Perjuangan Dian Sastrowardoyo Sebagai 'Kartini’ Tayang Mulai 20 April

Ditayangkan hanya sehari sebelum Hari Kartini

Oleh

Setelah menggarap biopik dua sosok pahlawan nasional, KH Ahmad Dahlan dan Soekarno lewat Sang Pencerah (2010) dan Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Hanung Bramantyo kini membuat biopik Kartini yang rencananya akan tayang mulai 20 April mendatang.

"Sejak umur 4 tahun Kartini tidak boleh tidur bersama ibu kandungnya hanya karena ibunya bukan seorang bangsawan. Ayahnya harus menikahi perempuan bangsawan untuk bisa menjabat sebagai Bupati Jepara. Anak-anak perempuan sang bupati kelak harus menjadi seorang Raden Ajeng, yaitu perempuan yang disiapkan menjadi isteri bangsawan. Tidak peduli menjadi isteri pertama, kedua maupun ketiga. Kartini, anak perempuan pertama dari Ngasirah dan RM Sosroningrat menolak takdir itu," tulis Hanung menjelaskan secara singkat sinopsis film ini via akun Instagram miliknya.

Ia juga menuliskan, "Baginya Perempuan punya hak atas tubuh dan masa depannya sendiri. Bersama Kardinah (adik kandungnya) dan Roekmini (adik dari isteri ayahnya yang lain) Kartini melakukan perlawanan atas budaya yang meletakkan perempuan hanya sebagai perhiasan laki-laki. 'Panggil aku Kartini saja, tak perlu dengan embel-embel Raden Ajeng' kata Kartini kepada masyarakat Jawa yang mengekangnya."

Kartini merupakan film yang diproduksi Legacy Pictures bekerja sama dengan Screenplay Films. Melalui akun YouTube-nya, Legacy Pictures telah meluncurkan video teaser trailer resmi film Kartini pada akhir Januari lalu. Dalam deskripsinya, film ini akan bercerita tentang semangat, kepedulian, kecerdasan, dan cinta Kartini, pahlawan perempuan Indonesia.

"Tubuh boleh terpasung tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya," ujar Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini dengan logat Jawa di akhir teaser tersebut. Selain Dian, film ini juga dibintangi Adinia Wirasti, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, serta Denny Sumargo.

Sejak umur 4 tahun Kartini tidak boleh tidur bersama Ibu kandungnya hanya karena Ibunya bukan seorang Bangsawan. Ayahnya harus menikahi perempuan Bangsawan untuk bisa menjabat sebagai Bupati Jepara. Anak-anak perempuan sang Bupati kelak harus menjadi seorang Raden Ajeng, yaitu Perempuan yang disiapkan menjadi isteri Bangsawan. Tidak peduli menjadi isteri pertama, kedua maupun ketiga. Kartini, anak perempuan pertama dari Ngasirah dan RM Sosroningrat menolak takdir itu. Baginya Perempuan punya hak atas tubuh dan masa depannya sendiri. Bersama Kardinah ( adik kandungnya ) dan Roekmini ( adik dari Isteri Ayahnya yang lain ) Kartini melakukan perlawanan atas budaya yang meletakkan perempuan hanya sebagai perhiasan laki-laki. 'Panggil aku Kartini saja, tak perlu dengan embel-embel Raden Ajeng' kata Kartini kepada masyarakat Jawa yang mengekangnya ... Nikmati persembahan trailernya : klik di Profile ( bio )

A photo posted by Hanung Bramantyo (@hanungbramantyo) on


Editor's Pick

Add a Comment