'Philosophy Gang': Kisah Album Legendaris The Gang of Harry Roesli

1973, sekelompok anak muda bengal Bandung merekam sebuah album rock di ibukota. Puluhan tahun berikutnya album tersebut ditemukan anak-anak muda yang kemudian memujanya

Oleh
Sampul album asli 'Philosophy Gang' (1973) dari The Gang of Harry Roesli. Lion Records

Banyak orang mengenal Harry Roesli sebagai musisi nyentrik dengan ciri khas album tematik, eksperimentasi suara sampai ide-ide ajaib. Album Ken Arok dan Titik Api bisa dibilang puncak kemahsyurannya dalam bermusik. Kedua album tersebut tercipta di masa keemasan musik rock Indonesia. Tapi jauh sebelum publik mengenal Harry Roesli sebagai sosok yang biasa dipotret, ia bersama beberapa teman membuat album yang direkam sekadarnya.

Nama album tersebut adalah Philosophy Gang, nama bandnya The Gang of Harry Roesli. Kedua nama tersebut tercetus begitu saja, tak ada filosofi yang berarti. Berisikan tujuh lagu bernuansa campuran antara funk, progressive, jazz, dan blues. Sisi A berisi tiga lagu yaitu "Peacock Dog", "Roda Angin", "Don"t Talk About Freedom". Sisi B memuat empat lagu yaitu "Borobudur", "Imagine (Blind)", "Malaria", dan "Roses". Kebanyakan lagu diciptakan oleh Harry Roesli, dengan dua di antaranya yaitu "Don"t Talk About Freedom" dan "Roses" ditulis oleh Albert Warnerin.

Uniknya, dalam sebuah wawancara dengan majalah budaya pop legendaris asal Bandung, Aktuil, Harry Roesli sempat membocorkan bahwa judul album ini awalnya adalah Philosophy in Rock. "Pada hakekatnya filsafat, agama dan musik adalah pokok hidup yang tak ternilai harganya. Ketiga-tiganya selalu berbimbingan tangan, berikat-ikatan. Jadi, timbul tenggelamnya musik sehingga berkembang menjadi apa yang kita namakan sekarang musik rock, jelas dipengaruhi oleh perhatian manusia terhadap filsafat. Dilihat dari penilaian pandangan hidup, musik rock merupakan 'JANJI KEBAHAGIAAN,' dan janji itu lahir dari kreasi manusia sendiri. Artinya, segi falsafah dalam musik rock adalah janji," jelas Harry Roesli seperti dikutip dari majalah Aktuil.

Sementara saat ditanya lebih lanjut oleh jurnalis Aktuil terkait namanya diadopsi menjadi nama band ini, apakah itu berarti ide-ide musik datang hanya darinya seorang, dengan santai Harry Roesli menampiknya. "Interpretasinya tidak demikian, sebab semua personel memberikan ide-idenya untuk suksesnya group dan rekaman. Sebetulnya kami merencanakan nama 'PHILOSOPHY GANG' tapi pihak sponsor memberikan nama yang sekarang ini," jelas Harry Roesli.

"Dilihat dari penilaian pandangan hidup, musik rock merupakan 'JANJI KEBAHAGIAAN,' dan janji itu lahir dari kreasi manusia sendiri." - Harry Roesli

Pada akhir 2007, album Philosophy Gang ini dipilih oleh sidang para kolektor rekaman, tokoh musik berpengaruh dan awak redaksi Rolling Stone untuk bertengger pada posisi ke-34 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Pengamat musik senior mendiang Denny Sakrie menulis tentang album ini pada edisi tersebut. "Dengan barisan lirik lagu yang tak lazim dan penyajian musik eklektik, Harry Roesli memang seolah melesat jauh ke depan. Dia banyak bermetafora dalam mendeskripsikan tema lagu yang acapkali beraroma protes... Album ini merupakan langkah awal Harry dalam menghasilkan musik protes dengan nuansa satir," ujarnya.

Harry Roesli. (dok. Keluarga Harry Roesli)

Harry Roesli bermain bass, gitar akustik, perkusi dan tentu mengisi vokal di album ini. Ia saat itu diiringi oleh Albert Warnerin (gitar, perkusi, vokal), Janto Soedjono (drum, perkusi), Indra Rivai (organ, piano, perkusi), Hari Pochang (harmonika, perkusi, vokal), dan Dadang Latief (gitar akustik, funny maker). Di album juga ada kredit untuk visual art yaitu oleh Ade Murad Handoyo. Dengan bantuan fotografi dari Sun Liong dan Maestro. Produser disematkan kepada Robert Wong Jr dan ibunya juga Lion Magazine Singapore.

Beberapa personelnya mengaku album ini adalah album pertama yang mereka rekam. Kisaran umur para personelnya ketika itu awal 20-an tahun dan masih mengenyam bangku kuliah. Di antara mereka, Albert Warnerin adalah yang tertua, usia Harry Roesli sendiri pada saat itu baru 22 tahun. Kini tinggal dua personel yang masih hidup.

Dua orang yang masih bertahan untuk menceritakan album klasik nan legendaris tersebut adalah Indra Rivai dan Hari Pochang. Albert Warnerin meninggal dunia pada Agustus 2016, Harry Roesli tutup usia lebih dari dua belas tahun lalu pada akhir 2004, lalu Janto Soedjono dan Dadang Latief juga sudah berpulang. Dua nama awal adalah teman nongkrong sesama mahasiswa Universitas Padjajaran. Pochang mengambil hukum, Indra bersekolah di fakultas ekonomi. Pochang sudah lebih dulu bermain bersama Harry Roesli sedangkan Indra datang belakangan.

Lagu-lagu The Gang of Harry Roesli sebenarnya sudah lama dibuat. Hasil jamming yang terinspirasi dari wabah musik rock yang melanda tanah air. Pada saat itu memang anak muda Indonesia sedang keranjingan musik-musik impor. Di era Orde Baru, larangan memainkan musik yang disebut Soekarno sebagai ngak-ngik-ngok perlahan menghilang, rock kembali merajalela. Berkat pemancar radio independen, lagu-lagu keras berkumandang ke segenap penjuru kota.

The Gang of Harry Roesli saat tampil di Gelora Pancasila, Surabaya, 1977. (dok. el_yucatan)

Suatu hari tiba tawaran dari sebuah label rekaman asal Singapura bernama Lion Records. Pemiliknya Robert Wong Jr. berniat memodali mereka untuk merekam sebuah album di Musica Studios, Jakarta. Pergilah mereka kemudian ke ibu kota untuk merekamnya. Lagu-lagu yang sudah ada diasah lagi. Beberapa lagu lain bahkan diciptakan di studio. Indra mengatakan kepada Rolling Stone bahwa proses rekaman album memakan waktu sampai dua hingga tiga minggu lamanya, sementara Pochang bilang hanya satu minggu. Dapat dimaklumi jika jawaban mereka berbeda antara satu dengan lainnya, mengingat peristiwanya terjadi lebih dari 44 tahun yang lalu. Satu yang jelas, selama di Jakarta mereka tinggal di rumah keluarga besar Harry Roesli di daerah Menteng.

Indra mengatakan proses penggarapan album tersebut terbilang lancar, walaupun menggunakan teknologi seadanya. "Kita manfaatkan saja apa yang ada," ujarnya. Alhasil ia mengakui ada kesalahan-kesalahan kecil yang dibiarkan. Album terdengar seperti jamming yang panjang dengan semangat kebebasan.

Indra Rivai pada September 2016. (Facebook/Ade Tarmin)

Keduanya mengaku terkejut akan popularitas album Philosophy Gang yang muncul belakangan. Meskipun mengakui bahwa album itu spesial, mereka tak terpikir sama sekali kalau generasi muda pecinta musik hari ini akan menemukan kembali bahkan menyukainya. Faktor utama yang membuat mereka berdua heran adalah fakta bahwa album tersebut tidak pernah dijual secara resmi.

Banyak cerita beredar mengenai fakta tersebut. Pada beberapa blog ditulis album ini tidak bisa diedarkan di Indonesia karena labelnya berasal dari Singapura dan ada permasalahan perizinan yang tak diperkirakan. Indra membenarkan cerita tersebut, sementara Pochang bilang kalau album tersebut memang dibuat dengan semangat anak muda saja, tanpa keinginan menjual. "Dulu kan yang populer itu musik pop, jadi album kayak begini tidak akan laku," katanya dalam wawancara via telepon dengan Rolling Stone.

Hari Pochang pada Februari 2017. (Facebook/Ruang Putih Bandung)

Alhasil piringan hitam yang sudah sampai ke Indonesia dari lokasi manufakturnya di Singapura akhirnya dibagikan secara cuma-cuma. Tanpa menyadari nilainya di kemudian hari, piringan hitam-piringan hitam tersebut diberikan kepada pihak keluarga, teman-teman dan stasiun radio. Untunglah album tersebut sempat diterima radio, karena kemudian salah satu lagunya sempat menjadi hit, "Malaria". Salah satu anthem rock yang tak lekang zaman dan pernah didaur ulang oleh Erwin Gutawa untuk album Rockestra miliknya. Lagu itu juga berhasil terpilih ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone. Popularitas lagu tersebut sukses menyingkirkan lagu-lagu lainnya di album tersebut. Dalam waktu yang lama, album Philosophy Gang kemudian dikenang berkat lagu tersebut.

Kritikus musik Herry Sutresna pada akhir 2012 dalam edisi 10 Lagu Protes di majalah Rolling Stone Indonesia memuji habis "Malaria." Ia dengan lantang menulis, "Seperti lagu-lagu lainnya dalam album ini bersuara, 'Malaria' terdengar melampaui zamannya. Gado-gado abrasif dari musik rock, folk, hingga funk yang kentara, blues hingga jazz dan membuat saya melihat tetangga saya, Om Hari Pochang, berbeda sejak mendengar permainan harmonika-nya yang nyerempet War di album ini. Banyak yang berpendapat 'Peacock Dog' adalah lagu politis terbaik di album ini, namun saya pikir justru 'Malaria' lah yang juara. Terlebih untuk potongan lirik provokatif ini; "Apakah kau seekor monyet yang hanya dapat bergaya / Kosong sudah hidup ini bila kau hanya bicara/ Lantai kamarmu kan berkata mengapa Nona pengecut?'. Tak jelas memang untuk siapa lirik itu ditujukan, namun jika melihat sejarah pembangkangan sipil di Indonesia yang penuh dengan cerita kepengecutan kelas menengahnya, nampaknya lirik ini diperuntukkan bagi mereka."

"'Malaria' terdengar melampaui zamannya... jika melihat sejarah pembangkangan sipil di Indonesia yang penuh dengan cerita kepengecutan kelas menengahnya, nampaknya lirik ini diperuntukkan bagi mereka" - Herry Sutresna

Faktor lain yang menyebabkan lagu-lagunya kurang diingat adalah penampilan langsung The Gang of Harry Roesli membawakan materi lagu dari album tersebut terbilang jarang. Sulit mencari jadwal manggung bagi band-band lokal masa itu. Kalaupun sempat manggung, mereka biasanya hanya tampil di acara pesta ulang tahun bergaya Amerika Serikat yang memang marak di kalangan anak-anak muda saat itu. "Jadi acaranya di ruang tengah rumah lalu penonton mengelilingi kami. Alat juga seadanya," kata Indra. Namun Gang of Harry Roesli sempat juga mempertontonkan lagu-lagunya kepada khalayak ramai dalam sebuah festival musik akbar yang bertajuk Summer "28 (kependekan dari Suasana Meriah Menjelang Kemerdekaan ke-28) yang digelar di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Summer "28 sempat diabadikan oleh Aktuil. Festival yang menampilkan puluhan band ternama Indonesia seperti Koes Plus, Godbless, Mercy's, Los Morenos, Bimbo Group dan sebagainya ini merupakan salah satu momen penting dalam sejarah showbiz di Indonesia. Pada saat itu, festival musik akbar macam begini terbilang jarang (Majalah Aktuil dalam resensinya bahkan menyebut acara ini sebagai "Mini Woodstock Indonesia pertama di Ragunan, Jakarta yang merupakan angan-angan muda mudi idealis Indonesia.")

Band-band pop dan rock tumpah ruah di satu acara, di lokasi studio film Interstudio di daerah Ragunan (kini menjadi Bumi Perkemahan Ragunan). Jangan berkhayal panggungnya sebesar festival musik megah sekarang, panggungnya hanya selebar 15 x 10 meter persegi dengan tinggi sekitar 3 meter. Namun euforia musik rock yang melanda anak muda Indonesia saat itu benar-benar tersalurkan. Disitulah The Gang of Harry Roesli tampil, direkam dalam foto, dan ditulis oleh berbagai media.

Para penampil di festival Summer '28. (dok. Aktuil No.128/1973)

Rendi Pratama, pemilik label La Munai Records yang akan merilis ulang piringan hitam Philosophy Gang harus bersusah payah mencari bukti foto tentang tampilnya The Gang of Harry Roesli di acara tersebut. Dengan kegigihannya, akhirnya ia menemukan alamat pemilik foto aslinya dan melihat rol film yang kebanyakan fotonya diambil hanya dari satu sisi. Foto-foto ini nantinya bakal masuk ke bagian dalam sampul album vinil Philosophy Gang yang akan datang.

Rendi adalah seorang kolektor yang mencintai musik Indonesia lama. Namun awalnya ia mengaku tak terlalu sreg untuk mencari tahu lebih lanjut tentang album Philosophy Gang. Lagu "Malaria" menurutnya adalah penyebab utamanya.

"Kayaknya karena lagunya rock om-om gitu," katanya sambil tertawa. Album tersebut kembali menjadi pembicaraan berkat rilisnya Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970-1978, sebuah album kompilasi yang merangkum musik rock Indonesia era '70-an dan dirilis pada Maret 2011. Nama-nama yang tercantum di album tersebut memang tergolong jarang diwariskan musiknya oleh generasi tua kepada generasi masa kini. Nama-nama band seperti The Brims, Shark Move, dan lain-lain sempat tersimpan dan berdebu hanya di benak orang-orang tertentu. Salah satu lagu Gang of Harry Roesli termasuk pula di sana, sebuah nomor funk instrumental candu karya gitaris Albert Warnerin, "Don"t Talk About Freedom".

Karena album Philosophy Gang kembali menjadi buah bibir, orang-orang pun mulai ramai memburunya. Banyak kolektor yang beruntung mendapatkan album dengan kondisi bagus. Rendi menebak, kepingan-kepingan piringan hitam tersebut adalah koleksi Hari Pochang yang memang sempat hilang. Indra Rivai pun sempat memiliki ratusan keping namun belakangan tak memegang sama sekali. Ketertarikan orang banyak dengan album tersebut membuatnya menyuruh anaknya untuk memburu lagi album tersebut. Anaknya menemukan album tersebut dijual Rp 800 ribu. Indra pun membelinya kembali.

Bukan hanya kolektor, album ini juga menjadi sasaran empuk bagi label rekaman. Rumornya, pemilik label rekaman dari luar negeri maupun dalam negeri mulai mendatangi Rumah Musik Harry Roesli menawarkan diri untuk mencetak sekaligus merilis ulang album tersebut. Semuanya ditolak oleh ahli waris Harry Roesli. Banyak alasan yang dikemukakan. Rendi bersama La Munai Records tergolong beruntung. Usaha pertamanya diterima dengan baik oleh keluarga Harry Roesli. Setelahnya Rendi berkeliling menemui keluarga para musisi The Gang of Harry Roesli untuk meminta izin. Bagusnya semua orang membuka pintu lebar-lebar. Nantinya pembagian royalti hasil penjualan piringan hitam album rilisan La Munai tersebut akan diberikan lewat Rumah Musik Harry Roesli. Album format piringan hitam Philosophy Gang pun dicetak lagi di luar negeri.

The Gang of Harry Roesli saat tampil di GOR Saparua, Bandung, 23 September 1973. (dok. Aktuil No.130/1973)

Satu bagian penting saja yang tak bisa ditemui Rendi yaitu Lion Records. Label rekaman yang mendanai sekaligus memegang master dan melakukan mixing hilang tak jelas dimana rimbanya. Alamat yang dulu diberikan kini telah berubah menjadi toko kelontong. Di saat perilisan dulu memang hanya Harry Roesli yang kenal dengan Robert Wong Jr., sosok di balik label tersebut. Indra menanggapi hal tersebut dengan berseloroh, "Harry kan ingin kelihatan keren. Biar seakan-akan dibuat di luar negeri."

Versi terbaru piringan hitam Philosophy Gang kini telah dicetak ulang di Prancis, setelah menuntaskan proses mastering di Indonesia. Philosophy Gang dicetak sebanyak 500 keping. Sekitar 300 keping rencananya akan diedarkan di Indonesia. Sisanya untuk pasar Jepang dan Eropa. Untuk versi Indonesia, album akan disertai foto dan liner notes. Sedangkan Eropa disertai sampul album biasa. Edisi Jepang akan sedikit berbeda, karena mengikuti standardisasi rilisan Negeri Matahari Terbit tersebut yaitu pergantian bahasa dan sebagainya.

Segera! #thegangofharryroesli

A post shared by LaMunai (@lamunairecords) on


Pesta rilis resmi sekaligus penjualan perdana album piringan hitam Philosophy Gang karya The Gang of Harry Roesli dari La Munai Records ini bakal berlangsung pada Jumat (17/3) besok mulai pukul 19:00 WIB di Auditorium SAE, Jl. Pejaten Raya No. 31, Jakarta Selatan. Acara yang terbuka untuk umum ini akan menampilkan sesi bincang-bincang tentang album legendaris tersebut bersama Hari Pochang, Indra Rivai (Gang of Harry Roesli), Edy Khemod (drummer Seringai), David Tarigan (Irama Nusantara) dan para aktivis Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Bakal diputar pula untuk pertama kalinya teaser film dokumenter The Gang of Harry Roesli serta penampilan musik dari Jason Ranti, RMHR, dan Shunsuke. Yang menarik, kabarnya bakal ada penampilan spontan antara Hari Pochang dengan Indra Rivai memainkan beberapa nomor dari Philosophy Gang.

44 tahun setelah album dibuat, Philosophy Gang melewati tantangan zaman dan menjadi bukti bahwa musik rock Indonesia adalah sebuah kanvas yang luas. Pembauran musik funk, jazz, progressive dan blues yang saat pertama kali dibuat seakan tak pernah direncanakan itu ternyata kini menjadi warisan penting bagi para penggemar musik Indonesia generasi baru. Tugas generasi muda sekarang adalah melestarikan agar kenangan ini awet dan dapat menjadi semangat berkarya ke depan.

*Beberapa informasi dan paragraf tambahan oleh Wendi Putranto

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  3. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  4. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana
  5. Jazz Gunung Bromo 2017 Siap Diselenggarakan

Add a Comment