Chuck Berry, Sang Inovator Rock & Roll, Berpulang di Usia 90 Tahun

Polisi melaporkan bahwa mereka berusaha untuk menyadarkan sang gitaris sekaligus penyanyi dan penulis lagu tersebut, namun tidak ada reaksi

Oleh
Chuck Berry saat tampil di Long Beach Blues Festival pada 1997. Masahiro Sumori

Chuck Berry, dengan lagu-lagunya yang ceria, riff gitar lentur dan aksi duck walk di panggung yang mendefinisikan rock & roll pada tahun-tahun awalnya dan untuk beberapa dekade ke depan, telah berpulang pada Sabtu (18/3) lalu. Departemen Kepolisian St. Charles County mengkonfirmasi berita ini melalui Facebook. Berry meninggal dalam usia 90 tahun.

"Polisi St. Charles County merespons sebuah laporan medis gawat darurat di Buckner Road pada sekitar pukul 12.40 siang waktu setempat hari Sabtu (18/3) lalu," tulis Departemen Kepolisian di Facebook. "Di dalam rumah tersebut, orang pertama yang melapor menemukan seorang pria yang tak sadarkan diri dan dengan cepat melakukan pertolongan pertama. Sayangnya, pria berusia 90 tahun tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal pada pukul 1.26 siang waktu setempat."

"Dengan penuh duka kami mengumumkan bahwa Chuck Berry – suami tercinta, ayah, kakek, dan kakek buyut – telah meninggal dunia di rumahnya hari ini di usia 90 tahun," tulis pihak keluarga dalam sebuah pernyataan. "Meskipun kesehatannya belakangan memburuk, ia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah, dikelilingi oleh cinta dari keluarga dan sahabatnya. Keluarga Berry meminta untuk menghormati privasi mereka pada masa sulit ini."

Sementara penyebab pasti kematiannya masih belum dapat ditentukan, anak lelaki Berry, Charles Jr. , belakangan memberitahu Rolling Stone bahwa ia sempat menderita radang paru-paru. "Sekarang, yang saya dapat katakan adalah bahwa ia adalah pria berusia 90 tahun," katanya. "Dan seperti kebanyakan pria seusianya, ia memiliki hari-hari baik dan buruk. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat menderita radang paru. Ia sedang dalam waktu pemulihan, namun cukup lama baginya untuk pulih."

Penghormatan dari para musisi dan penggemar langsung datang. "The Rolling Stones sangat berduka saat mendengar berita kepergian Chuck Berry," tulis band tersebut dalam sebuah pernyataan. "Ia adalah pelopor sejati rock & roll dan sebuah pengaruh besar bagi kami. Chuck bukan hanya seorang gitaris yang brilian, penyanyi dan penampil, namun yang paling penting, ia adalah seorang ahli dalam menulis lagu. Lagu-lagunya akan selalu hidup."

"Chuck Berry adalah praktisi rock terbesar, gitaris, dan penulis rock & roll murni terbesar yang pernah hidup," tulis Bruce Springsteen di Twitter, sementara Brian Wilson menulis, "Saya sangat sedih mendengar kabar kepergian Chuck Berry – sebuah inspirasi yang besar! Ia akan dirindukan oleh semua yang mencintai Rock & Roll. Penuh cinta dan kasih." Paul Stanley dari KISS menyebut Berry sebagai "sebuah landasan dari segalanya yang adalah, pernah, dan akan selalu menjadi Rock & Roll," dengan Lenny Kravitz yang mencatat bahwa "kami semua tidak akan ada di sini jika bukan karena Anda."

"Segalanya berawal dengan Chuck Berry," kata Rod Stewart dalam sebuah pernyataan. "Album pertama yang pernah saya beli adalah albumnya yang berjudul Live at the Tivoli dan saya tidak pernah sama lagi sejak saat itu. Ia lebih dari sekadar legenda; ia adalah sang bapak pendiri. Anda dapat mendengar pengaruhnya dalam setiap band rock & roll di generasi saya. Saya telah membawakan lagunya, "Sweet Little Rock & Roller" sejak 1974 dan malam ini, saat saya dan band saya membawakannya di The Colloseum di Caesars Palace, kami mempersembahkannya untuk Chuck Berry – musik Anda akan selalu hidup."

Mengawali dengan lagu hit-nya, "Maybellene" (1955), Berry menulis sebuah koleksi lagu-lagu yang, dalam groove dan pola pikir kehidupan remaja, menjadi bagian yang penting dari kanon rock: "Roll Over, Beethoven," "Rock & Roll Music," dan terutama "Johnny B. Goode" yang merupakan ode cerdas dan bersemangat kepada bentuk seni yang baru – lagu-lagu yang menjadi kunci untuk musik yang harus dikuasai oleh setiap gitaris pemula atau band yang mengikuti Berry. Saat remaja, Keith Richards dan Mick Jagger pertama kali merasa terikat karena cinta mereka pada musik Berry, dan selama lima dekade terakhir lagu-lagu Berry telah direkam ulang oleh deretan artis yang mencengangkan: mulai dari The Rolling Stones, The Beach Boys, The Kinks, The Doors dan Grateful Dead hingga James Taylor, Peter Tosh, Judas Priest, Dwight Yoakam, Phish, dan Sex Pistols. Seperti yang diucapkan Richards saat melantik Berry di Hall of Fame Rock & Roll pada 1987, "Saya telah mencuri setiap lick yang ia mainkan."

Dengan mencampur blues dan country, Berry juga menemukan sebuah gaya khas gitar – seperti "membunyikan bel," yang ia taruh di lagu "Johnny B. Goode" – yang diimitasi oleh band-band seperti The Stones dan The Beach Boys hingga para punk rockers. Liriknya – kebanyakan tentang seks, mobil, musik dan masalah – memperkenalkan sebuah kosakata yang benar-benar baru dalam musik populer di tahun "50-an. Dalam lagu-lagunya, Berry menangkap kekayaan baru Amerika pasca perang – sebuah dunia, seperti yang ia nyanyikan di "Back in the U.S.A.," di mana "hamburger mendesis pada hari dan malam di pemanggangan terbuka." "Saya membuat rekaman untuk orang-orang yang akan membelinya," kata Berry suatu kali. "Tidak ada warna, etnis, politik – saya tidak menginginkannya, tidak pernah."

Berry, dalam perannya sebagai pelopor rock & roll, juga berurusan dengan rasisme dan bigot, terutama saat ia dituduh pada 1961 atas pelanggaran Mann Act (mengantarkan seorang wanita atau gadis melewati garis batas untuk tujuan prostitusi). Berry mengklaim bahwa ia telah bertemu dengan Janice Norine Escalanti, seorang penduduk asli Amerika berusia 14 tahun dalam sebuah pertunjukan di Texas dan menyewanya untuk bekerja di kelab St. Louis miliknya, Kelab Bandstand. Dipenjara setelah percobaan kedua (hukuman pertama telah dijungkirbalikkan karena sang hakim mengulang-ulang kata "nigra"), Berry, yang mengaku tidak bersalah, berakhir menjalani hukuman selama hampir dua tahun di penjara dan keluar sebagai pria yang telah berubah. Beberapa tahun belakangan, ia telah menjadi agak melunak, terima kasih kepada penghargaan Lifetime Achievement Award pada saat Grammy 1986 dan namanya dilantik masuk ke Rock and Roll Hall of Fame.

Lahir di St. Louis pada 18 Oktober 1926, Charles Edward Anderson Berry belajar memainkan gitar blues sebagai seorang remaja dan pertama tampil di pertunjukan bakat di SMA-nya. Musik adalah cinta pertamanya, namun bukanlah pilihan karier pertamanya. Terlahir sebagai anak seorang tukang kayu, Berry bekerja di pabrik perakitan General Motors dan belajar untuk menjadi penata rambut. Dengan pianis Johnnie Johnson (bagian tetap dari bandnya beberapa tahun ke depan), Berry membentuk sebuah band pada 1952. Setelah bertemu legenda blues Muddy Waters, Berry diperkenalkan kepada bos Chess Records, Leonard Chess, pada 1955. Berry membawa serta lagu yang didasarkan kepada lagu country, "Ida Red." Dengan sebuah judul dan lirik baru – dan sebuah pembuka berupa lick gitar yang teratur dan mencuri perhatian — lagu tersebut diubah menjadi "Maybellene." Dalam sebuah perjalanan kembali dari suatu tempat, Berry membawa rilisannya akan lagu tersebut dan segera setelah itu menandatangani kontrak dengan labelnya. "[Chess] tidak percaya bahwa sebuah lagu country (ia menyebutnya "lagu kampungan") dapat ditulis dan dinyanyikan oleh seorang kulit hitam," tulis Berry dalam memoarnya pada 1987, Chuck Berry: The Autobiography.

"Maybellene" menduduki peringkat kelima di tangga lagu pada 1955 dan meroketkan musik dan karier Berry. Pada akhir 1950-an, ia telah berhasil memasukkan tujuh lagu lagi yang masuk ke dalam Top 40 lagu hit: "Roll Over Beethoven" (Peringkat 29), "School Day" (Peringkat Tiga), "Rock & Roll Music" (Peringkat Delapan), "Sweet Little Sixteen" (Peringkat Dua), "Johnny B. Goode" (Peringkat Delapan), "Carol" (Peringkat 28) dan "Back in the U.S.A." (Peringkat 37). Meskipun ia sudah berada di umur 30-an awal saat ia mencetak hit-hit tersebut, Berry tidak merasa malu tentang alasannya menulis untuk penonton yang lebih muda. "Apapun yang dapat menjual menjadi fokus saya," tulisnya dalam memoarnya, "jadi sejak dari 'Maybellene', saya terutama berimprovisasi pada lirik-lirik saya agar dapat dinikmati anak muda dan beberapa bahkan untuk para remaja, yang pada saat itu masih dilihat sebagai bayi."

Setiap lagu terdefinisikan dengan ciri khas Berry: campuran ketukan yang "mendorong" , karisma yang sedih, dan gitar yang berdering. "Hal indah saat Chuck Berry bermain adalah swing yang terlihat mengalir begitu saja," tulis Keith Richards dalam memoarnya, Life. "None of this sweating and grinding away or grimacing, just pure, effortless swing like a lion." Dalam sebuah konser pada 1956, Berry sangat khawatir karena ia hanya membawa satu setelan pakaian saja hingga ia menemukan sebuah gerakan panggung baru "untuk menyembunyikan kerutannya," ia memberitahu RS pada 1969. Gerakan tersebut, the duck walk, juga menjadi bagian dari kamus rock & roll.

Disengaja atau tidak, Berry juga menciptakan standar untuk bocah nakal rock & roll melampaui hukuman Mann Act-nya. Di awal hidupnya, Berry menghabiskan tiga tahun di sekolah khusus anak nakal atas percobaan perampokan bersenjata. Tahun 1979, ia dituntut atas penggelapan pajak dan mengisi pendapatan palsu di formulir pajak penghasilan, dan menghabiskan tiga bulan di penjara. (Saat penjatuhan hukumannya, ia tiba-tiba menangis.) Pada 1990, ia diperkarakan oleh beberapa wanita yang mengklaim bahwa Berry telah merekam mereka dalam video saat berada di toilet wanita, di restoran miliknya yang terletak di St. Louis. (Berry telah meraih sebuah kesepakatan di luar pengadilan.)

Saat ia dibebaskan dari sebuah penjara di Missouri pada Oktober 1963 atas hukuman kasus Mann Act-nya, Berry sakit hati, namun ia juga melihat jejak kakinya di seluruh band-band generasi baru. The Beach Boys telah merilis single pertamanya, "Surfin' Safari," yang dipengaruhi oleh Berry, sementara sebuah band baru dari Inggris, The Rolling Stones, merilis lagu Berry yang berjudul "Come On" sebagai single pertama mereka pada 1963. Pada awalnya, Berry melanjutkan apa yang sempat ia tinggalkan, menulis lagu-lagu baru yang bagus seperti "You Never Can Tell" dan "No Particular Place to Go" yang berpegang kuat kepada sikap riang dan sembrononya.

Pada 1966, Berry meninggalkan Chess, rumahnya untuk beberapa lama, untuk label lain, Mercury, namun konsekuensinya adalah album-album yang di bawah standar dan rilisan ulang dari hit-hitnya yang lemah. (Satu pengecualian signifikan: sebuah jamming dengan Steve Miller Band yang ditangkap lewat album mereka pada 1967, Live at the Fillmore Auditorium). Pada 1969, ia kembali bergabung dengan Chess – dan kembali membuat lagu-lagu intens seperti "Tulane," sebuah kejar-kejaran dengan penjual narkotika yang menunjukkan relevansi barunya. Pada 1972, ia mencetak hit pop pertama dan satu-satunya yang menduduki peringkat pertama, "My Ding-a-Ling." Album terakhir dari lagu-lagu originalnya, Rock It, dirilis pada 1979.

Berry adalah seorang yang terkenal keras dan cepat marah di luar panggung. Saat tur, ia melakukan perjalanan panjang sendiri, menggunakan band pengiring yang disewa oleh promotor. Ia menuntut pembayaran di muka, sebuah amplifier tipe khusus dan sebuah limosin (tanpa pengemudi) untuk pertunjukannya. Pada 1986, Richards mengumpulkan sebuah band pengiring yang diisi oleh para bintang (termasuk Eric Clapton, Robert Cray, dan pemain saksofon Bobby Keys) untuk bermain di belakang Berry dalam film dokumenter Hail! Hail! Rock 'n' Roll. Bahkan kemudian, Berry mengintimidasi Richards di atas dan luar panggung dan hanya muncul di hari pertama syuting setelah ia menuntut uang tunai ekstra sebesar 25 ribu dolar AS (kini sekitar Rp 332 juta). Terlepas dari segala kesulitan tersebut, film dokumenter keluaran 1987 yang disutradarai oleh Taylor Hackford tersebut menjadi satu dari film konser rock yang paling diakui.

Pada 2012, saat mengunjungi Cleveland untuk menerima penghargaan American Music Masters dari Rock and Roll Hall of Fame, musisi yang pada saat itu berusia 86 tahun tersebut memberitahu Rolling Stone bahwa ia semakin menua. "Pendengaran saya mulai memburuk," katanya. "Saya bertanya-tanya tentang masa depan saya. Ini baru berita!

"Well, saya akan memberi Anda sebuah puisi singkat," tambahnya, saat diminta untuk menjelaskan. "Memberikan Anda sebuah lagu? Saya tidak dapat melakukannya. Hari-hari menyanyi saya telah lewat. Suara saya telah hilang. Kerongkongan saya telah usang. Dan paru-paru saya semakin cepat. Sepertinya itu menjelaskan semuanya."

Hingga 2014, Berry masih lanjut tampil di berbagai kelab dan kasino. Sekali sebulan, ia bermain di Blueberry Hill, sebuah restoran dan bar di St. Louis, di mana pertunjukannya pada Oktober 2014 tersebut menjadi pertunjukan ke-209 selama berturut-turut di tempat tersebut, menurut Riverfront Times.

Berry tinggal di St. Louis namun sering menghabiskan waktu di Berry Park, sebuah properti berukuran 155 hektar di dekat Wentzville, Missouri. (Seperti yang ia katakan pada Rolling Stone pada 2010, ia bahkan tetap memotong rumput di sana.) Ketika ditanya oleh RS pada 1969 mengenai peranan rock, Berry berkata, "Seperti musik apapun, itu mempersatukan Anda, karena jika dua orang menyukai musik yang sama, mereka dapat berdiri berdampingan, gemetar, dan mereka akhirnya berdansa, dan itu adalah salah satu bentuk komunikasi, melebihi musik lainnya, bagi anak-anak."

Ia meninggalkan istrinya, Themetta "Toddy" Suggs, yang ia nikahi pada 1948, beserta empat anak-anaknya. (fra/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. 10 Film Indonesia Terbaik 2016
  5. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"

Add a Comment