Aird, Ketenangan Pop Akustik dengan Selimut Ambient

Memulai segalanya untuk dan oleh diri sendiri yang berakhir dengan album mini debut berisi lima lagu

Oleh
Alief Anindra dan Asti Hasanudin yang tergabung dalam duo Aird. Rasyid Baihaqi

Bermula dari sebuah unggahan, menghasilkan dukungan, lalu melanjutkan rekaman. Kurang lebih itulah sembilan kata yang cocok dilekatkan dalam kisah pembentukan album mini bertajuk Down to Grow dari duo Aird. Entitas musik yang mengawinkan pop akustik dengan bunyi ambient penuh nuansa. Menjadi musik latar yang tepat ketika sudah waktunya lampu dimatikan.

"Aku sendiri nggak berekspektasi buat rilis EP ya. Maksudnya mau, cuma nggak ekspektasi akan hal itu karena awalnya emang bikin musik untuk dibuat sendiri, buat didengar sendiri. Tapi pada saat itu keluar lagu "Just In Time". Kami share di Soundcloud, responsnya bagus, sisanya diterusin, akhirnya bisa rilis EP," ujar Asti Hasanudin, salah satu dari duo Aird, sekaligus satu-satunya personel awal yang masih tersisa.

Proyek musik tanpa ekspektasi memang bukan hal pertama bagi Asti. Jauh hari sebelumnya, eksperimen rahasia Asti dengan keyboards, piranti lunak dan bebunyian ambient menjadi cikal bakal dari terbentuknya Aird. Sebuah percobaan diam-diam yang dibuat secara mandiri dan dikonsumsi oleh diri sendiri. "Awalnya iseng-iseng bikin sound ambient buat sendiri, didengerin sendiri, udah selesai," ujar Asti dalam perbincangan di teras belakang kantor Rolling Stone.

Selanjutnya, sejumlah riset dan percobaan terus berlanjut hingga akhirnya formula gitar akustik dengan nuansa ambient bisa tersaji. Targetnya adalah menghasilkan nuansa yang mengawang dengan bersenjatakan gitar akustik. "Tadinya emang sempat agak ragu gitu, ambient sama akustik, ini suara double-double banget gimana caranya. Naik turunnya ada. Gagal jeleknya di studio ada. Masukin ke laptop ada. Sampai hari ini gagal di live buat ngehasilin sound yang bagus pun ada gitu, jadi butuh proses," jelas Asti.

Maju ke Januari 2016, cerita yang setingkat lebih serius dimulai. Kesepakatan tanpa alasan dengan Elnovan Halinawan untuk membentuk sebuah proyek musikal membuka cerita Aird. Keduanya berbagi peran yang sama, memetik gitar dan melantunkan vokal. "Tadinya nih aku sama Elnovan satu band dulunya. Lalu kemudian setelah aku keluar dari band itu, aku bikin proyek folk ambient ini. Dengan alasan nggak ada sih... kami pingin main musik aja bareng-bareng," jelas Asti.

Di tahun yang sama sejak pembentukannya pula, Asti dan Elnovan banyak mendedikasikan akhir pekan mereka untuk bisa merealisasikan karya sendiri. Sulit untuk memilih waktu di luar itu karena terdapat rentetan aktivitas dan pekerjaan harus diselesaikan. Hal ini juga yang diakui menjadi kesulitan plus penyebab diperlukannya waktu satu tahun untuk bisa menghasilkan mini album berisi lima lagu. "Ya, pasti kalo lagi cape kami mainnya nggak begitu bagus ya, walaupun fill in gitarnya bener, tapi nggak terlalu bagus rasanya. Langsung mood-nya drop, pada akhirnya harus ulang lagi gitu," ujar Asti.

Aird. (Rasyid Baihaqi)

Setelah seluruh materi Down to Grow berhasil direkam, kisah lain terjadi. Elnovan tak bisa melanjutkan perannya lagi dalam Aird. Maka per Januari 2017, Alief Anindra masuk membantu Asti untuk menyambung kelanjutan entitas ini. Tak butuh waktu lama bagi Alief untuk menyukai Aird yang diisi bebunyian akustik basah penuh reverb. "Aku pribadi pas pertama kali denger setelah dikirim (materi) EP rasanya serasa ada di mana gitu, berkat ambient-nya," ujar Alief.

Di luar kemampuannya yang memikat dan menenangkan, sajian pop akustik berbalut ambient ini memiliki sisi yang merepotkan dari segi sound. Hal ini menjadi kesulitan yang perlu penanganan tersendiri dan masih coba ditaklukkan mereka berdua. "Sound itu mungkin ya tricky kalau akustik," jelas Alief

"Akustik-ambient itu tricky untuk masalah sound, live terutama ya. Dalam arti kata, sekali itu jelek bakal jelek banget. Lebih baik nggak pake ambient, lebih baik pure acoustic. Tapi sekalinya bagus itu bisa bagus banget karena ambient reverb yang dihasilkan dari satu gitar akustik yang ditambal lagi, kalau bagus setting-nya, atau nggak pinter, keluarnya bakal jelek banget," jelas Asti menambahkan.

Namun tak sekadar kesulitan, dengan jumlah instrumen dan personel yang tak banyak, perkara latihan dan penulisan aransemen adalah sisi yang bisa diatasi dengan mudah. "Kami pernah latihan di Skype, di kamar masing-masing," ungkap Alief.

"Dulu aku sama temenku (Elnovan) pernah aransemen di parkiran di Bogor, karena kami lagi piknik waktu itu. Jadi di mana aja, dapet momen, di situ kami kerjain musiknya," imbuh Asti.

Dari berbagai aransemen yang tak selalu berlangsung di studio musik itu, pada Februari 2017 lima lagu terkurasi berhasil mereka rilis dalam mini album bertajuk Down to Grow. Menyajikan ketenangan sepanjang 23 menit berisi petikan gitar yang tenang dan nuansa ambient yang mengawang. Memotret berbagai hal dari kehidupan manusia dan menuangkannya ke dalam lirik. "Dalam EP itu nggak ada love song sih ya, semuanya tentang hidup in general," ujar Asti yang menulis seluruh lirik dalam Down to Grow.

Editor's Pick

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment