HURT’EM, Menggerinda Hingga Tingkat Paling Ekstrem

Entitas cadas asal Depok yang diperkuat oleh tiga personel dari band berbeda

Oleh
HURT'EM (kiri - kanan): Oces, Chuky, dan Epan. Indra Suhyar

Lebih dari seratus spektator memenuhi seisi ruangan Eastern Promise, Jakarta pada akhir Januari lalu. Mata mereka terarah ke panggung di mana empat lelaki asal Depok siap beraksi. Ekspektasi akan kuartet ini sudah mencapai level tinggi berkat sebuah video musik yang menggabungkan dua materi brillian. Terlebih, lusa sebelumnya mereka baru merilis album perdana. Rasa-rasanya wajar kalau banyak orang penasaran.

Ketika mereka memulai set, apa yang mereka tampilkan cukup mengagetkan. Trio plus satu vokalis tamu bernama HURT"EM ini sanggup membuat seisi ruangan terdiam. Sukses menghilangkan moshpit yang sebelumnya tercipta, di tengah acara cadas yang dipenuhi massa berkaus hitam. Kejutan yang dihadirkan memang bukan hal yang baik; kombinasi antara sistem tata suara yang terdengar buruk plus aksi vokalis tamu yang acap kali memunggungi penonton. Berkebalikan dengan album berusia dua hari (kala itu) yang terdengar prima.

Berselang lima hari kemudian, trio ini bertandang ke markas Rolling Stone, menjawab berbagai hal termasuk pertanyaan atas malam kedua pasca melahirkan Condolence. Mengenai panggung di acara bertajuk Lawless Inferno itu, gitaris Chuky mengungkapkan kalau repertoar malam itu cukup melelahkan bagi dirinya karena harus membawakan materi penuh dari album perdananya, "16 lagu tuh kayak monster gede," ujarnya. Drummer Oces berkata beda lagi, ia tak merasakan hal yang sama karena terbiasa tampil dengan durasi yang sama dengan bandnya yang lain, Carnivored. Sedangkan satu personel lain, Epan dari divisi bass, juga mengaku kalau penampilan hari itu memang melelahkan walau secara sound merasa tak begitu bermasalah. "Tapi kalau dibandingin sama yang di bayangan kepala sih belom jadi, secara sound-nya," ujarnya.

Namun anggap saja malam yang kurang membanggakan itu tak pernah ada, toh mereka masih bisa membayar 'hutang' melalui penampilan meledak di lain kesempatan. Sebuah performa yang akan benar-benar mendefinisikan Condolence yang terdiri dari riff gelap berkecepatan tinggi plus dentuman drum yang menggerinda. Atau dalam definisi Lawless Records, label mereka, sebuah hasil death match antara Nasum dengan Converge.

Sebelum nama HURT"EM terdengar, triumvirat ini merupakan personel dari tiga band yang berlainan. Chuky bermain gitar untuk Beauty Killed The Beast & Slutguts. Epan merupakan bassist dari Deth Krokodil sementara Oces lebih sering terlihat dari balik set drum Carnivored. "Awalnya kami mau bikin HURT"EM ini karena memang band masing-masing lagi pada break kemarin," ujar Chuky mengenai proses terbentuknya kelompok ini. Namun jangan salah mengartikan kalau HURT'EM hanya sekadar pelampiasan di waktu kosong , trio ini tak merasa kalau entitas ini merupakan proyek sampingan. "Ini tetap band, bukan side project atau apa pun. Inilah band kami," ujar Chuky.

Setelah proses pembuahan yang terjadi di waktu ketiga band utama mereka tengah rehat, embrio HURT"EM pun terbentuk dari beberapa riff gitar yang dihasilkan Chuky. "Jadi gua punya riff, sekitar 8-7 lagu yang nggak kepake di band sebelumnya, akhirnya ketemu Epan, berdua ngobrol terus gua jamming-jamming di studio, dan akhirnya jadi," jelas Chuky.

Dari angka satuan, jumlah materi yang tersedia terus berganda hingga mencapai belasan. Limpahan materi ini pula yang membuat HURT"EM tak ragu untuk langsung menghasilkan album penuh, alih-alih membuat album mini atau jenis rilisan lainnya. "Sebenernya lagunya udah ada 17 lagu, kayaknya nggak mungkin kan kalau kami bikin EP 17 (lagu), ya udah kita bikin album aja sekalian."

Sebagai album yang tetap terdengar segar ketika meluncur di awal 2017, seluruh ide untuk album ini sebenarnya sudah ada sejak dua tahun sebelumnya karena penggarapan ide dan proses rekaman sudah dimulai sejak 2015. "Materi 3 bulan kami bikin, Januari 2015 kami mulai, setelah 3 bulan kelar kami malah langsung take (instrumen) duluan, itu malah vokal belum dapet," ujar Chuky.

Proses rekaman instrumen diakui memakan waktu sekitar dua bulan, selebihnya giliran rekaman vokal bersama Adul dari unit grindcore Ancaman. "Sekitar dua bulan kami recording musik, vokalnya baru menyusul sekitar satu bulan kemudian, karena si Adul butuh waktu satu bulan buat ngedalemin si materi HURT"EM ini," tambahnya. Setelah proses rekaman rampung, proses selanjutnya menghabiskan waktu yang tak singkat. Terutama dalam tahap mixing yang sempat berpindah tangan untuk mencapai hasil maksimal. Seluruh materi sendiri diakui benar-benar selesai pada Desember 2016.

Dalam rentang satu setengah tahun itu, terlalu banyak hal yang terjadi, termasuk semakin padatnya kegiatan dan perpindahan domisili vokalis yang membuatnya harus mengundurkan diri. Hal ini pula yang membuat HURT"EM memiliki suatu catatan yang cukup ganjil: menjadi sebuah band yang tak memiliki vokalis tetap ketika album perdana dilepas.

Terlampau mustahil untuk tampil secara instrumental, triumvirat ini merekrut Reza sebagai vokalis tamu untuk setiap aksi panggung. Dengan kerongkongan yang berbeda dari pengisi album, band ini tak menganggapnya sebagai masalah besar karena untuk saat ini mereka cukup menargetkan pada pola vokal yang sama. "Kalo vokal lebih ngejar pattern-nya, kami lebih ngejar ke situnya aja dulu. Tanpa suara model kaya si Adul, tapi dengan pattern dan beat yang sama vokalnya, udah keren," ujar Epan. Hal kecil yang dirasa menjadi kendala tanpa memiliki vokalis tetap adalah saat mereka membuat sebuah video musik untuk dua lagu "Deceit" & "Patronage". "Peer-nya gitu doang sih kalo ga ada vokal, jadi kami di video main instrumen cuma nggak ada vokal," jelas Chuky.

Mereka bertiga sepakat kalau vokalis tamu saat ini tak perlu meniru bunyi yang ada di album dan bisa menampilkan karakternya sendiri. Untuk panggung yang akan datang pun, band ini masih akan tetap menggunakan pita suara Reza sebagai pengisi vokal. "Sampai saat ini dia (Reza), yang kami siksa tuh dia terus sampai kami bisa gantungin harapan ke dia, sampai dia mati, atau sampai dia nyerah, udah itu aja pilihannya," tegas Epan.

Selain Reza, hal lain yang ingin mereka pertahankan di setiap panggung adalah setlist yang berisikan materi penuh dari album Condolence. Ketiganya kompak akan hal tersebut, harus 16 lagu, jika durasi yang diberikan cukup ideal. Tantangannya memang besar, mereka sadar akan hal itu, namun semuanya harus dihajar, termasuk "monster" yang sebelumnya berbentuk rasa lelah.

"Musik ekstrem gini, kita juga musti ekstrem lah," ujar Epan yakin.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Forgotten - "Tumbal Postkolonial"
  2. Kilas Balik: Chester Bennington dan Chris Cornell Berduet Lagu ‘Hunger Strike’
  3. Chester Bennington: Reaksi Musisi dan Penggemar Tenar terhadap Kematian Vokalis Linkin Park
  4. Chester Bennington, Vokalis Linkin Park, Tewas di Usia 41 Tahun
  5. Stone Gossard dari Pearl Jam Menulis Surat Penghormatan bagi Chris Cornell

Add a Comment