Movie Review: Istirahatlah Kata-Kata

Oleh
Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul. Limaenam Films

Potret kesunyian seorang buron

Ketimbang memaparkan siapa itu Wiji Thukul atau apa sejarahnya hingga jadi buronan, Yosep Anggi Noen lebih memilih sepenggal kisah Wiji selama dalam masa pelarian. Yosep melakukan tugasnya sebagai seorang sutradara fiksi, berkisah tentang sebuah kepingan. Dengan meninggalkan beban harus menjelaskan ini-itu atau memberikan opini macam-macam. Pilihan untuk meniadakan latar belakang dan juga keambiguan masa depan Wiji memberikan cerita ini dimensi menarik bagi "kisah" Wiji yang sudah dituturkan oleh keluarga ataupun didokumentasikan oleh teman-temannya di pergerakan.

Fokus utama film adalah masa-masa pelarian Wiji di Pontianak. Untuk pertama kalinya, ia ditetapkan sebagai buronan. Pengalamannya beberapa bulan di tempat yang jauh dari keluarga dan tanah asalnya digambarkan membosankan dan di setiap kesepian ada ancaman di baliknya. Wiji berusaha berkarya, tapi ketika akarnya dicabut, ia tak berdaya. Gunawan Maryanto menerjemahkan Wiji sebagai sosok yang terbentur dilema di dalam dirinya. Kemarahannya karena diasingkan bercampur dengan kesedihannya harus terpisah dengan orang-orang yang ia sayangi.

Istirahatlah Kata-Kata tidak ditulis selayaknya biopik yang bombastis atau inspiratif. Justru pendekatannya yang sunyi seakan merefleksikan pertanyaan yang hadir di dunia nyata. Berkabut dan penuh ketidakpastian. Tentang apa yang dialami Wiji hingga membuatnya kini tak bisa dilacak keberadaannya.

Yosep juga memilih untuk tidak mengglorifikasi Wiji Thukul dan tidak berusaha mengubahnya menjadi sebuah wajah baru bagi kaus pemberontak hipster. Di sini ia seperti orang biasa saja, orang biasa yang kebetulan diuber pemerintahnya sendiri, orang biasa yang dipaksa tinggal jauh dari keluarganya. Kecemasan meliputi dirinya, tapi begitupun banyak momen di mana ia memaknai ulang dirinya sebagai orang bebas.

Yosep yang memilih simbolisasi untuk mendekati realisme terbilang sukses. Pilihan simbolnya subtle dan kadang seakan-akan tak berguna. Tapi justru memberikan atmosfer tidak tenang yang diinginkan. Misalnya, suatu kali Wiji berada di gedung bioskop yang disulap menjadi tempat lomba badminton yang diadakan oleh tentara.

Sampai menjelang akhir, tanpa adegan yang dilebih-lebihkan penonton dibawa untuk memahami kondisi Wiji dan keluarganya. Meski begitu, tidak ada penyesalan yang didapatkan Wiji. Semangatnya untuk memberontak malah makin berkobar. Di satu adegan dia memuji para pengejarnya karena mengajarkan anak-anaknya bahwa kejujuran bisa membuat pemerintah berbalik jahat kepadamu.

Ketika film ditutup dengan pertemuan Wiji dan Sipon (diperankan oleh Marissa Anita yang bermain baik), kita mengetahui bahwa Wiji sudah tak lagi punya ketakutan. Ia telah membulatkan tekad untuk menghancurkan penguasa. Hari-hari yang terpaksa dialaminya menjadikannya seorang manusia yang lebih kuat.

Sebagai sebuah perkenalan kepada Wiji mungkin Istirahatlah Kata-Kata tidak sepenuhnya tepat. Film ini justru lebih terasa seperti pembuka mata bahwa pernah ada masa yang keras suaranya akan ditindak dengan kekerasan juga.

Sebelum menonton Istirahatlah Kata-Kata pastikan Anda telah mendapat semua informasi mengenai sang penyair yang kemudian tak juntrung rimbanya. Karena selain sedikit informasi yang ditampilkan dalam bentuk teks di awal dan di akhir film, sedikit sekali yang bisa diketahui dari Wiji. Perbedaan ini yang membuat Istirahatlah Kata-Kata terasa relevan bagi siapapun. Wiji bisa saja kita, rakyat biasa yang kebetulan tidak menyetujui pemerintah otoriter.

Editor's Pick

Add a Comment