Emma Stone, Sang Bintang Telah Lahir

Sang bintang film 'La La Land' meninggalkan masa kecil yang penuh kegelisahan di Arizona dan menjadi aktris tanpa beban

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 142 Februari 2017. Mark Seliger

Tempat favorit Emma Stone untuk makan sushi di Los Angeles adalah restoran sederhana di sebuah mal di Sunset Boulevard, ada di antara klinik kecantikan dan toko FedEx. Baru sejenak kami duduk, ia bercerita tentang hernia hiatal yang diidapnya. "Saya tidak bisa makan makanan pedas," kata Stone. Masalahnya ada di sebuah bagian di perutnya yang menyenggol "esofagus saya". Kedengarannya menyeramkan tapi untungnya tidak parah, walau ada kemungkinan asam lambung naik. "Ini bawaan lahir," kata Stone dengan ceria. Ia memisahkan sumpit menjadi dua. "Saya seolah-olah laki-laki tua yang menjadi perempuan muda."

Pertama kali saya bertemu Stone adalah 11 menit lalu, tapi rasanya saya sedang nongkrong dengan seorang sahabat lama. Tubuhnya diletakkan sangat dekat dengan meja, beberapa kali membahas ulang omongan kami seolah-olah kami sudah lama kenal, dan sempat menengadahkan kepala sembari meminta saya memeriksa lubang hidungnya karena ia yakin ada barang memalukan di dalamnya. Baru setengah jalan kami makan malam, dua laki-laki duduk di meja dekat kami. Stone yang melihat mereka berbisik pada saya: "Aduh, sepertinya mantan pacar Paris Hilton baru duduk—yang tampangnya seperti peniru Elvis Presley." Ia mengarahkan jempolnya ke kiri, dengan tidak malu-malu mengarahkan pandangan saya kepada seorang pria tampan. Mungkin itu memang mantan pacar Paris Hilton, atau malah orang lain. Saya kembali memandang Stone. Walau ia adalah Emma Stone, orang paling terkenal di restoran ini dan kemungkinan paling tenar di seluruh Sunset sekarang, ia tersenyum lebar akibat pemandangan tadi. "Benar, kan?" katanya.

Bahwa Stone adalah makhluk yang sangat mudah membuat kita jatuh hati sudah diketahui banyak orang, yang menonton filmnya. Ia bintang film yang sangat manusiawi—yang setiap muncul di layar entah bagaimana bisa membuat kita lupa bahwa ia seorang bintang film. "Ia jujur, tidak pretensius, dan sangat cerdas," kata Jonah Hill, yang bermain bersama di film pertama Stone, Superbad.

Stone sering dibilang mirip dengan idolanya, Diane Keaton. Beberapa perbandingannya memang terbukti benar: Keduanya cantik, lucu, dan berkali-kali menjadi inspirasi bagi Woody Allen. Namun dengan kombinasi kepribadian Stone yang seru, kocak, dan bisa membuat kebaikan hatinya memikat dibanding membosankan, ia juga punya banyak kesamaan dengan idolanya yang lain: Tom Hanks. Ia pernah ikut audisi untuk berakting dengan Hanks di Larry Crowne, di tahun 2011, lebih karena ia mengagumi Hanks dibanding bobot naskahnya. Ia tidak berhasil di audisi itu, katanya dengan sepasang bahu yang turun. Namun di tahun yang sama ia jadi aktris utama di The Help dan mencuri perhatian di Friends With Benefits dan Crazy, Stupid, Love. Menyaksikan film-film yang semakin menarik dengan adanya Stone—antara lain Superbad, Easy A, Zombieland, dan pembuatan kembali The Amazing Spider-Man—kita mendapat kesan bahwa ia bekerja dengan lebih ceria dibanding semua orang, dan bahwa ia bersenang-senang menurut rumusnya sendiri, tanpa peduli apa ada yang menyaksikannya.

Stone tinggal di New York. Dulu ia pernah menyebut L.A. sebagai rumahnya, lalu merasa tidak bisa tinggal di situ. Kini perasaannya berangsur-angsur lebih baik. "Seperti saya membayangkan D.C.," katanya, "kita dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa jatuh dan bangun di peringkat kekuasaan, dan cuma itu satu-satunya hal yang bisa dibicarakan." Di New York, ia kerap menonton teater atau menghabiskan waktu di rumah dan menonton film dengan teman-teman—di dalamnya termasuk sesama aktor Martha MacIsaac, Sugar Lyn Beard, dan Jennifer Lawrence. "Kami sering pergi bersama, gantian nongkrong di rumah satu sama lain," kata Stone. "Bulan lalu saya di rumah Jen, kami nonton Hocus Pocus." (Stone sempat berpacaran dengan Andrew Garfield, sesama pemain di Spider-Man, selama beberapa tahun namun kepada saya ia bilang kini ia melajang.)

Saat ini Stone ada di Los Angeles karena ada film barunya yang bagus akan tayang, La La Land. Bentuknya musikal, memukau dengan ceritanya yang manis, tentang dua pemimpi Hollywood—Stone sebagai bakal aktor yang tak juga berhasil, Ryan Gosling sebagai musisi jazz yang berkhayal membuka klubnya sendiri—yang jatuh cinta sembari menari dan menyanyi melintasi L.A. Perspektif romantis film ini tentang Los Angeles seperti film-film zaman dulu—adegan pembukanya berlokasi di jalan layang, mengubah Angeleno yang biasanya macet menjadi pemandangan indah. Seperti Stone—yang kadang terlihat seperti bintang komedi dari zaman dulu—film ini menjembatani era klasik dan masa kini. "Saya butuh seseorang yang bisa membuat musikal tradisional terasa relevan dan bisa dipahami orang-orang yang mersa mereka tidak suka musikal," kata penulis dan sutradara La La Land Damien Chazelle. "Emma sangat modern, tapi juga ada sesuatu tentangnya yang tak lekang oleh waktu."

Bahkan sebelum dirilis, film ini sudah dijagokan sebagai pemenang Oscar. Saat kami bertemu, pertengahan November lalu, gegap-gempita Stone di berbagai acara penghargaan sudah dimulai. Beberapa malam lalu ia menghadiri makan malam Governors Awards tahunan yang diadakan Academy Awards. Malam ini ada sesi tanya jawab yang juga dikelola Academy. Besok ada premiere karpet merah untuk pemutaran La La Land di festival film untuk kesekian kalinya, dan lagi dan lagi, sampai 2017. "Rasanya saya mulai mempromosikan film ini sejak Agustus dan sampai sekarang belum berhenti," katanya.

Tapi bukan berarti ia mengeluh. La La Land menampilkan permainan Stone yang paling bagus sejauh ini, dan ia dijagokan masuk nominasi Aktris Terbaik di Oscar. Saat saya menyebut ini, ia menjawab, "Saya mencoba untuk tidak memikirkan itu." Refleks pertamanya adalah merendahkan diri sendiri, bukan menyanjung; bercanda, bukan menyombong. "Saya hanya fokus pada apa yang harus saya lakukan di satu momen, dan tidak harus memikirkan ini semua mengarah ke mana."

Ada sesuatu yang juga sedang ia coba lupakan, walau tidak terlalu berhasil: Saat itu baru beberapa hari berlalu sejak pemiilihan presiden Amerika Serikat, dan Stone adalah pendukung keras Hillary Clinton. Kemenangan Donald Trump membuatnya resah. "Sangat sulit untuk mencerna apa yang akan terjadi, atau saya harus berbuat apa," katanya. "Mengerikan, rasa serba tidak tahu ini. Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan orang-orang yang diabaikan dan diminggirkan—yang termarginalisasi selama ratusan tahun—dan bagaimana planet ini akan mati tanpa kita bisa membantu apa-apa. Rasa takut ini datangnya seperti gelombang."

Ada yang bisa sedikit membantu, yaitu minum alkohol. "Anda mau sake?" katanya. Kami memesan satu botol dan Stone menuangkannya ke gelas saya, sesuai tradisi Jepang. Saya melakukan yang sama padanya, berkata bahwa saya pernah mendiskusikan ini dengan seorang koki di Jepang, yang bilang bahwa mengisi gelas sake sendiri sama saja dengan onani di tempat umum.

"Onani? Yang saya tahu cuma pamali!" kata Stone sambil tertawa. Begitu saya menghabiskan isi gelas beberapa saat kemudian, saya lupa dan mengisi gelas sendiri. Ia terhenyak kaget: "Anda baru saja onani di atas meja."

Saya meminta maaf dan menuangkan sake ke gelasnya. "Silakan," katanya. "Bikin saya puas di meja ini."

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 142 Februari 2017.

Editor's Pick

Add a Comment