Menggali Memori Masa Muda Bersama The Moffatts

The Moffatts kembali ke Indonesia setelah enam belas tahun

Oleh
Pertunjukan penuh nostalgia dalam konser The Moffats di Jakarta hari kedua pada Senin (20/2) lalu. Indra Suhyar

Bahkan The Moffatts sendiri tidak percaya kalau tiket showcase mereka di Indonesia bisa terjual habis. Berbicara ke Rolling Stone pada Senin sore (20/2) di Hard Rock Café, Pacific Place, Jakarta, mereka memaparkan kalau Farewell Tour ke Indonesia terjadi spontan saja. Awalnya mereka hanya diundang untuk main di Manila, namun kemudian promotor menawarkan show tambahan.

Rasanya mereka tak sadar betapa besar rasa cinta Indonesia kepada kakak beradik dari Kanada ini. Saking antusiasnya penonton Indonesia, The Moffatts sampai mengadakan tiga show, dua kali di Jakarta dan satu di Bali. Masih banyak penggemar grup yang terbentuk pada 1990 ini.

The Moffatts terakhir kali datang ke Indonesia tujuh belas tahun silam. Ketika itu mereka sedang mempromosikan album Submodalities, sebuah album yang diproduseri Bob Rock (Metallica, Bon Jovi) serta penanda berubahnya citra mereka dari band pop manis menjadi band rock yang 'dewasa'. Setahun setelahnya, mereka membubarkan diri.

Entah apa yang membubarkan grup ini, pertanyaan ini bahkan tak terjawab sampai sekarang. Satu yang jelas: lagu hits '90-an yang mereka miliki bisa bertahan lebih lama dibanding karier mereka yang singkat. Musik yang mereka mainkan bahkan menjadi cetak biru bagi band-band setelahnya seperti Busted, McFly, sampai The Jonas Brothers.

Kembali ke Senin sore (20/2), Bob, Clint, dan Scott bersiap melakukan sound check. Tapi sebelum itu, mereka harus menghadapi wawancara media, beberapa dari pewawancara tersebut dengan jelas menunjukkan kekaguman atau fasih bernostalgia. Salah satu dari mereka bahkan santai saja berlaku layaknya penggemar. Musik yang dimainkan The Moffatts mengisi masa muda mereka.

Para personel The Moffatts kini bertambah tua. Mereka berada di umur 30-an awal, namun gayanya masih tampak trendi. Scott Moffatt, atau kini lebih suka dipanggil Scott Ian, selaku kakak tertua hadir dengan kacamata gagang berwarna dan topi biru. Si kembar Bob dan Clint sama-sama memakai topi, sekilas sulit membedakan mereka. Bob lebih kurus, sedangkan Clint memakai topi terbalik. Ketiganya ramah. Ditanya perihal Dave yang tidak ikut Farewell Tour, Scott menjawab kalau sang keyboardist kini telah menjadi instruktur yoga.

Di luar venue, penonton sudah terlihat mengantre dan penjualan tiket telah ditutup. Antusiasme penonton Indonesia cukup besar, walaupun acara seperti minim promosi. Belakangan beberapa orang mengeluh kalau mereka baru tahu The Moffatts mengadakan konser lagi di Indonesia.

Di malam hari, karaoke massal terjadi. Sesuai ekspektasi, sekitar dua ratus penonton memenuhi Hard Rock Café. Kebanyakan wanita berusia akhir 20-an, bergaya baru pulang kantor dan tak hentinya menjerit kepada idola masa remaja mereka. Bisa ditebak sebagian besar dari mereka pernah punya poster The Moffatts yang ditempel di dinding kamar.

Tepat jam sembilan malam, The Moffatts naik ke panggung dengan pakaian persis ketika melakukan wawancara. Padahal sudah empat jam berlalu sejak wawancara dilakukan. Entah karena terlalu santai atau malah tidak peduli. Penonton tampaknya acuh akan penampilan mereka yang biasa saja. Toh ini idola yang sudah belasan tahun tak ditemui.

The Moffatts berinteraksi dengan penonton Jakarta (foto: Indra Suhyar)

Set panggung mereka juga biasa saja. Gitar akustik, gitar elektrik, bas, drum, dan synth. Khusus alat musik terakhir banyak dimainkan oleh Scott ketika membawakan lagunya sendiri. Sekali lagi, kekurangmewahan ini tidak lantas menyurutkan semangat penonton untuk menjerit. Mereka juga sesekali merekam video dan mengambil foto. Tentu untuk dibagikan di media sosial atau sekadar jadi kenangan masa tua.

Tentunya setlist lagulah yang membuat malam tersebut berkesan. Setidaknya bagi para penonton yang hadir. Belasan lagu dibawakan selama satu setengah jam. Sebagai band pop yang lumayan terkenal di zamannya, mereka punya deretan hits yang mau tak mau membuat mulut ikut bersenandung. Lagu-lagu mereka cukup jadi favorit radio.

Meskipun malam itu manggung dengan nama The Moffatts, mereka juga membawakan lagu dari proyek masing-masing. Scott membawakan lagu-lagu dari proyek solonya. Dalam wawancara, ia mengungkapkan bahwa ada single baru yang akan keluar pertengahan tahun. Jadi ketika lagu ini dibawakan di Indonesia bisa dihitung sebagai perkenalan. Bob dan Clint yang beberapa kali punya band bersama juga membawakan lagu-lagu dari proyek country mereka yang diberi nama Endless Summer.

Tapi lagu-lagu The Moffats tetap yang paling utama. Lagu "Girl of My Dreams", "If Life is So Short", "I"ll Be There for You" sukses membuat koor. Di lagu "Bang Bang Boom", tiba-tiba Clint memanggil seorang perempuan dari tengah penonton. Perempuan yang beruntung tersebut adalah Regina Ivanova, jebolan Indonesian Idol yang sebenarnya datang hanya untuk menonton idolanya. Tampaknya kejutan ini bukan dikarang, karena di atas panggung Regina yang diajak menyanyi itu hanya menjadi backing vocal sambil mengambil foto. Mukanya seperti tidak percaya. Sampai turun dari panggung, ia masih berteriak.

Satu lagi perempuan yang naik panggung adalah Vicky Shu. Jika Regina disambut jeritan cemburu tapi girang dari para penonton, Vicky menerima reaksi penonton yang berbeda. Sahutan tidak setuju keluar dari penonton. Vicky memang dipersiapkan untuk berduet dengan Bob dan Clint di lagu "Without You". Lagu ini dulunya merupakan rilisan Same Same (grup musik Bob dan Clint lainnya) yang dibawakan dalam format duet dengan Audy. Vokal dua perempuan tersebut memang berbeda jauh. Tapi karena lagunya terlalu mudah untuk dibuat singalong, penonton yang tadinya bersorak tetap menyanyi bersama.

Setelah belasan lagu dibawakan, The Moffatts pamit dari panggung. Padahal satu lagu andalan belum dibawakan, yaitu "Miss You Like Crazy". Tujuannya jelas: memancing encore. Tak sampai satu menit, mereka kembali lagi. Energi kembali memuncak. Penonton menyanyi sekencang mereka bisa. Lebih banyak handphone terangkat di udara mengabadikan momen tersebut. Masa muda boleh usai, namun kenangannya takkan pernah pudar. Semuanya membeku dalam memori yang tersimpan nada.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  3. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  4. Jazz Gunung Bromo 2017 Siap Diselenggarakan
  5. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana

Add a Comment