Stars and Rabbit

Duo folk asal Yogyakarta ini bercerita tentang pengalaman berharga dari tur konser mancanegara, bagaimana kolaborasi dengan Bottlesmoker bisa terjadi, juga kabar album terbaru

Oleh
Adi Widodo dan Elda Suryani. Hendriyanti

Stars and Rabbit sudah cukup lama absen memperkenalkan karya terbaru mereka setelah Constellation dirilis pada 2015 lalu. Namun hal ini tidak membuat nama mereka tenggelam. Justru dalam dua tahun terakhir, Stars and Rabbit yang beranggotakan vokalis Elda Suryani dan gitaris Adi Widodo – belakangan kerap diperkuat oleh musisi tambahan yaitu bassist Alam Segara, drummer Andi Irfanto, dan keyboardist Vicky Unggul – sedang menjalani periode paling padat dalam karier bermusik mereka.

Pada pengujung 2016, Stars and Rabbit sukses menggelar rangkaian tur konser bertajuk Baby Eyes UK Tour di mana mereka menyambangi empat titik di Inggris juga Wales. Tidak lupa ketika Constellation masih segar dilempar ke pasaran, Stars and Rabbit langsung memperkenalkannya lewat tur konser Asia yang meliputi tiga negara. Kemudian pada awal 2017 mereka juga menjadi salah satu perwakilan pertama dari Indonesia yang tampil di festival musik bergengsi, Laneway Festival, Singapura. Ketika tulisan ini dipublikasikan, Stars and Rabbit tengah bertandang ke Jepang demi menjalani rangkaian Baby Eyes Asia Tour 2017. Semua kegiatan penjelajahan itu mereka lakukan demi satu misi, "Jika ini adalah sesuatu yang positif, jika ini adalah tentang cinta, jika ini adalah tentang persatuan, dan ada sesuatu yang baik di situ, gue rasa itu layak untuk kami sebarluaskan," tegas vokalis Elda.

Apa rasanya menjadi salah satu band pertama Indonesia yang tampil di Laneway Festival?

Elda: Bisa main di Laneway-nya aja udah menjadi prestasi banget untuk Stars and Rabbit sejauh ini. Karena kami juga menargetkan, "OK, suatu hari nanti kita harus main di Laneway, ya!" Salah satu festival yang memang kami kejar juga.

Sejak kapan kalian menargetkannya?

Adi: Dari awal-awal, dua atau tiga tahun belakangan. Ya, kalau menurut gue Laneway adalah salah satu festival musik terbesar di Asia Tenggara. Makanya dari dulu kayak, "kepingin ya main di Laneway." Terus dari dua tahun lalu itu kami jadi lebih berusaha untuk bisa main di sana. Jadi benar-benar target. Tapi dulu kami belum tahu apakah ada kesempatan untuk band-band Indonesia karena belum ada band Indonesia yang main di sana sebelumnya.

Elda: Dan memang dapat kesempatannya tahun ini, kayak sinkron aja semua. Pas kami lihat line up-nya memang nama-nama familier juga. Maksudnya gue sering kulik, dengerin, banyak cari tahu. Gue rasa salah satu hal yang paling menarik adalah bisa berada di satu panggung bersama mereka.

Pertama, kami main di panggung utama. Padahal ada panggung lain, tapi kami mainnya di panggung utama. Kedua, sudah jelas itu panggung terbesar walaupun sekarang kami sudah berlima. Tetap saja rasanya besar sekali. [tertawa]

Adi: Panggung terbesar main di luar negeri, ya?!

Elda: Iya. Biasanya cuma ngamen doang kalau main di luar, kan?! Ketiga, kami itu menjadi band pembuka, kami benar-benar membuka festival tersebut. Jadi cukup banyak bebannya [tertawa]. Berarti kami harus menentukan standarnya karena band pertama itu adalah band yang menunjukkan, "OK, festivalnya akan berjalan seperti ini."

Penampilan Stars and Rabbit di panggung utama Laneway Festival 2017, Singapura. (Foto: Triaji Jati)

Adi: Buat gue sih jadi adil aja. Band pertama dari Indonesia, kami seperti membuka gerbang. Walaupun bebannya ada, tapi sepertinya nggak seberat kalau kami main di belakang-belakang. Kalau kami mainnya di belakang-belakang, wah, keren-keren banget band-band yang main duluan. Jadi adil aja untuk kami yang baru pertama kali main di sana karena dikasih kesempatan itu. Membuka festival pun ternyata nggak mudah. Bebannya besar juga.

Elda: Ya dari kami sendiri sih mentalnya jadi, mau nggak mau, harus siap. Karena melihat band-band yang lain itu kelihatan yang sudah sering banget main di festival-festival. Jadi kayak semua dari persiapannya itu cepat banget, semuanya ditangani dengan sangat profesional. Pengalaman kecil-kecil yang kami lihat di belakang panggung itu membuat Stars and Rabbit membuka mata. Untungnya juga kami main di pertama, jadi setelah kami main bisa melihat band-band lain. "Wah, ini rasanya main dan nonton di festival dengan band-band yang profesional!" Gue udah nggak tahu harus ngomong apa, yang pasti ini membuka pikiran si Stars and Rabbit.

Adi: Secara produksi memang rapi banget. Sistem yang digunakan oleh masing-masing band itu memang siap tempur banget untuk pergi kemana-mana. Makanya mereka bawa mixer digital sendiri seperti kalau mereka rekaman di studio, jadi tinggal mereka aplikasikan ke atas panggung. Begitu mereka mau main, tinggal check line, buka proyek [di mixer]. Jadi suaranya sama persis.

Dan hebatnya lagi ketika kami sudah sampai di sana, ada kayak welcome party gitu. Di situ kami masih ketemu yang biasa-biasa. Seperti Tycho, Jagwar Ma, Glass Animals gitu belum datang. Dan ternyata di belakang panggung itu kami seperti ketemu band-band teman SMA aja [tertawa]. Santai banget!

Elda: Asli! Ya kayak kita gini aja. Jadi siapapun yang duduk di satu meja, dari band mana aja pasti langsung, "Yo, what"s up?" Langsung ngobrol aja. Mereka semua sikapnya yang sangat rendah hati gitu. Jadi kayak yang … [menujukkan ekspresi wajah tegang sekaligus gembira], Aurora berdiri dekat situ!

Adi: [Tertawa] Karena di belakang panggung itu open bar, kan? Bahkan Aurora sendiri tuh ikut mengantre untuk ambil minuman.

Stars and Rabbit di Laneway Festival 2017, Singapura. (Foto: Triaji Jati)

Elda: Kami tahu satu sama lain tidak bisa dibandingkan. Kami main areanya masih di sini, sedangkan mereka mungkin sudah sering dapat penonton yang seperti itu. Sementara kami harus usaha banget untuk bisa dapet yang … to challenge ourselves itu memang harus keluar banget dari biasanya. Dengan ditempatkan di level dan porsi yang sama, nggak ada jarak, itu langsung berasa real.

Adi: Secara riders atau hospitality, hampir nggak ada kesenjangannya. Bahkan kami bersama Tycho, ya sudah dari hotel ke tempat acara pake shuttle bus. Kalau elo telat, ya elo ditinggal dan harus naik shuttle bus selanjutnya. Jadi memang nggak ada mobil khusus atau semacamnya. Cuma mungkin untuk kebutuhan produksi ada mobil karena mereka memang kebutuhan produksinya udah besar sekali, kan? Jadi memang harus dipisah. Selebihnya sih nggak ada yang dibedain banget. "Ah ini band baru, Stars and Rabbit. Siapa sih nih?" Nggak ada. Itu keren sih menurut gue, keren banget.

Apakah ada band yang kalian belum dengar sebelumnya lalu kemudian takjub dengan aksi panggungnya di sana?

Elda: Banyak banget. King Gizzard & The Lizard Wizard!

Adi: Anak-anaknya juga ngocol semua! [Tertawa]

Elda: Kami belum pernah dengar, karena banyak banget line up-nya. Jadi otomatis paling yang kesorot ya itu-itu aja. Tapi sisanya kebanyakan dari mereka, gue nggak ngerti. Pas lihat di sana … [menunjukkan ekspresi takjub dengan mulut terbuka]. "Apa ini?" Benar-benar memberi insiprasi banget. Karena gue udah lama nggak nonton festival yang seperti itu.

Adi: Kalau gue dari zaman dulu sudah mengikuti Tycho. Jadi kebetulan Tycho mainnya di jam malam. Dan pas ke Laneway itu gue memang kepingin banget nonton mereka. Kayak si Glass Animals, gue bisa dibilang ketinggalan banget untuk referensi musik yang sekarang-sekarang. Kadang-kadang orang bilang ke gue, "Band ini bagus. Band itu bagus," gue nggak tahu, pas lihat di YouTube-nya memang banyak banget yang nonton. Ternyata mereka bener-bener keren pas main di sana.

Kalian cukup sering menjalani tur konser di luar negeri. Menurut kalian apa perbedaan budaya penonton di negara lain dengan di Indonesia?

Elda: Sejauh ini, walaupun tidak mewakili secara keseluruhan karena kami bermainnya di lingkup yang kecil, tapi dari pengalaman yang kami dapat kemarin mungkin mereka lebih ekspresif, ya? Itu kalau yang di UK. Mereka itu seperti punya ruang besar untuk menikmati musik. Kelihatan ketika mereka datang, "OK, apapun yang disuguhkan di depan, gue akan terbuka sama itu. Kalau gue suka gue akan stay, kalau nggak suka ya gue tinggal cabut." Jadi mereka udah open mind duluan. Tidak skeptik atau apapun itu. Dan ketika mereka stay, lalu di akhir acara mereka menghampiri kami dan langsung ngomong dengan menggambarkannya kayak yang…

Adi: "Thank you, ya," justru mereka yang berterima kasih.

Elda: "Terima kasih banyak," seolah-olah kami telah memberikan pengalaman yang sangat bagus dalam mendengarkan musik. Atau apapun yang kami lakukan, pasti kami lakukan dengan benar karena bisa membuat mereka mengapresiasi sampai segitunya. Dan itu terasa begitu dalam. Begitu tulus. Tapi ya kalau misalkan mereka tidak suka, mereka akan keluar, merokok misalnya. Tapi jadinya adil.

Adi: Kami kalau di sini biasanya main, turun, terus bilang, "Terima kasih banyak." Kalau mereka nggak seperti itu. Jadi kami yang, "Terima kasih ya sudah datang," terus mereka malah jawab, "Oh, nggak. Kami yang harusnya berterima kasih karena kalian sudah main di sini." Mereka besar sekali apresiasinya. Kalau berbicara ekspresif sih mungkin lebih ekspresif di Jakarta, ya?

Elda: Iya betul. Kalau di sana tuh apresiasinya nggak bisa gue mengerti. Kedalaman apresiasinya. Jadi nggak cuma di lapisan atas aja, tapi sampai ke dalam. Mereka menggambarkan apresiasinya itu sangat dalam sampai gue harap gue bisa merekam semua yang mereka katakan tapi mendengarkannya aja udah senang banget. Ya ampun.

Adi berbincang dengan penonton yang hadir menyaksikan penampilan Stars and Rabbit di Gwdihw Cafe Bar, Cardiff. (Foto: Triaji Jati)

Adi: Kalau gue memandangnya begini mungkin, kalau perbedaannya sama di sini ya, kalau di sini itu datang ke acara kadang belum tahu siapa yang main. "Oh, Stars and Rabbit, ya? Musiknya seperti apa sih?" Biasanya nggak tahu. Setelah nonton baru, "Oh, mereka seperti ini." Kalau mereka di sana, mereka ngulik dulu sebelum datang ke tempat kami main. Jadi biasanya venue-venue di sana itu kayak punya situs atau media sosialnya di mana mereka akan kasih informasi dulu dari hari-hari sebelumnya. Memang tipikal penontonnya seperti itu, nonton konser sudah seperti hobi. Gue rasa seperti nonton bola deh. Jadi yang nonton kami itu ada yang kayak bapak-bapak pulang kantor, dan ternyata mereka tahu, "Gue nggak nyesel datang ke sini. Gue baca kalian dari situs. Dari Indonesia? Penasaran, gue coba datang deh." Bisa segitunya.

Elda: Jadi pertama elo didorong untuk memutuskan apakah elo tertarik atau tidak. Ada bermacam musik, elo tertarik yang mana? Misalnya mereka datang karena memang, "Wah, kalau menurut dari deskripsi di situs, gue penasaran untuk nonton Stars and Rabbit deh." Jadi paling tidak sudah didorong untuk memancing rasa penasarannya. Terus nanti sampai di tempat orang tiketnya pasti bilang, "Mau nonton band apa? Mau nonton yang mana?" [tertawa]. "Gue mau nonton Stars and Rabbit," mereka pun masuk ke tempatnya. Terus kalau mereka mau nonton sampai selesai, terserah. Tapi mereka datang ke sana sudah tahu apa yang mau mereka tonton. Itu beda banget dengan di sini, kan? Tapi nanti pada akhirnya pembagian sistem tiketnya pun akan adil untuk band-bandnya. Jadi tergantung elo bisa bawa penonton seberapa banyak.

Adi: Dan kami kalau di sana itu manggungnya bareng band-band lain, kan? Jadi tempat di sana itu modelnya nggak ada alat sama sekali, nggak kayak di sini. Di sini kami tinggal colok langsung main. Di sana nggak ada, kosong. Paling mereka cuma menyediakan mixer dan PA Speakers. Jadi kami harus sewa drum, harus sewa amplifier. Sehingga kami tektokan sama band lain, "eh, lo punya alat apa?"

Elda: Iya, jadi kami dari jauh-jauh bulan, "OK, besok yang main adalah band-band ini, kami coba kontak mereka." "It"s ok. Besok kami main format full band kok. Nanti pakai saja, we"re brothers, we"re sisters."

Adi: Iya jadi mereka kasih pinjam, "Cuma gue nggak ada amplifier untuk bass, bagaimana kalau kita sewa bareng-bareng aja? Karena ada temen gue yang punya." Akhirnya kami patungan untuk sewa. Seru sih. Setelah main pun jadi kenal sama mereka.

Salah satu penampilan Stars and Rabbit di rangkaian Baby Eyes UK Tour 2016. (Foto: Triaji Jati)

Kalian dijadwalkan untuk kembali menjalani tur konser Asia, bukan? (Wawancara ini dilakukan satu pekan sebelum mereka berangkat ke Jepang untuk memulai Baby Eyes Asia Tour 2017)

Elda: Iya kedepannya akan ada tur lagi. Tapi memang belum bisa kami konfirmasi dengan pasti. Karena masih banyak yang harus dipastikan. Kalau Urbanscapes [2017, Malaysia] sudah pasti. Kalau yang lain masih menunggu konfirmasi. Tapi memang ada rencana untuk ke Jepang.

Seberapa penting tampil di publik mancanegara untuk karier Stars and Rabbit?

Elda: Sebenarnya intinya adalah kami mencoba menyebarkan apa yang harus kami lakukan untuk dunia. Sejauh mungkin, selebar mungkin. Dengan target untuk menyebarluaskan sampai sejauh apa mampunya. Sampai sejauh apa ini layak untuk didengarkan. Sampai sejauh apa kami nggak tahu, kan?! Selama masih ada rantainya, kami ikuti saja terus. Jadi kalau misalkan harus main di luar negeri atau nggak, kalau di Indonesia aja dalam beberapa tahun terakhir sudah kelihatan, sudah cukup lah. Sekarang kemana lagi? Coba kesana, kalau sudah ada responsnya di sana, kami coba lagi di tempat lain. Nanti itu mengarahkan kami kemana lagi. Diikuti saja terus, dilebarkan lagi. Kalau selama masih ada yang menyambut, masih ada rantainya, kami teruskan sampai sejauh mungkin.

Adi: Kalau menurut gue sih penting banget, penting banget. Pertama karena memang biasanya dari perjalanan ke luar negeri itu kami akan mendapat banyak pelajaran. Entah itu produksi atau apapun. Maksudnya sesederhana ini, elo mau macam-macam dengan jadwal penerbangan, kelar hidup elo di luar negeri. Kami juga jadi belajar disiplin. Terus keuntungannya, benar kata Elda tadi, kami bisa lebih mengenalkan musik kami ke orang-orang banyak. Orang-orang Jepang nanti pasti nggak tahu Stars and Rabbit siapa, apalagi liriknya bahasa Inggris, kan? Paling tidak kami harus melebarkan terus yang seperti itu. Dan yang paling jelas jaringannya makin luas. Karena mendapat visa juga tidak gampang. Kayak misalnya karena kami kemarin sudah sempat ke sana, mungkin nanti selanjutnya nggak susah dapat visanya lagi.

Elda: Semakin gue sering main di Stars and Rabbit, gue semakin mendapat respons-respons yang menurut gue itu layak untuk gue sebarkan. Gue langsung kayak mengenal dampak dari musik gue sendiri terhadap orang lain. Dan itu gue langsung kayak yang, "jika ini adalah sesuatu yang positif, jika ini adalah tentang cinta, jika ini adalah tentang persatuan, dan ada sesuatu yang baik di situ, gue rasa itu layak untuk kami sebarluaskan." Karena kami nggak tahu siapa yang membutuhkannya. Gue rasa ini lebih dari sekadar musiknya itu sendiri. Jadi kalau gue lihat sendiri sampai saat ini, ternyata dampaknya baik. Jadi gue rasa kami harus melakukannya lebih jauh lagi.

Dampaknya tidak menjadi beban, ya?

Elda: Iya, nggak jadi beban. Permasalahan suka atau tidak itu hanya di permukaan aja. Tapi esensi pengalamannya ketika elo mendengarkannya dan apa yang elo dapat. Itu membuat elo merasakan apa? Ketika itu membuat perasaan elo jadi lebih baik, gue rasa itu tujuan gue secara pribadi. Kayak yang, "ya hanya itu yang gue bisa lakukan untuk membuat perasaan orang-orang jadi lebih baik!" Dan gue rasa kalau itu bisa disebarkan sejauh mungkin, itu akan menimbulkan suatu hal yang baik juga. Daripada fokus sama yang nggak enak misalnya, berita-berita nggak enak, ya kami jalan aja sendiri.

Adi: Kami pun turnya yang kami bikin sendiri. Ketika akhirnya kami bisa menembus main di Dublin Castle, "Wah, ini hal terkeren yang gue lakukan tahun ini [tertawa]!"

Elda: Iya jadi untuk kami sendiri pun menjadi sebuah pencapaian. Hal itu langsung meningkatkan diri kami secara personal dan sebagai manusia. Jadi setiap kami habis main dari tur luar negeri, terus balik lagi ke sini, kalau dulu melihat semuanya rasanya berat banget, tapi sekarang rasa tingkat kesadarannya berbeda. Jadi semua masalah yang tadinya muncul pada saat itu, setelah melewati pengalaman yang baru ini, pas balik lagi ke sini kelihatannya jadi tidak seberat itu. Jadi langsung terasa lebih mudah.

Adi: Ini juga membuat kami jadi nggak terjebak di zona nyaman. Karena bahaya yang seperti itu, ya?

Elda: Ini adalah kehidupan Stars and Rabbit yang memang harus kami nikmati. Kami ikuti saja alur hidupnya Stars and Rabbit mau kemana.

Stars and Rabbit menikmati waktu di rangkaian Baby Eyes UK Tour 2016. (Foto: Triaji Jati)

Adi: Di luar musik pun, maksudnya, gue bahkan tidak pernah membayangkan momen yang gue dapat ketika gue di UK. Karena ternyata di belakang wisma kami menginap, ada taman atau lapangan luas gitu yang jadi tempat favorit kalau sore-sore bawa kopi dan gitar ke sana, merokok-merokok. Tahu apa yang gue lihat di depannya? [Stadion] Wembley dong. "Suatu hari, main di Wembley," [tertawa]. Jadi gitu terus kepikirannya. Itu nggak pernah kebayang, bahkan dulu gue nggak kepikiran. Sama satu lagi, kalau kita punya cita-cita, apakah kita punya keberanian untuk menjalankannya? Tinggal itu aja. Gue rasa standar semua anak-anak band, mungkin nggak cuma band aja, semua seniman pasti punya cita-cita, "Gue kepingin main di luar." Tapi untuk ngejalaninnya berani, nggak? Kalau kami yang tadinya nggak mungkin, kami coba-coba cari celah bagaimana caranya jadi mungkin. Ya lumayan berdarah-darah juga. Nggak semulus foto-foto yang di-upload [tertawa].

Elda: [Tertawa]. Harus berani bertaruh juga. Tapi ini harus latihan mental juga. Karena itu yang paling penting.

Belakangan ini pemerintah mulai gencar mendukung band-band Indonesia untuk menjalani tur konser mancanegara. Apakah menurut kalian ini hal yang baik?

Elda: [Terhenti sejenak] Hhmm, bagaimana, ya?

Adi: Kalau gue pribadi, gue nggak terlalu tahu masalah seperti itu. Karena selama ini yang kami lakukan memang kami kerjakan sendiri. Walaupun tetap ada dari pemerintah yang membantu. Beruntungnya waktu ke UK, bapak Duta Besar Moazzam Malik kebetulan pernah nonton Stars and Rabbit dan dia suka. Terus kami bilang, "Pak, kami mau tur ke Inggris," dia langsung telepon orang Dubes Indonesia di sana, "Ini ada band Jogja, favorit saya, mau tur ke Inggris. Tolong bapak atur ya." Di sana langsung sesuai protokol semua. Kami sampai harus bawa batik karena harus mampir kesana [tertawa].

Elda: [Tertawa] Sampai dijemput, padahal nggak ada hubungannya sama acara kedutaan atau apa pun. Tapi memang karena itu datang langsung secara personal dari pak Moazzam. Meskipun kami nggak mengharapkan bantuan apa-apa, tapi itu sangat membantu sekali. Dapat wisma juga.

Adi: Terus pak Dubes bilang, "Kalian ada kendaraan?" "Ada, pak, kami sudah mengatur untuk menyewanya." "Ok, nanti untuk penjemputan dari bandara, dan pas balik ke bandara lagi, itu urusan saya. Sama wisma saya yang tanggung." "Siap, pak!" [tertawa]. Ternyata pak Dubes Indonesia yang di UK sekarang itu baru, seleranya anak muda juga. Jadi waktu kami bertemu, dia bilang, "Begini dong sekali-sekali. Biar di luar itu tahu kalau di Indonesia juga punya band-band seperti ini. Orang-orang di sini itu tahunya cuma yang tradisional semua. Saya kalau mengurus yang tradisional terus, pusing kepala saya. Rombongannya bisa 40 sampai 50 orang. Bingung saya ngurusnya [tertawa]." Makanya pada akhirnya dia mengharapkan band yang lain juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan.

Stars and Rabbit ketika berkunjung ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Inggris. (Foto: Triaji Jati)

Elda: Sebenarnya sih bagus kalau pemerintah mengkhususkan ada sebuah badan yang mau mengurus itu. Tapi harus ada jembatannya yang membuat semua kerja samanya itu menjadi jelas. Maksudnya kebutuhan dari bandnya itu apa? Terus dari badan pemerintahannya itu bisa mengakomodasikannya sejauh apa? Itu harus jelas, harus adil. Kayaknya sih banyak pengalaman yang kalau misalkan urusannya langsung terlibat dengan birokrasi tertentu, kebanyakan. Ke atas lagi, ke atas lagi, ke atas lagi. Sampai ujung-ujungnya, "iki sido opo ora?" Kadang tiba-tiba jadi mental.

Kami dari pada terjun ke situ, kalau misalkan berani ya lakukan saja sendiri. Kami kebetulan mengambil jalur yang itu. Kalau misalkan dari pemerintahan ada bantuan, kami nggak menolak. Tapi dari pada ujungnya nggak jelas, dari pada berharap ke pihak tertentu untuk membantu, terus akhirnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, nantinya itu malah merusak banyak hal, kan? Jadi mending kami jalan dengan pakem sendiri, terus kalau misalkan ada bantuan dari sana, alhamdulillah kami ambil. Pokoknya yang mana yang sesuai, "OK, itu bisa kami ambil." Dari kami harus pintar-pintar juga. Jadi kami nggak tergantung kepada banyak hal. Ketika kami mendapatkan bantuan itu, "OK, sip! Terima kasih." Jadi mempermudah jalan.

Adi: Tapi kalau nggak salah waktu kami menjalankan tur UK, kalau nggak salah Riva [Pratama, manajer] juga dapat bantuan dari Bekraf [Badan Ekonomi Kreatif], Bapak Triawan Munaf. Kalau nggak salah dia sempat berkomunikasi apa aja yang harus kami lakukan. Membantu menghubungkan ke sana juga. Tetap Bekraf juga ada bantu.

Kalau kemarin kami dengar kayak Lightcraft bisa main di South by South West, ya bagus menurut gue. Kalau bisa lebih gencar lagi. Kayak South by South West itu dia sebenarnya sebuah konferensi, kan? Tidak murni festival musik. Tapi dari konferensi pun sebenarnya juga bagus, bisa membangun jaringan lebih luas lagi.

Elda: Kami juga pernah main di Music Matters di Singapura, kan? Acara serupa kayak konferensi gitu. Jadi membangun jaringan juga, pinter-pinter bandnya aja bisa membangun jaringan apa tidak. Dan orang-orang yang bekerja seperti di Bekraf misalnya, orang-orang yang memang harus berurusan dengan anak bandnya, diharapkan adalah orang-orang yang benar-benar kompeten. Dalam arti mereka memahami situasi permusikan. Kalalu anak-anak ini tur musik itu seperti apa sih? Jadi mereka si jembatannya nanti. "OK, gue dari birokrasinya itu begini, jadi kalian anak-anak band begini ya." Karena susah kalau sumber dayanya nggak kompeten. Bingung karena si anak bandnya jadi ngoyo-ngoyo sendiri.

Adi: Kalau pegawainya biasanya dari orang pajak, terus tiba-tiba disuruh ngurus kayak begini mungkin bingung juga.

Elda: Iya. Jadi memang harus orang yang sudah pernah terjun langsung ke lapangan.

Adi: Tapi bagus kalau misalnya mereka sudah mulai merespons dan melihat apa yang sudah mereka lakukan untuk para musisi, itu bagus banget. Harusnya sih besok-besok kalau mau keluar bisa lebih mudah. Kalau kayak kami kemarin, untung pak Moazzam Malik bantu dengan "surat wasiat" [tertawa].

Kalian banyak memaparkan suka cita dari tur konser mancanegara, apakah ada hal yang kalian benci?

Adi: Perjalanannya.

Elda: Jam tidurnya aja, ajaib. Itu bikin lelah banget. Dan nggak gampang sebenarnya untuk berpindah-pindah terus, nggak gampang baik secara mental maupun fisik. Jadi memang kaminya sendiri secara fisik harus diperhatikan dan dijaga banget. Terus secara mental harus diringankan sedikit. Harus lebih santai.

Adi: Tapi mungkin kalau kayak tur kami gitu, kebijakannya bapak [manajer] yang mengatur jadwal itu pasti akan dikasih jeda. Dari panggung satu ke penampilan selanjutnya itu ada jeda. Mungkin jeda satu hari atau dua hari. Jadi bisa sempat refreshing, jalan-jalan. Sejauh ini tur yang udah kami lakukan menyenangkan. Cuma benar, melelahkan.

Elda: Kami dari awal sudah memperkirakan itu untuk bikin rencana perjalanannya. Gue rasa itu satu hal yang penting banget untuk dipelajari oleh semua band. "Perjalanan dari sini estimasi waktunya sekian." Jadi kami harus perkirakan, di dalam jeda bisa sambil makan atau ada kegiatan lain. Jadi kami itu benar-benar memperkirakannya. Bahkan untuk manggung seperti ini [dalam waktu beberapa jam Stars and Rabbit akan tampil di Rolling Stone Café, Jakarta], kami kayak yang, "OK. Jam sepuluh stand by di sini. Terus 10.30 jalan ke sini. Jam sebelas atau jam dua belas mulai set up alat. Jam satu soundcheck." Itu harus detil. Karena pada akhirnya itu akan mempermudah semuanya. Mungkin kami kalau beberapa tahun lalu mikirnya, "Apasih ini? Ribet banget deh," [tertawa]. Ternyata makin ke sini, karena sudah seharusnya seperti itu, kami jadi yang, "Oh, OK." Jadi semuanya sudah tahu nggak perlu bertanya lagi. Misalkan siapa yang telat, langsung kami tinggal. Jadi kami sudah tahu konsekuensinya. Kami juga jadi lebih disiplin sama waktu. Dan kalau ada yang terlewat, "Elo tahu ya berarti jadwal istirahat elo berkurang." Kami belajar yang kayak gitu-gitu supaya pas tur ke luar negeri jadi mempermudah dan lebih efektif.

Karena kami biasanya menjedakan satu hari, jadi misalnya sudah dua hari berturut-turut, ya kami istirahat. Kami sendiri tahu kemampuannya bisa sampai di mana. Gue nggak mungkin kayak begini berturut-turut. Suara gue capek. Itu di negara orang, kami lagi tur, nggak tahu kami bisa istirahat apa nggak. Cuaca juga beda. Dan Riva juga selalu konsultasi sama gue, "Kalau misalnya kita berangkatnya kayak begini, elo kira-kira masih bisa istirahat, nggak? Kita cuma punya waktu segini-segini." Jadi karena itu gue bisa langsung memilih dengan, "OK, mendingan kayak begitu aja." Tapi ketika itu mau kejadian ya gue sudah siap. Jadi itu sangat penting sekali.

Belakangan kalian mengunggah di sosial media proses penggarapan video musik "Man Upon The Hill" yang terlihat begitu menarik. Apakah Stars and Rabbit adalah band yang sangat memperhatikan kualitas video musik?

Adi: Seratus persen iya!

Elda: Itu sangat penting.

Adi: Karena audio kalau tidak ditunjang dengan visual yang keren juga, ya jadinya keren aja. Visual kalau audio-nya tidak terlalu bagus, ya jadinya keren aja. Tapi kalau kami bisa mendekati, audio-nya keren dan visualnya keren, ya jadinya keren banget [tertawa]. Penting sih kalau menurut kami.

Bisa diceritakan proses penggarapannya?

Adi: Kami bikinnya di Sumba, Waingapu. Panas banget. Parah panasnya! Ini sisanya [menujukkan kulit mereka yang terlihat menghitam].

Elda: [Tertawa] Gosong-gosong eksotis gitu. Panas banget memang, tapi tempat itu luar biasa indah. Sangat layak untuk kami menghabiskan waktu di sana. Terus antara alam, manusia, hewan, dan semua yang ada di sana itu proporsinya sangat-sangat baik. Jadi semua orang yang tinggal di sana itu hidupnya berkecukupan. Liar tapi hidup berdampingan padahal di alam yang luas. Ya ampun, pohon-pohonnya itu bentuknya udah suka-suka mereka mau tumbuhnya seperti apa. Mereka seperti menunjukkan bahwa mereka hidup bahagia di sana, akan selalu seperti itu selamanya! Dan ada di sana itu membuat kami langsung merasa diingatkan untuk menghargai alam. Soalnya koneksinya kuat banget. Alam itu seperti berbicara sangat lantang kepada kami. Rasanya itu sampai mencekam kalau elo cuma diam aja karena suara jangkriknya kencang banget. Nggak harus di hutan nggak harus di mana, kami baru sampai aja, "Suara apa ini?"

Gitaris Adi saat menjalankan proses shooting video musik "Man Upon The Hill". (Foto: Facebook Stars and Rabbit)

Apakah konsepnya akan surreal seperti video musik "The House"?

Adi: Lebih! [Tertawa]. Karena ini kebetulan sutradaranya sama. Semuanya timnya sama. Mungkin porsi surreal-nya hampir sama, cuma kalau yang sekarang ada di alam yang sesungguhnya, kan? Surreal-nya mungkin kalau gue gitarnya dari akar pohon, atau ada batu yang bergelantungan. Ini juga ditunjang dengan alam di sana. Apa yang dikatakan Elda benar, bentuk pohonnya suka-suka mereka.

Kami sih menargetkan kalau video yang sekarang harusnya lebih dari video sebelumnya. Kadang kami mikir suka terjebak, saat kami membuat video musik pertama itu jadi kayak, "Wah, jadinya segini, ya? Standarnya langsung tinggi banget!" [tertawa]. Pasti setiap pribadi mikirnya, "Gue nggak mau bikin video musik yang kualitasnya di bawah yang pertama. Kami ingin ada perkembangan." Dan kenapa buat kami penting banget, karena menurut gue ketika video itu sudah jadi, bukan hanya Stars and Rabbit yang menikmati, bukan hanya Stars and Rabbit yang berperan di situ. Kayak kemarin "The House" didaftarkan ke festival-festival, akhirnya orang-orang tahu siapa sutradaranya, siapa yang bikin skenarionya, siapa yang mengambil gambarnya. Orang-orang jadi mengulik. Kami pun jadi senang karena bukan hanya kami yang dilihat orang.

Bagaimana kabar album kedua Stars and Rabbit?

Adi: [Tertawa]. Kami tidak pernah melupakan kalau kami punya tanggung jawab yang lebih besar lagi di luar manggung, tur, dan video musik, yang mana itu adalah album selanjutnya. Kami terus menyicil bahkan kami punya lagu baru yang sudah bisa kami bawakan ketika manggung. Walaupun orang-orang dengarnya pasti, "Lagu apa ini, ya? Kok mas Adi mainnya pake gitar elektrik, ya? Kok aneh, ya?" Tapi setelah mereka mendengarkan untuk kedua kalinya, "Oh, iya. Ini masih Stars and Rabbit." Banyak yang seperti itu. Kami mulai sajikan pelan-pelan, sambil kami juga kumpulkan materinya. Untungnya di tengah kesibukan yang kami hadapi, padahal banyak band yang lebih sibuk [tertawa], kami di rumah itu bisa latihan karena ada drum elektrik. Jadi kami bisa latihan bareng-bareng, kami rekam, dan kami bisa langsung mendengarkannya. Jadi benar-benar dibikin nyaman seperti di rumah. Lebih sedikit mempermudah untuk sekarang-sekarang, ya? Seperti kemarin ketika shooting di Sumba, gue yakin Elda pasti punya sesuatu untuk dia tulis. Gue juga punya pandangan sendiri untuk gue kerjakan atau gue masukkan ke dalam bentuk musik. Jadi album kedua tetap diproses, tapi belum tahu kapan [tertawa].

Bagaimana kolaborasi bersama Bottlesmoker bisa terjadi? Mengingat musik kalian cukup berbeda.

Adi: Justru karena itu kami lanjutkan kolaborasinya. Tadinya hanya iseng karena ada tawaran dari acara. "Kalau kalian mau kolaborasi sama siapa?" Waktu itu gue langsung bilang Bottlesmoker. Ternyata dikabulkan sama yang punya acara. "Waduh, bagaimana, ya?" [Tertawa]. Untungnya karena kami sudah berteman lumayan lama dengan mereka, dari awal-awal kami bikin Stars and Rabbit kalau main di Bandung, mereka yang menemani. Kebetulan memang seperjuangan juga, main di Baybeat [Singapura] bareng mereka, main di Laneway bareng mereka juga. Setiap kami ke Bandung mereka pasti datang. Jadi diluar musik pun ikatan pertemanannya itu sudah jadi. Ternyata pas kami mencoba kolaborasi, bukan menjadi hal yang sulit menggabungkan antara musik Stars and Rabbit dengan musik elektronik Bottlesmoker. Justru gue melihatnya jadi ada sesuatu yang baru, bukan Stars and Rabbit bukan juga Bottlesmoker, jadi seperti bendera baru lagi. Kemarin anak-anak sempat bilang, "Lanjutkan lah." Kami juga mengamini, "Iya sih kayaknya ini harus dilanjutkan." Menurut gue sayang karena ini bisa dijadikan karya. Ya colong-colongan waktu sambil mengerjakan album selanjutnya, kami ada kegiatan ini juga. Mungkin untuk orang-orang yang sudah menunggu lama album baru Stars and Rabbit, kami punya hal yang lainnya untuk disajikan. Biar nggak terlalu dikejar-kejar [tertawa]. Tapi kami membuat ini karena kami mau. Dan kami nyaman menjalankannya. Ya, itu tadi karena musiknya beda jadi bagaimana cara Stars and Rabbit memandang Bottlesmoker, respon dari mereka, begitu juga sebaliknya, jadi lah proyek yang kami beri nama SRxBS itu dengan porsi yang sama.

Apakah bisa dibilang musik Bottlesmoker akan memengaruhi musik Stars and Rabbit di album baru?

Adi: Gue nggak tahu sih. Tapi kebetulan gue yang membuat aransemen. Ini bersangkutan juga dengan festival-festival tadi, gue kayak lebih ingin banyak main gitar elektrik. Temponya ingin lebih cepat. Kalau album pertama hampir semua isinya nyelongsong aja. Gue ingin musiknya lebih padat. Mungkin sedikit lebih kencang dan berbau banyak drive, delay, mungkin reverb. Karena gue merasa ketika di bawa ke festival, itu bisa menjadi hal yang bagus. Gue sedikit mengejar untuk festival-festival. Kalau mainnya di outdoor festival yang besar sekali, dengan musik yang lebih padat mungkin akan lebih enak rasanya. Tapi wacana album kedua memiliki tempo sedikit lebih cepat, musiknya elektrik atau segala macam, itu sudah kami rencanakan bahkan sebelum album pertama jadi. Karena kayak di festival, kayak di Laneway kemarin misalnya, kami perlu sedikit kerja keras kalau menggunakan format akustik. Kalau pengaruh dari Bottlesmoker, mungkin ada. Tapi selera musik elektronik gue jelek, jadi mungkin tersaring di situ.

Elda: Gue nggak tahu itu bakal terpengaruh atau tidak. Tapi secara tidak langsung kita pasti akan terpengaruh dengan apa yang kita dengar ataupun apa yang kita suka. Tapi selama itu masih satu jalur dengan apa yang kami kerjakan, tidak apa-apa. Mungkin itu untuk perkembangan kami. Kami tidak tahu. Yang pasti kalau itu nyaman dan menyenangkan ketika mengerjakan musiknya, berarti itu bagus. Selama hal itu tidak hilang saja.

Stars and Rabbit dan Bottlesmoker usai tampil menghibur para penggemarnya. (Foto: Daisy Herapuspitasari)

Terus pentingnya kolaborasi ini karena sudah kecemplung, ya jadi penting. Karena ketika sudah dijalankan, kami tahu, "Loh, ini bisa jadi sesuatu." Kami tahu misalnya kami mendapatkan sesuatu, atau kami melihat sesuatu, terus kami merasakan kalau ada sesuatu yang spesial di situ, sepertinya memang harus dibuatkan sesuatu. Seperti tidak cukup hanya sekali dilakukan. Kami ternyata punya pandangan yang sama di situ.

Adi: Penting banget kolaborasi ini. Tapi nggak semua kolaborasi kami ambil. Belakangan ini banyak banget acara yang menawarkan proyek kolaborasi. Tapi kami tidak tertarik. Karena kolaborasi seperti ini menguras banyak tenaga juga.

Elda: Iya. Band-band itu pasti tahu kalau kolaborasi bukan hal yang gampang. Harus "kawin" dulu. Pas ketemu, "Oiya ini nyangkut." Karena ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata untuk bisa memulai itu bersama. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kepada band-band lain, ini hanya murni karena buat kami kolaborasi itu bukan sesuatu yang mudah. Karena dampaknya itu bukan hanya untuk Stars and Rabbit aja, tapi juga untuk band yang satunya lagi.

Kalian cukup sering dipandang sebagai band yang spiritual. Sebenarnya seberapa spiritual para personel Stars and Rabbit?

Adi & Elda: [Tertawa]

Adi: Elda banget kalau itu.

Elda: Seberapa spiritual?

Adi: Mungkin mereka melihat itu karena bawaan dia yang selalu ingin dekat dengan alam. Kalau gue begini-begini aja [tertawa].

Elda: Gue nggak tahu, ya. Kalau spritual itu sangkut pautnya dengan seberapa jauh kami dekat sama Tuhan melewati agama, itu gue nggak tahu.

Adi: Karena gue jauh [tertawa].

Elda: Karena untuk di agama gue sendiri pun, maksudnya gue mengetahui apa yang selama ini dikasih aja. Ya dilahirkannya sudah dapat agama itu. Ya cukup tahu. Tapi ya memang menjalankannya sesuai dengan iman yang baik aja. Gue lebih yang ke sana. Tapi spiritual buat gue itu lebih seperti … Kita punya jenis kedekatan masing-masing dengan apa yang dipercayai sebagai Tuhannya, kan? Jadi mengacu dengan hal itu, mungkin gue melihat itu lebih ke dalam. Jadi gue lebih mendekatkan diri lagi ke diri gue sendiri karena jika Tuhan benar ada dimana-mana, bahkan ada di dalam diri lo juga, berarti lo harus mendekatkan diri ke Dia atau … apa pun kalau bisa disosokan. Jadi apa pun hal-hal kecil yang bisa merasa terdukung untuk membuat jadi lebih baik, gue lebih merujuk ke sana. Dan gue lebih ke diri sendiri melihatnya, ke dalam. Kalau yang tadi Adi sebutkan itu kan hubungannya dengan agama, ya? kalau itu sepertinya gue memang sedikit "rebel" [tertawa].

Adi: Mungkin kenapa orang-orang memandangnya spiritual karena apa yang kami bikin sebenarnya adalah apa yang kami lewati juga. Kayak pengalaman dia …

Elda: Itu mungkin, ya? Kayak perjalanan diri sendiri. Jadi ketika mereka menganggap musik kami sesuatu yang spiritual, itu sebenarnya untuk mereka juga. Mungkin ada sesuatu di dalam dirinya yang terjadi ketika mendengarkan atau melihat Stars and Rabbit. Mungkin membukakan sesuatu di dalam diri mereka sampai mereka bisa merasa itu sebagai sesuatu yang spiritual. Padahal apa definisi dari spiritual itu sendiri? Apakah lo mengerti arti sebenarnya [tertawa]? Karena sebenarnya gue sendiri nggak terlalu berani membicarakan hal ini karena gue sendiri tak terlalu memahami.

Adi: Mungkin mereka ketarik musik kami terlalu dalam. Jadi dia terlalu menyelam di situ. Sehingga pandangannya itu kayak yang perjalanan spiritualnya mereka. Mungkin seperti itu. Karena sebenarnya apa yang kami bikin itu adalah apa yang kami lewati, apa yang kami lihat, dan apa yang kami rasakan aja.

Elda: Menurut gue ini tentang sebuah koneksi. Koneksi kepada, gue nggak tahu, diri lo yang lebih tinggi. Jadi apa pun yang lo rasakan itu, seperti lebih tinggi. Mungkin membuka lebih luas perspektif elo, tiba-tiba lo ngerasa ada sesuatu yang terbuka di dalam diri lo. Sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan terus mereka menyebutkannya sebagai sesuatu yang spiritual. Itu mungkin. Tapi buat gue sendiri dengan musik ini, karena gue galinya dalam banget, jadinya itu pun keluarnya dari diri gue yang paling dalam. Emosinya, energinya, atau lain-lainnya, pemahaman gue lagi di situ. Jadi mungkin itu yang tersampaikan kepada orang-orang yang menonton sehingga mereka merasakan itu juga.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Movie Review: Pengabdi Setan (2017)
  2. Indonesia Raih Tiga Nominasi Asia Pacific Screen Awards 2017
  3. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  4. Gelar Pentas Musik 'Langgam Kahyangan', Suara Disko Tampilkan Fariz RM
  5. Momen-momen Berkesan dari Synchronize Fest 2017

Add a Comment