Movie Review: Kartini

Oleh
Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Utomo), Kartini (Dian Sastrowardoyo), Ngasirah (Christine Hakim) di film 'Kartini'. Legacy Pictures

Perjuangan mendobrak tradisi

Dalam salah satu adegan, Kartini bertanya kepada seorang ustadz yang baru saja mengadakan pengajian di rumahnya. Ia ingin memastikan bahwa perlawanan yang tengah ia lakukan tidak bertentangan dengan kitab suci. Ketika sang ustadz memberi pencerahan bahwa setiap orang sama haknya untuk mendapatkan ilmu di mata Tuhan, mata Kartini berbinar.

Menurut sejarah yang beredar, ustadz yang ditemui adalah Kyai Sholeh Darat. Pertemuan ini membukakan mata Kartini dan membawanya mendalami agama sebagai bagian dari alat perjuangan. Kala itu Kartini menolak dengan tegas poligami yang menjadi masalah utama di lingkungannya. Tentunya titik penting ini semakin menguatkan keyakinan Kartini untuk lepas dari belenggu tradisi yang menghambat dirinya dan keluarganya.

Sayangnya Hanung hanya menampilkan secuil persentuhan Kartini dengan agama. Meskipun dalam banyak suratnya Kartini banyak membahas topik agama, di film porsinya kecil. Bahkan bisa dibilang Kartini tidak ditampilkan sebagai sosok religius. Pilihan Hanung untuk mereduksi hal-hal macam ini memang mengejutkan mengingat kebanyakan film Hanung sarat "ceramah agama". Adegan tersebut terasa tidak berdampak banyak kepada film dan hanya dapat diartikan sebagai stempel pembenaran yang dibutuhkan oleh Hanung untuk pesan besar film: dari sisi agama pun, kesetaraan perempuan layak diperjuangkan.

Ketika menghadirkan sosok Kartini di era sekarang. Tentu saja Hanung harus menghadapi kenyataan bahwa Kartini digugat perannya oleh sebagian masyarakat. Siapa itu Kartini? Apa benar dia cuma sosok propaganda Orde Baru? Perempuan rekaan Belanda untuk menjalankan politik etis? Ibu bangsa yang hari kelahirannya pantas dirayakan? Ketimbang terjatuh ke lubang kontroversi, Hanung mengambil jalan aman. Ia lebih memilih menampilkan Kartini sebagai manusia biasa yang ingin bebas.

Kartini (Dian Sastrowardoyo) ditampilkan sebagai seorang anak, seorang kakak juga adik, dan terutama seorang perempuan yang berusaha lepas dari cengkeraman tradisi. Sebagai anak, Kartini muda harus merelakan ibu kandungnya dijadikan asisten rumah tangga. Tumbuh besar, ia dipaksa menjalani kehidupan sebagai perempuan yang harus dipasung sebelum nantinya "dibebaskan" oleh suami yang hendak menikahinya. Belakangan sebagai anak pula, ia memanfaatkan posisi bapaknya sebagai bupati untuk berhubungan dengan dunia luar.

Sebagai adik, ia memandang tinggi kakaknya Kartono yang lebih berpendidikan dan terpandang di dunia luar. Dari buku-buku yang ditinggalkan sang kakak, Kartini mendapatkan pengetahuan yang membuka jendela pemikirannya. Sebagai kakak, ia membimbing kedua adiknya Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) agar mengikuti jejaknya dan menumbuhkan mereka menjadi sosok yang lebih bebas.

Kartini ditampilkan sebagai seorang anak, seorang kakak juga adik, dan terutama seorang perempuan yang berusaha lepas dari cengkeraman tradisi.

Sebagai perempuan yang dipaksa menerima peraturan, ia berusaha mendobrak batasan-batasan. Dengan membaca buku berbahasa asing, dengan memberanikan diri untuk menulis, dengan bersentuhan dengan para penjajah, dengan membantu bisnis warga sekitar sambil mengabaikan tradisi.

Dengan memfokuskan hubungan Kartini ke orang-orang terdekatnya, naskah besutan Hanung dan Bagus Bramanti memilih untuk mengecilkan bagian-bagian yang tak kalah penting seperti saat Kartini membuka sekolah atau seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan Kartini tentang agama dan bahkan hubungan Kartini dengan pemerintahan kolonial.

Untungnya pemilihan penekanan drama yang terjadi di keluarga Kartini ditulis dengan baik. Salah satu momen mengharukan adalah ketika Ngasirah (Christine Hakim) berbicara kepada Kartini di pinggir danau tentang alasannya rela jadi asisten rumah tangga dan keengganannya melihat Kartini melawan tradisi. Setelahnya Kartini digambarkan sedikit lebih lunak akan idealismenya.

Kalau tujuannya menjadi film yang inspiratif dan positif, film ini memenuhi maksudnya. Banyak momen heroik ditampilkan dan perjuangan Kartini sebagai perempuan terasa di sini. Tapi memang ceritanya tidak sedalam itu dan tidak memberikan porsi lebih pada sosok Kartini yang lebih kompleks. Sebagai perkenalan sederhana, setidaknya film Kartini melakukannya dengan bagus.

Editor's Pick

Add a Comment