Mayhem, Perjalanan Panjang dan Gelap Membangkitkan Black Metal Klasik

Sembari band paling mematikan di Norwegia ini memainkan set album 'De Mysteriis Dom Sathanas' (1994) dalam tur, para personel mengenang sejarah suram yang membawa mereka ke masa kini

Oleh
Mayhem Ester Segarra

"Kami jijik dengan musik tentang cinta dan kebaikan – kami membencinya," kata Jan Axel Blomberg, drummer band black-metal pelopor asal Norwegia, Mayhem, yang lebih dikenal dengan nama Hellhammer. "Kami ingin membuat musik yang benar-benar merupakan kebalikan dari semua itu."

"Sepertinya ada banyak hal baik dalam hidup," kata sang vokalis Attila Csihar, yang nama belakangnya dilafalkan sebagai "chee-har" dalam aksen kental Hongaria. "Matahari terbit setiap pagi, dan itu sangatlah indah, ada alam raya serta kehangatan keluarga. Namun jika Anda melihat apa yang sesungguhnya terjadi di dunia ini … Kita bagai hidup di dalam rumah sakit jiwa dengan segala macam perang dan pemerintah yang mengontrol ketat para penduduknya. Ini sudah jadi takdir saya untuk memahami dan merangkul kegelapan."

Lebih dari 20 tahun yang lalu, Mayhem merilis sebuah album yang memancarkan angkara murka kepada Hellhammer, Csihar dan teman-teman band mereka pada saat itu: De Mysteriis Dom Sathanas, sebuah judul yang lebih kurangnya berarti "Upacara Rahasia Tuan Setan." Liriknya berbicara tentang kegelapan yang abadi, neraka jahanam, ketakutan-ketakutan para penyembah berhala hingga bangkitnya mayat hidup untuk menceritakan kutukan mereka.

Benar-benar seperti (Bram) Stoker dengan selingan (Edgar Allan) Poe, yang musiknya disusun secara unik dengan iringan gitar gotik yang meraung-raung dan gemuruh drum kematian, yang ditingkahi oleh variasi geraman, gerutu dan lolongan vokal Csihar. Dan ini menjadi sebuah standar bagi para ekstrimis musik satu generasi, menginspirasi segenap pasukan headbanger untuk ikut berpakaian serba hitam dan benar-benar menyembah Setan. Namun di balik segala mitos tersebut, band ini tidak pernah bisa melakukan tur untuk mempromosikan album itu.

Pada Agustus 1993, sewaktu album penuh mereka dijadwalkan untuk rilis, mantan bassist Mayhem, Varg Vikernes (yang dulu juga dikenal sebagai Count Grishnackh), dengan brutal menikam teman band-nya, gitaris Øystein Aarseth (nama panggung: Euronymous), sebanyak 23 kali dan membunuhnya karena sesuatu yang ia klaim sebagai perselisihan kontrak. Pembunuhan tersebut lalu mengakhiri nasib band mereka.

Semua itu, ditambah dengan serentetan pembakaran gereja di Norwegia, yang dilakukan oleh band-band black metal, dan sebuah pembunuhan akhirnya menetapkan black metal sebagai genre musik paling berbahaya sejak gangsta rap. Pada saat sang drummer, Hellhammer, merilis album tersebut pada musim semi 1994, ia adalah satu-satunya personel Mayhem yang tersisa. Band ini kembali reuni pada pertengahan "90-an dan sekarang memiliki sebuah formasi di mana De Mysteriis Dom Sathanas dapat mereka mainkan secara langsung dan akhirnya berhasil memisahkan band ini dari masa lalu mereka yang brutal.

Mayhem memulai tur keliling dunia mereka yang memainkan album debut tersebut pada 2015. Akhir tahun lalu, mereka merilis album De Mysteriis Dom Sathanas Alive - direkam di Festival Black Christmass di Norrköping, Swedia – yang mendokumentasikan untuk pertama kalinya Mayhem memainkan album tersebut secara keseluruhan. Belum lama ini, mereka sedang berada di tengah-tengah Amerika Utara, di mana grup tersebut, dengan formasi ditambah gitaris Teloch and Ghul dan bassist pendiri band Necrobutcher, tidak memainkan materi lain selain album debut itu pada konser mereka, dalam sebuah pertunjukan teatrikal megah ditandai beberapa personel band yang memakai jubah ala biksu dan Csihar – yang berpakaian menyeramkan seperti mayat hidup dengan daging yang membusuk – berdiri di altar. Ini adalah sebuah pengalaman spiritual yang membuat bulu kuduk sang vokalis berdiri, terutama saat ia menengok kembali takdir ganjil dalam kehidupannya yang membawanya hingga ke titik ini.

"Itu adalah sebuah pengalaman yang magis," kata vokalis Attila Csihar tentang penampilannya bersama Mayhem. (Facebook/Mayhem Official/Charnelle Stohrer)

Setelah menghabiskan sebagian besar waktu mereka di tahun "80-an menyempurnakan tata suara dan disibuki perubahan formasi band, Mayhem akhirnya menemukan kestabilan dalam band pada dekade "90-an dan formasi yang konsisten bersama vokalis Dead (nama asli: Per Yngve Ohlin), Euronymous, Necrobutcher (Jørn Stubberud) dan Hellhammer. Sebelumnya mereka telah merilis sebuah album mini yang condong bergaya death metal, Deathcrush, dengan formasi terdahulu dan pada 1991 mereka melakukan promosi colongan untuk album debut mereka, De Mysteriis Dom Sathanas, di kalangan media metal. "Kami tidak akan menundanya lagi kecuali sesuatu yang ekstrem terjadi," kata Euronymous pada majalah Slayer waktu itu, saat ia memberitahu bahwa mereka masih menulis tiga lagu lagi. Ia mencontohkan beberapa hal yang cukup radikal bakal menghentikan proses kreatif album penuh mereka, "jika Hellhammer kembali menghilang, jika Dead kebanyakan menyayat dirinya sendiri di konser atau jika saya kehilangan paspor di Albania."

Ia mengenang tur terakhir band mereka ke daratan Eropa, yang diingat Hellhammer sebagai saat-saat yang menyulitkan. "Mengerikan," katanya. "Itu adalah pengalaman terburuk dalam hidup saya." Band memutuskan untuk bepergian tur menggunakan jalur kereta api di benua tersebut, ketimbang menggunakan bus, dengan segala bagasi peralatan mereka. Hellhammer mengingat dengan jelas bahwa uangnya pernah dicuri dan ia tidak mempunyai tempat untuk bermalam. Di Turki, polisi datang ke konser Mayhem lengkap dengan senapan mesin dan memberhentikan penampilan mereka. "Saya tidak dapat mengulangi lagi (tur seperti itu)," katanya.

Di atas panggung, horor yang ada berbeda lagi: Dead menggunakan cat wajah berwarna hitam-putih yang kemudian dikenal sebagai "cat mayat (corpse paint)" untuk membangkitkan nuansa kematian dan konon kabarnya ia sering mengubur kostum panggungnya agar membuatnya lebih beraroma kematian. "Kami memiliki beberapa kepala babi yang ditusuk, dan saya merobek lengan saya dengan sebuah pisau aneh dan sebuah pecahan botol Coke," kata sang vokalis kepada Slayer dalam salah satu konser mereka di sebuah wawancara yang masuk ke dalam buku Metalion: The Slayer Mag Diaries. "Seharusnya kami menggunakan gergaji mesin namun orang yang memilikinya telah pergi ketika kami datang untuk mengambilnya. Itu tidak cukup brutal!"

Terlepas dari semuanya, tur tersebut memberikan band ini kesempatan untuk mengetes beberapa materi mereka. Album Live in Leipzig, yang direkam di Jerman pada 1990, menangkap saat-saat mereka menampilkan empat lagu dari album De Mysteriis bersama Dead di atas panggung. Sayangnya, ia hanya dapat merekam satu dari lagu-lagu tersebut di studio. Pada April 1991, Dead bunuh diri dengan menggorok pinggang dan tenggorokannya lalu menembakkan sebuah senapan ke kepalanya. Baris pertama dari surat bunuh dirinya adalah, "Mohon maaf atas darah ini."

Euronymous sempat mengambil beberapa foto dari TKP sebelum akhirnya memanggil pihak berwajib. Foto-foto ini benar-benar mengganggu salah satu pendiri band, Necrobutcher, akibatnya ia memutuskan hengkang dari band. Sang gitaris kemudian mengisi kekosongan bassist dengan masuknya (Varg) Vikernes – yang sempat merekam album black metal sebagai one-man band Burzum untuk label rekaman Euronymous, Deathlike Silence Productions. Ia juga mengirimkan surat yang diketik untuk Csihar, vokalis favorit Dead, yang tinggal di Hongaria. Sang gitaris memberitahu Csihar bahwa ia memiliki dua tujuan dalam menulis surat tersebut: Sebuah rencana untuk merilis album Anno Domini yang ia rekam pada pertengahan "80-an dengan grup thrash black metal Tormentor dan untuk menanyakan apakah ia bersedia menyanyikan lirik-lirik yang ditulis Dead di studio. "Mereka menyukai karya saya," kata Csihar. "Hebat sekali."

Csihar membentuk Tormentor di Budapest pada 1985, terinspirasi dari kaset-kaset band metal yang diselundupkan teman-temannya ke negara komunis tersebut. Genre black metal sendiri berasal dari album thrash milik Venom yang sangar dan ekstrem pada 1982, Black Metal, dan grup-grup seperti Celtic Frost dan Bathory masing-masing memberikan pengaruh klasik tersendiri selama bertahun-tahun kemudian. Tormentor kemudian mengembangkan tanggung jawab metal tersebut dengan atmosfer yang menyeramkan – silakan dengar nomor "Elisabeth Bathory," sebuah lagu tentang istri bangsawan Hongaria yang konon melakukan ritual mandi darah perawan – dan bermain di hadapan 700-1500 penonton – "Lebih kurangnya sama dengan jumlah penonton Mayhem," begitu menurut Csihar. Namun saat Euronymous mengirim surat kepadanya, ia sebenarnya telah menjauh dari musik metal, dan lebih tertarik mengeksplorasi EBM dan musik industrial bersama sebuah band bernama Plasma Pool.

"Kami jijik dengan musik tentang cinta dan kebaikan," kata Hellhammer akan hari-hari awal Mayhem. (Facebook/Mayhem Official)

Csihar kemudian mendengarkan album Deathcrush, "yang ia sebut, 'OK, keren,'" namun ia diyakinkan untuk bergabung dengan band tersebut – yang tidak terjadi setidaknya untuk satu setengah tahun ke depan – saat ia mendengarkan versi awal lagu-lagu De Mysteriis. "Saya hanya berkata, 'Sial, ini hebat,'" ingat Csihar. "Ini akan menjadi sesuatu yang baru. Ini terdengar futuristik. Juga modern, sangat gelap dan keren."

Musik metal baru tersebut adalah sebuah bagian dari eksperimen Euronymous dengan gitaris black metal Norwegia lainnya, Snorre Ruch, yang dipanggil dengan sebutan Blackthorn, dan juga memimpin band Thorns. Banyak orang di kancah black metal Norwegia mengaku berhutang budi pada Ruch karena ia menjadi yang pertama memainkan gaya gitar thrash – dan death metal yang tebal, dengan kord yang berat demi mendapatkan bunyi yang lebih lepas dan kelam. "Saya sedang mendengarkan musik orkestra klasik dan beberapa tone dalam musik ini mengusung banyak drama dan penderitaan," kata Ruch. "Saya bereksperimen dengan kunci minor dan lalu menambahkan petikan amat cepat yang saya pelajari dari Euronymous. Ini lalu berkembang menjadi kord disonan dan progresi tone."

"Euronymous sangat terinspirasi oleh permainan seperti itu, karena ketika saya tur bersamanya pada tahun '88, ia menyukai tipe gesekan seperti itu di gitarnya," kata Hellhammer. "Ia benar-benar berubah ketika bergabung dengan Thorns dan bertemu Snorre. Pendekatan dan gayanya berubah secara dramatis."

Ruch menjadi anggota Mayhem selama tiga bulan saja, tak lama setelah Euronymous merekam gitar album De Mysteriis Dom Sathanas, namun pengaruhnya bersemayam untuk selamanya. "Thorns telah mencapai sebuah fase, Euronymous dan saya memiliki ide untuk bermain gitar di kedua band secara bergantian untuk sementara waktu, namun ini kemudian berkembang menjadi menggabungkan lagu saya dengan Mayhem dan malah membubarkan Thorns," kata Ruch. "Ini menarik bagi saya karena Mayhem adalah sebuah band yang 'bekerja dengan baik' dan Thorns tidak seperti itu." Bagaimanapun juga, dua riff dari versi instrumental Thorn pada lagu "Lovely Children," lagu utama dari demo Grymyrk mereka, berhasil melebur ke dalam lagu Mayhem, "From the Dark Past." "Beberapa bulan kemudian, chemistry internal dalam Mayhem menjadi buruk sekali, sampai saya memutuskan untuk keluar," kata Ruch.

Kontribusi utama Ruch untuk De Mysteriis adalah menyunting beberapa lirik milik Dead. "Dead telah menulis lirik dan bernyanyi pada empat lagu dalam album ini, namun ia juga meninggalkan beberapa lembar berisi ide dan lirik-lirik," kenang Ruch. "Pekerjaan utama saya adalah membuat semuanya sukses dengan lagu-lagu baru yang tidak memiliki aransemen vokal apapun. Biasanya, saya akan mengubah sesedikit yang saya bisa. Tantangannya adalah menciptakan lirik relatif singkat yang pas ke dalam lagu-lagu yang panjang. Saya tidak banyak mengingat proses ini, namun saya pikir lirik-liriknya bagus."

"Dead memiliki kepribadian yang gelap, saya rasa, jadi semua liriknya sangat menakutkan, gelap dan mengerikan," kata Hellhammer mengingat-ingat. "Itu benar-benar mencerminkan kepribadiannya. Boleh dikatakan bahwa ia benar-benar membunuh dirinya sendiri." Ia kemudian tertawa. "Jadi, begitulah."

Dead menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Slayer bahwa ia menulis lagu dari album De Mysteriis, "Funeral Fog," "Freezing Moon," "Buried by Time and Dust" dan "Pagan Fears" sebagai sebuah cerminan atas kondisi yang ia rasakan. "Saya dapat menjelaskan 'Funeral Fog,' itu tentang sebuah tempat legendaris di tengah-tengah tapal kuda Carpathian, sebuah rawa-rawa yang dinamakan Shurlock Basin yang dikelilingi oleh takhayul menakutkan dan makhluk-makhluk paling aneh yang menghantui tempat itu," katanya. "Saya mulai membayangkan sebuah kabut tebal muncul saat bulan purnama. Kabut ini keluar dari tempat itu, melayang sedih dalam diam untuk memadamkan hidup warga lokal dan memberikan jiwa mereka kepada Tuan Setan."

Dead berkata bahwa "Pagan Fears" bercerita tentang ide bahwa "masa lalu tidak mati, namun tetap ada dalam realita yang pudar," dan judul dari lagunya adalah tentang "sekumpulan wanita jahat" dari sebuah buku yang hanya pernah ia dengar, namun ia berharap untuk dapat menulis ulang lagu tersebut. "Saya [memutuskan] liriknya tidak cukup jahat dan tidak cukup menggambarkan kekuatan yang sangat besar tersebut," katanya. Dalam wawancara Slayer lainnya, Dead berkata bahwa ia ingin menemukan buku yang menginspirasi lagu tersebut "sebelum anak-anak mainstream yang bodoh dan lemah menemukannya." "Saya akan melakukan sebuah ekspedisi sendiri keliling dunia untuk menemukannya," katanya. "Itu sangat gelap, bahkan lebih gelap daripada kematian."

Ditanya perihal keberadaan buku tersebut sekarang, Hellhammer tertawa. "Anda telah melihat film Evil Dead yang terbaru? Apakah Anda melihat bukunya di sana?" katanya, merujuk pada sebuah film waralaba horor Sam Raimi tentang seorang pria malang yang menemukan sebuah Necronomicon untuk memanggil setan. "Dead menulis liriknya tentang Necronomicon tersebut, terikat dalam daging manusia dan ditulis dalam darah manusia. Ia yakin bahwa buku ini benar-benar ada."

Hellhammer kemudian bercanda bahwa buku tersebut seharusnya terkubur di bawah Trondheim, di mana Katedral Nidaros berada, gereja yang ada di sampul album De Mysteriis Dom Sathanas. (Nyatanya, katedral bergaya abad ke-11 tersebut berada di puncak makam Saint Olav dari Norwegia, mantan raja negara tersebut.)

Satu lagu dari De Mysteriis yang tidak ditulis oleh Dead adalah "Cursed in Eternity," yang diciptakan oleh Necrobutcher – yang juga menulis lirik band era album Deathcrush. "Pada masa itu, saya terobsesi dengan buku, dan saya membaca beberapa paragraf dalam buku mengenai seorang penyihir yang sedang melakukan ritual," katanya. "Itu tentang seorang penyihir yang meluncurkan kutukan." Ketika ditanya tentang buku yang menginspirasinya, ia mengalihkan pandangan. "Tahu tidak? Saya tidak akan mengatakannya. Saya tidak mau membatasi imajinasi orang-orang. Fakta bahwa saya telah mengatakan pada Anda dari mana itu diambil sebenarnya sudah lebih dari cukup."

Meskipun Euronymous kerap mendapatkan kredit karena menciptakan musik di album Mayhem, ini karena artwork albumnya hanya memuat foto Hellhammer dan Euronymous ("Kami tidak memiliki foto Attila," jelas Hellhammer), para personel band akhirnya bercerita tentang siapa saja yang sebenarnya menulis materi musik album ini. Necrobutcher menulis beberapa bagian dari "Freezing Moon," "Pagan Fears" dan "From the Dark Past," dan baik ia serta Hellhammer ikut berkontribusi beberapa riff pada lagu "Buried by Time and Dust." "Dan Varg melakukan beberapa hal yang menarik dengan bass-nya, yang menginspirasi Euronymous," tambah Hellhammer. "Kami tidak mengerti bagaimana hak cipta atau royalti atau bagaimana bisnis ini bekerja, jadi saya rasa hanya ada nama Euronymous di dalamnya. Jika itu terjadi sekarang, pembagian penulisan [lagu]nya tentu akan berbeda."

Dalam beberapa sesi antara 1992 hingga 1993, band yang terdiri dari Euronymous, Vikernes dan Hellhammer itu, berkumpul di Grieg Hall – rumah dari Bergen, Philharmonic Orchestra-nya Norwegia – untuk rekaman. Studionya terletak beberapa lantai di atas bangunannya, namun memiliki langit-langit yang rendah dan Hellhammer berpikir itu meredam suaranya. Lalu ia pergi ke aula utama, di mana lima pasang perangkat drum telah dipasang, dan menyukai suaranya di sana. "Saya berkata pada [sang ahli] Pytten, 'Saya menginginkan drum saya ada di bawah sana,'" kata Hellhammer, yang mengingat dirinya sebagai penggemar berat jazz pada saat itu, terinspirasi oleh Buddy Rich. "Dan ia berkata, 'Ha, Anda gila.' 'Ya, tentu saja.' Lalu ia mengerti. Kami mengambil kabel mikrofonnya dan menurunkannya melalui cerobong lift." Mereka menyalakan beberapa lilin di bawah sana dan meredupkan lampunya dan kemudian, De Mysteriis Dom Sathanas memiliki salah satu suara paling bertenaga di musik metal.

Pada akhirnya, mereka memanggil Csihar pada akhir 1993, yang datang dengan perempuan yang sekarang menjadi mantan istrinya. Norwegia terlihat sebagai negara dengan peradaban yang tinggi untuknya, namun ia terkesan dengan para metalheads yang datang menjemputnya di bandara. Vikernes memakai rompi metal. "Saya waktu itu sedang nongkrong di Oslo," kata Csihar. "Saat itu, para polisi memburu semua anak metal. Sulit untuk menyelamatkan diri karena semua orang sedang berjuang. Kancahnya cukup kecil dan sangat underground." Para personel Mayhem berbagi filosofi mereka tentang agama dan politik dengan Csihar, namun ia justru lebih tertarik merekam album-album dari koleksi rekaman Euronymous dan Vikernes.

"Itu keren – masa-masa yang menyenangkan," ingat Csihar. "Cukup intens juga. Semua orang teler, entah bagaimana. Album ini sudah digarap dalam waktu yang cukup lama, dan saya adalah bagian terakhir darinya. Jadi kami latihan sedikit lalu berangkat ke Bergen."

Saat Csihar membentuk Tormentor, ia sempat mengembangkan gaya vokal baru yang lebih eksperimental yang ia sebut sebagai "darker voice." Ia sangat tergila-gila dengan musik dari band industrial Skinny Puppy, terutama album Too Dark Park dan Last Rights, serta terinspirasi dari geraman parau vokalis Nivek Ogre. Ia juga menggemari balada gelap dari Current 93, ratapan eksperimental dari Diamanda Galás dan vokalis metal seperti Quorthon – pentolan pelopor band black metal Bathory – bersama dengan beberapa vokalis terkenal seperti Ozzy Osbourne, Rob Halford, Ian Gillan dan pentolan Uriah Heep, Dave Byron. Namun pita suara Csihar sendiri menghasilkan sebuah cengkok dalam yang menghantui, yang terkadang mendekati gaya vokal bertenggorokan yang berat yang sering ia dengar saat masih remaja dalam sebuah perjalanan ke Mongolia, di mana ia dan teman-temannya sering minum bir dan menyelinap ke dalam wihara. Karakter vokal Csihar memang sangat jauh dari pendekatan Dead yang lebih simpel.

"Vokalnya adalah sesuatu yang baru, benar-benar terbalik dan aneh," kata Hellhammer. "Dinamis dan suram. Anda mungkin tidak terlalu menyukainya namun Anda dapat terpesona. Butuh waktu untuk mengerti apa yang ia lakukan dan bagaimana ia bernyanyi dalam berbagai suara yang berbeda, dan itu benar-benar mengangkat kualitas rekamannya."

"Vokal Attila benar-benar sesuatu yang baru, terbalik dan aneh"
–Hellhammer

"Saya pernah berkata bahwa album ini akan gagal total, karena vokalnya menghancurkan segalanya, namun faktanya adalah saya hanya pernah mendengar vokalnya secara layak dalam lagu 'Freezing Moon' … namun vokalnya dalam berbagai lagu yang lain, sempurna," kata Vikernes pada 2005. "Saya telah terbiasa pada vokal Dead dan cara menyanyinya, dan saya tidak pernah menginginkannya untuk berubah. Attila … lebih mementingkan 'integritas artistiknya' dan tidak ingin terdengar sama seperti Dead."

Csihar mengingat momen saat rekan-rekan bandnya memberikannya kebebasan, baik secara kiasan maupun harfiah, untuk mengolah vokalnya menjadi lebih baik dan benar. Studio di mana ia menyanyi benar-benar gelap dengan gorden yang menutupi jendela dan hanya ada beberapa lilin menerangi ruangan yang ia ingat sangat gelap gulita. "Saya hanya memegang mikropon di tangan sehingga saya dapat menari dan melakukan apa saja yang saya mau dalam kegelapan, dan tidak ada yang dapat melihat saya," ingatnya. "Saya seperti kerasukan dalam ruangan gelap ini. Saya tidak ingin yang lain melihat saya jadi saya dapat menutupinya dan bertransformasi. Saya dapat berubah bentuk."

Sementara rekan-rekan band dan teman-temannya yang lain nongkrong di sebuah ruangan, Ruch masih ingat Csihar membuat gestur tubuh yang "aneh dan benar-benar mengawang" saat rekaman. Saat diminta untuk menggambarkannya, ia hanya menjawab dalam dua kata: "seaweed airplane."

Terkadang setelah rekaman, Csihar pulang kembali ke Hongaria, di mana ia tinggal setahun lagi meraih gelar sarjana elektro, sehingga ia dapat menuntaskan kuliahnya di kampus. "Ujian-ujian mulai berdatangan, dan saya tidak mau mengacaukan seluruh semester," katanya. "Rencana saya adalah melewati semester depan dan kembali lagi nanti (ke Norwegia), karena Euronymous memiliki rencana untuk menggelar tur konser. Saya benar-benar menantikannya."

Csihar terus menunggu kabar kelanjutan tur dari Euronymous, namun kabar tersebut tidak pernah datang. Pada akhirnya, seorang temannya memberitahu bahwa Euronymous telah terbunuh, namun Csihar tidak memercayainya sampai ia membaca sendiri beritanya dalam sebuah majalah. "Saya hanya bisa berkata, 'Sial, pantas tidak ada yang menjawab telepon saya selama dua minggu,'" ingatnya. "'Benar-benar gila.'

"Saya benar-benar depresi," lanjutnya. "Kehilangan seseorang dengan cara seperti itu rasanya … Kami tidak terlalu saling mengenal, namun kami sering ngobrol untuk waktu yang lama. Kami menyukai satu sama lain. Sedih kehilangan seorang teman. Lalu di antara semua itu, Anda memiliki sebuah album hebat yang belum juga keluar. Untuk merilis album pada masa-masa itu memang sulit sekali, terutama bagi saya yang berasal dari Hongaria di awal "90-an, tepat di akhir rezim komunis ini. Saya hanya bisa berharap dapat menyelesaikan sebuah album setelah satu dekade lamanya bermain musik.'"

Yang Csihar miliki saat itu hanya sebuah kaset berisi lima lagu yang ia rekam hasil dari demo kasar di studio. Selanjutnya, kaset itu kemudian dirilis sebagai album mini terbatas berjudul Life Eternal, namun ia tidak pernah mendengar versi final album tersebut hingga lebih dari setahun lamanya dan saat itu, bahkan tidak mendengar kabar apapun dari bandnya lagi.

Sementara itu, Hellhammer sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa bandnya yang berserakan di Norwegia. Pada 1994, Vikernes diganjar hukuman selama 21 tahun penjara atas aksi pembunuhan terhadap Euronymous, juga terhadap pembakaran gereja; ia mengklaim tidak bersalah atas tuduhan terakhir tersebut dan berdalih membunuh Euronymous sebagai pertahanan diri. Ruch, yang ikut mengantarkan Vikernes ke apartemen Euronymous, dijatuhi hukuman delapan tahun penjara karena dianggap bersekongkol dalam pembunuhan tersebut. Dengan kondisi Csihar yang tidak dapat dihubungi karena Hellhammer tidak memiliki kontaknya, maka sang drummer menjadi anggota band satu-satunya yang tersisa dari Mayhem. "Segalanya terserah pada saya untuk mengeluarkan album ini," katanya.

Ia terhubung dengan temannya, Robin Malmberg dari band Mysticum dan menggunakan program komputer dasar untuk membuat sampul album tersebut. Ia memiliki beberapa ide bagus untuk kemasan albumnya – lirik yang ditulis dalam kaligrafi di kertas perkamen, dengan nama band yang ditempel dalam alumunium – namun karena keterbatasan anggaran, segalanya kemudian menjadi lebih sederhana. Ia memilih foto katedral sebagai sampul albumnya karena Ruch yang memberikan gambar itu padanya dan menurutnya, itu keren. Satu-satunya foto yang ia miliki dari band mereka adalah foto berbayang dirinya, Euronymous dan Csihar, dan satu-satunya foto yang layak adalah foto dirinya dengan Euronymous, jadi foto-foto itulah yang masuk ke dalam album. Alasan lain, kurangnya kredit pada album ini, seperti diingat Hellhammer, "Ayah Euronymous tidak menginginkan album tersebut dirilis, karena sang pembunuh dan korban akan berada dalam satu [album] rekaman."

Lalu ia melanjutkan rencananya dan merilis album tersebut, seraya berkata bahwa ia belakangan belum berhubungan lagi dengan keluarga Euronymous. Vikernes telah bebas bersyarat pada 2009 dan ia juga belum menjalin kontak dengan Hellhammer, meskipun mereka saling mengirim salam satu sama lain layaknya sahabat. "Tidak ada dendam di antara kita atas sesuatu yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu," kata sang drummer. "Saya telah memaafkannya. Ini bukan lagi masalah tentang satu orang ingin membunuh yang lainnya. Euronymous juga ingin membunuh Varg. Namun saya kira itu hanya sebatas omongan saja. Saya tidak pernah membayangkan, bahkan dalam mimpi terliar saya, bahwa ia benar-benar melakukannya.

"Tentu saja itu adalah kehilangan yang sangat besar," katanya. "Namun jika Varg juga terbunuh, itu juga merupakan sebuah kehilangan yang sangat besar pula karena mereka adalah musisi-musisi yang hebat. Saya belum pernah berkata hal buruk tentangnya selama bertahun-tahun dalam wawancara apapun, karena saya melihat ini sebagai sebuah masalah pribadi antara dua pria yang berperang satu sama lain. Saya tidak mempunyai alasan untuk marah dan menamparnya sekuat tenaga."

Vikernes, sejak saat itu merilis album-album Burzum lainnya dan tetap menyebarkan filosofi kontroversial, menolak kesempatan untuk diwawancarai dalam artikel ini.

De Mysteriis Dom Sathanas akhirnya rilis pada musim semi 1994, dan pengaruhnya dengan cepat terlihat. Lagu-lagunya telah direkam ulang oleh band-band black metal kelas atas seperti Cradle of Filth, Immortal, Emperor dan Behemoth.

"Inovatif sekali," kata pentolan Behemoth, Nergal, tentang album tersebut. "Saat albumnya keluar, banyak orang yang tidak menyukainya, terutama karena vokal Attila yang benar-benar baru. Mereka berharapnya lebih terdengar seperti black metal tradisional, namun yang Attila lakukan benar-benar revolusioner dan masih seperti itu sampai sekarang. Genrenya tumbuh dengan album ini. Saya terpesona karenanya. Dengan mendengarkan album ini, Anda dapat [secara harfiah] merasakan bagaimana rasanya ada di dunia lain, bagaikan menyimak suara kematian dan perasaannya melampaui apapun juga."

Sekitar 1995, Hellhammer bertemu kembali dengan Necrobutcher dan vokalis era Deathcrush, Maniac, untuk kembali menyatukan band mereka serta merekrut gitaris baru yang menyebut dirinya sebagai Blasphemer. Mereka sebenarnya berharap bisa melanjutkan lagi dengan Ruch, namun hukuman penjaranya mencegah keinginan tersebut. Pada 1998, mereka berpapasan dengan Csihar di sebuah festival di Milan dan spontan memintanya untuk menyanyikan "From the Dark Past" dari De Mysteriis dengan mereka. Itu adalah kali pertama Csihar sadar akan dampak besar album tersebut pada penggemar musik.

"Para penggemar benar-benar dibuat gila karenanya, dan saya bertemu teman-teman dari Italia yang juga menyukai De Mysteriis," katanya. "Saya selalu beranggapan itu akan menjadi sebuah album yang bagus. Lalu saya mulai bertemu band-band lain yang juga menyukai album tersebut, saya baru sadar bahwa album ini kuat dan sangat bermakna." Csihar secara resmi bergabung kembali dengan Mayhem pada 2004, dan sejak saat itu mereka telah merilis dua album, Ordo Ad Chao (2007) dan Esoteric Warfare (2014).

Sementara itu, legenda Mayhem telah terdengar kemana-mana, berkat sebuah buku berjudul Lords of Chaos (1998), ditulis oleh Michael Moynihan dan Didrik Soderlind yang fokus menyoroti kematian yang terjadi di dalam Mayhem serta gelombang pembakaran gereja yang menggemparkan kancah black metal Norwegia. Sekarang bukunya sedang dalam proses adaptasi menjadi film oleh sutradara Jonas Åkerlund, yang pernah menjadi anggota band Bathory dan sejak saat itu menjadi sutradara video musik Madonna, Lady Gaga dan lain sebagainya. Rory Culkin didapuk untuk berperan sebagai Euronymous, dan aktor-aktor lainnya akan memainkan Vikernes, Dead, Necrobutcher, Hellhammer dan Ruch.

Necrobutcher sempat mengeluarkan pernyataan yang mencela film ini pada 2015. Ia berkata akan melakukan apapun juga untuk menghentikan film tersebut. Sekarang, dua tahun kemudian, ia mengaku belum mendengar kelanjutan dari produksi film ini. "Mereka menghubungi semua orang tanpa sepengetahuan kami, kru kami, pokoknya semua orang yang terasosiasi dengan kami secara diam-diam," katanya. "Pendekatan yang salah. Anda membuat film tentang sebuah band? Orang pertama yang akan saya hubungi tentu saja bandnya sendiri dan meminta izin untuk menggunakan musik mereka. Jangan datang setelahnya, karena kami pasti tidak akan memberikan izin untuk itu."

"Saya rasa semua yang paham benar akan black metal Norwegia tahu bahwa buku itu sampah, dan kami semua merasa skeptis dan negatif buku tersebut akan dijadikan film," kata Ruch.

Sekilas dari versi fiksi Mayhem dapat dilihat di video musik terbaru Metallica, "ManUNkind." Csihar merasa cukup terganggu dan hal itu bagaikan Mayhem membuat video musik yang menampilkan mendiang bassist Metallica Cliff Burton, meski ia mengaku tetap menghormati band tersebut. "Filmnya sedikit kontroversial bagi saya, karena itu adalah sebuah film yang didasarkan pada cerita band kami," katanya. "Apa-apaan nih?"

Åkerlund, melalui perwakilannya, menolak untuk berkomentar terkait artikel ini.

Meskipun Mayhem telah memainkan semua lagu dari album De Mysteriis secara langsung selama bertahun-tahun, namun baru sekarang – dengan kembalinya Csihar dalam band dan formasi dua gitar – mereka merasa sukses menampilkannya secara keseluruhan di atas panggung. "Apa yang Anda lakukan sebagai sebuah band? Anda merilis album, lalu Anda mempromosikannya, kemudian pergi tur," kata Necrobutcher blak-blakan. "Itu adalah satu-satunya album yang kami rilis tanpa melakukan tur."

"Rasanya sangat menyenangkan untuk melakukannya," kata Hellhammer seraya menambahkan bahwa ia harus kembali mempelajari ulang gaya bermain drum lamanya untuk album tersebut. "Sungguh senang. Orang-orang memahami dan menghargainya, dan itu berarti sesuatu bagi mereka."

Ruch juga mengaku harus mempelajari ulang beberapa bagian album ini saat ia bergabung kembali dengan band sebagai gitaris ketiga untuk sebuah konser musim gugur tahun lalu di Trondheim, hanya beberapa langkah dari gereja yang ada pada sampul album debut mereka tersebut. "20 tahun berlalu sudah sejak saya memainkan lagu-lagu ini dan permainan gitar saya sudah sangat karatan, saya harus memilih lagu yang paling mudah, yakni 'Freezing Moon,'" kata Ruch yang belakangan ini sedang sibuk menggarap album baru Thorns. "Dengan jubah-jubah dan altar Attila di atas panggung, atmosfernya sangat resmi, namun segalanya berjalan dengan baik. Saya melihat sisa konser tersebut dari kerumunan penonton dan saya rasa itu adalah konser terbaik Mayhem yang pernah saya lihat sampai hari ini."

"Dalam setiap konser, saya selalu memikirkan mereka yang telah tiada," kata Csihar. "Ini adalah sebuah pengalaman yang magis. Saya benar-benar suka energi dan atmosfernya. Bagaimanapun juga, segalanya masih terasa sangat emosional." (fra/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. 10 Film Indonesia Terbaik 2016
  5. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"

Add a Comment