Soundwaves: Keren Itu Dibagi, Bukan Dimiliki Sendiri

Kejahatan politik dan agama sangat mungkin memecah belah ikatan sosial hingga relasi keluarga. Kill the DJ tidak rela bila hal itu terjadi.

Oleh
Marzuki Mohamad alias Kill the DJ Dok. Kill the DJ

Banyak teman yang bercerita mulai "bersih-bersih" pertemanan di media sosial setelah Pemilihan Presiden 2014 yang melelahkan itu. Tren tersebut meningkat mendekati Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017. Ada beberapa alasan, yang utama tentu saja beda pilihan politik, tapi ada juga yang bertujuan agar halaman media sosialnya jauh dari berbagai postingan kebencian, caci-maki, dan fitnah.

Saya sendiri pernah berpikiran untuk melakukan aksi "bersih-bersih" semacam itu, tapi akhirnya saya urungkan dengan berbagai alasan; salah satunya karena saya menganggap dia teman, apalagi saudara. Alasan yang lain, jika suatu saat saya merasa situasi memanggil untuk turun menjadi simpatisan seperti ketika Pilpres 2014 kemarin, buat apa berkampanye di media sosial jika teman kita semuanya sudah segaris preferensi politiknya?

Pada akhirnya kita harus bisa menerima bahwa perbedaan pilihan adalah keniscayaan berdemokrasi, berdebat asal dibekali data dan fakta menjadi mengasyikan, dan kita selalu masih bisa menemukan kebaikan pada temanyang berbeda pilihan, atau bahkan mereka yang membenci kita.Juga jika ada teman atau keluarga kita ada yang percaya pada fitnah, apakah pilihanya hanya membiarkan mereka terjerumus dalam fitnah tersebut?

Kakak dan adik kandung saya adalah kader PKS, kakak ipar saya adalah DPR PKS. Hidayat Nur Wahid mantan presiden PKS adalah anak dari sahabat almarhum bapak saya di Prambanan, yang dulu bersama-sama aktif di organisasi Muhamadiyah di Klaten. Meskipun saat ini yang saya percaya adalah "tidak ada agama yang lebih baik dari pada kemanusiaan", saya tidak punya alasan untuk kemudian mempertegas perbedaan yang kami miliki, menghindari berdiskusi, atau justru saling mengolok-olok.Saya harus mencari persamaannya agar dialog terbangun.

Kejahatan politik dan agama sangat mungkin untuk bisa memecah belah ikatan sosial hingga relasi tradisional keluarga di Jawa. Saya tidak rela hal-hal seperti itu terjadi.

Pilpres 2014 telah membelah masyarakat menjadi dua kubu, yang "menang" dan yang "kalah", yang "menang" adalah yang "keren" dan yang "kalah" adalah mereka yang "tidak keren". Siapa lagi yang membuat mereka"tidak keren" jika bukan mereka yang "menang" dan terus mengolok-olok yang kalah? Tapi hidup bukan hanya tentang menang - kalah. Yang dihadapi di Pilkada Jakarta adalah energi "balas dendam" pasca Pilpres 2014 dari mereka yang kalah dan terdiskriminasi sebagai "tidak keren" itu tanpa sempat melewati proses rekonsiliasi yang cukup; tanpa ada atribut "keren" yang sempat dibagi kepada mereka yang "kalah" dan "tidak keren".

Situasi semacam itu tidak akan bisa dijawab dengan menggelar konser lagi, sebagaimana konser Salam Dua Jari yang monumental di GBK itu, juga berbagai aksi kreatif lainnya. Meskipun saya terlibat di dalamnya, saya orang yang tidak percaya bahwa Jokowi menang Pilpres 2014 hanya gara-gara konser tersebut. Semua elemen memberi kontribusi signifikan, termasuk relawan-relawan yang bekerja dalam senyap dari pintu ke pintu untuk mengais dan menjaga suara di berbagai pelosok. Saya juga tidak percaya bahwa seorang musisi atau seniman yang mampu menulis lagu dan menggelar konser dengan baik pasti mumpuni jika menjadi pejabat publik.

Sulit bagi saya untuk bisa memahami barisan para mantan relawan Jokowi yang sekarang dekat atau bekerja di istana, sekaligus bekerja untuk memenangkan Ahok, yang justru merasa perlu untuk menampakkan diri dan mempertajam garis perpecahan. Misalnya, aksi 212 tidak perlu ditandingi dengan berbagai aksi yang menguras sumber daya namun hasilnya mlempem dan kontra produktif, jika dibandingkan dengan gesture politik Jokowi yang mendatangi aksi dengan payung di bawah guyuran hujan.

Seolah belum cukup musuh, mereka juga masih perlu menyerang opini-opini di media sosial aktivis-aktivis yang menolak reklamasi Jakarta atau mereka yang membela warga korban penggusuran. Sepertinya mereka lupa bahwa setiap kekuasaan, tak terkecuali Ahok dan Jokowi bahkan kekuasaan monarki seperti Kraton Yogyakarta pun, selalu butuh kontrol atas kekuasaan yang diembannya agar tidak lepas kendali. Aktivis-aktivis itu sedang menjalankan tugasnya dan pantas mendapatkan hormat. Sebagaimana pidato perpisahan Obama, demokrasi membutuhkan Anda bukan hanya saat memberikan suara, namun setiap saat untuk memastikan agar demokrasi berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianutnya.

Pada Agustus 2014, sebulan setelah pilpres saya sempat mampir ke tenda perlawanan petani Kendeng di Rembang dan melihat beberapa dari mereka menggunakan kaos bergambar Jokowi sebagai tanda harapan atas pilihannya.Namun ternyata mereka harus berhadapan dengan pemerintah yang dipimpin Jokowi untuk melawan pendirian pabrik semen itu. Mereka melawan dengan cara yang sederhana, tanpa benci, caci, maki dan dendam; asah tanpa amarah, asih tanpa pamrih, asuh supaya tumbuh.

Kepada yang tidak setuju atau bertentangan, mereka mendoakan "mugi enggal sadar" (agar sadar), bukan mengolok-olok. Mereka tidak pernah menaruh curiga kepada siapa saja yang membantu, takut dipolitisir dan lain sebagainya. Sedulur Sikep selalu punya cara yang lembut dan beradab untuk menetralisir hal-hal buruk yang mempengaruhi aksi mereka. Ikatan sosial mereka sebagai petani yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional memungkinkan hal-hal tersebut terjadi, mempunyai napas panjang dan mempesona. Malu rasanya jika tidak bersimpati kepada mereka.

Laku perlawanan sedulur-sedulur Kendeng itu menampar arogansi intelektualitas kita. Perdebatan di media sosial tentang berbagai hal (Pilkada Jakarta, melawan ideologi radikal, bigot, kangen orba, dan lain sebagainya, justru menggambarkan praktik-praktik mal-kampanye yang lebih mendominasi dan merajalela. Sedikit sekali ruang dialektika yang memungkinkan proses "oponen" menjadi "proponen", lawan menjadi kawan. Mereka yang tidak paham dibiarkan terjerumus dalam kebodohannya, yang dendam dibiarkan membara, yang berseberangan dibiarkan selamanya menjadi musuh. Kita yang paling benar, kita yang selalu menang, kita yang paling keren, dan yang paling pantas mengolok-olok yang lain. Saya bingung, ini kampanye model apa?

Jika kita merasa apa yang kita percaya "lebih baik" dan "lebih keren", kita harus membaginya kepada orang lain, sebab keren sendiri itu tidak cukup. Kecuali Anda sedang mengikuti audisi dangdut atau kompetisi balap karung. Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan, dalam sebuah risalah Ali bin Abu Tholib mengatakan; "Orang yang paling buruk adalah orang yang merasa dirinya paling baik".

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Kisah di Balik Tur Konser Keliling Dunia Raksasa Metallica
  2. Ed Sheeran Angkat Bicara tentang Perseteruan Taylor Swift dan Katy Perry
  3. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana
  4. Album Debut Eleventwelfth Dirilis Ulang di Jepang
  5. Saksikan Video Musik Terbaru Monita Tahalea, “Hai”

Add a Comment