser salah satu film garapan rumah produksi Starvision Plus. Meski menghadapi peran baru, ayah dari Sky Tierra Solana dan Snow Auror Arashi ini tetap tidak melupakan akarnya sebagai komika.

Sebuah tur berisi tiga belas titik pun telah dijalankan Ernest pada April silam. Tur tersebut ia beri nama Setengah Jalan. Judul ini sengaja dipilih karena memiliki relasi dengan usia Ernest yang tepat pada 29 Januari lalu memasuki 35 tahun.

"Karena ekspektasi hidup orang Indonesia kan 70 tahun. Nah, gue saat ini berada di usia 35 tahun nih. Makanya diberi nama Setengah Jalan. Materi-materi stand-up ini nantinya akan diadaptasi ke dalam bentuk buku," pungkas Ernest.

Setengah Jalan sendiri awalnya adalah proyek buku baru Ernest. Dia sudah mengumumkan rencana ini jauh hari melalui Vlog-nya, Sikovlog pada Oktober tahun lalu. Sayangnya karena kesibukan produksi film Cek Toko Sebelah, rencana ini harus direvisi, mengganti rilisan buku dengan menghadirkan terlebih dulu 13 panggung komedi tunggal Ernest.

"Karena ekspektasi hidup orang Indonesia kan 70 tahun. Nah, gue saat ini berada di usia 35 tahun nih. Makanya diberi nama Setengah Jalan."

Meski mengerjakan beberapa judul film dalam setahun, pecinta buku-buku J.K Rowling ini tak keberatan menyelipkan agenda tur stand-up comedy di tiap tahunnya.

"Kalo tur kan overlapping nya hanya akan dengan pekerjaan gue yang produser ini. Sedikit-banyak, gue udah kebayang lah job produser nggak akan se-hectic sutradara, masih bisa gue sambi dengan tur. Gue juga sudah beri tahu dari awal ke executive producer gue, kalo gue udah ada tur nih," jelasnya.

"Stand-up itu cara gimana gue untuk tetap keep in touch with my roots. Biar gimanapun juga basic gue kan nulis. Nulis itu kan awalnya dari nulis bit di komedi. Jadi gue nggak mau kehilangan kontak dengan akar aja. Lagi pula gue juga ada tanggungan moral untuk membina teman-teman di daerah dan di komunitas. Kedatangan gue ke sana pasti akan jadi suntikan moral buat mereka," ucap Ernest.

Dalam perjalanan karier stand up comedy -nya, Ernest telah melakukan tur komedi tunggal sejak 2012. Ketika itu dia melakukan tur Merem Melek di sebelas kota. Tur kedua komedian yang tidak memiliki nama Tionghoa ini dilakukannya pada November 2013. Ketika itu dia menyambangi tujuh belas kota untuk tur yang dia beri nama Illucinati.

Editor's Pick

Add a Comment