‘Istirahatlah Kata-kata’ Tayang Mulai 19 Januari di Lima Belas Kota

“Wiji ada dan berlipat ganda,” ujar Yosep Anggi Noen saat ditanya tentang keberadaan Wiji Thukul saat ini

Oleh
Para kru dan pemeran 'Istirahatlah Kata-kata' saat jumpa pers pada Senin (16/1) di Epicentrum, Jakarta. Rasyid Baihaqi

Film yang terinspirasi dari puisi dan hidup Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-kata, akan diputar serentak pada Kamis (19/1) mendatang di lima belas kota Indonesia. Kota-kota tersebut adalah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Mojokerto, Makasar, Kupang, Pontianak, Medan, Purwokerto, dan Denpasar. Ada pun bioskop yang mendistribusikannya adalah Cinema 21, Cinemaxx, dan CGV.

Tadinya film ini hanya akan diputar dua belas kota, namun ada tambahan tiga kota yang baru terungkap pada jumpa pers Senin (16/1) lalu di Epicentrum, Jakarta. "Hari ini kami dapat kabar baik karena ada tiga tambahan kota yang akan memutar Istirahatlah Kata-kata, yaitu Medan, Purwokerto, dan Denpasar. Setelah kemarin ada dua belas kota yang akan memutar film ini. Terbatas," ujar sutradara Yosep Anggi Noen.

Anggi--panggilan Yosep Anggi Noen--juga menyatakan bahwa sejatinya film ini adalah tentang kehilangan, tentang menjaga yang kita cintai, dan tentang kesepian saat berada jauh dari orang-orang tercinta.

"Dalam konteks yang lebih luas, film ini juga adalah upaya kami untuk mengenalkan sejarah bangsa, kemerdekaan untuk berpendapat; keterbukaan dan demokrasi itu tidak datang dan muncul tiba-tiba. Itu adalah hasil perjuangan, banyak yang dikorbankan, banyak yang berkorban, banyak yang hilang. Hingga hari ini masih ada orang yang belum ditemukan dan kasus yang belum selesai," tambah sutradara asal Sleman ini.

Selain Anggi, jumpa pers ini juga dihadiri kru Istirahatlah Kata-kata lainnya, yaitu Tunggal Pawestri (eksekutif produser), Robin Moran (associate producer) Yulia Evina Bhara (produser), dan Bayu Prihantoro Filemon (penata kamera). Para pemeran pun turut hadir, yaitu Marissa Anita (Sipon), Melanie Subono (Ida), dan Eduwart Boang Manalu (Martin). Namun Gunawan Maryanto yang bermain sebagai Wiji Thukul tidak tampak di lokasi.

"Aku nggak mau kamu meniru Sipon, bukan mengimitasi ya. Kamu pokoknya representasikan saja rasanya itu seperti apa," ujar Marissa Anita meniru kata-kata Anggi saat memberi arahan kepadanya. "Jadi apa yang kami lakukan adalah menginterpretasi atas apa yang terjadi saat itu."

Sementara itu, Melanie Subono yang untuk pertama kalinya bermain di film naratif berkata: "Saya membawakan karya-karya Wiji Thukul dalam bentuk lagu, bahkan beberapa kali bareng anaknya. Jadi saya memang mencintai karya-karyanya, tapi saya ketakutan setengah mati saat pertama diajak untuk terlibat dalam film tentang WIji Thukul."

Para kru dan pemeran Istirahatlah Kata-kata akan berada di Pontianak, Kalimantan Barat saat film ini ada pada hari pertama penayangan. Mereka lebih memilih bertemu dan berada di tengah-tengah penonton Pontianak, di mana film ini melakukan proses pengambilan gambar.

"Film ini adalah upaya kecil kami untuk memberi catatan, untuk kemudian juga mengungkapkan bahwa kami anak-anak muda membutuhkan berbagai macam kejelasan supaya tidak tersesat untuk menapaki hari-hari berikutnya sebagai bangsa," ujar Anggi. "Anak muda saja bisa bersikap untuk mengingat, masa negara tidak punya sikap. Harusnya ada gerakan."

Pada Rabu (11/1) lalu, para pembuat film Istirahatlah Kata-kata turut serta mendampingi keluarga dan sahabat Wiji Thukul dalam mengundang Presiden Jokowi untuk menonton film ini. "Karena mereka (Joko Widodo dan Wji Thukul) sama-sama berasal dari Solo dan Joko Widodo juga menyukai puisi-puisi Wiji Thukul, kami berharap Jokowi datang ke gala premiere yang undangannya sudah kami sampaikan," ujar produser Yulia Evina Bhara.

Sebelum diputar di tanah air, Istirahatlah Kata-kata sudah melanglang buana ke berbagai festival film internasional, di antaranya Festival del Film Locarno, Swiss; The Pacific Meridian International Film Festival, Vladivostok, Rusia; Filmfest Hamburg, Jerman; Festival Des 3 Contines, Prancis; International Film Festival Rotterdam, Belanda, dan lain-lain.

Untuk di negeri sendiri, film produksi Muara Foundation, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films, dan Kawankawan Film ini juga berhasil meraih Golden Hanoman Award pada gelaran kesebelas Jogja-NETPAC Asian Film Festival serta Piala Dewantara dari Apresiasi Film Indonesia 2016. (rn)

Editor's Pick

Add a Comment