Live Review: Stars and Rabbit dan Bottlesmoker

Oleh
Bottlesmoker dan Stars and Rabbit ketika tampil di IFI Bandung Indra Suhyar

Kebersamaan lebih lanjut dari dua kontingen Indonesia untuk festival musik Laneway 2017

Waktu tepat menunjukkan pukul delapan malam, ruangan gelap berkapasitas sekitar 300 orang itu masih terlampau lengang, mungkin masih kurang dari setengahnya terisi.  Nyaris semua mata yang ada di sana tertuju ke lantai pentas, di mana seperangkat instrumen musik sudah tertata, tak lupa pula dekorasi apik yang mengepung bagian bawah dan atas panggung. Satu orang masuk, hadirin di bawah bersorak, ia adalah Anggung Suherman alias Angkuy, setengah dari Bottlesmoker, separuh dari dua penampil malam itu, masuk dari sisi kiri panggung di waktu yang dijanjikan penyelenggara. Tak lama, giliran Ryan ‘Nobie’ Adzani  terlihat di lantai yang sama, menggenapkan Bottlesmoker, memulai penampilan, membuka dengan “Pluviophile”.

Minggu (5/2) itu, merupakan malam dari dua kontingen perdana Indonesia untuk Laneway Festival. Sedikit kilas balik, bersama Stars and Rabbit, pada 21 Januari lalu Bottlesmoker tampil dalam helatan Laneway Festival di The Meadow, Gardens by the Bay, Singapura. Kali ini, kebersamaan keduanya dipindahkan ke Institut Français d'Indonésie Bandung, dalam acara yang diselenggarakan Syarikat Dagang, sebuah ruang kolaborasi antara Omuniuum dan RURU Shop. Bottlesmoker sebagai tuan rumah didapuk sebagai pembuka. 

Memainkan musik tanpa vokal tak menjadi alasan bagi duo Bottlesmoker untuk sekadar mematung di balik instrumen, keduanya tampil energik, walau penonton tak membalas gairah tersebut dengan gerak dansa, tapi riuh apresiasi selalu menyertai setiap Bottlesmoker menyelesaikan lagu. Berbagai nomor dibawakan mulai dari materi lama seperti “Love Saturday” hingga beberapa materi terbaru semisal “Archipelago”, yang diklaim akan terkandung dalam album Bottlesmoker mendatang.

 "Album kita nanti rencananya (rilis) April dan rencananya kerja sama dengan Palmer (Palmer Keen). Jadi nanti kita akan coba menerapkan musik-musik tradisional," ujar Angkuy dari atas panggung, memberi penjelasan untuk “Archipelago” yang diklaim memuat bunyi musik tradisional yang direkam dari Nusa Tenggara Timur.

Setelah satu contekan dari album yang akan datang, Bottlesmoker membawakan satu lagu terakhir dan berpamitan kepada penonton yang jumlahnya terus bertambah. Sebuah ucapan selamat tinggal untuk pertemuan yang akan kembali terjadi beberapa puluh menit kemudian lebih tepatnya.

“Terima kasih untuk teman-teman, kita ketemu lagi di sesi berikutnya,” ujar Bottlesmoker, membocorkan segmen kolaborasi yang memang bukan rahasia. Faktanya, kedua entitas ini memang pernah bersekutu dalam sebuah penampilan di Artwarding Night 2016 pada 20 November tahun lalu.

 

Masuk ke segmen ke dua, giliran Elda Suryani dan Adi Widodo plus tiga personel additional  yang mengambil alih auditorium IFI Bandung . Suasana semakin riuh. Hadirin yang awalnya lebih banyak menyimak dengan khidmat, mulai berlaku sebaik-baiknya penonton pertunjukan musik:  ikut bernyanyi di tiap baris lirik, memberi tepuk tangan serta mengelu-elukan dengan keras. Mengimbangi Elda Suryani yang tak lelah menjadi atraktif. Dibuka dengan intro lalu dilanjut ke “I’ll Go Along” dan “Catch Me”, auditorium tersebut semakin bergairah.
 
Sekadar tambahan informasi, sebelumnya Syarikat Dagang pernah menghadirkan kompilasi bertajuk Pintu Rejeki Vol. 1 di mana kedua band yang tampil malam itu termuat di dalamnya. Tak melupakan album itu, Stars & Rabbit membawakan lagu mereka dalam kompilasi bertajuk Not Another Man Sad Song yang nampaknya kurang familier di telinga hadirin, saat itu tak banyak yang ikut bernyanyi. Dari situ mereka melanjutan dengan lagu paling akhir di album Constellation, “Old Man Finger” serta anthem patah hati “Cry Little Heart”.  

“Bandung tuh dari yang kami masih berdua sampai formasi saat ini, semua pernah dicobain,” ujar Elda sebelum melanjutkan repertoar dengan “Rabbit Run”. Dari situ, duo yang terbentuk di Yogyakarta ini memimpin spektator menyanyikan “Worth It”, lagu yang mengakhiri penampilan Adi dengan gitar akustik malam itu karena ia melanjutkan pertunjukan dengan gitar elektrik hollowbody. Kali itu mereka membawakan lagu baru. 

 

Setelah materi anyar itu, semua sampai di segmen terakhir. Segmen di mana Elda kembali mengundang dua orang yang sebelumnya mengisi panggung. Melakukan pengulangan atas pertunjukan di Artwarding Night lalu, memindahkannya ke IFI Bandung dan membuatnya dalam durasi yang lebih penjang. Lalu terjadilah sesi yang tak mengejutkan namun menarik untuk disimak ini: kolaborasi antara Bottlesmoker dan Stars and Rabbit.

“Jadi ada satu waktu di mana kami ditantang untuk kolaborasi, jadi kolaborasi yang bisa milih siapapun. Kami nggak pernah kepikiran untuk kolaborasi karena fokus untuk musik sendiri aja,” ujar Elda mengenang awal mula persekutuan mereka dengan Bottlesmoker. "Kami kan sering main bareng sama dua orang ini (menunjuk Nobie dan Angkuy), dari situ kami berpikir, probably we can do somenthing with these guys. Terus kami memberanikan diri untuk mengontak dan mengajak mereka kolaborasi. And, it's a success ," lanjutnya yang diikuti oleh kolaborasi di lagu “Summer Fall” milik duo asal Yogyakarta ini. 

Kolaborasi dari dua band yang menyajikan musik berbeda ini merupakan suatu mutualisme di mana Stars and Rabbit mendapat sentuhan elektronik dan mengawang, sementara Bottlesmoker mendapatkan tambahan vokal serta suara instrumen musik ‘konvensional’ , berhubung lagu mereka kebanyakan nirvokal dan sesekali berasal dari sumber bunyi yang tak terpikirkan. Misalnya saja saat “Frozen Scratch Cerulean” , lagu kedua dalam kolaborasi ini, di mana Elda menanamkan vokal dan lirik.

Selama kolaborasi ini berlangsung, nyaris di setiap jeda lagu selalu ada interaksi antara penonton dan yang ditonton. Venue yang tak begitu berjarak mempermudah teriakan hadirin untuk sampai ke telinga penampil. Salah satunya saat segelintir penonton meminta agar tujuh orang di panggung mengulangi penampilan setelah kolaborasi -yang disebut Elda sebagai ‘SRxBS’- ini membawakan lagu ketiga alias “The House”. Sebuah permintaan tak serius yang dibalas dengan candaan. 

"Kami memang berencana mau meneruskan kerja sama ini. Kerja sama yang baik ini,” balas Elda. "Tapi ditunggu ya, nggak bisa cepet-cepet, dong. Termasuk diulangi, itu agak nggak mungkin." Tambahnya, yang diikuti tawa penonton.  “Ditunggu aja, mungkin pertengahan tahun misalnya," imbuhnya memberi contekan. 

Setelah isyarat tersebut, bunyi synth muncul, petikan gitar menyertai. Membawakan “Man Upon The Hill”, menghadirkan riuh antusias, diikuti paduan suara dari spektator yang semakin keras. Mempertemukan energi dari penampil dan penonton yang saling berhadapan. Menyudahi sesi terakhir. Membuat hadirin meminta encore

Walau keinginan tak diamini, dua jam berada di ruangan itu memberi dua hal untuk dikantongi: Kepuasan atas sajian yang menyenangkan plus rasa penasaran mengenai kerja sama lanjutan apa yang akan mereka lakukan. 

Editor's Pick

Add a Comment