CD Review: Barefood - 'Milkbox'

Oleh

Album penuh pertama Barefood dipastikan akan membekas lama

Barefood bertanggungjawab untuk gelombang musik alternatif rock dengan band-band ’90-an awal sebagai referensinya. Sejak kehadirannya sekitar tujuh tahun lalu, scene mulai dibanjiri dengan musik yang terinspirasi dari era tersebut. Di tengah maraknya band yang terdengar seragam, duo asal Bekasi ini menghasilkan satu album penuh yang bisa dijadikan pembuktian kualitas sekaligus mengukuhkan posisi mereka sebagai band terdepan di jalur ini.

Satu poin yang membuat Barefood spesial adalah mereka merangkul berbagai inspirasi dan menjadikannya gaya sendiri. Meski jejak Teenage Fanclub, American Football, sampai Netral dengan mudah terdengar namun mereka tak terjebak pada klise mirip band tertentu. Ketika semua orang terlalu nyaman berada di label tertentu, Barefood dengan santai melompati batasan. Secara sadar mencampuradukkan grunge, shoegaze, dan emo menjadi penghormatan kepada era ’90-an dengan kadar pas.

Dibanding dengan Demo 2010 yang meledak-ledak, Milkbox lebih seperti kelanjutan dari Sullen yang mid-tempo. Bahasa standarnya: pendewasaan bermusik. Walau memang terdengar seperti menahan diri dalam agresivitas, tapi cakupan eksperimennya makin luas. Misalnya: lagu instrumental berbau pop progresif di lagu “Soda”, dua lagu berbahasa Indonesia yang penulisan liriknya lebih ambigu ketimbang lagu berbahasa Inggris, juga trumpet dan durasi panjang di lagu “Biru”.

Album Milkbox dari Barefood bisa jadi definisi cool sebenarnya. Tak perlu terlalu berambisi, tapi tahu bagaimana caranya menarik perhatian orang. Seperti sedikit mengingatkan pada Brad Pitt di True Romance. Nada-nada melodius dari Ditto dengan vokal malas Mamet cepat menempel di kepala. Ketika lagu penutup berakhir, gampang menyadari kalau album ini akan terus diputar melewati zamannya.

Editor's Pick

Add a Comment