Movie Review: Galih dan Ratna

Oleh
Refal Hady dan Sheryl Sheinafia 360 Synergy

Ode kepada pahit manis masa remaja, musik, dan cinta

Galih dan Ratna arahan Lucky Kuswandi bukan hanya berhasil menaklukkan jebakan reka ulang yang berbahaya, tapi juga menghadirkan salah satu perayaan musik paling berkesan yang pernah ada di perfilman Indonesia modern. Hubungan Galih dan Ratna yang legendaris itu kini diberikan twist menarik tentang mimpi dan idealisme anak muda.

Galih versi terbaru adalah Galih yang hidup dengan kenangan tentang ayahnya yang telah meninggal dan toko kaset miliknya yang perlahan mati. Meski dunia telah berubah, ia berusaha mempertahankan mimpi ayahnya. Ibunya menganggapnya keras kepala, sedangkan Ratna jatuh cinta karena keteguhan sikapnya.

Ratna versi terbaru adalah anak ibu kota yang pindah sementara ke Bogor. Sebagai anak sekolah yang berusaha menyesuaikan diri, ia menemukan Galih sebagai seseorang yang membantunya keluar dari masa remaja yang membosankan. Galih juga menginspirasinya untuk menekuni secara serius keahliannya bermusik.

Musik mendapatkan porsi utama dalam filmnya. Bukan sekadar gincu, tapi juga keinginan mendalam tokoh utamanya dan kemudian mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Entah kenapa elemen ini seakan kurang ditonjolkan di promosi, padahal justru tema musiknya yang membuat film ini berbeda dengan banyak kisah romantis lainnya. Film ini membawa lagi kenangan berbagi kaset yang bisa jadi pernyataan personal sekaligus pengalaman kolektif yang menyenangkan.

Memang terkadang beberapa bagian tentang musiknya terasa konyol, misalnya kaset Naif yang dianggap barang langka padahal kenyataannya baru di-reissue. Tapi kekurangannya masih dapat dimaklumi. Setidaknya si penulis tak melebih-lebihkan impian tentang musik seperti yang dilakukan Garasi misalnya.

Lagu "Gita Cinta" yang nelangsa itu mendapatkan arti yang dalam di akhir film. Cara Lucky menghadirkannya membuat aransemen biasa saja dari Sheryl menjadi lebih terasa sedihnya. Meski tidak seikonis aslinya, lagu ini punya momen spesial yang dapat membuat orang menitikkan air mata.

Selain isu soal toko kaset, hal-hal kekinian menjadi background bagi dunianya. Lucky lebih memilih menempelnya saja di sekitar dengan simbol-simbol sederhana. Misalnya teman yang hobi membuat vlog dan menggandrungi Instagram, atau teman yang punya kesadaran politik dan berani dengan orientasi seksualnya. Kritiknya pun halus, entah itu soal sosok keluarga, peran guru, atau toko kaset yang akhirnya dijadikan tempat berjualan paket umroh.

Di luar tema cerita, para pemeran di film Galih dan Ratna menerjemahkan kompleksitas karakter dengan baik. Refal Hady dan Sheryl Sheinafia yang terlihat berbeda di permukaan berhasil membuat perasaan teraduk-aduk sepanjang film. Marissa Anita yang berperan sebagai tante bergaya hippie dan Joko Anwar sebagai guru yang tegas menjadi comic relief yang membuat film semakin hidup.

Penyutradaraan Lucky Kuswandi terasa lebih dewasa ketika ia berusaha menyeimbangkan idealisme dan komersial. Dengan deretan film-filmnya yang rata-rata baik (jika mengabaikan Madame X), Lucky patut mendapatkan kesuksesan lebih besar sebagai sutradara yang bagus.

Jika nasib Galih dan Ratna tak seikonis film dan novel aslinya, setidaknya pengalaman yang dibawanya dapat menjadi kenangan manis. Sebuah film yang pantas ditonton berulang-ulang untuk merayakan masa muda.

Editor's Pick

Add a Comment