Anak Chuck Berry Mengenang Sang Pionir Rock: “Dia Menginspirasi”

Tak lama sebelum kematian ayahnya, sang anak mengingat ayahnya yang keren dan bagaimana rasanya bermain satu band dengannya

Oleh
Chuck Berry pada 29 September 1972. Chess Records

Putra Chuck Berry satu-satunya, Charles Berry Jr. bergabung dengan band ayahnya di awal 2000-an dan bermain gitar bersamanya dalam tur yang keras pada dekade delapanpuluhan. Rolling Stone berbicara kepadanya minggu lalu tentang proyek yang akan datang, dan dia membagi beberapa memori mengesankan tentang ayahnya, yang wfat pada Sabtu lalu di umur 90. Berikut kutipan wawancara dari Berry Jr. yang berbagi kenangan mengenai ayahnya.

Satu-satunya perspektif yang saya punya tentang Chuck Berry adalah ia menjadi ayah saya. Saya tak punya kerangka referensi lain. Teman-teman saya punya ayah seorang dokter, pengacara, hakim. Ketika saya dibesarkan sebagai anak kecil, kami tinggal di sebuah jalan bernama Windermere Place, di sini di St. Louis. Dia akan bepergian ke luar kota selama berminggu-minggu. Dan semua anak tahu ketika dia pulang ke rumah, karena akan banyak tas berisikan hamburger White Castle. Dia akan pergi ke White Castle dan membeli ratusan hamburger ini dan membagikannya di jalan, dan tentu saja kami melahapnya. Semua orang akan berkata, "Ayahmu keren banget!"

Saya bergabung dengan band ayah saya sekitar 15 tahun lalu. Saya bekerja di bidang IT. Sebagai anak kecil, saya tidak pernah bermain dengannya kecuali dalam sebuah acara di Six Flags pada 1979. Saya di sana bersama teman-teman saya dan ayah melihat saya di depan di dalam ruang pers dan memanggil saya untuk bergabung. Dia melepas gitarnya dan menaruhnya di leher saya! Saya bahkan tidak pernah bermain secara profesional. Saya tidak pernah berada di dalam sebuah band. Itu adalah versi canggih dari Hari Membawa Anak Ke Tempat Kerja.

20 tahun setelahnya. Kami kembali dari Kennedy Center Honors di tahun 2000 dan beberapa minggu setelahnya, suami dari adik saya Ingrid, yang juga bermain di band ayah, meninggal dunia. Kami sangat sedih. Dia meninggalkan peran besar di band. Ayah saya berkata, "Hey anak muda, kapan saja kamu mau langsung naik ke panggung!" Saya berpikir, "Hal itu tak akan terjadi." Kemudian sekitar sebulan berlalu dia berkata, "Junior, saya membutuhkanmu sebagai gitaris." Akhirnya saya setuju. Saya melakukan banyak kesalahan.

Tapi dia tetap memilih saya. Dan ia menggunakan jasa kami cukup sering. Dia sering menggunakan band setempat untuk mengiringinya ketika promotor lokal tak bisa membawakan roti yang cocok – istilah ayah saya sendiri – tapi kebiasaannya menggunakan anak band lokal bisa dibilang berhenti (sejak ada kami).

Dia tak terlalu menjadi pemimpin band yang tegas saat bersama kami. Tampil di acara-acara tersebut tak membutuhkan latihan, langsung hajar saja. Beda dengan James Brown yang punya band sangat ketat. Sedangkan kami tidak tahu apa yang akan ayah lakukan berikutnya. Ketika kami melihat leher gitar ke bawah, semua orang berhenti. Ketika dia menghentakkan kakinya di tanah, berhenti. Kami tak pernah punya masalah. Dia adalah seorang pria berumur 80 tahun, tapi bertingkah seperti berumur 50 tahun. Satu-satunya yang melelahkan adalah saat Januari 2007. Kami tampil di 17 acara dalam 18 hari. Kami mulai di Moscow, Russia. Saat tampil di Moscow, kami terlambat empat jam dan para penonton masih setia menunggu. Kami berhasil tiba di sana dan saya tidak bercanda, ada sekitar 3000 orang di luar menunggu. Saya berpikir, mereka akan membunuh kami karena terlambat. Tapi orang-orang di luar sebanyak itu adalah yang tidak bisa masuk. Secara kapasitas sudah terjual habis.

Kami tampil di acara tersebut, kami pun kelelahan. Kami pergi dari Moscow dan tampil di semua acara ini sampai terakhir di Pulau Canary – mulai dari di bawah nol sampai 80 derajat iklimnya dalam dua minggu. Dia capek, tapi ketika kami mulai bersiap untuk tampil, dia akan bersemangat. Dia selalu memberikan 110 persen ketika berada di atas panggung. Untuk melihat seorang profesional sejati – pada saat itu ia berumur 80 tahunan, dan dengan energi seorang anak 10 tahun – Itu sangatlah inspirasional. Saya mencintai setiap menitnya, man, saya benar-benar merasakannya.

Ayah saya tidak suka terbang dengan pesawat kecil – apapun yang lebih kecil dari 737 – jadi tak ada pesawat pribadi, tak ada pesawat sewaan. Kami bepergian dengan mobil. Mercedes di Eropa, di Amerika, Lincoln atau Cadillac. Dia ingin meletakkan gitarnya, semua bagasinya di dalam mobil. Kadang promotor memberikan kami van berukuran besar, jadi (kadang) saya bilang ke ayah, "Hey ayah, saya lelah kenapa tidak membiarkan kami berkendara di dalam van?" "Ok, kali ini boleh."

Seringnya dia yang menyetir – Saya tak peduli kami berada di mana. Ayah saya tidak suka orang lain menyupirinya. Dia berpikir kalau dia adalah supir yang andal. Hanya ada sedikit orang yang bisa menyetiri dirinya – saya, adik saya, dan sudah itu saja. Tak ada bur tus. Dia sudah membuat banyak lagu tentang mobil – Contohnya, "No Particular Place To Go," "No Money Down." Dia sangat mencintai mobil. Dia adalah pecinta mobil sejati.

Dia selalu rekaman di rumah. Dia akan naik ke lantai atas dan berkata ke ibu saya, "Dengarkan ini." Dan ibu akan memberikan jempol ke atas atau jempol ke bawah. Jempol ke atas, artinya sudah selesai. Jempol ke bawah – "Saya punya PR yang mesti dikerjakan." Dia selalu menginginkan respons. Ketika dia tidak bekerja, dia akan menonton televisi, dengan dua proyektor berukuran enam kaki di hadapannya. Berita di satu layar dan tim baseball Cardinal di layar lain. Belakangan, dia hanya punya satu layar seukuran enam kaki dan HD TV 50 Inci. Dia kecewa Cardinal tidak menang tahun ini, tapi ibu saya besar di Chicago, jadi dia punya pilihan kedua yang bagus.

Tahun lalu, kami ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-90 dengan besar-besaran – kami ingin mengundang seluruh dunia. Lalu kami menyadari bahwa kami pernah melakukannya. Jadi akhirnya hanya merayakan dengan keluarga saja. Kami membuatnya di rumah, dan tetap meriah.

Dia berhenti konser pada 2014. Dia telah berada di bisnis ini selama 64 tahun. (Pada akhirnya) dia berkata, "Saya siap gantung sepatu." Dia berhenti rekaman tahun itu juga. Setelahnya, beberapa orang dari keluarga pergi ke studio untuk menyelesaikan bagian kami bagi album terakhir ayah. Saya dan anak saya pergi ke Nashville. Itulah untuk pertama kalinya saya rekaman di studio – sama seperti anak saya, yang baru bermain untuk kalangan sekolah menengah saja. Momen tersebut sangat spesial. Anak saya mengeluarkan kemampuan solo terbaiknya. Seringai di wajah saya cukup jelas. Orang-orang di ruang kontrol terlihat kaget. Sangat bagus. Dan sepertinya saya mengerti bagaimana perasaan ayah saya ketika saya mulai bermain band dengannya.

Seperti diceritakan kepada Patrick Doyle.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  2. Shaggydog, FSTVLST, Jalu TP Siap Tampil di RadioShow Yogyakarta
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Komentar Jujur Efek Rumah Kaca tentang Kepemimpinan Presiden Jokowi
  5. Kenang Musik Era '90-an, Sajama Cut Meluncurkan ‘Subscription Series’

Add a Comment