Norwegia Jadi Negara Pertama yang Mematikan Gelombang Radio FM

Negara ini memulai transisi permanen ke digital audio broadcasting (DAB)

Oleh
Ilustrasi foto gelombang radio FM. Pixabay

Norwegia menjadi negara pertama yang mematikan beberapa jaringan radio FM hari ini, dalam perpindahan untuk mengganti radio tradisional dengan digital audio broadcasting (DAB), demikian menurut laporan di BBC. Negara Skandinavia ini bertujuan untuk secara eksklusif menggunakan DAB pada akhir 2017.

DAB dapat menyajikan kualitas yang lebih baik dan sinyal radio yang lebih hemat biaya di Norwegia, yang memiliki sinyal FM yang buruk dikarenkan medannya yang berupa pegunungan. Dikarenakan hal itu, ditambah dengan kejernihan dan kenyamanan yang lebih baik pada DAB, sekitar 70 persen populasi di Norwegia telah berpindah ke audio digital sebelum transisi yang dimulai hari ini.

Saat lazimnya teknologi DAB berkembang, bagaimanapun, sebagian masyarakat Norwegia risau akan dana yang dibutuhkan untuk transisi teknologi tersebut. BBC melaporkan bahwa mungkin diperlukan dana sebesar 500 dollar AS alias sekitar Rp 6,5 juta untuk mengubah radio mobil biasa dengan unit yang menggunakan teknologi DAB. Orang-orang yang menyatakan tidak mampu untuk "hijrah" merasa risau mereka tidak akan memiliki jaringan radio di mobil mereka, menurut Guardian, dilaporkan 2,3 juta pengguna mobil di Norwegia tidak memiliki unit DAB.

"Norwegia tidak disiapkan untuk ini. Terdapat jutaan radio di rumah, penginapan, dan kapal yang tidak akan berfungsi lagi dan hanya sekitar 25% mobil di Norwegia memilliki adapter atau radio digital," ujar Svein Larsen dari Asosiasi Radio Lokal Norwegia kepada BBC.

Walau begitu, perdebatan untuk beralih ke DAB sedang menyebar. Britania Raya dan Swiss menjadi dua di antara negara besar yang mempertibangkan beralih ke layanan digital. Di Britania Raya, sekitar 30% dari populasi memiliki akses ke DAB. Saat angka tersebut mencapai 50%, anggota parlemen akan memulai peralihan dari FM, yang ditemukan di Amerika Serikat oleh teknisi elektrik Edwin Amstrong pada 1993 ke digital. (ims/wnz)

Editor's Pick

Add a Comment