Soundwaves: Tentang Sahabat Bernama Oon

Udjo Project Pop mempersembahkan sebuah tulisan terkait kepergian rekan bermusiknya

Oleh
Udjo Project Pop. Bayu Adhitya

Pada 16 Januari 2017, dari puluhan pesan yang mampir di WhatsApp saya, ada satu yang berbeda datang dari seorang teman lama yang bekerja di Rolling Stone Indonesia. Ia mengucapkan rasa bela sungkawa atas berpulangnya Oon, saudara seperjuangan di Project Pop.

Setelah kalimat belasungkawa dia bilang, "Bisa menulis tentang Oon? Buat Rolling Stone Indonesia?" Kalimat itu langsung saya balas, "Saya nggak bisa menulis. Tidak hanya karena suasana hati yang masih galau sepeninggal Oon, alasan lain ya karena jujur saya nggak bisa menulis." Namun saya kemudian menyanggupi, walau saya sudah memberikan peringatan untuk pembaca: Udjo tidak bisa menulis.

Saya bingung menulis dari mana. Apakah cerita tentang Oon yang saya kenal di masa Ospek? Sama-sama asal Bandung dan sama-sama jadi mahasiswa baru FISIP Unpar angkatan 1991 walau beda jurusan? Oon kuliah di jurusan Administrasi Niaga dan saya di Hubungan Internasional. Sama-sama kena damprat dan mengerjakan hal-hal bodoh tapi seru atas perintah dan suruhan Tika Panggabean dan Yosi Mokalu sebagai panitianya? Atau tentang masa kami jadi mahasiswa abadi dengan rekor 7 tahun maksimal berkuliah dan akhirnya wisuda bareng tahun 1998?

Atau lebih menarik bercerita seorang Oon yang lulusan SMAN 5 Bandung dengan segudang prestasi dan kegiatannya? Sebagai wakil ketua OSIS, penggerak vokal grup dengan prestasi mumpuni seantero Bandung? Oon adalah adik angkatan Armand Maulana dan Capunk dari Java Jive.

Yang pasti Oon lebih dulu masuk Padhyangan dan membantu kakak-kakak senior seperti Denny Chandra dan Iszur Muchtar dalam merampungkan album pertamanya, Padhayangan Project (1993). Saya ingat Oon dengan bekal kemampuan grup vokalnya ikut mengisi backing vocal album itu untuk lagu plesetan "Waktu Istirahat" dari BoyzIIMen. Masih ingat lagu legendaris itu?

Kisah Oon selama di Project Pop mungkin adalah masa-masa paling komplet dalam perjuangan hidupnya. Dia akhirnya bisa punya grup sendiri, tempat yang dia yakin pantas jadi gantungan hidupnya. Sama seperti yang dirasakan Odie, Tika, Yosi, Gugum, dan saya.

Format grup vokal pop kreatif komedi ini sangat pas untuk Oon yang dulunya anak grup vokal sekolah. Oon punya passion besar dalam menggerakkan Project Pop, karena dari dulu dia suka berorganisasi dan suka hal yang berbau manajerial. Oon termasuk yang paling awal peduli dan berinisiatif tentang bagaimana kami bisa memproduksi sebuah produk rekaman.

Ketika membuat lagu adalah bagian Yosi dan Gugum, Oon langsung dengan cepat bergerilya mencari musisi yang patut diajak (dia kenal banyak musisi di Bandung). Dia menemukan Irwan Simanjuntak (produser musik) dan Ari Firman (The Groove), musisi-musisi Bandung yang andal untuk menggawangi musik Project Pop. Sampai ke taraf sistematika rekamannya plus hitungan lainya, Oon bisa mengerjakan itu.

Walau Oon selalu merasa tidak punya kapabilitas membuat lagu, ada lagu buatannya yang dibuat bersama Tika dan saya di album Six A Six dengan judul "Putusin Dong…". Oon juga menjadi garda paling depan kami ketika bernegosiasi dengan pihak label. Ia paling bisa membuat cair label Musica Studio"s terkait kerja sama selama bertahun-tahun.

Band pasti mengalami masa pasang surut, juga dengan Project Pop. Tapi dengan pembawaannya yang easy going namun embung eleh (bahasa Sunda berarti tidak mau kalah), mental ini membawa kami terus sampai 20 tahun. Album rekaman, iklan, beragam kegiatan manggung, sampai berhasil membuat Konser 20 Tahun Project Pop kami libas bersama. Semua dijalankan Oon dalam kondisi sakit di tiga tahun terakhir ini. Oon itu kuat sekali. Ia adalah personel Project Pop yang paling banyak dapat tawaran main film, dengan kemampuan akting dan ekpresinya yang susah tertandingi.

Sebut saja dia Roni (panggilan sayang dari mamanya) atau Pak Dudung (panggilan sayang abang-abang di P-Project) atau Om Lala (dari Gorila di lagu "Ingatlah Hari Ini"), dr. Peni S (tokoh dokter langganan di film-film karya Monty Tiwa) atau Once, panggilan sayang saya ke Oon.

Bagi kami semua, Oon adalah sahabat yang menyenangkan. Seorang penggila gadget sejati, pencinta Vespa yang loyal, suami dan bapak yang luar biasa bagi istri dan dua anak lelaki yang selalu ia banggakan.

He"s a fighter, he"s a lover, Oon si si penikmat hidup. Saya harus berhenti sejenak, karena air mata saya menetes ketika menuliskan ini.

Kami semua kangen Oon. Bagi saya, Oon adalah semangat. Oon tidak gampang mengeluh. Oon itu asyik, Oon itu easy going, Oon buat saya adalah tawa, Oon adalah cinta. Oon sudah tidak sakit lagi. Oon sudah damai di sana. Istirahat ya, brother. Rest in love.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  2. Lagu "Rock Da Mic" dari Shaggydog Digubah Ulang Menjadi Empat Versi Berbeda
  3. Rich Chigga Siap Tur Konser Keliling Amerika Serikat Kedua Kalinya
  4. Kahitna, Slank, hingga Superman Is Dead Siap Ramaikan Synchronize Fest 2017
  5. Iko Uwais Melawan Alien di Candi Prambanan dalam Trailer 'Beyond Skyline'

Add a Comment