Hardwired Metallica

Metallica sukses mengguncang Singapore Indoor Stadium

Oleh
Metallica saat beraksi di Singapore Indoor Stadium pada 22 Januari lalu. Aloysius Lim

Pukul enam sore saya tiba di Singapore Indoor Stadium bersama dengan Andra Ramadhan, Kruso (manajer Andra and the Backbone), dan Andri, mantan manajer Deadsquad yang kini tinggal di Singapura. Entah mengapa yang didengarkan di mobil dalam perjalanan ke TKP malahan album Rust In Peace dari Megadeth, sambil mengkhayal bodoh akan seperti apa jadinya Metallica bila dulu Dave Mustaine tak pernah ditendang keluar dari band ini.

Hal pertama yang dituju setelah kami sampai adalah tenda merchandise, tapi nampaknya keinginan untuk mendapatkan kaus harus dikubur dalam-dalam akibat antrean mengular dari orang-orang yang ingin mendapatkan kenang-kenangan konser kelas dunia tersebut. Lebih baik saya langsung ke dalam dan mencari tempat strategis untuk menonton konser ini. Di depan mixer FOH saya pikir selalu akan menjadi pilihan terbaik. Mendengarkan sound yang sama persis dengan yang didengarkan oleh Big Mick Hughes (sound engineer Metallica) adalah hal yang layak dikejar.

Sekitar setengah jam menunggu, konser dimulai. Saya sudah mendapat kisi-kisi bahwa konser Metallica di Singapura akan membawakan banyak materi dari album terbaru mereka, Hardwired..To Self Destruct. Tentu saja saya berharap banyak lagu dari album lama yang dibawakan, tapi melihat keberhasilan komersial album terbaru band ini, rasanya wajar apabila mereka kini lebih percaya diri dengan lagu-lagu baru mereka dibandingkan album lainnya. Intro “Ecstasy Of Gold” berkumandang, koor massal, dan boom! “Hardwired to Self Destruct” menggelegar. Ketika saya mengatakan menggelegar, secara harfiah itulah yang terjadi. Telinga seketika pekak, dan dada berdegup kencang ketika suara kick drum berkejaran dengan detak jantung. Ini bukan lagu terbaik Metallica, tapi di titik ini hal tersebut bukan menjadi masalah. Sukar menjadi kritikus musik ketika ratusan ribu watt mengharu biru dengan aliran musik favorit semenjak masa kecil.      

Bagi saya, James Hetfield adalah personel Metallica yang menua dengan gaya yang paling tepat. Tampil dengan battle vest penuh patches band-band New Wave of British Heavy Metal yang menjadi akar bermusiknya semacam Trespass, Motorhead, Venom, Tank, dan juga doom metal semacam Trouble menunjukkan ia masih nyaman dengan identitasnya sebagai metalhead. Ini adalah penghormatan bagi band-band tersebut. Dan ya, bagi mesin atau brand sebesar Metallica, tulisan apa pun yang melekat di tubuh mereka merupakan sebuah endorsement yang sangat bernilai. Saat itu hanya James Hetfield yang terlihat sangar. Lars Ulrich tampil menggunakan kupluk, Robert Trujillo muncul dengan rambut terkepang, sementara Kirk Hammet menggunakan kemeja ungu rapi di dalam jas. Terima kasih, James!

“For Whom The Bell Tolls” kemudian dilanjutkan dengan “Fuel” dan “Unforgiven”. Total malam itu sebanyak 18 lagu dibawakan dan enam buah lagu diambil dari album Hardwired. Mayoritas penonton malam itu seakan masih membuktikan bahwa deretan nomor lama seperti “One” atau “Master of Puppets” serta “Seek and Destroy” masih merupakan favorit massa. Di lagu-lagu ini koor terdengar paling keras, dan atmosfer seketika berubah. Konser ditutup oleh encore tiga lagu, yakni “Fight Fire With Fire”, “Nothing Else Matters”, dan “Enter Sandman”.

Akhir-akhir ini banyak sekali penggemar lama dan baru serta musisi yang merasa performa Lars Ulrich mulai menurun dan cukup bermasalah dengan tempo. Di mobil saat menuju ke venue pun kawan-kawan sempat membahas hal ini. Namun ternyata yang terjadi di lapangan ketika konser berjalan adalah...memang demikian. Tempo yang kadang tak serempak terlihat di beberapa momen. Tapi menurut saya ya begitulah Metallica. Belum lagi kekurangan tersebut ditutup oleh tata lampu dan pertunjukan laser yang sungguh spektakuler, sampai bisa jadi berbahaya untuk yang menderita epilepsi. Visual yang ditampilkan di layar pun menghibur dengan artwork yang tematis dengan album terbaru mereka yang berwarna-warni. Salah satu highlight adalah ketika “One” dibawakan. Bayangkan cerita tentang medan perang yang divisualisasikan dengan tata cahaya paling mutakhir di showbiz. Mampu membuat saya terhenyak dan terdiam menganga. 

Singapore Indoor Stadium malam itu memang bukan seperti GBK, tempat Metallica pernah menghibur 60 ribu penonton dengan deretan hits. Dari data yang saya terima, 10 ribu adalah jumlah penonton yang hadir malam itu. Namun kualitas tampak mengalahkan kuantitas. Dalam arti sebuah band besar dengan pertunjukan berhasil memamerkan kebesaran namanya. 

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"
  5. 10 Film Indonesia Terbaik 2016

Add a Comment