Ed Sheeran: Menaklukkan Tangga Lagu Dunia

Dulu Ed Sheeran dianggap aneh, kini ia salah satu bintang paling tenar di dunia. Tapi yang ia inginkan adalah hidup biasa-biasa saja.

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 144 April 2017. Peggy Sirota

"Ayo ke tempat saya untuk finale!" Ed Sheeran berseru sembari masuk ke dalam sebuah SUV. Saat itu baru lewat tengah malam di London. Sheeran baru menghabiskan malamnya di sebuah bar. Walau rambut merah menyalanya disembunyikan di bawah topi, orang-orang tetap mengenalinya. Sang DJ memainkan salah satu lagunya, sementara teman-teman Sheeran melindunginya supaya ia bisa minum-minum dengan tenang. Sheeran merasa agak gelisah jadinya, dan ini kenapa kami mengebut ke rumahnya di London Barat supaya pesta terus berjalan.

Malam ini Sheeran sedang merayakan sesuatu: ia tahu ia akan mencetak Nomor Satu pertama kalinya di Amerika dengan "Shape of You", lagu yang bertenaga dan funky dari album barunya, ÷ (dibaca Divide). Selain saya dan Sheeran, ada Cherry (kekasih Sheeran) dan teman-teman lamanya: Zack, Nathan, dan Catherine. Mereka bertiga sudah menyaksikan ia tampil sejak album pertamanya, The Spinning Man, keluar saat ia berusia 13 tahun. "Saya mendapat piagam kayu," kata Sheeran (25 tahun) bercanda. "Bukan emas. Terjual 100 kopi."

Sheeran tidak main-main soal minuman yang ditenggaknya malam ini: espresso martini dan bergelas-gelas rum-punch saat makan malam, lalu gin and tonic di bar. Hari itu adalah ulang tahun saya, dan satu saat ia mengambil telepon saya untuk berswafoto bersama saya. Foto itu kemudian dipasang di akun Instagram saya, dengan tulisan "It"s my birthday bitches #london #hashtag #believe #achieve #inspiration." Ia juga mendorong teman-temannya untuk menghabiskan bergelas-gelas bir dengan nyanyian yang baris terakhirnya berbunyi "Na na na na/Hey hey hey/You"re a cunt!"

Tak lama kemudian kami tiba di rumahnya, lima lantai dengan gaya industrial. Batu bata sebagai dinding, lantai kayu, dan berbagai sentuhan personal: boneka Charmander Pokémon di kamar tidurnya dan bong dengan bentuk seperti kepala Benny Blanco di ruang tamu. Juga ada studio rekaman, gym, dan bar yang lengkap. Di situlah baru-baru ini ia menjadi tuan rumah yang baik bagi sejumlah pemeran muda di serial televisi favoritnya, Game of Thrones. Saat kami tiba, Sheeran menawarkan beberapa kamar tidur bagi siapa saja yang ingin "bermain-main", kemudian berlalu untuk meracik minuman.

Dengan pengecualian Justin Bieber, Sheeran adalah bintang pop laki-laki paling besar saat ini. Namun ia berusaha menjauh dari predikat mesin pop. Hidupnya sekarang adalah campuran makanan pub, main biliar pukul tiga pagi, minum alkohol saat makan malam, dan berbagai keputusan impulsif: "Kapan saja Anda butuh band pernikahan…" katanya tak lama setelah kami bertemu dan ia tahu saya punya pacar. "Saya selalu bilang, "Gratis sepanjang saya bisa". Selama saya dapat persediaan minuman keras dan tempat tidur, beres." (Sepanjang saya bersamanya, saya bertemu dengan paling tidak tiga teman yang pernikahannya diisi oleh Sheeran.) Kata-katanya lebih sering tidak disaring. "Kotoran dahsyat di atas, Bung. Ulah siapa itu?" ia bertanya setelah ke kamar kecil, sampai seorang teman mengaku.

Dengan ketenaran yang semakin menanjak, Sheeran merasa harus menegakkan semacam keadaan yang normal. Belakangan ia semakin sering nongkrong dengan teman-teman lamanya; ia bahkan menulis tentang mereka dalam single barunya, "Castle on the Hill", semacam persembahan bagi masa SMA-nya yang penuh pemberontakan di Suffolk, Inggris.

Di sekitar pukul empat pagi, Sheeran berlari ke atas untuk mengambil gitarnya. Ia kemudian duduk di dapur. Ia terus bermain selama dua jam penuh—semacam pertunjukan yang jauh lebih intim dibanding konser stadion yang biasa dibuatnya, hanya dengan bekal gitar akustik dan loop pedal. Malam itu ia memainkan lagu-lagu dari ÷, juga beberapa lagu yang belum dirilis dan direncanakan akan masuk album-album di masa depan. Ia mempersilakan teman-temannya meminta lagu—termasuk "Love Yourself", hit Nomor Satu yang ia tulis bersama Justin Bieber. "Anda tahu "Love Yourself" awalnya berjudul "Fuck Yourself", kan?" katanya bercanda sebelum memainkan lagunya.

Singkatnya, inilah bakat Sheeran: Ia adalah paduan penyanyi old-school dengan teknisi daftar lagu Top 40, seseorang yang bisa mengalahkan semuanya di pertunjukan open-mic tapi juga salah satu penulis lagu pop paling piawai saat ini. (Ia juga bisa rap dengan bagus.) Kebanyakan pendengarnya adalah gadis remaja, tapi Sheeran juga bisa membuat seseorang seperti Elton John terpesona, sampai-sampai Elton menariknya ke dalam perusahaan manajemennya pada tahun 2011. "Ia bisa menulis melodi yang sangat sederhana," kata Elton, merujuk pada "Thinking Out Loud", yang memenangi piala Grammy di 2016 untuk Song of the Year. "van Morrison akan bangga bisa menulis lagu seperti itu. Ia mengingatkan saya pada saat saya pertama datang ke Amerika, di tahun 1970. Waktu itu tak ada halangan, tak ada yang tak mungkin. Sayangnya, sekarang semua orang terdengar seperti Ed Sheeran: Shawn Mendes, Justin Bieber…"

"Maaf, saya agak mabuk," kata Sheeran sesaat setelah keliru bermain di sebuah lagu baru. Ia berhenti untuk melinting rokok dan memanaskan pizza. Lalu ia duduk dan memainkan "Perfect", waltz dari album ÷. Seperti kebanyakan lagu yang ia tulis hari-hari ini, yang ini tentang Cherry, gadis yang sudah ia kenal sejak SMA dan kembali akrab dalam sebuah pesta setelah konsernya di New York. Mereka menyembunyikan hubungannya selama setahun penuh, sampai Taylor Swift mengundang mereka ke pesta Fourth of July di Rhode Island dan seorang teman memasang foto di Instagram, berisi banner yang merayakan satu tahun mereka bersama.

"I found a love to carry more than just my secrets," Sheeran bernyanyi. "I don"t deserve this, darling, you look perfect tonight."

"Keran air mata saya sebentar lagi jebol," kata Catherine.

"Sebentar saya pikirkan yang sama mengharukannya," kata Sheeran.

"Tolong, jangan!" jawab Catherine.

Sheeran bangkit dan membuat segelas gin and tonic lagi. "Semua baik-baik saja? Saya sangat baik-baik saja."

Pukul enam pagi datang, dan saatnya tidur.

Pada awal tahun lalu, Sheeran dan Cherry sedang menjalani tur gunung berapi di Islandia saat Sheeran mengabaikan petunjuk pemandu untuk jangan menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan. Saat ia mendekati air mancur panas, permukaan tanah yang tipis mulai rontok dan kedua kaki Sheeran masuk ke dalam air yang suhunya hampir 100 derajat Celcius. Saat itu adalah pertama kalinya Cherry mendengar Sheeran menjerit. Ia melepas salah satu kaus kakinya, dan kulit Sheeran ikut lepas. "Saya masih merasakan post-traumatic stress akibatnya," kata Cherry. Sheeran harus dibawa ke rumah sakit dengan helikopter. Saat itu mereka bisa saja pulang, namun mereka meneruskan perjalanan yang kemudian berlangsung selama enam bulan. Ternyata Sheeran benar-benar ingin menjauh dari menjadi bintang pop untuk sementara.

Pembawaan Sheeran yang asli ialah ceria. Tapi ia mengaku ada masanya ia bisa "merosot". Ini terjadi di tahun 2013, saat ia menjadi pembuka konser-konser Taylor Swift dan pindah ke Nashville, tempat basis tur tersebut. "Saya ikut dalam tur paling hebat di dunia. Tapi saya tinggal di negara yang bukan tempat saya, di kota yang penduduknya tak satu pun saya kenal," katanya.

Ia mulai banyak minum. Johnny McDaid, rekan menulis lagu Sheeran, khawatir tentang kondisi temannya saat mereka bertemu di Hollywood pada 2015. "Ia terus melaju," kata McDaid. "Saya minta ia duduk dan bilang, "Begini Bung, kamu boleh bersenang-senang. Tapi hati-hati, karena begitu sesuatu terjadi, masa penyembuhannya lama"."

Satu komentar di Twitter bisa merusak hari Sheeran: "Banyak orang yang bilang, "Ed jadi botak". Padahal saya tidak mengalami itu. Tapi saya jadi meyakinkan diri sendiri bahwa saya membotak. Rambut merah memang sangat lembut—dan rambut saya baik-baik saja. Waktu itu saya juga lebih gemuk dari sekarang," katanya. "Saya jadi memikirkan dua hal yang tadinya tak pernah saya pedulikan."

Ia juga kehilangan sejumlah temannya. "Daftar Forbes sesungguhnya merusak banyak hal," katanya tentang laporan majalah tersebut yang menyebutkan pemasukan Sheeran berkisar sampai 57 juta dollar AS pada 2015. "Saya dapat SMS dari banyak orang dengan foto mobil. Mereka bilang, "Saya mau ini untuk ulang tahun ya. Harganya cuma 0,06 persen dari pendapatan tahunanmu"." (Akhirnya ia tak menggunakan lagi teleponnya. Ia memakai iPad untuk berkomunikasi dan flip phone untuk keluarga dekat.)

Setelah menghadiri acara Grammy tahun lalu dan memenangi Song of the Year, Sheeran melewati pesta setelahnya dan naik pesawat ke Islandia. Begitu kakinya sembuh, Sheeran dan Cherry berkelana ke pedesaan Jepang selama satu bulan, dari Hokkaido ke Okinawa. Di sana ia bisa berjalan tanpa takut dikenali, "makan makanan aneh, berendam di air panas, dan bermain ski."

Sheeran berhenti merokok dan mengurangi porsi minuman kerasnya. Di bulan Juni, ia menjalani tiga minggu di Ghana setelah diundang penyanyi Ghana-Inggris Fuse ODG. Bekerja di rumah Fuse, ia mulai menulis lagu-lagu yang terpengaruh musik Afrika. "Setiap kami membuat lagu, mereka mengadakan pesta," katanya. "Ia mengundang lebih dari 200 orang, dan kami terus merayakan lagu itu sampai dini hari."

Hanya satu dari lagu-lagu yang ditulis dari sesi itu, "Bibia Be Ye Ye", yang tampil di ÷, tapi kebebasan yang ia rasakan dalam perjalanannya terus menggantung. Sementara album terakhir Sheeran, x, berisi lagu-lagu pahit tentang mantan kekasih, ÷ diisi lagu-lagu seperti "Happier". Ia menulis lagu itu setelah ia bertemu dengan mantan pacar dan pasangan barunya, yang dulu selalu meninggalkan perasaan mengganjal , di sebuah pernikahan. "Ia baik sekali, dan semuanya jadi masuk akal," kata Sheeran. "Saya membatin, "Tentu saja, memang begini yang seharusnya terjadi"."

Elton berkata perjalanan Sheeran "menyegarkan bagi jiwanya". "Saya perhatikan, terutama di bulan-bulan terakhir, ia tahu semuanya akan baik-baik saja," kata McDaid. "Ia tahu bahwa ia kembali melakukan sesuatu yang hebat. Saya rasa ia terhubung kembali dengan teman-teman dan keluarganya, dan ia merasa punya "rumah"."

Setelah pertunjukan dadakan Sheeran di ruang tamu itu, sekarang jam menunjukkan pukul 11 siang. Hujan menuruni jendela ruang tidur tamu, dan langit berwarna abu-abu. Baru lima jam berlalu sejak ia tidur, tapi ia sudah ada di lantai bawah. Bertelanjang dada di gym, ia sedang menjalani latihan harian 10 menit di atas mesin elliptical. "Supaya berkeringat saja!" katanya.

Studionya terletak di seberang lorong. Sheeran meminta siapa saja yang berkunjung untuk menandatangani dindingnya. Di antaranya ada tanda tangan Rick Rubin, Harry Styles, dan Benny Blanco. Juga ada gambar dari Damien Hirst, salah satu seniman favoritnya. Satu dinding masih polos, diisi oleh satu nama saja. "Itu Clapton," kata Sheeran tersenyum lebar. "Minggu depan Elton akan datang dan Cherry memasak, jadi saya akan membuatnya jadi dinding legenda."

Sheeran dan Clapton pertama-tama berbicara lewat surat elektronik. Clapton mengundangnya naik panggung di Jepang tahun lalu dan kadang datang ke rumah Sheeran untuk makan malam. Di mata para kritikus musik, Sheeran jarang masuk hitungan. Tapi kalau menurutnya, "Saya tidak peduli apa pendapat orang. Kalau ada yang punya masalah dengan saya, saya cukup bilang, "Para pahlawan saya menyukai saya. Orang-orang yang membuat saya bermain musik menggemari lagu-lagu saya. Jadi kenapa pula saya harus peduli apa pendapat orang lain?" "

Kami menuju ke pub tak jauh dari situ untuk makan siang. Di sana Sheeran memesan bir Adnams khas daerah asalnya: "Saya suka sekali minum bir kental di Januari." Ia berbincang soal tumbuh di Suffolk, bagaimana dulu ia diolok-olok karena tidak jago berolahraga, karena rambut merahnya—dan terutama karena ia gagap berbicara: "Saya harus mengangkat tangan karena tidak bisa bicara. Anak-anak bisa sangat jahat. Terjadi sekali saja, ada yang akan menirunya. Maka saya berkeputusan, "Jangan angkat tangan lagi lain kali"." Ia berkata rapping mengikuti album Marshall Mathers dari Eminem membuat gagapnya hilang.

Orang tuanya adalah kurator bagi berbagai galeri seni. Mereka biasa membuat pameran dan melangsungkan kuliah di sekitar Suffolk. Ayahnya mengajarkan Ed supaya ia jadi orang yang kuat. "Ia tumbuh dengan bibir yang sumbing," katanya. "Dan ia bilang, "Setiap kali ada yang mengejekmu, pukul dia sekeras mungkin dan dia tidak akan mengejek lagi"." Ayahnya sampai sekarang masih bersikap keras. Sheeran menceritakan kisah saat sang ayah menyalakan rokok di sebuah pesta Warner Bros. "Ada yang bilang, "Pak, Anda tidak boleh merokok di sini." Ayah saya menjawab, "Saya Tuan Warner", dan tak ada yang mengganggunya lagi." Ibunya bertolak belakang dari sang ayah. "Ia seperti malaikat," kata Sheeran.

Walau ayahnya menyarankan berkelahi sebagai jalan keluar masalah, Sheeran memilih humor. "Kebanyakan orang berambut merah yang saya tahu sangat bersahabat dan lucu," katanya. "Mereka punya bekal banyak lelucon. Album pertama saya berwarna jingga. Ada alasannya sendiri kenapa warnanya jingga—saya sudah memikirkannya sebelum Anda." Menurutnya, masa kecilnya berpengaruh banyak pada pilihan-pilihan kariernya: "Menjadi musisi ini datang dari perasaan ingin dicintai dan ingin disukai."

Sheeran keluar dari sekolah di tahun 2007, saat ia berumur 16 tahun, dan pindah ke London. Ia mulai tampil, gagal di acara-acara open mic tapi lumayan berhasil di berbagai klub hip-hop, komedi, dan jazz. "Di mana saja penyanyi-penulis lagu tampak aneh, saya langsung tampak mencolok," kenang Sheeran.

Pada 2010, Ben Cook (kepala Asylum Records), melihat video pertunjukan Sheeran di daring. Ia mendatangi beberapa pertunjukannya—termasuk di Southampton, Inggris, saat Sheeran berdiri di atas kursi di tengah-tengah penonton dan bermain akustik. "Ia melakukan rapping," kata Cook, "jadi penonton pria mencoba mengikutinya sementara penonton perempuan merespons lagu-lagu yang romantis." Tak lama setelah itu Cook memberinya kontrak rekaman.

Tur besar pertama Sheeran di Amerika adalah menjadi pembuka Snow Patrol di tahun 2012, saat single pertamanya, "The A Team"—balada tentang pelacur yang kecanduan heroin, yang ia temui di sebuah rumah singgah—saat itu sedang meledak. "Di Orlando, ada sekitar 200 orang di barisan depan yang ingin menonton Ed," kata McDaid, gitaris Snow Patrol. "Begitu tur sampai setengah jalan, penonton di bagian itu berlipat menjadi 2000 orang. Saya melihatnya terjadi dengan mata kepala sendiri."

Tur Sheeran yang berikutnya tentu menjadi lebih besar: 66 tanggal sebagai pembuka Swift. Sheeran dan Swift bersua saat manajer kedua penyanyi ini mempertemukan mereka untuk sesi menulis lagu. Pada akhirnya mereka bekerja di atas trampolin di halaman belakang Swift dan menulis "Everything Has Changed". Setiap malam Swift mengundang Sheeran di atas panggung untuk memainkan lagu itu.

Di belakang panggung, ini adalah saat-saat yang sibuk bagi percintaan Sheeran. Ia berkata saat itu beberapa kali berhubungan dengan sejumlah teman Swift yang juga sama tenarnya. "Dunia Taylor adalah pesohor," kata Sheeran. "Saya pemuda Inggris usia 22 tahun yang kikuk, menjalani tur bersama artis terbesar di Amerika, yang punya teman-teman populer. Mudah sekali saat itu… Sering saya terbangun dan bertanya-tanya sendiri, "Bagaimana mungkin yang tadi bisa kejadian?" " (Baru-baru ini Katy Perry menyebutkan daya tariknya sebagai laki-laki yang mudah menarik perempuan: "Semua orang menyukai dia, tak ada yang takut padanya, mereka ingin berkencan dengannya. Dan mereka bisa berkencan dengannya.")

Sheeran menuliskan beberapa hubungan saat itu di album keduanya, x (2014). Ia menulis "Don"t", tentang hubungan singkat dengan sesama bintang pop yang berakhir saat ia tahu pasangannya tidur dengan temannya yang menginap di lantai yang sama di sebuah hotel.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 144 April 2017.

Editor's Pick

Add a Comment