9 Fakta dan Kontroversi Wage Rudolf Supratman

Catatan menarik untuk mengenang sang pencipta lagu kebangsaan sekaligus alasan utama dirayakannya Hari Musik Nasional

Oleh
Patung WR Supratman yang berada di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. (akusenang.com)

Kisah mengenai lahirnya lagu kebangsaan Indonesia diawali sejak 1903, saat seorang anak bernama Wage Supratman dilahirkan. Dalam perjalanan hidupnya hingga wafat pada 17 Agustus 1938, kisah sosok ini terlalu menarik untuk tidak dibahas berkat beberapa polemik dan kontroversi mengenai asal usul dirinya. Hingga saat teks ini disusun pun, beberapa fakta dan kontroversi mengenai dirinya masih belum dapat dipastikan kebenarannya. Persis seperti berbagai peristiwa sejarah nasional yang masih penuh misteri.

Jika harus dirangkum, Supratman kecil tinggal di tempat ayahnya berdinas sebagai anggota KNIL. Saat sedang menetap di Cimahi, ibunya meninggal dan tak lama sejak itu ia mengikuti keluarga kakak sulungnya di Makassar. Selama tinggal di kota itu, Supratman mendapat banyak hal termasuk kemampuan bermusik dan percikan semangat kebangsaan. Yang terakhir ini pula yang membawanya kembali ke pulau Jawa bersama biola pemberian kakak iparnya, WM van Eldik.

Perjalanan dan kiprahnya setelah meninggalkan Makassar menjadikan namanya harum dalam catatan sejarah Indonesia. Meski wafat sebelum Sang Saka Merah Putih bebas dikibarkan di seluruh penjuru Nusantara, namun apa yang dilakukan Wage Rudolf Supratman menempatkan namanya dalam barisan pahlawan nasional. Cita-cita dari seorang komponis sekaligus nasionalis berhasil ia gabungkan untuk membuat karya musik yang mampu menggugah semangat kebangsaan. Karya monumentalnya melesat dan menjadi gaung yang akan terus berbunyi sepanjang republik ini berdiri. Sosok ini terlalu penting untuk dilewatkan sehingga hari lahirnya pun dirayakan sebagai Hari Musik Nasional.

Untuk ikut merayakan Hari Musik Nasional, Rolling Stone Indonesia merangkum sembilan fakta dan kontroversi dari sang komponis legendaris, Wage Rudolf Supratman:

9) Lagu Pertama dan Terakhir yang Diciptakan

Inilah foto terakhir WR Supratman yang diambil tiga bulan sebelum wafat pada 17 Agustus 1958. (dok. Anthony C. Hutabarat)

Sebelum menciptakan lagu yang hingga saat ini terabadikan menjadi lagu nasional Indonesia, Supratman sempat menciptakan beberapa lagu. Dalam buku biografi Wage Rudolf Supratman tulisan Bambang Sularto, dinyatakan kalau karya musik pertama yang ia buat berjudul "Dari Barat Sampai Ke Timur" pada 1926. Lagu ini dinilai cukup mirip dengan "La Marseillaise" karena pada saat itu Supratman memang terkagum dan sangat terpengaruh oleh lagu kebangsaan Prancis tersebut. Setelah lagu ini, ia juga sempat menulis lagu berjudul "Indonesia, Hai Ibuku......!" dan " Bendera Kita" di tahun 1928.

Buku yang sama juga mencatat kalau karya terakhir yang diciptakan Supratman adalah "Matahari Terbit". Lagu itu diciptakan sekitar Juni hingga Juli 1938, tak lebih dari tiga bulan sebelum beliau meninggal pada 17 Agustus 1938.

8) Sejarah "Indonesia Raya"

Salah satu dari dua terbitan asli lagu 'Indonesia Raya' di Sin Po, edisi 10 November 1928. (Sin Po/Wikipedia)

Tak bisa dipungkiri, "Indonesia Raya" adalah salah satu karya terpenting Supratman bagi bangsa Indonesia. Lagu ini pertama kali diperdengarkan di hadapan khalayak pada hari ketiga Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 yang diketuai Sugondo Joyopuspito. Ketika Supratman membawa rancangan lirik lagu yang akan diperdengarkan, Sugondo sempat cemas karena kongres itu dikawal oleh aparat dari Hindia Belanda yang bisa menghentikan kongres jika terdapat muatan yang menyinggung pemerintah. Akhirnya saat itu Supratman tampil tanpa syair sebelum kongres ini membacakan hasil akhir. Waktu itu, lagu yang dibawakan secara instrumental ini masih berjudul "Indonesia".

Setelah sesi dengar perdana, banyak permintaan akan notasi lagu tersebut sehingga pada November 1928, notasi lagu "Indonesia" dimuat di edisi mingguan Sin Po. Media lain seperti Suluh Rakyat Indonesia dan Pers Melayu juga ikut menyebarkan lagu karangan Supratman itu. Judul "Indonesia Raya" baru digunakan Supratman ketika hendak menyerahkan teks lirik lagu ini kepada panitia Kongres Kedua PNI yang mengumandangkan lagu ini.

Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie, dituliskan bahwa penyebarluasan lagu ini dengan cara lain juga terjadi pada 1929 ketika untuk pertama kalinya, lagu "Indonesia Raya" direkam dan dirilis dalam format piringan hitam 78 rpm oleh perusahaan rekaman Tio Tek Hong. Dalam lagu itu terdengar pria bersuara tenor dengan iringan orkes walau tidak diketahui siapa nama para pengisi lagu. Saat itu pula sisa piringan hitam "Indonesia Raya" yang belum terjual disita oleh polisi pemerintah Hindia Belanda dan lagu ini pun dilarang keras diputar. Hingga saat ini, versi rekaman"Indonesia Raya" terdapat lebih dari satu, Lokananta masih menyimpan piringan hitam lagu ini dalam versi lainnya.

Lagu ini resmi menjadi lagu nasional setelah pada 1944 Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia membuat keputusan. Kepanitiaan ini diketuai oleh Soekarno dan dianggotai Ki Hadjar Dewantara, Achiar, Sudibyo, Darmawidjaja, Koesbini, K.H. M. Mansjur, Mohammad Yamin, Sastromoeljono, Sanusi Pane, C. Simanjuntak, Achmad Soebardjo dan Oetojo. Dalam kesempatan itu juga lagu ini sedikit diubah dari versi aslinya.

Di awal kemerdekaan sempat terdapat perbedaan dalam membawakan lagu ini. Maka pemerintah melalui Penetepan Presiden No. 28 Tahn 1948, pada 16 November 1948 membentuk Panitia Indonesia Raya. Kemudian pada 26 Juni 1958, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya agar terjadi keseragaman nada, irama, iringan kata dan gubahan. Juga untuk menetapkan waktu dan cara penggunaannya.

7) Sempat Menulis Roman

WR Supratman (duduk) berpose dengan dua saudara tirinya (Suprapto dan Salimin) serta seorang sahabatnya pada 1933. (dok. Anthony C. Hutabarat)

Saat bekerja sebagai wartawan, Wage terinspirasi dengan Kongres Perempoean Indonesia Pertama ada 22-25 Desember 1928. Dari situ ia terinspirasi oleh sosok Kartini yang banyak dibicarakan sehingga Supratman menciptakan "Ibu Kita Kartini". Tak hanya lagu, ia pun membuat roman berjudul Perawan Desa yang selesai di tahun 1929.

Namun sayang, sebelum sempat tersebar ke khalayak roman ini disita oleh pemerintah Hindia Belanda. Supratman hanya menyatakan kalau beberapa buku sempat terkirim ke beberapa saudaranya di Surabaya, Bandung dan Cimahi. Walau fakta ini masih belum bisa dibuktikan, salah satu sumber yang tertulis di buku biografi Supratman karangan Bambang Sularto menyatakan kalau Supratman sempat membuat dua karya teks lainnya bertajuk Darah Muda dan Kaum Fanatik.

6) Profesi Lain Sang Komponis Legendaris

WR Supratman pernah menjadi wartawan koran Tionghoa pertama di Indonesia, Sin Po. (majalahkuno.blogspot.com)

Sehabis lulus sekolah dasar, Supratman belajar bahasa Belanda dan sempat lulus ujian KAE (Klei ambtenaar Examen), dari situ ia melanjutkan pendidikan ke sekolah keguruan atau Normaal School agar bisa menjadi guru negeri untuk sekolah dasar. Berbekal pendidikannya, ia mendapatkan jalan untuk menjadi guru bantu yang bertugas di salah satu sekolah dasar di Makassar. Pada saat itu, untuk menjadi guru tetap Supratman harus lebih dulu mengajar di tempat lain dan ia mendapat tugas di daerah Singkang. Rencana mengajar di wilayah itu kurang disetujui keluarga kakak sulungnya sehingga ia lebih memilih mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai seorang guru.

Setelah memberhentikan karier Supratman sebagai guru, pada 1923 kakak iparnya, WM van Eldik berhasil membantu Supratman mendapatkan pekerjaan sebagai seorang juru tulis di kantor dagang Firma Nedem di Makassar. Tak betah berada di sana, Supratman pindah ke tempat lain berkat bantuan kakak iparnya lagi, kali ini di kantor pengacara Mr. Sculten. Pekerjaannya di tempat ini pula yang memulai persentuhannya dengan tokoh-tokoh pergerakan. Dari situ kesadaran politik Supratman terus tumbuh sehingga pada akhirnya ia memutuskan kembali ke Jawa.

Perjalanan baru Supratman dimulai di Surabaya pada 1924 di mana ia tinggal bersama keluarga kakaknya yang kedua, Rukina Supratinah. Kemudian ia kembali pindah ke rumah ayahnya di Cimahi sebelum akhirnya tinggal di Bandung dan bekerja sebagai wartawan untuk Kaum Muda. Pekerjaan baru di tempat anyar ini cukup mengagetkan bagi Supratman karena upah yang ia dapat cukup rendah. Untuk menggandakan penghasilan, Supratman menambah pekerjaan dengan menjadi pemain biola untuk kelompok musik tetap di gedung Societet Bandung.

Setelah Kota Kembang, Supratman pindah ke Betawi untuk menjadi salah satu editor di biro pers Alpena yang juga memberikan upah kecil. Selanjutnya Supratman pindah ke surat kabar Sin Po.

5) Sempat Bergabung dengan Band Jazz

WR Supratman ketiga dari kiri memegang biola saat berpose bersama Black and White Jazz Band. ( (dok. Anthony C. Hutabarat)

Fase perkenalan Supratman dengan musik berbarengan dengan dimulainya lembaran baru hidupnya di Makassar bersama keluarga van Eldik, suami kakaknya yang mahir bermain biola juga menjadi inspirasi sekaligus guru musik Supratman. Bersama suami kakak sulungnya itu pula, Supratman sempat tergabung dalam sebuah band jazz bernama Black and White Jazz Band.

Grup ini terbentuk pada 1920 oleh WM van Eldik dan terdiri dari enam orang personel. Bersama grup ini Supratman menjadi paham rasanya tampil di hadapan umum semenjak ia mulai belajar bermain musik. Penampilan perdana Supratman sebagai pemain biola sendiri dimulai saat kelompok ini menyelenggarakan gelaran malam musik jazz di dalam kompleks Kees. Dari situ, Black and White Jazz Band tampil di berbagai tempat mulai dari gedung Balai Kota, rumah pejabat tinggi, hingga di gedung Societeit Makassar.

4) Kontroversi Pasangan Hidup

Salamah (kiri) bersama Ibu Tjiptomangunkusumo (kanan) usai menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden Soekarno pada 1961. (Pak SIN)

Banyak pihak mencatat sosok Wage Rudolf Supratman tidak pernah menikah juga memiliki keturunan hingga akhir hayatnya. Namun, menurut buku biografi Wage Rudolf Supratman karya Bambang Sularto yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2012) menulis bahwa ia pernah mempersunting seorang perempuan ketika tinggal di Betawi.

Menurut buku ini, pada akhir 1926 ketika tinggal di daerah Kwitang, Supratman sempat memiliki hubungan khusus dengan Mujenah yang merupakan gadis dari kampung Petojo atau kampung Pejambon. Kisah ini harus berakhir katika Mujenah akhirnya dipingit dan dinikahkan dengan lelaki lain. Namun cerita asmara dengan Mujenah ini tidak bisa diungkapkan secara jelas hingga saat ini.

Masih di fase hidup yang sama, Supratman berkenalan dengan seorang janda muda bernama Salamah. Dari perkenalan itu Supratman menemani perempuan itu ke Baros, Cimahi dan keduanya sepakat untuk hidup bersama sekembalinya ke Betawi. Pasangan ini baru menikah pada 1928 ketika tinggal di kampung Rawasari, saat menyewa pondok milik keluarga Haji Solikhin yang kemudian menjadi wali nikah mereka. Keluarga Supratman kurang menyetujui hubungan ini sejak awal dan tak mengakui Salamah sebagai istri sang komposer setelah keduanya menikah. Setelah tinggal selama tujuh hingga delapan tahun, pada 1934 Supratman terkena penyakit yang mengharuskannya pulang ke rumah keluarga di Cimahi. Sejak saat itu, ia tak pernah bertemu lagi dengan Salamah.

3) Asal Usul Nama Wage Rudolf Supratman

WM van Eldik, kakak ipar sekaligus guru musik W.R. Supratman. (dok. Anthony C. Hutabarat)

Terlahir sebagai pribumi dengan nama Wage Supratman, saat tinggal di Makassar suami kakak sulungnya yang bernama WM van Eldik ingin adik iparnya bisa mengenyam pendidikan di sekolah khusus anak-anak dan keturunan Belanda, Europees Lagere School atau disingkat menjadi ELS. Pada masa itu, agar bisa bersekolah di sana Supratman yang seorang pribumi harus mendapat status persamaan (gelijkgesteld) agar sederajat dengan seorang Belanda.

Untuk mewujudkan keinginannya, sang kakak ipar menjadikan Supratman sebagai anak angkat dan menambahkan nama Eropa agar "penyamaran" itu lebih meyakinkan. Kemudian diselipkan lah nama Rudolf pada diri Supratman setelah mendapat persetujuan dari anggota keluarga lainnya.

Sejak saat itu namanya menjadi Wage Rudolf Supratman dan bisa bersekolah di ELS. Namun beberapa bulan kemudian ia dikeluarkan karena pihak sekolah mengetahui Supratman bukan anak kandung WM van Eldik dan bukan pula anak seorang raja, bangsawan, priyayi atau pribumi berkedudukan tinggi.

2) Tanah Kelahiran Sebenarnya

Patung W.R. Supratman yang berada di Jl Ahmad Yani, Purworejo. (Gunarto Pituruh)

Dokumen awal mencatat kalau Supratman lahir di Meester Cornelis alias Jatinegara. Namun sejatinya, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya" tersebut lahir di Dukuh Trembelang wilayah Desa Somongari, Purworejo. Hal ini disahkan setelah beberapa saksi sejarah dan Pengadilan Negeri Purworejo menetapkan hal ini dalam ketetapan nomor 04/Pdt/P/2007/PN PWR pada 29 Maret 2007.

Dalam buku biografi yang ditulis Bambang Sularto yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2012) disebutkan bahwa Meester Cornelis hanyalah tempat yang tertulis dalam keterangan (akte) kelahiran Supratman. Pasalnya, saat itu Meester Cornelis merupakan tempat dinas ayahnya yang merupakan seorang anggota KNIL. Pada masa itu, sudah lazim bagi anggota KNIL pribumi asal Jawa Tengah untuk menulis daerah dinas sebagai tempat lahir anaknya jika sang bayi terlahir di desa. Hal tersebut juga kerap dilakukan banyak anggota KNIL asal Somongari, walau alasan melakukan hal itu masih belum jelas.

Tak hanya itu, dalam buku itu juga ditulis kalau beberapa bulan sebelum melahirkan, ibu dari Supratman memang pulang ke kampung halamannya karena ingin melahirkan anak di tanah asal leluhurnya.

1) Kontroversi Tanggal Lahir Sebenarnya

Makam Wage Rudolf Supratman di Surabaya. (katagorilabel.blogspot.com)

Sejak mulai diangkat sebagai pahlawan nasional hingga satu dekade lalu, masyarakat menganggap Supratman lahir pada 9 Maret 1903. Namun, proses pelurusan sejarah mengoreksi tanggal tersebut sehingga dinyatakan kalau Supratman lahir pada 19 Maret 1903. Fakta tersebut sudah ditetapkan dan dikuatkan oleh keputusan Pengadilan Negeri Purworejo No. 04/Pdt/P/2007/PN PWR pada 29 Maret 2007.

Entah bagaimana mulanya bisa tercatat kalau Supratman lahir pada 9 Maret. Namun dalam buku biografi karya Bambang Sularto disebutkan kalau penduduk di tempat lahir Supratman melihat hari kelahiran itu melalui titimangsa peninggalan Jawa. Kemudian hari itu dicocokkan dengan kalender tahun Masehi oleh Sersan Jumeno Senen Kartodikromo, ayah Supratman, yang kemudian menghasilkan tanggal 9 Maret.

Hingga hari ini Hari Musik Nasional yang didasarkan dari tanggal lahir Supratman masih dirayakan setiap 9 Maret. Walau baru mulai diresmikan oleh Presiden SBY pada 2013, gagasan mengenai Hari Musik Nasional memang muncul sejak 2003 ketika Megawati Soekarnoputeri menjabat sebagai Presiden RI dan sebelum keluarnya ketetapan dari Pengadilan Negeri Purworejo tersebut.



Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  5. Trailer Film 'Posesif' Tampilkan Adipati Dolken dan Putri Marino dalam Percintaan yang Brutal

Editor's Pick

Add a Comment