Live Review: Warpaint

Oleh
Theresa Wayman, vokalis sekaligus gitaris Warpaint, saat beraksi di Parkir Selatan Senayan pada Jumat (17/2) lalu. Dennis Tumiwa

Berpesta pora dalam dentuman musik rock dengan sentuhan elektronika

Ini adalah kali pertama Warpaint bertandang ke Indonesia; termasuk dalam rangkaian Heads Up Tour yang mempromosikan album terbaru mereka rilisan tahun 2016 lalu, Heads Up. Mari berterimakasih kepada promotor Wire It Up asal Bandung yang mengawali eksistensi mereka di perkonseran Indonesia dengan mengundang Warpaint. Kali ini Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang beruntung disambangi kuartet art rock asal Los Angeles tersebut. Setelahhnya, Emily Kokal (vokalis/gitaris), Jenny Lee Lindberg (vokalis/bassist), Theresa Wayman (vokalis/gitaris) dan Stella Mozgawa (drummer) melanjutkan perjalanan tur mereka ke Australia.

Parkir Selatan Senayan, Jakarta dipilih sebagai tempat yang dikira cukup pas untuk menampung antusiasme penonton yang ingin mendengar lagu-lagu populer seperti "So Good" dan "Love is to Die" secara langsung. Hujan yang belakangan ini sering hadir tanpa pertanda, tidak turun pada Jumat (17/2) malam itu.

Ada tiga band lokal yang didapuk sebagai pembuka konser, yakni Troü, Diocreatura, dan KimoKal. Arena konser masih cukup lengang saat band pembuka kedua, Diocreatura, bermain pukul setengah delapan. Unit shoegaze asal Bandung besutan Ekky Darmawan dari Rock n Roll Mafia dan Polyester Embassy ini membawakan beberapa lagu mereka, termasuk di antaranya single "There and Then".

KimoKal tampil sesudahnya, membuat penonton yang tadinya masih berada di luar area konser merapat ke depan panggung. Suasana yang tadinya lengang pun menjadi lumayan padat, terutama di bagian depan hingga tengah panggung. Duo pop elektronik yang diperkuat Kimo Rizky dan Kallula Harsynta tersebut membuka penampilan mereka lewat entakan "Extra Mile". Beberapa lagu mereka lainnya, seperti "Adiamo", "Embrace", dan "Under Your Spell", juga dibawakan dengan apik dan magis.

KimoKal yang menjadi salah satu band pembuka (foto: Dennis Tumiwa)

Warpaint yang dijadwalkan tampil pukul sembilan, baru naik ke atas panggung tiga puluh menit kemudian diikuti sorakan penonton yang menggemakan nama personel favorit masing-masing. Lagu "Intro" menjadi pembuka diikuti "Keep It Healthy" yang memanaskan suasana.

Mereka cukup adil dalam memilih lagu-lagu dari tiga album yang sudah dirilis. Hits seperti "Love is to Die" dan "Disco//Very" dari album kedua dan lagu-lagu dari album teranyar mereka macam "New Song", "The Stall", dan "Whiteout" berhasil membuat penonton menganggukkan kepala dengan semangat. Tak lupa, Warpaint juga membawakan lagu "Undertow" dari album perdana The Fool yang diklaim sebagai penghormatan mereka terhadap lagu "Polly" milik Nirvana. Terhitung ada lima belas lagu yang mereka bawakan dengan sangat baik malam itu.

Gebukan drum Stella yang mantap, petikan bas Jenny yang berliku, serta permainan gitar juga olah vokal dari Emily dan Theresa yang harmonis menjadi jawaban atas rasa penasaran dalam melihat aksi panggung Warpaint secara langsung. Jenny yang malam itu tampil santai mengenakan kaus barong Bali dan Emily dengan kaus logo Coca Cola dalam huruf Arab beberapa kali melakukan interaksi dengan penonton. "You have beautiful voices!," teriak Emily merespons nyanyian massal penonton. "Bagus, bagus, bagus!," lanjutnya lagi mengundang derai tawa penonton. Penonton juga dibuat gemas akan ulah Jenny yang tiba-tiba melambaikan tangan di jeda lagu.

Jenny Lee Lindberg, bassist Warpaint yang juga sering mendukung departemen vokal. (foto: Dennis Tumiwa)

Sekitar pukul setengah sebelas, pasca membawakan "Disco//Very", Warpaint memutuskan pamit dari panggung. Namun setelah seruan "We want more!" bergaung ke seluruh area konser, mereka kembali muncul untuk menyanyikan encore "So Good" dan "Bees". "You guys are cuties!," teriak Emily sebelum mulai menyanyikan kedua lagu tersebut.

Segala sesuatu dari konser perdana Warpaint di Jakarta ini terasa pas. Mulai dari band pembuka dengan performa yang prima, aksi panggung cergas dan tertata, tata suara jernih, transisi yang halus, hingga sentuhan bola disko yang menggantung di langit panggung serta tata cahaya tidak berlebihan membuat penonton merasa sangat terhibur malam itu. "We love you so much, thank you!," teriak mereka sebelum turun panggung untuk terakhir kalinya malam itu.

Editor's Pick

Add a Comment