Dari Perbincangan Mengenai Jurnalisme Urban

Terbagi menjadi tiga bagian: fotografi musik, keuntungan menjadi jurnalis musik, dan kiat-kiat mengulas film.

Suasana sesi bincang-bincang bersama salah satu editor Rolling Stone Indonesia, Reno Nismara. Farrah Fathya

Rolling Stone Indonesia dan English First (EF) English Center for Adults bekerja sama menggelar rangkaian bincang-bincang soal jurnalistik bertajuk Urban Journalism Talk pada Senin (23/1) hingga Rabu (25/1) lalu di cabang EF yang berbeda-beda. Pembicara dan topiknya pun tidak mengalami pengulangan: Muhammad Asranur berbicara soal fotografi musik, Reno Nismara tentang keuntungan menjadi jurnalis musik, dan Ivan Makhsara membahas kiat-kiat mengulas film. Bodypack juga turut mendukung penyelenggaraan acara ini.

Hari pertama terlaksana di EF cabang fX Sudirman. Bertugas sebagai pembicara, Muhammad Asranur memberikan topik pembicaraan berjudul "A Day in the Life: What Music Photographers Really Do". Sesuai dengan judulnya, Asra berbicara panjang lebar soal aktivitasnya sebagai fotografer; baik itu saat menghasilkan fotografi panggung atau sebuah proyek profil yang diambil di dalam studio.

Asra merupakan nama yang sudah tak asing lagi untuk penggiat juga penikmat fotografi musik. Ia sudah memotret banyak musikus besar, baik dalam maupun luar negeri. Asra telah merilis buku yang menampilkan hasil jepretan panggungnya, diberi tajuk All Access Pass. Sehingga ia merupakan nama tepat untuk dimintai ilmu perihal fotografi musik. Tak heran peserta aktif bertanya di sepanjang sesi pembicaraan.

Sementara itu Urban Journalism Talk hari kedua berjalan di salah satu ruangan EF cabang Kuningan City. Puluhan orang telah berkumpul dari satu jam sebelum acara dimulai. Giliran Reno Nismara yang bicara, membocorkan hal-hal menyenangkan yang ia dapat sebagai jurnalis musik dalam topik "The Perks of Being a Music Journalist".

Ia mengungkap berbagai hal, dari sejarah Rolling Stone Indonesia, perjalanan dinasnya ke berbagai negara, hingga hal-hal paling berkesan selama menjadi jurnalis musik. Semua orang bebas bertanya kapan saja; suasana pun dibuat semenyenangkan mungkin karena Reno ingin membuat malam itu menjadi sesi obrolan yang santai, atau mengutip istilah yang digunakannya: "chill discussion."

Reno menjelaskan, berdasarkan pengalamannya bekerja di Rolling Stone Indonesia, hal yang perlu dilakukan jurnalis musik adalah membaca, mendengarkan secara teliti, memperluas perspektif, riset, dan menghormati narasumber. Mengenai poin terakhir, Reno lebih lanjut menjelaskan: "Anda bisa tidak setuju dengan pendapat narasumber, tapi bukan berarti Anda bisa seenaknya. Kutiplah apa yang betul-betul mereka katakan, jangan memalsukan pernyataan. Anda juga bisa mengkritik mereka, namun itu seharusnya tidak mempengaruhi hubungan yang telah terjalin. Profesionalisme harus terus dijaga."

Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris juga sangat diperlukan karena kemungkinan melakukan perjalanan ke luar negeri dan juga mewawancarai musikus mancanegara. "Kemampuan bahasa Inggris jadi berguna ketika saya harus mewawancarai musikus-musikus asing atau saat ditugaskan ke luar negeri karena di sana saya akan berinteraksi dengan orang yang berbeda-beda dan juga mungkin berasal dari negara yang berbeda-beda," ujar Reno yang sudah pernah mengunjungi Irlandia, China, Taiwan, Filipina, Singapura, dan Malaysia.

Salah seorang hadirin sempat bertanya, bagaimana Reno—seorang Sarjana Bisnis dan Manajemen, dan artinya tidak memiliki pendidikan jurnalistik yang formal—bisa kemudian menjadi jurnalis musik. Menanggapi pertanyaan itu, Reno merasa bahwa semua hal itu berjalan dengan sendirinya karena ia sudah membaca Rolling Stone versi Amerika Serikat sejak kecil. Hal tersebut membuatnya familier dengan gaya jurnalistik majalah ini.

"Membaca adalah unsur yang penting dalam menjadi jurnalis. Semakin banyak Anda membaca, semakin kaya kosa kata dan semakin banyak referensi dalam menulis. Dan Rolling Stone adalah salah satu bacaan rutin yang sudah saya konsumsi sejak lama," ujarnya.

Hari terakhir Urban Journalism Talk terlaksana di EF cabang Mal Taman Anggrek dengan topik What They Don't Talk About When They Talk About Movies. Ivan Makhsara yang menyukai sinema dan banyak mengulas film didaulat sebagai pembicara.

Ivan mencoba memaparkan seluk beluk kritikus film dan cara menjadi seorang kritikus film yang baik. "Bagi beberapa orang, kritikus film tidak bisa dikategorikan sebagai pekerjaan," katanya. Ia menyebut salah satu kritikus film favoritnya, Richard Brody, yang telah menekuni dunia tersebut selama lebih dari tiga puluh tahun. "Ini membuktikan bahwa kritikus film adalah pekerjaan yang serius."

Ivan Makhsara berbicara soal kiat-kiat mengulas film (foto oleh Farrah Fathya)

Menurut Ivan, ada beberapa faktor yang membuat seseorang bisa jadi kritikus yang baik, antara lain pengetahuan yang cukup tentang film, mampu mempertanggung jawabkan opininya, serta dapat memisahkan antara perasaan dan pikiran.

Ivan lalu menambahkan bahwa ada faktor-faktor yang bisa mendukung penilaian suatu film, yaitu seberapa besar niat yang ada untuk membuat film, siapa sutradaranya, bagaimana akting para pemeran, seberapa baik naskah yang ditulis, dan masih banyak lagi. "Sebuah film pasti mempunyai satu tujuan. Kalau tujuannya tidak berhasil, melenceng dari genre-nya, pasti akan terlihat," ujarnya.

Lalu bagaimana caranya untuk dapat menjadi seorang kritikus film yang baik? Ivan menerangkan, "Tontonlah film yang banyak. Belajar untuk menulis yang baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Jangan main lompat ke kesimpulan. Jangan menggunakan kata-kata sulit. Dan yang terpenting, pastikan kalian menikmati semua prosesnya."

Ivan mengambil contoh tiga film yang telah ia ulas untuk Rolling Stone Indonesia: La La Land, Warkop DKI, dan Tiga Dara. Untuk Warkop DKI, ia mengulas secara jujur bahwa film tersebut sangat mengecewakan. Tentu saja, seorang kritikus film harus berani berpendapat jujur mengenai sebuah film. "Pembaca lebih suka ketika saya menjelek-jelekkan suatu film," katanya. "Sebuah unpopular opinion atas suatu film dilihat sebagai hal yang tidak biasa. Kita boleh untuk tidak setuju, tapi alasannya harus jelas."

Ketika ditanya mengenai suka duka pekerjaannya, Ivan menjawab: "Kritikus film adalah sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Kerjanya hanya menonton film, bisa sambil refreshing juga. Tidak seperti pekerjaan lain yang berurusan dengan angka; angka kan tidak berubah. Dunia film itu dinamis. When you do your passion, you"ll never get bored." (rn)

Editor's Pick

Add a Comment