Teddy Adhitya, Napas Baru Soul Indonesia

Pendatang baru dengan pengalaman segudang

Oleh
Teddy Adhitya Dennis Tumiwa

Nama Teddy Adhitya sudah masuk radar Rolling Stone dua tahun belakangan, terutama sejak single "In Your Wonderland" dirilis. Lagu berwarna soul tersebut memamerkan vokal Teddy yang sedikit mengingatkan pada Stevie Wonder atau malah Jamie Aditya. Lagu ini dirilisnya secara mandiri lewat kanal YouTube pribadinya. Sampai tulisan ini dibuat, video musik lagu tersebut telah ditonton sebanyak lebih dari 30 ribu kali.

Ketika bertemu langsung dengannya, Teddy mengeluarkan aura percaya diri yang kuat, baik itu dalam penampilan maupun saat berbicara. Tidak heran penyanyi setenar Tulus merekomendasikannya. Jika melihat sekilas, ia tampak nyaman dengan gaya pakaian urban yang membuatnya berbeda dengan banyak penyanyi seangkatan. Sneakers, kaus gombrong, dan rambut kribo. Kekinian, tapi juga menyiratkan kekuatan. Ia tahu apa yang ia mau.

Kharismanya kembali tercermin ketika ia menjawab pertanyaan yang diberikan. Ia bersemangat dan punya visi yang jelas. "Cita-cita gue ketika pertama kali main musik tahun 2008: gue ingin merilis album pada umur 25. Tahun ini gue 25 tahun, this is the time," katanya mengenai album yang akan dirilis akhir Februari ini.

Teddy mengawali kariernya sebagai penyanyi latar untuk Andre Hehanusa. Kemudian ia membentuk grup vokal Boyz II Boys bersama Kunto Aji, Adera, dan Beboy Sevensoul. Mereka sempat merilis satu lagu, namun kariernya tak ke mana-mana. Selanjutnya ia dipercaya menjadi vokalis untuk Barry Likumahuwa Project, tempat ia belajar musik jazz dengan lebih dalam. Setelah tiga tahun, ia diajak mengisi vokal untuk band Blotymama yang memainkan funk/R&B. Akhir tahun 2015, ia memutuskan untuk fokus berkarier solo.

Single "In Your Wonderland" mencuri perhatian orang dan menempatkan Teddy sebagai salah satu solois menjanjikan. Pertemuannya dengan seorang musisi muda bernama Anugerah Swastadi membantunya dalam meluncurkan karier solo. "Keinginan membuat album sudah ada sejak lama, tapi gue nggak terlalu mengerti produksi musik. Akhirnya ketemu Uga (panggilan Anugerah Swastadi), ngobrol dan langsung nyambung. Dia bisa menerjemahkan kemauan gue," jelas Teddy.

Kolaborasi berlanjut ke pembuatan album yang kemudian diberi tajuk Nothing is Real. Penggarapannya dilakukan di sepanjang tahun 2016. Rekaman terlaksana di MABES Music, Jakarta. Proses ini diakui Teddy sebagai pengalaman yang membuka mata: "Sebelum ketemu Uga, lagunya sudah siap. Gue sebagai musisi tahu inginnya seperti apa, tapi setelah ada keterlibatan orang lain harus bisa menyatukan. Seru jadinya. Gue melewati hal-hal yang sebelumnya gue pikir nggak bisa."

Album Nothing is Real berisi sembilan lagu soul dan R&B. Teddy tumbuh besar dengan beragam musik namun soul dirasa paling berkesan. "Setiap gue bikin lagu jadinya begini. Arah musik gue selalu kalau nggak soul ya R&B," jelasnya. "Dari 2008 sampai 2016, gue sudah memainkan musik yang sebenarnya bukan gue. Kali ini gue berani. Ini adalah album curhat gue. Dari awal sampai akhir, ada benang ceritanya."

Dengan bekal pengalaman panjang melanglang buana di industri, nama besar yang mendukung Teddy tidak berhenti di Tulus. Jajaran musisi profesional pun turut menyumbang peran, mulai dari Marco Steffiano (Barasuara/Raisa), legenda jazz Yance Manusama, sampai Adra Karim (Tomorrow People Ensemble). Tak heran, album ini terasa kaya.

Setelah menyelesaikan album, ia berkomitmen untuk merilisnya sendiri. Seperti Tulus yang datang dari jalur independen, ia percaya bahwa cara paling baik mengenalkan dirinya ke publik adalah tanpa bantuan label rekaman.

"Sebagai seniman, gue cukup berkeringat dari single pertama. Gue memulai karier dengan modal yang sangat kecil. Kalau misalnya gue signed, ngapain gue berdarah-darah dari awal?" katanya sambil tertawa. "Menjadi musisi independen itu memberi ruang lebih luas untuk bereksplorasi, bikin musik tanpa perlu approval siapa pun, bisa menemukan cara yang authentic ketika menjual karya."

Modal semangat ini didapatkan Teddy dari orang-orang yang turut mendukungnya dalam perjalanan membuat album. "Gue bikin album ini awalnya cuma berpikir mau merekam karya tanpa memikirkan gue harus ke mana. Setelah mengerjakan album, gue ketemu orang-orang yang membantu membukakan mata gue. Selama setahun gue belajar apa yang harus gue lakukan sebagai musisi independen," ujarnya bergairah.

Album Nothing is Real dirilis dalam versi digital dan fisik. Produksi cakram padat akan dibantu oleh Demajors. Menarik untuk melihat ke mana nasibnya akan berlabuh. Namun yang jelas ia telah menyelesaikan satu album penuh hasrat yang layak didengar.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 8 Lagu Cover Akustik Chris Cornell Paling Berkesan
  2. Ini Band-band Thrash Metal Favorit James Hetfield Di Luar 'Big Four'
  3. Dialog Santai Komunisme dalam Peluncuran Album Debut Jason Ranti
  4. JKT48 Meluncurkan Setlist Terbaru ‘Sekarang Sedang Jatuh Cinta’
  5. Rich Chigga, GTA, dan Anna Melengkapi Jajaran Penampil Ultra Singapura 2017

Add a Comment