Dengar Lagu Baru Katy Perry yang Bersemangat, "Chained to the Rhythm"

Sang penyanyi akan memainkan lagu ini, berduet dengan Skip, cucu Bob Marley, langsung dari ajang Grammy minggu ini

Oleh

Sehari setelah menaruh bola disko dengan colokan untuk headphone di berbagai kota di dunia, Katy Perry meluncurkan single terbarunya "Chained to the Rhythm" pada Jumat (10/2) ini. Itu adalah lagu pertamanya sejak rilisnya lagu "Rise" yang menjadi lagu Olimpiade musim panas lalu.

Lagu yang menampilkan cucu Bob Marley, Skip, dan ditulis oleh Perry, Sia dan diproduseri oleh Max Martin ini, di antara yang lain, memiliki tempo beat yang sedang, dengan Marley yang mencampur latar belakang reggae-nya dengan synth-pop yang menggebu. Video lirik yang dirilis bersamaan dengan lagunya menampilkan sepasang tangan yang sedang mempersiapkan makanan di sebuah miniatur dapur. Di akhir videonya, seekor tupai yang sedang menonton temannya yang berlari dalam roda berputar di televisi menerima makanan kecil tersebut.

Perry memasukkan sebuah elemen subversif ke dalam lagunya yang berpura-pura dan dangkal ini, mengikat lirik-liriknya dengan ide akan kenyamanan yang egois dan rasa berpuas diri. "Come on, turn it up, keep it on repeat/Stumbling around like a wasted zombie/Yeah, we think we're free," nyanyinya. Di lirik lainnya, ia bernyanyi, "Living our lives through a lens/Trapped in our white-picket fence/Like ornaments/So comfortable, we live in a bubble."

Rabu (8/2) lalu, sang penyanyi merilis sebuah peta yang menunjukan 24 lokasi di mana para penggemarnya dapat menyolok headphone mereka ke sebuah bola disko yang dirantai ke sebuah obyek untuk mendengarkan sepintas lagunya. (Kerumunannya, setidaknya di New York dan San Francisco, terlihat cukup jarang daripada yang diharapkan.)

Fokus publik Perry belakangan memang lebih ke politik daripada musik. Bulan lalu, pendukung Hillary Clinton yang bersemangat ini bergabung dengan Madonna, Cher, Scarlett Johansson, Amy Schumer dan lainnya dalam barisan nasional Women's March di Washington sehari setelah pelantikan Donald Trump.

Ia baru-baru ini menjadi produser eksekutif untuk sebuah iklan layanan masyarakat yang mempertanyakan apakah sikap xenophobia Trump adalah sebuah pertanda bahwa sejarah dapat terulang kembali. "Jangan membuat kebencian menjadi hal yang normal," tulis Perry kepada 95 juta pengikutnya di Twitter. Iklan layanan masyarakat ini menceritakan kisah nyata Haru Kuromiya, seorang Jepang-Amerika berusia 89 tahun yang ingat pernah terdaftar dan ditempatkan di sebuah barak penahanan selama empat tahun saat Perang Dunia II.

Perry akan menyanyikan lagunya ini langsung dari perhelatan Grammy tahun ini, Minggu malam nanti. (fra/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Sandhy Sondoro Siap Gelar Tur Konser Perdana di Inggris Raya
  2. Kuartet Rock Asal Bali, Zat Kimia, Luncurkan Album Perdana
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Synchronize Fest 2017: Merayakan Musik Indonesia dengan Segala Keunikannya
  5. Saksikan Trailer Film ‘Chrisye’ yang Menampilkan Vino G. Bastian

Add a Comment