Sajian Kelas Dunia David Foster di Yogyakarta

Akhirnya Hit Man David Foster and Friends Live in Concert digelar di Yogyakarta, setelah tertunda hampir lima bulan

Oleh
David Foster. TJ Singo

Menghadirkan tontonan kelas dunia di kota Yogyakarta sudah beberapa kali dilakukan Rajawali Indonesia sebagai promotor. Anas Syahrul Alimi selaku CEO Rajawali Indonesia yakin walaupun dianggap sebagai kota kedua, Yogyakarta bisa menjadi tempat penyelenggaraan acara berkualitas. Selain itu, acara semacam ini juga bermanfaat bagi daerah dan bisa meningkatkan pemasukan karena yang hadir juga banyak dari luar kota. "Tingkat hunian hotel meningkat, pembelanjaan kuliner naik tajam. Ini semua efek dari penyelenggaraan acara tingkat internasional di Yogyakarta," demikian dikatakan Anas pada konferensi pers sehari sebelum pelaksanaan konser.

Antusiasme menyaksikan David Foster yang mendunia sudah terjadi sejak publikasi dimulai pada Desember tahun lalu dan sekaligus diadakan penjualan tiket presale. Menurut Bonny Prasetya sebagai Media Relations, lima ratus tiket berbagai kelas yang disediakan pada saat itu habis terjual. Empat ribu tiket yang dijual secara online maupun konvensional ludes jauh hari sebelum tanggal pelaksanaan.

Harga tiket yang berada di atas daya belanja masyarakat Yogyakarta yang umumnya segan membeli tiket dengan harga tujuh digit terpatahkan pada pergelaran ini. Pertunjukan kelas dunia ini membuat masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya menunjukkan kemampuan finansial sebenarnya. Tiket VVIP dengan harga 2,5 juta rupiah dibeli tidak hanya oleh penonton dari Yogyakarta, tapi juga mereka yang berasal dari Purwokerto, Semarang, dan beberapa kota lain.

Keinginan masyarakat yang menggebu terlihat pada hari pertunjukan, 6 April 2017. Para penonton sudah berada di lokasi pertunjukan setengah jam sebelum gerbang dibuka pada pukul 18.00 WIB. Mereka rela dibasahi gerimis yang menjadi pembuka bagi hujan deras yang terus mengguyur mengiringi pertunjukan ini dan membuat macet panjang di Jalan Magelang, di sekitar Gedung Grand Pacific Hall tempat acara berlangsung. Area parkir gedung yang tak mampu menampung jumlah kendaraan membuat Jalan Magelang menjadi ruang pamer mobil pada malam itu.

Dua pembawa acara lokal Alit Jabang Bayi dan Gepeng Kesana Kemari yang membuka acara mampu mengendalikan penonton untuk tidak menuntut konser segera dimulai lewat kekonyolan dan kelucuan candaan khas ala Yogyakarta yang mengocok perut penonton.

Gemuruh suara penonton terdengar saat konser dimulai dengan menampilkan beberapa cuplikan video musik lagu-lagu hits dunia yang dihasilkan David Foster. Tepuk tangan membahana saat Foster memasuki panggung dan langsung duduk di hadapan grand piano Yamaha DC7 Mark IV yang didatangkan khusus dari Singapura dan melantunkan "Winter Games". Mood penonton langsung terbangun oleh karisma David dan komposisi instrumental yang diciptakannya untuk Olimpiade Musim Dingin 1988 di Kanada.

Setelah itu David memperkenalkan Putri Ayu sambil berseloroh, "Wah, kamu sudah besar dan makin cantik, ya." Mengalunlah "Time To Say Goodbye" dari Putri Ayu, penyanyi seriosa yang lahir dari ajang pencarian bakat di televisi. Suara sopran yang dilantunkan Putri mengundang decak kagum penonton yang mengapresiasi dengan tepuk tangan panjang. Putri tak kalah dari penyanyi aslinya, Andrea Bocelli dan Sarah Brightman.

Ini adalah kali ketiga Putri Ayu tampil bersama David Foster setelah ia menjadi bagian dari pertunjukan David Foster di Jakarta dan Singapura pada 2011, berduet dengan Michael Bolton membawakan "The Prayer" saat ia masih duduk di bangku SMP. Putri merasa terhormat bisa diajak kerja sama oleh David yang baginya adalah seorang yang legendaris, super, baik, dan simpel.

David selanjutnya memanggil trio Thirdstory yang berasal dari New York, beranggotakan Elliot Skinner, Ben Lusher, dan Richard Saunders. Mereka membawakan "Still In Love" dan "G Train". David yang paham benar industri musik selaku produser memperkenalkan mereka sebagai trio bertalenta karena mereka juga bisa menulis lagu dan bermain musik sambil melemparkan gurauan "Mereka juga ganteng" yang disambut histeria penonton perempuan. Gurauan ini berhasil membuat penonton menikmati penampilan mereka walau sambutan lebih datar dari sebelumnya.

David kembali menaikkan mood penonton lewat komposisi hits "St. Elmo's Fire" yang menjadi lagu tema film St. Elmo"s Fire (1985). Komposisi tersebut ditampilkan dengan bintang tamu Nano Tirta sebagai pemain saksofon. Nano adalah pemain flute pada band Drakhma dan pernah menjadi musisi pendukung album Vina Panduwinata Citra Cerita (1984) yang sekarang merupakan direktur utama Bank Jateng. Permainan Nano di malam itu sangat diapresiasi oleh David yang menikmati kolaborasi ini.

Kolaborasi "St. Elmo's Fire" dilanjutkan dengan permainan solo piano oleh David yang kemudian memanggil Marcell untuk membawakan "Hard To Say I"m Sorry" dan "Firasat". Bagi Marcell, kerja sama pertama dengan David ini adalah kehormatan dan momentum yang sudah menjadi impian lama. "David adalah seorang musisi yang tahu bagaimana membuat sebuah lagu enak dan bisa dicerna oleh semua kuping tanpa harus kehilangan kualitas dan jati diri dan tetap terjaga ekslusivitasnya," ujar Marcell pada Rolling Stone Indonesia seusai konferensi pers. Popularitas lagu yang dibawakan dan ketokohan Marcell terbukti bisa membuat para penonton ikut bersenandung dengan lantang.

"Ketika merekam lagu ini, saya berangan-angan Whitney melakukannya di studio secara live dan itu dilakukan oleh Dira Sugandi," demikian David Foster memuji Dira setelah membawakan "I Have Nothing" dan "I Will Always Love You" yang dirangkai menjadi sebuah medley dan mendapat tepuk tangan panjang dari penonton atas penampilannya yang prima dan sempurna. Penampilan Dira yang apik berlanjut ke "All By Myself" yang didahului cerita bagaimana David Foster pertama menemukan Celine Dion. Dira tak sekadar bernyanyi tapi juga mempertahankan mood penonton stabil.

Ini adalah kolaborasi keempat Dira dengan David setelah awalnya mereka dipertemukan oleh Peter F Gontha di Polandia pada 2010 dan kerja sama itu berlanjut sampai konser di Singapura beberapa hari sebelum di Yogyakarta. Bagi Dira, tidak jadi bekerja dengan Foster sebagai produser yang menjadi impiannya tapi diajak kerja sama dalam turnya merupakan hal yang patut disyukuri. Apalagi diplot membawakan lagu Whitney Houston, role model yang membuatnya memutuskan untuk menjadi penyanyi. Begitu dikatakan Dira pada RSI di ruang ganti pada acara Gala Dinner with David Foster yang diadakan sehari sebelum pementasan.

Salah satu pengisi acara yang ditunggu penonton yang tumbuh di tahun "90-an adalah Brian McKnight. Perkenalan yang dilakukan David Foster memancing tepuk tangan dan suara gemuruh saat nama McKnight disebut. Di kesempatan pertama McKnight membawakan "Mornin"" yang dipopulerkan Al Jarreau di tahun 1983 dengan alunan saksofon Nano Tirta. Thirdstory kembali hadir di panggung dan bersama Brian membawakan "I Swear" milik All-4-One yang sangat populer di 1994 dan berlanjut dengan "After The Love Has Gone" milik Earth, Wind & Fire. Sepanjang ketiga lagu ini, seluruh penonton ikut bernyanyi.

McKnight juga membawakan lagu miliknya berjudul "Back At One" yang diikuti suara penonton. Lagu kelima dari Brian ini merupakan strategi yang berhasil memancing penonton meneriakkan permintaan encore. Melantunlah "One Last Cry" yang menjadi lautan karaoke. Tak berhenti dengan penampilan bernyanyi, David sesaat berkomunikasi dengan Brian yang dipujinya sebagai musisi hebat dan memberikan tantangan pada Brian untuk menciptakan lagu spontan dari kata yang disebutkan penonton. Penonton memberikan kata Yogyakarta dan sesaat kemudian sudah menjadi lagu yang dibawakan oleh Brian. Lagu spontan tersebut berisikan tentang kota Yogyakarta yang nyaman. Brian sangat menikmati konser ini dan terlihat begitu ceria. Sesuai konser, pada RSI dia mengatakan: "The audience was great."

David memuji antusiasme penonton dengan membandingkan penonton di negara tetangga. "Sorry, Singapore," katanya. Pujian ini dilanjutkan dengan tantangan pada penonton untuk bernyanyi dengan aturan mereka harus benar-benar bisa membawakan lagunya. Jika tidak, David akan mengalihkan pada penonton lain. David memilih beberapa penonton untuk membawakan lagunya. Saat David menanyakan lagu apa yang akan dinyanyikan, penonton menyebutkan "The Prayer". David sempat terkesima karena lagu ini memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Secara kebetulan, penonton yang terpilih membawakan lagu itu adalah Tommy Boly, pemenang Everybody Superstar Trans TV musim ketiga. Duet Tommy dengan dua penonton perempuan lain membuat suasana pertunjukan menjadi atraktif dan hidup.

David tak henti memuji penonton dan nampak sangat gembira dengan antusiasme lautan manusia yang memenuhi pertunjukan ini. Masih dengan semangat yang tinggi, David menghadirkan Chaka Khan yang diceritakannya sebagai idolanya. Dengan membawakan lagu-lagu yang masuk nominasi dan memenangkan Grammy Awards seperti "Ain"t Nobody", "Tell Me Something Good", "Through The Fire", dan "I"m Every Woman", Chaka membius para penonton yang ikut bernyanyi, terutama pada lagu "Through The Fire" yang sudah berusia 33 tahun. Vokal Khan menunjukkan kualitas penerima penghargaan tertinggi di bidang tarik suara di Amerika. Dira Sugandi yang menjadi penyanyi latar pada penampilan Chaka Khan sekali lagi menunjukkan penampilannya yang gemilang pada konser ini dan layak menjadi bintang malam itu.

"I"m Every Woman" sebagai lagu terakhir tak membuat penonton beranjak dan masih meminta tambahan. David memenuhi permintaan dengan memainkan "Water Fountain". Komposisi yang dimainkan David sebagai penutup konsernya ibarat sebuah konektivitas dan sinergi kejadian alam yang menurunkan hujan di sore hari.

Alunan lembut denting piano sang maestro mengantar penonton pulang setelah dua jam berada di gedung pertunjukan menyaksikan sajian bertaraf internasional yang tak mungkin mereka lupakan sebagai tontontan yang tak pernah memberi penyesalan atas pembelian tiket dengan harga yang wah. Setidaknya bagi Indri, seorang banker dan model Yogyakarta yang merasa tidak rugi membeli tiket kelas VVIP. Dia sangat puas bisa menyaksikan David Foster, Brian McKnight yang merupakan idolanya, serta Dira Sugandi yang tampil luar biasa.

Konser ini menunjukkan kelas David Foster. Entertainer sejati pantas disematkan pada penerima lima belas kali Grammy Awards, nominasi Oscar, Emmy Award, dan Canadian Juno Award ini. David yang pada konser ini didukung oleh drummer John Robinson, gitaris Tariqh Akoni, pemain bas Andy Peterson, serta pemain keyboard Boh Cooper dan Aubrey Suwito menyajikan karya-karya yang populer, membangun alur pembuka dengan komposisi yang menaikkan mood, menutup konser dengan mengiringi perjalanan pulang penonton dengan musik yang lembut.

David menunjukkan kejeliannya memilih "friends" maupun penonton dan menjadikan pertunjukannya hidup dan berkualitas. Dia mampu menguasai dan mengendalikan penonton. Interaksi dengan penonton yang begitu cair, selera humor yang tinggi, dan tak segan memuji reaksi penonton menunjukkan ia sebagai orang rendah hati.

Nano Tirta yang dijumpai RSI usai pertunjukan mengatakan: "David adalah musisi yang lengkap; seorang pencipta lagu, komposer, produser, dan memiliki kemampuan bermain piano klasik yang kuat. Dia seorang entertainer tulen. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari beliau. Tantangan bagi musisi Indonesia untuk bisa menjadi seperti dia. Ini sebuah pertunjukan yang luar biasa. Jika diadakan dalam enam bulan mendatang, rasanya masih bisa menyedot penonton."

Anas sang promotor juga merasa puas dengan acara yang dibuatnya kali ini. "Konser David Foster ini terbaik dari yang pernah saya buat. Semuanya perfect."

David juga senang dengan sambutan penonton pada konsernya di kota ini. Ditemui beberapa menit sebelum meninggalkan hotel, ia berkomentar: "It was a great concert and the audience was super." David Foster The Hit Man. Ia tak hanya pencetak hits tapi juga telah memaku penggemarnya, meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Iko Uwais Melawan Alien di Candi Prambanan dalam Trailer 'Beyond Skyline'
  2. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. We The Fest 2017 (Hari ke-3)
  5. Kahitna, Slank, hingga Superman Is Dead Siap Ramaikan Synchronize Fest 2017

Add a Comment