Tendangan Ketujuh God Bless

Para veteran cadas menghidupkan kembali aset legendaris 'Cermin' serta hubungan kreatifnya dengan proyek Zakia dan Gipsy

Oleh
God Bless Bayu Adhitya

Malam luruh bersama gerimis kecil di perumahan Villa Indah Cibubur, Jakarta Timur, pada Maret 2016. Lampu-lampu penerangan mulai berpendar, membiaskan cahaya kemilau pada pepohonan yang basah oleh tetes air hujan. Sayup-sayup terdengar suara azan magrib dari sebuah masjid, lalu kembali sepi dan dingin. Meski terletak hanya selemparan batu dari salah satu pintu tol Jagorawi, yang setiap pagi dan sore hari selalu diisi kemacetan panjang, suasana tenang kompleks ini seperti hendak memutus hubungan dengan segala hiruk pikuk suasana perkotaan.

Lampu-lampu juga berpendar dari rumah yang terletak di seberang masjid, sebuah bangunan bergaya sederhana namun tampak kokoh dan sepintas tidak memiliki perbedaan mencolok dengan deretan rumah penghuni lainnya. Yang membuatnya nampak mencolok hanyalah ornamen terbuat dari lempengan kaca, tepat di atas pintu masuk, yang membentuk logo sebuah band: Gong 2000. Itulah kediamanan Ian Antono, gitaris God Bless.

Selama bertahun-tahun rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul vokalis Achmad Albar, pemain bas Donny Fattah dan pemain keyboard Abadi Soesman dalam membahas setiap langkah dan perkembangan band rock yang kini memasuki usia 43 tahun itu. Tempat itu juga merupakan ajang pertemuan musisi berbagai aliran, teman seprofesi atau bahkan para pewarta. Sehingga dalam kesehariannya rumah tersebut jarang terlihat sepi.

Namun malam itu keheningan terasa menyungkup suasana. Ruang keluarga yang biasa terlihat semarak kini hanya diterangi sinar lampu temaram. Tidak ada gerendengan orang mengobrol membahas perkembangan musik atau sekadar gosip kekinian. Nafas kehidupan hanya ditandai oleh sesosok tubuh berambut gondrong, tengah bersandar pada salah satu sofa yang menghadap ke teras belakang. Jauh dari penampakan garang seorang rockstar, saat itu Ian Antono seperti umumnya lelaki separuh baya. Berkain sarung dipadu kaos oblong polos, bersandal jepit dengan sebatang rokok kretek terselip di bibir, memeluk gitar akustik yang sesekali dipetiknya, memainkan nada yang tidak tuntas.

Pada embusan asap kesekian, sebuah keputusan penting telah diambilnya: merekam kembali seluruh materi Cermin, album kedua God Bless rilisan JC Record (1980). Keputusan yang sekaligus mengakhiri pergumulan batin yang membuatnya terombang-ambing antara menyiapkan album baru God Bless dengan berkarier solo. Pada 2014 Ian Antono sempat merilis album solo Songbook I, berisi rekaman ulang lagu-lagu hit yang pernah diciptakannya dengan aransemen dan penyanyi berbeda. Beberapa nama yang terlibat saat itu antara lain Roy Jeconiah dan Syaharani. Konon untuk proyek barunya ini seorang teman bersedia menggelontorkan dana, ia tinggal menyiapkan materi dan susunan penyanyi, setelah itu masuk proses pengerjaan. Namun setelah melalui diskusi panjang dengan personel lain ia memilih untuk lebih fokus pada pembuatan album terbaru bandnya.

"Proyek band menyangkut kepentingan banyak pihak. Sifatnya pun mendesak karena God Bless sudah tujuh tahun nggak mengeluarkan album. Sementara proyek solo urusannya cuma menyangkut gue sendirian. Pengerjaannya pun bisa kapan saja." Kalimat ini dia ucapkan dengan datar seraya menyenderkan gitar.

Diseruputnya kopi hitam dalam cangkir hingga tinggal ampas, lalu melangkah ke arah teras di belakang rumah, memandangi sisa gerimis dan menyulut puntung rokok yang sudah waktunya dibuang.

Momen tersebut menjadi awal berkumpulnya kembali Ian, Albar, Donny, dan Abadi Soesman dalam serentetan diskusi untuk menyiapkan rencana kebangkitan mereka di dunia rekaman. Salah satu bahan perbincangan adalah menyangkut keterlibatan Fajar Satritama, yang dalam beberapa kesempatan terakhir menjadi drummer tamu. Kini posisinya ditingkatkan menjadi personel tetap. Fajar pertama kali membantu penampilan God Bless pada perhelatan Java Jazz 2012.

Derasnya pertanyaan, atau lebih tepatnya permintaan, agar God Bless "menghidupkan" kembali Cermin menjadi salah satu dasar pertimbangan kenapa proyek mereka kali ini tidak seluruhnya menampilkan karya gres. Achmad Albar memberi alasan: "Selalu saja muncul pertanyaan tentang album Cermin setiap kami tampil. Itu pertanyaan sulit karena master albumnya tidak ada pada kami. Saya lantas membahas dengan kawan-kawan bagaimana menyikapi tuntutan fans. Akhirnya diputuskan untuk merekam ulang."

Sekadar untuk diketahui, kepemilikan master yang dimaksud kini dipegang Logiss Records. Log Zhelebour, boss label ini, pernah merilisnya pada 2015. Log juga adalah pemegang resmi master album Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), dan Apa Kabar? (1997).

Pada akhirnya keputusan menghidupkan kembali album Cermin bukan sekadar memenuhi dahaga penggemar setia, namun juga memberi kesempatan kepada para pelakunya untuk lebih menyempurnakan gagasan kreatif yang dulu sempat kandas karena keterbatasan perangkat analog berkapasitas 24-track. Dengan pencapaian teknologi zaman sekarang, tentu segalanya menjadi terasa mudah, termasuk menghadirkan kemegahan koor beraura opera.

Cerita tentang rencana God Bless rekaman lagi rupanya menjadi magnet bagi teman-teman lama seperti Teguh Esha. Penulis yang ngetop di era "70-an berkat novel pop Ali Topan Anak Jalanan itu pada suatu hari mendadak muncul di rumah Ian Antono. Padahal sebelumnya mereka sudah lama tak saling berkirim kabar. Pertemuan ini rupanya merangsang Teguh untuk ikut menyumbangkan pemikirannya melalui dua lirik lagu: "Bukan Mimpi Bukan Ilusi", serta "Damai" yang kemudian dijadikan single perdana.

Entah disengaja atau tidak, ide penulisan single sangat relevan dengan situasi Jakarta yang saat itu tengah digoreng isu SARA oleh para petualang politik, menjadikan suasana ibu kota sangat tidak nyaman. Jagat maya riuh rendah dengan perang hujatan. Single "Damai" hadir menawarkan sebuah ajakan untuk mengakhiri segala bentuk pertentangan. Pesannya terang benderang. Tak perlu mengerutkan kening untuk menangkap ke mana liriknya mengarah. Apalagi notasinya dibuat mengentak. Mudah menempel di telinga.

Secara frasa maupun unsur bunyi, "Damai" sebenarnya berbanding terbalik dengan "Kukuh" ciptaan Donny Fattah beserta istrinya, Diah Pitaloka, maupun "Bukan Mimpi Bukan Ilusi". Dua judul terakhir ini berbicara tentang hakikat hidup, dibungkus oleh serpihan irama psychedelic dan lebih memiliki kesamaan napas dengan lagu-lagu dari Cemin: serius dan perlu kepekaan untuk dapat menangkap esensinya. Judul terakhir merupakan retrospeksi perjalanan karier Ian Antono yang telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya di pentas ingar-bingar.

Maka Cermin 7, demikian judulnya, menjadi penanda kebangkitan God Bless setelah tujuh tahun absen dari dunia rekaman.

Angka tujuh pun lantas dijadikan dasar untuk menentukan tahapan-tahapan kemunculan. Pada 17 Desember album ini resmi diperkenalkan kepada para wartawan cetak dan elektronik, diikuti oleh penampilan di sebuah stasiun televisi swasta. Saat itu para penggemarnya masih harus bersabar dengan sistem pembelian format digital yang hanya dua lagu pada 17 Januari 2017. Baru pada 27 Januari 2017 kesempatan memiliki albumnya secara utuh baik dalam format digital, compact disc, maupun piringan hitam dibuka secara daring. Kalau mau diperpanjang, usia Achmad Albar juga tahun ini memasuki kepala tujuh.

Para pencinta musik rock umumnya paham jika band ini super irit dalam pembuatan album. Masa vakum tujuh tahun dilewati para personel tanpa merasa terusik oleh tuntutan melahirkan karya baru. Saya selalu teringat pada pernyataan Donny Fattah tentang hal ini: "God Bless itu band rock & roll. Kami nggak pernah terpikir untuk mengeluarkan abum rekaman secara rutin. Mengalir sajalah."

Di antara kekosongan, bassist yang terbilang produktif menulis lagu ini bahkan sempat merilis proyek berjudul Hitam Putih pada 10 Juli 2015, didukung sepenuhnya oleh generasi kedua God Bless. Mulai dari gitaris Iman Fattah, vokalis Teraya Parametha, bassist Rocky Antono, drummer Rama Moektio, dan gitaris Nara Putra. Ini tak ubahnya proyek keluarga, apalagi di sana nimbrung gitaris Maully Gagola dan pemain perkusi Jalu G Pratidina, saudara serta adik ipar Donny Fattah.

Irama progresif sebagai formula musik album yang dirilis secara indie ini memperlihatkan adanya koneksi dengan konsep yang dibangunnya saat menggarap Cermin. "Inilah jati diri saya, musik era "70-"80an," ujar pria kelahiran Makassar yang telah berhenti merokok sejak 2010 ini.

Lain halnya dengan Abadi Soesman. Masa vakum God Bless dilaluinya dengan mengibarkan bendera Abadi Soesman Lonely Hearts Club Band yang khusus membawakan lagu-lagu The Beatles. Hingga kini ia tampil rutin di kafe kawasan Bekasi dan Tangerang. Sesekali saja menyibukan diri membantu proyek rekaman penyanyi solo. Belakangan ia seperti menemukan keasyikan baru ketika diminta mengajar sejumlah anak kecil untuk memainkan lagu-lagu The Beatles. Ia akan segera menghentikan seluruh kegiatan pribadinya jika sudah menyangkut urusan God Bless. Itu sebabnya kepada mereka yang ingin mengontrak Abadi Soesman Lonely Hearts Club Band ia selalu mengajukan persyaratan bahwa sewaktu-waktu ia bisa saja membatalkan jadwal pertunjukan yang telah disepakati.

"Dari dulu God Bless merupakan prioritas hidup saya. Saya aktif di sana sini, termasuk ikut rekaman dengan orang lain, karena band saya vakum."

Sementara itu sang ikon, Achmad Albar, masih kerap disibukkan oleh permintaan tampil di berbagai daerah. Selebihnya ia memilih menikmati hari-harinya bersama sang cucu, River Syech (2). Putra Fachri Albar ini sudah mulai pintar menirukan lagu-lagu God Bless dan bermain-main dengan drum stick. River bahkan pandai menirukan pembacaan doa keselamatan dalam bahasa Bali yang terdapat pada lagu "Laskar" (Gong 2000) meski masih dalam bentuk gumamam. Toh meski sebagai frontman selalu dituntut berstamina prima, Albar mengaku tak pernah menjalankan program khusus kebugaran. Olahraga pun sudah lama ditinggalkannya.

"Aku sudah malas berolahraga, he-he."

Hingga kini album Cermin kerap dipandang sebagai salah satu album God Bless paling ambisius. Persiapan rekamannya memakan waktu satu tahun di studio latihan milik manajernya, Rudy Haryanto, di Jalan Pinangsia, Jakarta Barat. Belum lama sebenarnya Rudy menjadi manajer. Jabatan ini sebelumnya dipegang A Kuang. "Zaman dulu istilahnya cukong," celetuk Donny Fattah.

Periode ini juga merupakan masa peralihan posisi pemain keyboard dari Yockie Soeryo Prayogo kepada Abadi Soesman. Konon nama terakhir ini sempat menolak tawaran dengan alasan band itu terlalu besar baginya, terutama menyangkut figur yang akan digantikannya. Padahal sebelumnya mantan personel Gipsy ini sudah sering bekerja sama dengan mereka. Pada sekitar 1977 mereka sama-sama menggarap tiga album Duo Kribo plus satu album soundtrack. Saat itu nama Yockie tengah melambung berkat sukses Badai Pasti Berlalu yang dikerjakannya bersama Chrisye dan Eros Djarot. Fakta ini memaksa Abadi Soesman berpikir keras saat diminta menggantikannya.

"Mas Yockie idola saya. Dia sudah banyak memberi kontribusi kepada warna musik God Bless, saya belum tentu mampu menggantikannya. Intinya, Mas Yockie terlalu besar buat saya."

Baru ketika Donny Fattah dan Ian Antono mendatangi kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dirinya menyatakan bersedia menerima pinangan tersebut dengan syarat diberi kebebasan untuk bereksplorasi.

Setelah berada di lingkaran dalam dan ikut menyiapkan materi rekaman, Abadi segera menyadari bahwa langkah band ini tengah menuju ke sebuah persimpangan: konsep musik seperti apa yang hendak diusung? God Bless sudah menjadi band rock tersohor, kebanggaan Jakarta yang mampu menyejajarkan diri dengan para seniornya seperti AKA (Surabaya), atau The Rollies dan Giant Step (Bandung). Namun industri rekaman tengah didominasi oleh para penguasa musik pop semisal D"Lloyd dan Favourite"s Group. Banyak band rock ketika itu terseret arus selera pasar.

Muncul pertanyaan, apakah harus mengikuti arus komersial atau tetap mempertahankan identitas?

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 143 Maret 2017.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 20 Lagu Indonesia untuk Kaum Buruh
  2. [Exclusive] Emir Hermono Merilis Album '3 AM in Jakarta'
  3. Movie Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2
  4. Damon Albarn Bicara tentang Album Terbaru Gorillaz yang Penuh Bintang dan Masa Depan Blur
  5. Stars and Rabbit Siap Menjalani Tur Konser Asia 2017

Add a Comment