Movie Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2

Oleh
Salah satu adegan di film 'Guardians of the Galaxy 2.' Marvel/Disney

Kembalinya Star Lord dan gengnya -kekurangan kejutan seperti film pertama - namun tetap saja hiburan kosmik yang menyenangkan

Hadapi saja: tak ada yang peduli dengan Guardians of the Galaxy sebelum anak haram dari Marvel Cinematic Universe ini tayang di bioskop pada 2014. Kemudian kita semua mencintainya. Jadi bagaimana bila buku komiknya, tercipta pada 1969, yang terasa seringan Avengers di atas kertas; di layar lebar, mencapai hampir-kesempurnaan adaptasi komik, terima kasih kepada penulis-sutradara James Gunn yang mengabaikan semua peraturan yang diciptakan untuk film-film Hollywood dan membiarkan kegilaan menyeruak.

Kalian bisa melihat semangat anarkis dari imaji yang sekarang ikonis dari Chris Pratt, di penampilan menawannya sebagai Star Lord Peter Quill, memberikan gerakan tarian di angkasa kepada lagu-lagu pop 1970-an di Awesome Mixtape. (Ditinggalkan oleh ibunya yang sekarang; kita akan membicarakan ayahnya sebentar lagi.) Guardians of the Galaxy menembus angka gila-gilaan di box office senilai 773 juta dollar AS (sekitar Rp 10,3 triliun) dengan menunjukkan kepada kita bagaimana pesona yang mudah dimengerti dan kekonyolan yang terus berjalan bisa jadi perlawanan dari formula Hollywood yang biasa. Pastilah harus ada sekuelnya.

Berhati-hatilah dengan apa yang kalian inginkan. Guardians of the Galaxy Vol. 2 tentu tak bisa menyamai kejutan yang diberikan pendahulunya. Hanya bisa melakukannya sekali. Berita bagusnya, bagaimanapun, kelanjutannya, sambil memaksimalkan CGI dan sekuel yang cerdik, belum kehilangan cinta untuk kegilaan yang menginspirasi. Nongkrong dengan Quill dan komplotan mata duitan luar angkasa adalah sesuatu yang masih diinginkan untuk perjalanan liar di musim panas.

Di luar Pratt, seorang jagoan dengan hati emas, Zoe Saldana kembali sebagai Gamora, pembunuh berkulit hijau yang terus menghalangi keinginan Pratt untuk melakukan seks dengannya. Ada pula juara gulat Dav Bautista, sebagai Drax the Destroyer yang berbadan besar, bertato dan mudah marah. Tapi MVP di Guardians 2 tetap saja karakter yang dibuat dengan komputer. Saya bicara tentang Rocket, rakun bijak, penembak senapan yang disuarakan oleh Bradley Cooper; dan Baby Groot, ranting pohon imut yang disuarakan oleh Vin Diesel, yang apapun situasinya, bicara tiga kata yang sama: "I Am Groot." Rasanya hal tersebut sudah cukup untuk sebuah komedi yang abadi.

Ceritanya? Film pertama berhubungan dengan pencurian orb ajaib dari seorang jahat yang berusaha melakukan pembantaian galaksi. Kali ini, Quill dan krunya di peswat Milano lari dari ras alien berlapis emas yang memanggil diri mereka sendiri sebagai Sovereign. Awalnya para kru direkrut untuk melindungi baterai dari monster luar angkasa, Guardians kemudian malah membuat marah Permaisuri Ayesha (Elizabeth Debicki) ketika Rocket mencuri beberapa baterai untuk dirinya sendiri. Kejar-kejaran di luar angkasa terjadi, yang membuat pesawat mereka terdampar di planet hutan Berhart. Dunia baru ini adalah kerajaan milik Ego, sebuah planet hidup (Kurt Russell yang selalu keren), seorang astral yang ternyata adalah – apakah Anda siap? – ayah kandung dari Quill. Ingat The Empire Strikes Back ketika Vader mengatakan kepada Luke. "I am your father"? Mungkin seperti itu rasanya.

Saya tak akan terlalu banyak memberikan spoiler, kecuali bahwa hubungan keluarga tersebut menjadi DNA utama skrip. Tak hanya Quill dan Ego, tapi Star Lord dan ayah angkatnya, Yondu yang berkulit biru (Michael Rooker, paling keren), pemimpin Ravager yang awalnya menculik Quill sebagai anak dan kemudian memperbudaknya untuk mencuri. Yondu menyayangi anak yang dia adopsi dan membuat anak buahnya – Taserface – mengorganisasi pemberontakan. Hal lain yang terjadi juga adalah ternyata Gamora mempunyai Nebula (Karen Gillan), saudari gila yang menginginkan keadilan. Dan bagaimana dengan Mantis, alien yang dipelihara oleh Ego? Dia bisa membaca perasaan orang lain; kenapa dia tiba-tiba mencintai Drax? Dan apa yang Sylvester Stallone lakukan di sini?

Saya dengan senang hati mengabarkan bahwa Gunn bisa menyeimbangkan Guardians 2 menjadi tragedi Yunani yang maksimal. Tetap saja, bukan rahasia kalau semua orang di opera luar angkasa ini secara misterius terhubung, yang membuat lagu Fleetwood Mac "The Chain" menjadi soundtrack yang pas untuk film ini. Quill menggunakan dengan tepat kaset tape dari ibunya – yang tentu saja dinamai, Awesome Mix Vol. 2 – yang diisi dengan lagu-lagu cheesy dengan makna tersembunyi yang mengganggu. Anda tak akan pernah mendengar ELO "Mr. Blue Sky" dengan sama lagi.

Atau Anda bisa melupakan semua penggalian hubungan saudara sedarah ini dan bersenang-senang dengan permainan tanpa henti yang ditawarkan. Gunn tak pernah kehabisan bahan menyegarkan untuk Guardians. Ada monster yang mesti diberantas (Abilisk), bagian-bagian lucu seperti Groot dan tombol kematian!, celaan untuk ditembakkan (Rocket kepada Quill: "Semoga ayahmu tak sebrengsek kau, dasar anak yatim", dan sekuel-sekuel yang telah disiapkan (lihat Avengers: Infinity War tahun depan). Lebih lagi, Guardians of the Galaxy, Vol. 2 terasa seperti epik seru yang dibuat oleh anak-anak ketika orang dewasa tak menonton mereka. Hanya bunga yang tumbuh dari kotoran saja yang dapat melewatkannya. (im/wnz)

Editor's Pick

Add a Comment