Mondo Gascaro: "Tahapan Baru Hidup Gue Harus Dirayakan"

Mondo Gascaro berlayar dari masa lalunya menuju masa depan yang lebih menyenangkan

Oleh
Mondo Gascaro Bayu Adhitya

Sulit membayangkan Mondo Gascaro membuat album perdananya, Rajakelana, di Jakarta. Lagu-lagunya yang indah menceritakan kebebasan sambil juga merayakan angin dan ombak. Album ini terasa menenangkan dan jauh dari kesan berantakan ibu kota. Nyatanya Mondo merekam lagu-lagunya di beberapa studio Jakarta dan Yogyakarta. "Gue mencoba eksplorasi," katanya kepada Rolling Stone Indonesia.

Dengan dukungan beberapa musisi, ia mewujudkan album Rajakelana. "Waktu gue mulai menulis, gue tahu ada beberapa studio yang bakal gue pakai untuk rekaman. Setelahnya, gue jadi ingin coba studio ini itu. Total ada sepuluh studio rekaman. Rata-rata untuk beda instrumen. Untuk string section, gue ingin di Yogyakarta karena pemainnya ada di sana. Dari awal kepikiran harus di situ dan akhirnya kejadian rekaman bersama The Temporary String Quartet," jelasnya panjang lebar. "Ada tiga lagu juga yang dinyanyikan Alexandria Deni Rosalina (The Monophones) dan pemain saksofon juga dari Yogyakarta. Jadi ya harus di sana."

Menurut Mondo, jumlah studio yang banyak tidak membuatnya repot. "Paling folder-nya susah dibereskan," jawabnya sambil tertawa. Nampaknya Mondo santai saja berpetualang dengan segala kemungkinan. Sejak memutuskan lepas dari SORE pada tahun 2012, ia dapat melanglang buana semaunya. Karier sebagai produser, komposer juga music director dilakoninya. Ia juga mendirikan label rekaman bersama istrinya, Sarah Glandosch, yaitu Ivy League Music. Ia sempat pula membantu Payung Teduh dan Ayushita. Sentuhannya sebagai salah seorang penulis lagu di SORE masih terasa dalam proyek-proyek barunya.

Pada tahun 2014, ia merilis "Komorebi" dan "Saturday Light" yang disambut meriah. Posisinya yang selama ini di belakang layar mulai menarik perhatian publik. Karya terbarunya dinantikan. Selang dua tahun, sosoknya semakin marak dibicarakan. Ia berkolaborasi dengan Danilla di atas panggung dalam proyek Os Indonesianas, ia juga mengaransemen dua lagu dari soundtrack restorasi Tiga Dara, dan tentunya single "A Deacon"s Summer" yang upbeat dan positif itu. Pada akhir tahun, ia menghadiahkan pecinta musik sebuah album yang langsung dihujani pujian.

Perjalanan hidup yang sekarang dilalui menjadi fokus utama Mondo dalam penggarapan albumnya. "Gue merasa tahapan baru di hidup gue yang sekarang harus dirayakan. Carefree. Lebih segar," ujarnya. Kini ia juga lebih banyak jalan-jalan. Sebuah keuntungan yang kemudian menjadi inspirasi tak langsung. "Ada gagasan dan nuansa yang elo dapatkan setelah travelling. Seperti lagu "Butiran Angin", gue sudah tahu bakal ada lagu seperti itu. Ketika gue ke Lombok, gue melihat warna airnya, terus merasakan anginnya, butiran ombaknya seperti itu. Berpengaruh ke warna musiknya juga," ceritanya.

Lebih lanjut ia memilih "Butiran Angin" sebagai lagu paling personal dalam album. "Lagu ini adalah harapan gue akan kenyamanan dalam hidup. Terinspirasi waktu gue jalan-jalan ke Lombok bersama Sarah. Terbayang saja suasananya di pinggir pantai. Tertiup angin," tuturnya.

Tak heran album Rajakelana dipenuhi elemen yang memancarkan liburan. Hujan, angin, awan, laut, ombak, matahari, musim panas. Kata-kata tersebut berserakan dalam judul dan bait lirik. Sebuah album yang mengajak berbaring dan menikmati plesir. Semuanya dibalut dengan musik bernafaskan soft rock, jazz, dan pop.

"Dari awal gue cuma ingin bikin album yang ada instrumentalnya dan lagu-lagu yang kuat secara songwriting tradisional. Akhirnya pada prosesnya gue tetapkan membebaskan imajinasi," katanya tentang proses penulisan lagu. Para personel yang membantu rekaman dan penampilan live kemudian membantu memperkuat idenya. Petrus Bayu Prabowo (bass), Lafa Pratomo (gitar), dan Dimas Pradipta (drum) adalah musisi-musisi yang fasih menerjemahkan keinginan Mondo. "Musikalitas mereka memang mantap banget. Mereka punya kepekaan yang lebih ketika menggarap proyek ini. Jadi menyatu sih," jelasnya.

Mondo tak lupa mensyukuri posisinya saat ini. Membuat album yang bagus. Berkeluarga bersama Sarah. Ia mengatakan, "Alhamdulillah setahun belakangan ini jauh lebih menyenangkan dan nyaman. Proyek ini berjalan di fase yang tepat. Ada proyek lain yang waktunya nggak terlalu menumpuk. Jadi gue ada waktu juga untuk spend time sama keluarga."

Pada awal 2017, ia membuka tahun dengan mengadakan konser tunggal. Terselenggara di Institut Francais Indonesia, sekitar tiga ratus orang menghadiri penampilan perdananya setelah meluncurkan album. Nuansa intim nan khidmat mengiringi sebuah hari di mana Mondo menapakkan kakinya ke fase lain dalam hidupnya. Sebuah plesir yang lebih menyenangkan. (rn)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  2. Shaggydog, FSTVLST, Jalu TP Siap Tampil di RadioShow Yogyakarta
  3. Komentar Jujur Efek Rumah Kaca tentang Kepemimpinan Presiden Jokowi
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. Kenang Musik Era '90-an, Sajama Cut Meluncurkan ‘Subscription Series’

Add a Comment